Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 65


Seno meremas surat panggilan dari pengadilan dengan rahang mengeras dan hati kesal tak terarah. Ia membuangnya ke sampah dengan kasar. Kesal sekali rasanya mendapati fakta yang tak pernah disangka-sangka.


Pria itu langsung menghubungi Wahyu untuk meng-handle schedule untuk besok. Tanpa pikir panjang, petang itu Seno langsung bertolak ke Bandung seorang diri.


Sepanjang perjalanan hatinya tidak tenang, ingin segera bertemu meminta penjelasan. Bagaimana bisa mengambil keputusan semaunya sendiri tanpa perhitungan.


Waktu sudah menunjuk di angka sepuluh malam waktu Seno tiba di depan kost Wening. Ingin rasanya menerobos masuk ke dalam. Namun, pria itu menahan diri mengingat sudah larut dan tentunya mempertimbangkan keadaan sana sini.


Pria itu pun mecoba tenang, mencari penginapan terdekat. Ia akan datang besok secara baik-baik sambil menyusun strategi membujuk istrinya yang benar-benar cranky.


Semalaman dirundung gelisah, tak tenang galau merana. Oke, mungkin menepi untuk benar-benar merenung itu perlu, tetapi bukan ini yang Seno harapkan. Bercerai? Big no, tidak pernah terbesit dalam benaknya. Hatinya benar-benar kacau.


Miring kiri salah, kanan makin salah, telentang terngiang-ngiang. Tidur tak nyenyak, makan tak enak, mandi pun mungkin tak basah, diclup doang tanpa sabunan. Edisi malas gegara dirundung galau tak berkesudahan.


"Ya ampun ... aku nggak bisa tidur," gumam Seno duduk kembali sambil mengacak rambutnya frustrasi.


Melangkah gontai menuju balkon hotel, menarik satu batang rokok lalu menyalakannya. Menyesapnya penuh penghayatan. Soalnya pemandangan di balkon tetangga sama sekali tidak ramah lingkungan. Dua sejoli yang tengah memadu kasih tertangkap jelas matanya. Membuat pria itu mengumpat kesal dan makin jengkel saja mengingat dirinya dengan nasib paling menyedihkan.


"****! Nggak ada yang bener!" umpatnya dongkol setengah mati. Seakan dunia menertawakannya malam itu.


Tidak bisa tidur semalaman membuat Seno kesiangan. Buru-buru bersih-bersih lalu menenangkan diri. Butuh asupan pagi dan energi yang cukup untuk menghadapi hari ini dengan tenang dan pikiran yang positif untuk menyemangati diri. Walaupun endingnya tetap merasa khawatir, resah gelisah tak tahu pasti.


Pria itu mengunjungi kostnya dan ternyata Wening sudah berangkat pagi ini. Untungnya, ia masih menggunakan jasa orang untuk memantaunya. Hingga keberadaannya cukup akurat didapat.


Perempuan itu sibuk di kampus hingga siang hari menjelang sore. Pulangnya menjadi guru pendidik di bimbel hampir petang. Sadar butuh biaya tambahan untuk hidupnya seorang diri, Wening pun tidak leha-leha seperti mahasiswa lainnya yang serba kecukupan. Bukan mencari susah, namun hidup adalah sebuah pilihan. Lepas dari Seno tentunya siap juga kehilangan fasilitas seperti uang yang masih pria itu kirimkan.


"Kak, aku duluan ya?" pamit gadis itu usai memberi materi pada anak-anak yang menggunakan jasa magna edu, bimbel tempatnya mengajar.


"Oke, hati-hati di jalan!" jawab Kak Mada senior Wening di sana.


Gadis itu baru saja keluar dari ruangan, berjalan mendekati pinggir jalan sembari menanti ojol yang telah dipesan.


Berjalan perlahan sembari membeli bungkusan khas anak kosan untuk bekal makan malam. Walau kadang dilanda kesendirian dan sepi, Wening cukup menikmati hari-harinya. Menyibukkan diri di kampus dan sisanya ia gunakan untuk mencari sambilan kerja.


Seno masih sabar mengamati, kalau selama ini ia hanya mendapat laporan dari seseorang yang sudah ia bayar, hari ini benar-benar menyaksikan sendiri tanpa embel-embel orang lain.


Perempuan itu baru saja mau keluar sekitar jam tujuh malam, ia ada kerja part time di sebuah kafe hingga larut malam. Seno hampir tak percaya Wening melakukan semua ini. Dia begitu mandiri dan tidak terlihat seperti gadis belia lagi. Ya, benar saja, istrinya kini sudah bukan anak SMA lagi, ia menjelma menjadi gadis dewasa yang begitu mempesona.


Bahkan hingga waktunya pulang tiba, Seno cukup mengana dengan jam malam yang hampir menunjuk di angka setengah duabelas. Itu artinya, kemarin malam Wening jiga melakukan hal yang sama?


"Dek, aku menunggumu dari tadi, akhirnya pulang juga," sapa Seno terdengar cukup jelas. Tentu saja mengagetkan perempuan delapan belas tahun itu yang kini tengah memutar kunci pintu.


Wening menoleh, menemukan pria yang mati-matian Wening singkirkan dari hatinya. Wening akui, tidak semudah itu menghapus namanya. Apalagi Seno adalah pria pertama yang mampu menyentuh hatinya hingga memilikinya. Saat mengetahui perasaannya tak sama, jelas gadis itu patah hati luar biasa.


"Ngapain ke sini? Sudah cukup larut, bukan waktunya bertamu."


"Aku sudah di sini dari kemarin, sengaja datang untuk bertemu, kita harus bicara," ujarnya mendekat.


Susah payah move on dan sekarang harus dipertemukan lagi dengan kondisi hati yang lelah. Sungguh membuatnya menguras emosi.


"Jangan mendekat, aku sudah bukan istrimu lagi!" tepis Wening saat Seno berusaha meraih tangannya.


"Siapa bilang, itu hanya pengajuan untuk sebelah pihak, nyatanya aku belum mengikrarkannya," jawab pria itu sembari menahan pintu yang hendak ditutup begitu saja. Satu kakinya menahan agar tetap terbuka.


"Ini sudah cukup larut, dan aku lelah, tolong jangan membuat aku marah!" ancam gadis itu terlihat begitu murka.


"Aku tahu, makanya kita harus bicara dari hati ke hati, biar semuanya jelas."


"Besok saja, sabtu aku libur, ini sudah malam dan aku harus istirahat."


"Aku juga sama, izinkan aku masuk!" ujarnya sembari mendorong pintu kamar hingga membuat Wening sedikit terpental. Sedikit mengenai kakinya hingga membuat perempuan itu mengaduh.


"Dek, nggak pa-pa?" ujar pria itu berjongkok ikut meneliti.


"Jangan sentuh!" tepisnya galak.


"Keluar dari kamar kost aku!" usir gadis itu menyorot dingin.


"Tolong, jangan mengusirku, oke, aku tidak akan macam-macam, izinkan aku tetap di sini memastikan besok pagi kamu tidak kabur."


"Aku bukan seorang penjahat yang menjadi buronan, tuduhanmu sangat tidak beralasan dan masuk akal."


"Tentu saja beralasan, kamu telah merampok hatiku, dan sekarang pergi begitu saja dengan percaya diri sekali. Kembalikan sepotong hati yang telah kamu curi, aku rapuh tanpa dirimu. Maaf, untuk semua hal yang telah aku lakukan hingga membuat dirimu jadi seperti ini."