
"Iya Mas, usai masa periode ini aku nggak minum pil lagi. Makasih udah ngertiin aku, ya udah cepet bangun, aku buatin minum dulu. Habis ini aku mau ke rumah sakit, ibu sudah di sana gantian bapak yang pulang sebentar jagain Emir," ujar Wening penuh rancangan.
Seno pun bergegas bangun, sebelum beranjak pria itu menyambar pipinya lalu ke kamar mandi.
"Dek, lupa," ujar pria itu kembali keluar.
"Kenapa?"
"Gantinya sama handuknya lupa," ujar pria itu mengingat pakai kamar mandi di luar.
"Owh ... nanti aku bawain, tenang aja, aku di rumah sendirian," ujar Wening santai.
Perempuan itu menjeda aktivitasnya sebentar lalu kembali ke kamar mengambil ganti yang masih di kopernya. Melirik Emir yang masih lelap di kasur. Wening tersenyum seraya melangkah keluar, menutup pintu cukup pelan agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengusik tidur bayi mungil itu.
"Mas, buka, ini bajunya!" pekik Wening seraya menggedor pintunya.
Seno membukanya, pria itu baru saja membilas bersih. Iseng-iseng berhadiah mencoba peruntungan sambil menarik tangannya. Hingga membuat Wening sedikit meronta.
"Mas, aku udah mandi, jangan nanti basah!" tolak perempuan itu sedikit heboh.
"Hehehe. Mandi lagi boleh juga," ujar pria itu nyengir tanpa dosa.
"Eh, jangan, lagian aku kan lagi datang bulan, nanti kamu nggak kuat," jelas Wening resah.
"Iya ya, ah ... pengen sebenarnya, cium aja Dek," ujar pria itu bernego.
"Ish ... dasar om-om meresahkan!" cibir Wening seraya berjinjit lalu menyatukan bibir mereka.
Seno menahan tengkuknya saat perempuan itu hendak melepaskan kecupan. Sudah terlanjur basah cukup dinikmati saja menu bibir pagi ini. Pria itu ternyata cukup resek juga hingga terlena dengan memberikan kecupan basah di sekitar telinganya. Tak lupa gigitan manja yang berkerlipan menjadi saksi pagi ini di leher jenjangnya.
Pria itu baru berhenti setelah puas dan kondisi Ning cukup berantakan.
"Udah, jangan cemberut, nyenengin suami itu pahala, apalagi kalau nawarin duluan," ujar pria itu mengerling manja.
Perempuan itu tidak menyahut, sibuk membenahi pakaiannya yang teramat lusuh dan berantakan. Keluar dari kamar mandi setelah membenahi kekacauan suaminya.
Seno sendiri sudah keluar lebih dulu setelah puas dengan apa yang pria itu mau. Sementara Wening melanjutkan menyeduh kopi dengan bibir yang masih terasa panas akibat pergulatan sengit keduanya beberapa menit yang lalu.
"Kopinya Mas, aku lihat Emir dulu, kok nggak bangun-bangun ya," ujar perempuan itu menyajikan di ruang tengah. Pria itu tengah sibuk dengan ponselnya.
"Makasih sayang." Melihat Wening datang langsung menaruh ponselnya di meja, dan beralih mengambil kopi lalu menyeruput perlahan.
Wening sendiri sudah beranjak ke kamar melihat baby Emir yang belum bangun. Ternyata eh ternyata begitu Wening masuk, Emir sudah membuka matanya dan bermain sendiri dengan jemarinya.
"Ya ampun ... kamu udah bangun kok nggak ngode diem-diem bae, harusnya panggil aunty biar ada temannya gitu."
"Udah bangun? Nggak rewel pinter," sahut Seno ikut masuk ke kamar. Berjalan ke arah jendela lalu membukanya agar ruangannya mendapat pertukaran oksigen.
"Mas, dia sangat lucu, biasanya kalau pagi gini ngapain ya, bentar aku googling dulu deh," ujar Wening mendadak bingung.
Cukup wajar karena Wening pemula dan sebelumnya tidak punya adik, anak bungsu. Jadi, tidak pernah melihat orang tuanya mengurusi bayi atau pegang anak kecil. Paling dulu kalau di kampung yang dulu anak tetangga suka main itu pun bukan bayi karena udah pinter jalan dan jajan.
"Owh ... jadi kita harus menjemurnya sebelum pukul sepuluh sebelum mandi. Sekarang jam nerapa?"
"Ini kan ada Dek, di ponsel," tunjuk Seno ke angka jam sisi pojok atas layar ponselnya.
"Hehe, iya Mas, sedikit lupa, sepertinya aku terlalu repot," ucap perempuan itu tentu saja membuat Seno gemas.
"Oke Mas, kalau gitu mari kita jemur Emir di belakang. Tapi nanti mandiinnya aku takut, sepertinya kita perlu tanya mbah google lagi," ujar perempuan itu tak ambil pusing.
Seno hanya terkekeh dan ikut membantu, sebagai tahap belajar juga kalau nanti punya anak. Sadar akan kerepotannya, tentu saja pria itu sudah menyiapkan pengasuh untuk nanti di Jakarta, berhubung masih di Jogja dan baru pertama kali juga, mereka saling bantu yang tentu saja kerepotan.
"Mas, aku nggak berani mandiin, nanti kalau jatuh ke bak gimana? Nunggu ibu aja deh ya, jangan coba-coba, nanti kalau malah sakit? Hayo siapa yang mau tanggung jawab."
"Kita lihat vidionya dulu, tutorial mandiin bayi," ujar Seno membuka youtube.
Keduanya menonton dengan khusuk, sebelum benar-benar nyemplungin baby Emir ke bak khusus bayi, perempuan itu belajar dulu di atas kasur menirukan tutorial di youtube.
"Oke bibeh, siap ya, kita buka popoknya, awas jangan ngompol, kena denda kamu kalau ngompol!" ancam Wening sambil membuka perekat diapersnya.
Seno hanya terkekeh sendiri mengamati istrinya yang menjadi sering berbicara absurd di depan Emir layaknya percakapan dengan seorang teman.
"Mas, siapin airnya udah?"
"Belum, aku bingung," jawab Seno diam di tempat. Keriwehan pun terjadi pagi ini dan akan menjadi kenangan manis yang tak terlupakan.
"Waduh ... jagain dulu, jangan dibuka, nanti pipis. Emir sama om ganteng dulu ya, aunty mau nyiapin air," pamit perempuan itu menuju kamar mandi.
Karena di kamar mandi tidak tersedia water hiter, Wening pun harus menyalakan kompor untuk merebus air sebagai campuran.
"Lama ya, dari pada nunggu mending pakai ini dulu, nanti diganti," ujar perempuan itu mengambil tremos penampung air panas membawanya ke kamar mandi. Lalu menuang ke bak yang sudah berisi air dingin secukupnya.
Setelah dirasa hangat dan cukup aman di kulit bayi, perempuan itu beranjak mengambil Emir yang masih di kamarnya.
"Dek, udah belum? Itu ngruling (rewel)," lapor Seno menyusul istrinya.
"Iya Mas, udah, ayo bantuin sayang, aku grogi," pinta perempuan itu merasa lucu.
"Pelan-pelan, kalau nggak bisa dibalik, sebisanya dulu, anak orang jangan sampai lepas, bahaya!"
"Oke, Mas," jawab Wening mulai bercakap-cakap sambil menyambuni tubuh Emir. Seno ikut mengamati sesekali membantu.
.
Bersambung
.
Sambil nunggu novel ini up teman-teman mampir ke karya temenku yuk!