
Sepertinya berkah buat Seno dalam urusan ini, walaupun mendadak Wening begitu manja dan kadang sifatnya sungguh aneh. Namun, lagaknya urusan servis kebutuhan biologisnya makin menantang dan cukup membuatnya terpuaskan.
Semenjak hamil, Wening tak jarang minta duluan. Sempat parno karena drama ngidam aneh-aneh, yang bahkan riwayat teman sejawatnya membenarkan istrinya anti suaminya selama hamil. Sungguh itu penyiksaan dan untungnya itu tidak terjadi pada pria dua puluh sembilan tahun itu.
Namun, ada pemandangan yang membuat hatinya merasa iba dan kadang nggak tega melihat itu semua. Hampir setiap pagi, Wening mengalami mual dan muntah. Yang biasanya membantu mengurus Emir sambil menyuap makanan. Seminggu ini bahkan diganjar lemas hingga absen kuliah.
"Kok rasanya gini amat, nggak enak banget, nggak nyaman, gimana?" keluh Wening uring-uringan. Setiap hari lemes, mual muntah tentu membuatnya mager dan jelas tidak enak beraktivitas apa pun.
"Sabar, sakit kamu membawa berkah, kata mama nggak lama kok, trimester pertama aja," ucap Seno menenangkan.
"Sabar gimana? Kamu nggak ngerasain, ini tuh nggak nyaman banget," protes Wening hanya merebah di kasur. Ia merasakan hamil pertama yang begitu rewel.
"Ini diminum dulu susunya selagi hangat, udah kosong perutnya," titah Seno ikut prihatin. Kerja pun tidak tenang karena perempuan itu akan meneror lewat ponselnya untuk pulang.
Alhasil, sudah dua hari ini Seno bekerja dari rumah. Ia menyerahkan semua urusannya pada wahyu. Bahkan ikut menyimak via zoom meeting melalui sambungan internet.
Seno sedikit menepi di ruang kerja, jika memang harus mengikuti rapat. Setelahnya kembali ke kamar mengurus istri kecilnya yang rewelnya nggak ketulungan. Tak jarang Wening menangis juga kalau lagi merasa benar-benar sebal, karena sungguh hamil di awal sungguh sangat menyiksa. Bahkan perempuan itu mabuk parah.
"Aku pengen yang seger-seger, es degan mungkin, terus jangan lupa lagi pingin lotek, nggak pakai kol," pesan Wening cukup riweh. Nampaknya ia sudah mulai ngidam. Banyak permintaan dan banyak nggak dimakannya.
Seno nampaknya harus menambah stok sabar dengan tidak menyangkal apa pun keinginannya. Walaupun rada-rada rempong dan seringnya menyebabkan jengkel, melihat istrinya keseharian saja merasakan tidak nyaman kadang membuatnya merasa kasihan.
"Mas, permisi, aku mau muntah!" Wening langsung melesat ke kamar mandi padahal baru saja menghabiskan lotek pesanannya.
Seno mengekor istrinya lalu membantunya. Wening benar-benar mengeluarkan seluruh isinya. Ini sungguh menyiksa dan membuat tubuhnya ngedrop. Perempuan itu juga menolak ke rumah sakit, karena Seno merasa khawatir. Mengundang dokter langganannya ke rumah.
"Permisi Tuan, di luar ada tamu!" lapor Mbok masuk ke kamarnya.
"Siapa Mbok?"
"Kurang tahu, Tuan, nampaknya belum pernah ke sini. Dua orang, seperti pasangan suami istri," ujar Mbok cukup rinci.
"Sayang, aku keluar bentar ya, kamu istirahat saja," ujar Seno membenahi selimut istrinya lalu beranjak setelah memberikan kecupan singkat.
Ternyata oh ternyata, tamu tak diundang kali ini adalah Afnan dan istrinya. Ada apakah gerangan kedua manusia itu datang? Sungguh jangan memancing di air keruh atau Seno yang sedikit sedang di fase tidak nyaman bakalan murka.
"Afnan?"
"Apa kabar, Sen? Maaf, siang-siang ganggu."
"Ada apa, Afnan? Silahkan duduk!" Seno menyambut ramah.
"Aku dengar istrimu sedang hamil, jadi ... mungkin akan sangat repot, aku berbaik hati dan menyarankan untuk meluangkan waktu mengasuh Emir."
"Terima kasih sudah berkunjung, benar istri saya sedang hamil, tetapi tidak kekurangan kasih sayang dan apa pun untuk Emir
Maaf Afnan, kalau kamu berkunjung untuk menengoknya sekedar ingin melihat kondisinya, atau mencurahkan kasih sayangnya boleh. Tapi kalau mengambil tidak boleh, walaupun istri saya sedang hamil, kami sudah berjanji akan merawat dan menyayanginya."
"Izinkan kami mengasuh, aku juga belum punya anak, siapa tahu setelah merawat Emir aku diberi kesempatan untuk merasakan keajaiban dititip zuriat di rahimku," mohon Naura terdengar sendu dan sedikit ngeyel.
"Maaf Ibu Naura dan Pak Afnan, silahkan untuk menjenguk setiap hari, tapi untuk membawa apalagi sampai tidak pulang, kami keberatan, dan saya rasa istri saya juga keberatan."
"Jangan berlebihan Seno, toh Emir tidak minum ASI, dia bisa saya bawa untuk sementara, kalau kamu keberatan, ada suster juga yang jagain. Nanti aku yang bayar, gantian."
"Bukan itu masalahnya, Emir tidak boleh dibawa pergi apalah sampai menginap tanpa kami, mohon jangan membuat suasana makin tidak kondusif."
"Sekarang Emir mana? Boleh nggak kalau kami ajak jalan untuk hari ini, nanti kami balikin ke rumah ini sebelum sore, aku hanya ingin dekat. Jangan khawatir, aku ayahnya tidak mungkin akan menyakitinya."
Mendadak Seno dibuat bingung, ia harus meminta pendapat pada Wening, apalagi ini masalah Emir. Walaupun hanya dibawa sementara, Seno takut Afnan tidak sesuai dengan apa yang dikata.