Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 43


Seno tanpa sadar mendekapnya, hingga membuat Wening engap kehabisan oksigen.


"Mas, lepasin! Aku susah napas," ujar gadis itu meronta. Pria itu memeluknya makin erat, hingga memutar tubuh istrinya di posisi lebih intim.


"Dasar istri nakal, nurut yang tenang," racau pria itu menatapnya samar. Mencubit pipi istrinya dengan gemas.


Gadis itu meringis tertahan saat pria itu memainkan pipinya. Sakit, kesel, tapi kedua tangannya tertahan. Bahkan tubuhnya terpenjara posesif.


"Mas, minggir, tubuhmu berat, aku susah napas dan gerak."


Nampaknya Seno tidak begitu peduli dengan protes istrinya, ia malah mengunci tubuh itu di bawah kungkungannya sembari menatapnya dalam, lekat, dan mengikis hingga bibir itu bertemu. Membuat Wening mendelik resah, sepertinya ia benar-benar dalam bahaya. Suaminya mabuk, dan bisa saja terjadi hal yang mungkin bisa terjadi.


"Manis," gumam pria itu melepas pagutan istrinya. Wening terengah-engah mengambil napas, ia hampir tidak bisa mengimbangi serangan dari suaminya yang cukup dadakan, frontal, dan memabukkan.


Tunggu-tunggu, mereka itu dalam mode saling marah. Parahnya Seno mabuk dan itu berbuat mesum padanya. Tentu saja Wening jengkel, ciuman sepanas itu bahkan mungkin Seno tidak sadar kalau itu dengan istrinya.


"Mas sadar Mas, kamu membuat tubuhku susah gerak, please ... aku engap!" protes Wening tak nyaman.


"Kamu nakal, harus dihukum," ujarnya dengan santai. Antara sadar dan tidak benar-benar mabuk. Pria itu masih bisa mengontrol dengan baik walaupun kepalanya sedikit berdenyut nyeri.


Seno kembali mendekap, membuat Wening benar-benar merasa ketakutan. Ini lebih dari bahaya karena mungkin setengah sadar. Gadis itu terpaksa menjelma menjadi kucing nakal yang menancapkan taringnya tepat di bahunya saat pria itu mencumbunya dengan penuh minat.


"Akh ....!" desis Seno spontan melepaskan kegiatannya.


"Astaga! Huh ....!" gumam gadis itu lega sambil terengah. Wening berusaha lolos dari pelukan suaminya yang mengurungnya.


Gadis itu berlari cepat keluar dari kamar lalu menguncinya. Bukan hanya itu, ia sampai mendorong sofa di kamar untuk menahan pintu jikalau pria itu tiba-tiba menyusul dengan kunci ajaib miliknya.


"Astaghfirullah ... selamet! Selamet!" batin Wening ngos-ngosan.


Hening beberapa saat, walaupun masih pasang wajah waspada, ia benar-benar takut luar biasa sampai bergetar. Ternyata orang mabuk semenyeramkan itu. Hingga tanpa sadar gadis itu tertidur di sofa. Menemukan pagi cukup kaget kala matahari sudah menyapa.


Bergegas gadis itu menuju kamar mandi, waktu sudah menunjuk di angka setengah tujuh. Pikiran kacau semalam langsung buyar mengingat keriwehan pagi ini yang tercipta.


Wening keluar kamar tepat berbarengan dengan Seno yang juga keluar dari kamarnya. Kedua netra itu saling bertemu, menatap sekilas sebelum akhirnya sama-sama beranjak tanpa kata.


Tiba di dapur, keduanya sibuk membuat minuman untuk dirinya masing-masing. Segelas susu cukup untuk memulai hari. Keduanya minum dengan diam, sebelum akhirnya beranjak dari ruang makan.


"Pagi Boss," sapa Wahyu datang di waktu yang tepat. Pria itu sengaja menjemput bosnya mengingat semalam cukup kacau.


"Pagi," jawab Seno datar.


Wahyu melirik pasutri itu yang nampak diam seribu bahasa. Keduanya duduk di jok belakang dengan kikuk. Wening juga tidak berniat bertanya, ia masih bingung cara menyikapi pria dewasa macam suaminya.


Mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah, gadis itu langsung turun dari mobil setelah menggumamkan terima kasih.


"Jangan nanya! Males jawab," sela Seno cepat. Tahu betul kekepoan asistennya. Wahyu yang sudah berkedut membuka mulutnya mingkem kembali.


"Oke, fine. Terima curhatan," ujarnya kalem.


"Semalam yang gantiin baju aku siapa?" tanya pria itu sungguh penasaran. Ia seperti mimpi mencumbu seseorang terus digigit


"Sumpah bukan saya boss, saya hanya mengantar sampai kamar terus setelahnya tugas beralih pada istri Anda."


"Bukan mimpi ternyata, bahuku digigit drakula, sakit sekali!" gumam Seno menerka-nerka.


"Ada masalah Boss?"


"Banyak, kamu cari orang buat cari tahu siapa Yuda. Belakangan ini nempel mulu sama istri orang," titahnya kembali kesal.


"Siap Boss," jawab Wahyu cepat.


Sampai di kelas seperti biasa, Vivi menyambutnya dengan sumringah. berbeda dengan Yuda yang tumben-tumbenan tidak mengisi bangku belakang.


"Ini anak ke mana? Tumben nggak duduk di sini?"


"Gue yang duduk di sini, dia minta tukeran tempat duduk."


"Hah, yang bener? Tumben?"


"Pengen deket elo kali," ujar Vivi tepat sekali.


"Ning, besok hasil try out yang pertama keluar, gue kok deg degan ya?" ujar Vivi tak tenang.


"Orang masih hidup ya deg degan lah. Yakali nggak berdegup."


"Serius nanya, kemarin kenapa nggak masuk?"


"Sakit, kaki gue keseleo."


"Kok ada yang bilang lihat lo jalan sama Yuda, cie ... jangan-jangan beneran kalian. Ehem!"


"Apaan sih, jangan mulai deh. Gue sama dia tuh bagai api dan air, saling mematikan. Nggak mungkin banget."


"Tuh orangnya dateng."


"Biarin aja."


"Pagi Ning, ini buat kamu," ujar pria itu menaruh roti dan minuman kemasan. Biasanya kalau berangkat mepet gini nggak keburu sarapan," ujarnya mendadak perhatian.


Wening menatap pria itu dengan pandangan aneh.


"Kamu waras?" tanya gadis itu sembari menempelkan punggung tangan di kening Yuda.


"Sehat lah, nanti belajar bareng yuk, Vivi boleh ikut," ujarnya berbaik hati.


"Gue?"


"Nggak, nggak usah gue ada—" Yuda menyorot galak.


"Owh oke, bisa," ralatnya cepat.


"Sorry Yud, lagi nggak dibolehin keluar, katanya biar fokus belajarnya."


"Sama Vivi juga loh ini, nggak berduaan, lagian gue bawa mobil, gimana?"


Obrolan mereka terjeda lantaran ada guru yang yang siap mengajar. Wening tidak bisa mengambil resiko terlalu dalam, sepertinya ia butuh seseorang untuk menggali informasi lebih lanjut.


Tepat setelah istirahat terakhir, jam operasional kosong. Membuat suasana kelas begitu ramai. Wening mencoba peruntungan menghubungi seseorang.


"Noning? Tumben telepon?" sahut pria dua puluh enam tersebut.


"Maaf Om, ganggu ya, sebenarnya pengen ngomong sama Mas Seno tapi nggak pernah nyambung. Om bisa bantu nggak?"


"Apaan ya?"


"Om tahu Mbak Rara sebelumnya kerja di mana?"


"Rara kakak kamu?"


"Iya Om, aku mau ngomong banyak, ini udah pulang juga, bisa ketemu?"


"Waduh ... bahaya ini, nanti boss murka lagi, jangan nggak berani."


"Nggak ada yang mau nolongin, ya udah deh nggak pa-pa!"


Wening memendamnya sendiri cukup lama, gadis itu terpaksa menahan diri dan memilih fokus ke sekolah dulu. Hubungannya dengan Seno juga nampak datar dan stuck di tempat. Seno yang sibuk dan tidak mau mengganggu konsentrasi istrinya dan Wening yang merasa dirinya sibuk, namun dicuekin suaminya. Kegiatan itu terjadi cukup lama, hingga gadis itu berakhir masa ujian nasional.


"Mas, aku—mau izin pulang," pamit Wening di sore hari. Hari tu adalah hari terakhir Wening ujian nasional. Setelah selesai, ia berniat pulang kampung lantaran merasa kangen dengan ibunya.


"Aku belum ada waktu ke rumah, tunggu aku libur," ujar Seno berniat mengantarkannya.


"Aku bisa pulang sendiri, aku tahu Mas sibuk."


Seno nampak menghela napas panjang, pria itu sedang banyak pekerjaan. Banyak proyek besar yang butuh kunjungan.


"Jogja itu jauh, aku udah cukup lama diam loh, ngikutin semau-maunya kamu. Bisa nurut nggak?"


Wening tidak menyahut, sebenarnya ini moment yang ditunggu dari kemarin. Rasa rindunya terhadap orang tua sudah di ujung, ditambah sikap Seno yang belakangan ini begitu dingin padanya membuatnya tidak betah.