Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 69


Hampir semua mata tertuju pada dua orang yang tengah menjadi pusat perhatian sore itu. Bahkan suara riak kecil dari orang-orang sekitarnya yang menatap takjub dan haru mulai bersautan menyeru.


"Terima! Terima! Terima!" seru orang-orang memberi dukungan terbawa suasana romantis di sana.


Wening masih terpaku menatap cincin yang pernah ia pakai dulu. Gamang, sisi hatinya ada keraguan, namun sisi lainnya mulai terusik. Jelas ada rasa terharu, dan tidak bisa dipungkiri sudut netranya mulai berkaca-kaca. Tatapan matanya beralih pada Bu Yasmin yang tak lain adalah mertuanya yang super baik. Perempuan itu mengangguk dengan senyuman. Sungguh Mas Seno itu pintar sekali menguasai suasana. Kalau sudah begini, apa yang harus ia lakukan?


Sementara Seno masih menanti dengan tatapan memohon, dan rasa waswas luar biasa.


"Masa aku suruh ngambil, pakaiin dong Mas," jawab gadis itu yang membuat senyum di wajah Seno langsung terbit.


Pria itu langsung berdiri mengambil cincinya dan menyematkan pada jemari istrinya. Lalu menggenggam tangan itu, membawanya dalam kecupan penuh perasaan. Setitik bening yang lolos di sudut netranya ia usap dengan jempol tangannya, tanpa sadar pria itu menangis terharu.


"Terima kasih sudah memberikan kesempatan kedua untukku. Aku harap cinta kita akan bahagia sampai ke surga-Nya. Aamiin!" ucap pria itu lalu menarik dalam pelukan.


Pak Adhi dan Bu Yasmin, serta orang-orang yang hadir di sana pun dibuat baper berjamaah dengan adegan live di depannya. Ikut terharu dengan damainya kembali dua insan suami istri yang sempat keliru paham.


"Jadi ini idemu? Katanya sibuk, bisa banget bikin surprise kaya gini."


"Sibuk banget, kemarin sudah aku tangani sebagian sisanya Wahyu. Aku nggak bisa kerja kalau kamu ngambek terus."


Keduanya tengah duduk menempati ruangan bersama keluarga besar tentunya. Menikmati sajian spesial di kafe itu. Seno terus menatap wajah istrinya, bahagia bercampur lega, akhirnya gadis itu bisa berdamai dengan keadaan dan hubungannya.


Sementara Wening sibuk berbicara dengan ibu mertuanya yang duduk tepat di sebelahnya. Wanita paruh baya itu lebih bertanya mengenai kesibukan kuliahnya yang sudah berjalan hampir dua bulan.


"Mama sampai nggak bisa tidur begitu anak mama yang bandel itu menelpon. Kenapa nggak bilang kalau selama ini ada masalah?"


"Nggak mau ngrepotin Mama, maaf, udah bikin orang-orang jadi kepikiran," sesal gadis itu menunduk.


"Bukan salah kamu, sayang. Hanya kurang komunikasi, Seno terlalu sibuk dan cuek, jadinya begini. Semoga bisa menjadi pelajaran ke depannya supaya lebih bisa menghargai waktu saat bersama," ucap Bu Yasmin bijak.


"Aku dari kemarin sampai belum makan loh, Dek," ujar pria itu seraya menatap dengan lekat. Satu tangannya terulur mendekap pinggangnya. Bahkan enggan beranjak memberi jarak. Duduk berdua agak rapat.


"Sekarang makan, salah siapa kemarin aku beliin sarapan diabaikan gitu aja," jawab Wening menatap sebal. Rasanya masih ingin menimpuk wajahnya tetapi sayang.


"Makan sendiri, udah gede juga," tolak Wening tersenyum.


Nampaknya pria itu tengah terserang syndrom bucin dan virus asmara. Hingga tak malu lagi menyerukan keinginannya butuh asupan gizi untuk dimanja.


Pria itu mengikis jarak, lalu menjatuhkan keningnya di pundak Wening. Tangan kanannya merem@s jari-jemari istrinya yang bertaut.


"Lemes Dek, pengen makan kamu," bisik pria itu yang hanya bisa didengar istrinya.


Wening menarik tangannya, sedikit memberi jarak. Tak enak hati menjadi pusat perhatian orang di sekitarnya, sementara Seno sepertinya enggan mau tahu.


"Ning, masa aku kena marah abang gegara nganter kamu, aneh banget tuh orang. Harusnya makasih iya," lapor Arka masih sedikit kesal. Namun akhirnya hatinya mencair juga saat abangnya mengiba meminta tolong untuk datang sekalian bersama ayah dan ibunya sebagai saksi rujuknya mereka berdua.


Wening merespon dengan melirik sengit suaminya. Sementara pria itu membalas dengan tatapan penuh cinta.


"Jangan marah lagi, iya nanti aku juga minta maaf ke Arka, sekalian terima kasih pernah mengantarmu sampai tujuan dengan selamat," ucap pria itu cepat-cepat meralatnya.


Sore itu akhirnya Seno bisa bermanja-manja dengan istrinya. Bahkan sampai makan saja benar-benar disuapi seperti anak kecil. Semua bisa bercengkrama hangat layaknya keluarga bahagia.


"Kami langsung pulang ya, baik-baik di sini, kalau ada apa-apa jangan sungkan memberi tahu mama," ujar Bu Yasmin setelah sebelumnya sedikit memberi wejangan pasutri itu yang sekarang terlihat akur.


"Nggak bermalam di sini saja Ma, maksudku, mencari penginapan di sini, baru pulang besok pagi," ujar Seno melepas kepamitan keluarganya.


Setelah dari kafe, mereka memutuskan berkunjung ke kost Wening seraya main sebentar. Tidak masuk juga, hanya dari luar halaman.


"Tidak usah, Nak, ada supir yang bawa mobil, kalian yang akur ya, pulang dulu!" pamit Bu Yasmin beserta rombongan.


Menantu dan mertua itu saling memeluk sebelum berpisah. Mencium takzim tangan mertuanya, diiringi lambaian tangan perpisahan sebelum akhirnya mobil yang membawa mereka melaju meninggalkan halaman.


Sepeninggal orang-orang pulang, kini tersisa pasangan halal itu yang kini tengah saling menatap. Lebih tepatnya Seno yang menatap Wening penuh arti.


"Kenapa? Kok lihatin aku gitu banget," ujar Wening mendadak gugup. Perempuan itu berjalan mendahuluinya masuk. Seno tersenyum sembari mengekor istrinya.