
Mendadak suasana ruangan yang tak begitu luas itu terasa kaku. Keduanya terdiam merasa canggung, bingung mau ngapain.
"Dek, jalan yuk!" ujar Seno mencairkan suasana.
Sebagai seorang pria, tentu Seno harus pintar membaca situasi.
"Jalan, ke mana? Ini kan sudah malam?" tanya Wening bingung.
"Nyempil di pojok kota Bandung, sambil menikmati malam di sudut kota," jawab Seno penuh harap.
"Ayo sayang, belum ngantuk, 'kan?" ujar pria itu memastikan.
"Belum sih, cuma—besok ada kuliah," jawab Wening beralasan.
"Nggak pa-pa, jalan aja mumpung aku masih di sini," ujarnya mengingatkan. Seakan menegaskan kalau kini mereka terpisah antara jarak dan waktu. Jadi, harus pandai memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Wening pun mengangguk setuju, ia menukar pakaiannya terlebih dahulu di kamar mandi lalu menyambar jaket karena suasana malam lumayan sejuk dan dingin.
"Ayo Mas, aku udah siap," ajak gadis itu memperhatikan suaminya yang menunggu sambil berbalas pesan di ponselnya.
"Udah, ayo Sayang!" ujar pria itu menggandeng tangannya. Lalu masuk ke mobil.
"Selama di sini udah ke mana aja?" tanya Seno setelah mobil berjalan.
"Belum ke mana-mana, sibuk persiapan masuk kuliah, sibuk nyari kerja, sibuk mikirin—" Gadis itu terdiam saat keduanya saling melirik.
"Maaf, sudah menempatkan dirimu di posisi yang sulit. Jangan dibahas lagi, aku ingin menikmati malam ini penuh kedamaian dan ketenangan," ujar Seno meraih tangannya, lalu membawa dalam kecupan.
Gadis itu terdiam, masih berada aneh setelah hampir dua purnama tak saling bersua. Bahkan, semenjak masih di Jakarta tinggal bersama, mereka sudah saling diam satu sama lain diperparah dengan pertengkaran yang akhirnya membawa keputusan Wening untuk pergi.
Mobil terus melanu ke daerah Bandung utara. Kawasan Dago tea house, kota parahyangan yang begitu eksotik di malam hari. Pria itu memilih Bukit Bintang sebagai tempat singgah malam ini.
"Udah pernah ke sini belum?" tanya Seno setelah memarkirkan mobilnya.
"Belum, kan tadi udah bilang, belum sempat mampir ke mana-mana," jawabnya jujur.
Pria itu menuntun istrinya, menikmati indahnya malam kota Bandung dari atas bukit yang begitu menakjubkan. lampu-lampu sudut kota yang berkerlip terlihat jelas dari sudut pandang yang begitu terlihat menawan. Beralaskan rerumputan, dan berlangit bintang, kini mereka duduk di salah satu bangku. Saling merapat melihat langit malam dengan gemerlap cahaya bintang.
"Dingin nggak, Dek?" tanya Seno setelah duduk beberapa detik sambil menikmati embusan angin malam.
"Dikit, udah pakai jaket. Kamu malah gini doang," ujar Wening melihat penampilan suaminya yang terlihat santai.
"Aku nggak tahu cara membuat hatimu nyaman, tapi aku merasa begitu tenang saat bersamamu," ucap pria itu merubah posisinya. Sengaja merebah, menjadikan paha istrinya sebagai bantalan. Menatap wajah ayunya dari bawah lalu tersenyum tenang.
"Lebih baik, dari pada kemarin," jawabnya sembari menunduk menatap suaminya yang tengah terpejam di pangkuannya.
"Nggak tahu kenapa, kemarin aku merasa separuh jiwaku menghilang. Aku kangen banget sama kamu," ucap pria itu memiringkan tubuhnya, lalu menenggelamkan wajahnya di perut istrinya. Tangan kirinya memeluk erat pinggang istrinya.
Sementara satu tangan Wening mengusap lembut rambut suaminya.
"Aku juga, tapi—masih banyak keselnya," jawab gadis itu sembari menatap dengan lekat.
Seno kembali menengadah, lalu sedikit bangkit menyambar bibirnya dalam kecupan. Ia tersenyum mendengar pengakuannya.
"Udah malam, pulang yuk!" ajak pria itu setelah dirasa cukup membuat suasana menjadi lebih nyaman dan tidak terasa kaku.
Wening pun mengangguk, keduanya masuk mobil.
"Katanya pulang, kok nggak jalan ke kost?" tanya Wening merasa tidak melewati jalan yang tadi berangkat.
"Tempat tidur di sana terlalu sempit, malam ini kita cari yang lebih nyaman ya, besok baru kita pikirkan lagi mau gimana," ujar pria itu tersenyum sembari melakukan mobilnya.
Hingga beberapa menit berlalu mobil itu terpatkir di salah satu hotel yang cukup berkelas di sana. Perempuan itu terdiam saat suaminya menggandeng tangannya. Perasaannya mulai deg degan, entahlah yang ia rasakan saat ini. Baru masuk ke ruangan sepertinya terasa beda.
"Ayo sayang!" ucapnya tersenyum.
Mendadak suasana keduanya menjadi canggung kembali. Namun, tidak selalu tadi.
"Aku mandi dulu ya?" pamit Seno meninggalkan sentuhan lembut jemarinya di pipi.
Wening mengangguk, "Iya Mas," jawabnya seraya membalas dengan senyuman.
Cukup sepuluh menit saja acara bersih-bersih pria itu. Kembali ke ranjang hanya dengan bathrobe saja. Mendekati Wening yang tengah duduk di bibir ranjang menyibukkan diri dengan ponselnya.
Satu kecupan di pipi kanannya, membuat gadis itu langsung tersadar dan menoleh.
"Udah Mas, cepet amat. Aku juga—mandi dulu ya?" pamit Wening langsung kabur meninggalkan pria itu sebelum Seno sempat mengiyakan.
Cukup lama Wening di dalam sana, entah apa yang perempuan itu lakukan. Sambil menunggu, iseng buka-buka ponsel istrinya. Tidak ada aktivitas yang mencurigakan. Beberapa foto baru di galeri seputar kegiatan maba dan jepretan bersama teman-teman lainnya. Seno tersenyum mengamati satu persatu gambar yang berhasil tertangkap kamera dan tersimpan di galeri.
Sejenak merasa istrinya sudah terlalu lama di kamar mandi, ia pun berinisiatif menyusulnya. Baru saja hendak mengetuk, pintu itu terbuka.
"Kenapa Mas?"
"Eh, enggak, kamu lama banget," jawabnya sedikit salah tingkah.
"Mandi dulu," jawabnya setengah malu-malu. Keduanya malah tersenyum lucu.
"Ayo sayang sini!" Seno menuntun istrinya ke ranjang. Keduanya duduk saling berhadapan.
"Malam ini, aku boleh, 'kan?" pinta pria itu menatap lembut.
"Iya Mas, ambil hak kamu, aku udah siap kok," jawabnya tertunduk malu.
Seno tersenyum, tangannya terulur melepas simpul bathrobe yang tengah dipakai istrinya. Membimbing istrinya untuk merebah, menatap tubuhnya penuh damba dan hasrat.
Detik berikutnya, pria itu mengikis jarak mempertemukan bibir mereka dalam kecupan syahdu. Memagut lembut, memainkan papilanya hingga ke sudut terdalam. Saling mencumbu seakan menyiram dahaga keduanya yang berbalut rindu.
Tangan pria itu benar-benar melepas semuanya hingga tubuh istrinya terlihat begitu sempurna dan menantang di depannya. Perlahan tetapi pasti, cumbuan itu mendarat, mengabsen di seluruh tubuh kekasih halalnya tanpa tertinggal sejengkal pun. Memberikan banyak tanda merah di sana sini sesuai keinginannya.
Sementara Wening, hanya mampu terpejam, menikmati sentuhan itu yang semakin memabukkan. Hingga melenguh kecil nan panjang beberapa kali lolos dari bibir mungilnya.
"Mas ...." lirih gadis itu merem@s rambut suaminya saat merasakan sensasi luar biasa yang diberikan pada inti tubuhnya.
"Hmm ... iya sayang," jawab Seno mendongak, menggeram dengan tatapan penuh kabut gairah.