Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 82


"Iya, maaf Mas, aku lelah," jawab Wening dari hati. Walaupun tak menghindari sentuhan lembut suaminya. Jujur, Wening sedang begitu lelah, lelah pikiran dan gundah hatinya.


"Hmm ... capek ya, Sayang? Aku pijitin ya?" tawar Seno dengan lembut.


"Nggak usah Mas, kamu juga pasti capek seharian kerja," tolak Wening menyingkirkan tangan suaminya. Lalu perempuan itu merapat memeluknya, menjadikan dada bidangnya sebagai bantalan.


Seno beralih mengelus rambutnya dengan sayang. Kalau sudah seperti ini, istrinya mode manja tetapi tak ingin disentuh lebih jauh. Sepertinya Ning benar-benar lelah. Terbukti hanya beberapa menit pria itu mengelus-elus mahkotanya, Wening langsung terlelap.


"Sepertinya kamu benar-benar lelah, maaf sayang, aku kurang peka," ucap Seno sambil membenahi posisi tidur Wening agar nyaman, lalu menyelimutinya.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Ning. Terlihat jelas dari orang tuanya yang menanyakan apakah sudah sampai rumah atau belum. Berhubung Wening sudah tidur, pria itu yang membalas chat Bu Ana lantaran takut mertuanya khawatir. Sepertinya Wening belum sempat mengabari orang rumah kalau dirinya sudah sampai.


Sudah kadung buka-buka isi pesan. Seno pun iseng melihat-lihat percakapan lain. Tidak ada aktifitas yang mencurigakan. Namun, ada satu nomor di kontak panggilan masuk yang begitu banyak dengan nomor yang sama.


"Nomor siapa ini, kenapa begitu banyak menghubungi istriku," gumam pria itu merasa penasaran.


Karena saking penasarannya dengan kontak yang diberi nama Habibie itu, Seno pun melakukan panggilan ke nomor tersebut yang seketika tersambung ke ponselnya.


"Eh, kok nomor aku?" gumam pria itu antara lega dan tak percaya.


Kenapa diberi nama Habibie? Usut punya usut itu panggilan sayang dari bahasa agamanya. Yang tadinya udah hampir mau marah, jelas nggak jadi dan malah senyum-senyum gemas.


"Kamu romantis juga, makin sayang deh aku," bisiknya gemas lalu menghujani banyak ciuman di wajahnya hingga membuat tidur Wening terusik.


"Mas, aku kan udah bilang capek," gumam perempuan itu mrengut. Merasa tidur tenangnya terganggu.


"Iya sayang, maaf, aku cuma mau cium doang kok, dah tidur lagi aja."


"Kamu nggak marah? Maaf ya, aku benar-benar lelah, insya Allah besok deh, kamu bisa minta sepuasnya," kata perempuan itu setengah merem.


Seno mengangguk seraya mendekapnya dalam pelukan kasih sayang hingga bertemu pagi. Perempuan itu terjaga lebih dulu, merasakan tubuhnya begitu hangat dengan tangan kekar suaminya yang melingkar indah di atas perutnya.


Wening tersenyum, diam-diam ia mendekat, mencuri satu kecupan sebelum beranjak. Kasihan juga semalam merusuh ditolak lantaran benar-benar lelah.


"Maaf Mas, semalam aku terlalu lelah sampai ketiduran. Semoga kamu ridho ya," lirih Wening beranjak. Tanpa diduga, pria itu menahan lengannya.


"Eh, udah bangun? Pagi Mas!" sapa perempuan itu tertangkap basah.


Pagi-pagi itu rawan bagi pria, jangankan dikasih sentuhan. Didiamkan saja kadang bisa aktif sendiri.


"Hmm ... pagi sayang, kamu nakal ya?" gumam pria itu sayu.


"Hehe ... enggak kok, maaf ya semalam ketiduran," ucap Wening dengan hati berdebar.


"Sekarang udah bangun, aku masih ngantuk," ucap pria itu sedikit menarik tangan istrinya hingga perempuan itu kembali merebah di kasur.


"Buat dedek gemes dulu, aku kangen," jawab pria itu mendekapnya posesif. Membuka kelopak matanya sepenuhnya.


"Jujur banget sih," jawab Ning malu-malu.


"Aku udah kangen banget," ucap pria itu berpindah posisi mengungkungnya.


"Tapi bel—" Ucapan Wening terjeda sebab pria itu langsung menyambar bibirnya dengan begitu minat.


Pagi itu keduanya benar-benar melepas rindu, mengisi petualangan dalam sejarah cinta mereka, lalu mandi bersama. Menyiapkan ganti bareng-bareng.


"Kamu ada kuliah jam berapa?" tanya pria itu sembari memakai kemejanya.


"Sembilan Mas, nanti aku berangkat sendiri aja," ujar perempuan itu membantu merapihkan pakaian suaminya.


Usai berpakaian lengkap, Ning yang masih menggulung rambutnya bergegas keluar.


"Belum disisir sayang," ucap Seno memperingatkan.


"Nanti aja, mau siapin sarapan buat kamu dulu nanti keburu siang," jawab perempuan itu santai.


Seno yang sudah rapih mengekor istrinya ke dapur. Duduk tenang sembari menyesap kopi buatan istrinya. Perempuan itu membuat sandwich yang praktis dan mudah dengan bahan yang sudah ada.


"Mas, kemarin aku kirim gambar baby Emir, lucu ya? Aku jadi gemes, kasihan banget Mbak Rara sakit, jadi belum dapat ASI dan pelukan hangat ibunya," curhat Wening di pagi hari.


"Iya lucu, emangnya separah apa?" tanya Seno merasa iba.


Pertanyaan Seno sukses membuat perempuan itu menangis dalam diam. Ning mulai menceritakan kekhawatiran dirinya dan juga Rara, hingga memberikan amanah itu padanya. Istrinya ternyata begitu sedih.


"Aku nggak akan ambil keputusan itu kalau Mas sendiri nggak mengizinkan, jujur aku sedih sekali menyikapi ini," ucap Wening tercekat. Berlinang air mata pagi-pagi mengingat nasib baby Emir.


Istrinya mempunyai jiwa penyayang dan lembut. Membuat Seno tak tahan dan merasa kasihan.


"Udah, jangan nangis gini, mau kuliah nanti mata kamu sembab," ucap Seno menenangkan. Menghapus buliran bening yang meleleh di pipinya lalu membawa dalam pelukan.


"Maaf Mas, aku terbawa suasana, aku tuh ngebayangin bayi yang mungil tidak berdosa itu harus lontang-lantung tanpa kehangatan dari orang tuanya. Aku juga nggak rela, kalau seandainya dititip ke Om Afnan, nanti istrinya yang julid itu bisa aja siksa dia Mas, karena nggak suka sama kak Rara. Malangnya nasib keponakan aku," ujarnya tergugu dalam tangis.


"Kamu mikirnya jauh amad, kita berhak memberi tahu ayahnya. Setelahnya baru ambil tindakan, aku tidak keberatan asal kamu bisa membagi waktumu sendiri, untuk aku juga."


"Aku tahu, kamu adalah prioritasku dan akan selalu menjadi yang pertama."


"Aku tersentuh, semoga hatimu tidak berubah. Jangan membuatku ikut bersedih karena wajahmu yang terlampau sendu."


"Maaf, aku sedikit emosi dan terbawa suasana. Terima kasih sudah mau mengerti posisiku," ucapnya menangis haru sambil memeluk suaminya.