
Selalu saja ada rasa sakit yang tertinggal setiap ada pertemuan. Kadang perempuan itu memang perlu dispesialkan, diprioritaskan dalam hidup rajanya. Tetapi, siapakah diri Wening, bukan siapa-siapa. Dia sangat sadar yang tidak pernah akan ada tempat khusus di hatinya.
Nyatanya walau mulutnya mengusir, hatinya tetap terusik dan merasa ada yang hilang saat ia benar-benar telah pergi. Setelah menarik perhatian hampir dua hari ini. Mendadak Wening merasa kesal kembali, sungguh memang jiwa-jiwa makhluk labil yang haus akan pengertian dan perhatian.
"Pulang sana pulang, ngeselin banget sih jadi cowo, dasar nggak peka. Ngapain coba datang, bikin hatiku gini lagi," gumam Wening terlihat kacau. Seharian bekerja dengan setengah hati, hingga menjelang malam, rasanya ia malas untuk kembali.
Beruntung kesibukan dirinya lumayan padat sejenak bisa menjadi penawar hatinya yang sejatinya masih galau maksimal.
Siang menjelang sore, perempuan itu mengambil jobdisk di kafe yang tak begitu jauh dari jalan kampus. Sedikit terhibur setelah perdebatan sengit kemarin yang bahkan belum usai.
"Ning, melamun aja, niat kerja nggak sih? Itu ada yang pesen?" tegur Mbak Marta selaku owner di sana.
"Maaf Mbak, niat kok," jawabnya bergegas beranjak
Sore ini suasana kafe lumayan sepi. Tidak seperti biasanya, weekend sebelumnya bahkan baru buka sudah ramai.
"Ini ada acara apa ya? Kok tumben nggak banyak yang datang?" tanya Mada teman satu frekuensi di sana.
"Sebagian tempat udah dibooking orang mulai jam empat nanti. Katanya ada yang mau ngadain surprise gitu," sahut Aldi rekan kerja di sana.
"Owh ... sejenis lamaran kah?" tanya Wening kepo.
"Mungkin," jawab teman lainnya ikut sibuk membantu menyiapkan ugo rampenya.
"Wah ... bahagia banget ya pastinya, yang dapat surprise gini," ujarnya seraya membayangkan kisah dirinya yang pilu nestapa seorang diri. Kadang suka mengiri dengan kehidupan orang yang terlalu sempurna untuknya.
"Ning, nanti kamu dan Mada bertugas melayani di meja spesial ya. Ada tamu khusus sore ini," ujarnya antusias.
"Siap Mbak," jawab Wening mengiyakan.
Gadis itu dan rekannya sudah siap menyambut tamu mereka. Suasana di sudut ruangan juga sudah disediakan dengan sedikit dekorasi berbeda.
"Lo tahu nggak? Kira-kira siapa yang booking tempat ini?" tanya Mada setengah berbisik.
"Mana aku tahu, yang pasti bukan orang biasa, berani sewa tempat gini."
"Duh ... pacar orang-orang pada so sweet banget sih. Gue kapan?" keluh Mada mendrama.
"Kapan-kapan tunggu waktunya sampai. Kalau sekarang belum, mungkin besok, lusa, atau bahkan tahun depan."
"Lo sendiri udah punya gebetan belum, Ning?" tanya Mada sungguh ingin tahu.
"Harus banget aku jawab, dih ... kepo!"
"Asem! Jomblo ya ... cie ... yang jomblo, udah nggak usah melow gitu, gue juga jomlo kok, nggak sendirian."
Seketika Wening teringat Seno, mau dibawa ke mana pernikahan mereka? Apakah pria itu sungguh-sungguh ingin kembali? Terlalu menyangsikan, tak mau berharap lebih, nanti jatuhnya sakit hati lagi, patah hati lagi.
"Diem Da, yang mapan, tampan dan kaya juga belum tentu indah dijalankan," sela gadis itu sebal.
"Dih ... kenapa, lo, sewot!" cibirnya.
Suasana di pintu masuk nampak ramai. Semua karyawan sudah bersiap di tempatnya masing-masing. Siap memberikan pelayanan terbaik. Wening tengah merapihkan pakaian yang dikenakan teriba suasana semakin riuh menyambut tamu mereka.
"Mama!" gumam gadis itu terperangah. Tak menyangka bertemu dengan mertuanya di tempat kerjanya. Antara ingin menyapa tetapi malu, atau bahkan pura-pura tidak lihat saja. Sungguh bukan solusi.
Saat Wening masih membatu di tempat, terlihat ayah mertuanya juga hadir di sana. Arka dan juga dua orang lainnya yang Wening belum pernah lihat sebelumnya. Sebenarnya ini acaranya siapa? Arka kah yang mau lamaran? Kenapa Seno tidak hadir, ah ya ... pasti pria itu tidak bisa lantaran sibuk dengan pekerjaannya.
Berhubung ada Arka, Wening pun memutuskan untuk menemui mereka sekaligus menyambutnya.
"Lo kenal?" tanya Mada demi melihat ekspresi wajah Wening yang tak biasa.
"Hooh, kenal banget malah," jawab Wening lalu berjalan ke arah mertuanya. Menyapanya dengan sopan santun.
"Mama, Papa, Arka!" sapa Wening mengabsen satu persatu. Ada rasa canggung dan bersalah pada mertuanya yang sudah begitu baik hati itu, kala harus berangkat kemarin hanya pamit melalui pesan.
"Hallo, Sayang, apa kabar?" sahut Bu Yasmin tersenyum sumringah menyambut menantu kesayangannya.
Wening menyalim dengan takzim, dibalas pelukan hangat oleh ibu mertuanya. Bu Yasmin memang penuh kelembutan dan bijak sekali. Sayangnya kalau mereka jadi berpisah, Wening bakalan kehilangan mertua sebaik Bu Yasmin.
"Maaf, Ma, apa ini acara Arka?" tanya Wening kepo.
Bu Yasmin tersenyum seraya membelai mahkota menantunya. Tak berselang lama dari pintu masuk datang seseorang yang membuat hati Wening tak karuan. Sebenarnya ini acara siapa? Kenapa suaminya yang sok sibuk itu ada di sini juga, rasanya ingin minggat dan menghilang dari peradaban.
Pria itu tersenyum melewatinya yang jelas bermuka bingung. Tak mau menduga, namun saat seorang MC yang didaulat di acara tersebut mulai membuka acara, justru Wening dibuat kaget kala memanggil namanya dan juga nama Seno.
"Ini apaan sih? Aku nggak ngerti sumpah?" batin Wening bertanya-tanya.
Seno segera menguasai tempat, meminta atensi semua orang yang hadir. Dengan segenap jiwa, mengulurkan keinginan hatinya yang paling dalam.
"Selamat sore semuanya, terima kasih untuk keluarga dan teman yang sudah hadir membersamai acara sore ini."
"Terutukmu Dek Wening, kekasih halalku yang saat ini tengah berdiri di sana!" tunjuk Seno yang membuat seluruh tamu yang hadir tertuju padanya.
"Mungkin kita belum punya kisah yang indah di antara lembaran yang pernah kita lewati bersama. Karena awal aku datang padanya, tanpa direncanakan, hingga mengukir cerita yang terpaksa bersemayam. Aku tidak pernah mengajaknya menikah, tidak pula menggandeng tangannya. Tapi aku berikrar janji suci di bawah tatapan banyak pasang mata, dan tentunya disaksikan Tuhan."
"Hari ini, aku akan membuktikan padanya, walau aku tidak pernah merencanakan kebersamaan dengannya sebelumnya. Ternyata sebaik-baiknya rencana adalah rencana Allah SWT ... kami disatukan atas takdir dan izin-Nya. Bahkan, sampai detik ini masih terngiang jelas, ikrar yang pernah aku sematkan. Sudikah kamu memaafkan suamimu yang banyak salah dan kurangnya ini, istriku ... Kusuma Pawening? Tetaplah bersamaku, sampai rambut kita memutih nanti."
Seno menghampiri istrinya, setengah berdiri dengan satu kaki ditekuk bak orang yang tengah melamar. Dulu ia tak ada momen seperti ini. Karena kisah mereka yang terlampaui unik. Menyodorkan cincin yang pernah gadis itu lepas sebelum pergi.
"Jangan pernah berpikir aku akan menyerah hanya karena penolakan kamu, Dek! Ambil cincinnya, kalau kamu mau memaafkan aku, dan memberikan kesempatan untukku," ujarnya dengan tatapan syahdu.