Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 50


"Udah Dek, kita berasa masa kecil kurang bahagia," ujarnya menghentikan tangan istrinya.


Wening masih belum berhenti senyum-senyum melihat tubuh suaminya yang berselimut lumpur.


"Ayo bersihin dulu di sana," ujar Seno sembari membantu gadisnya berdiri, lalu menuntunnya, dengan hati-hati mendekati air pancuran besar yang mengaliri ke persawahan.


Sementara bapak dan ibu ikut tersenyum menyaksikan kekonyolan mereka. Orang tuanya menyarankan agar mereka pulang saja untuk mandi.


Kedua sejoli itu menyiram tubuhnya secara bergantian, tanpa diduga kaus Wening yang putih mencetak jelas tubuhnya begitu basah dengan air bersih, membuat suaminya menelan ludah berkali dengan tatapan bingung sendiri.


"Kenapa? Gantian Mas, terus pulang," ujar gadis itu memberi ruang. Seno tak menyahut, malah tersenyum sambil mendekat.


"Itu kulit tubuh kamu jelas banget," tunjuk Seno pada dadanya. Membuat Wening melotot kaku.


"Beneran ... eh, gimana dong," ujarnya panik sendiri. Menutup aset berharganya dengan mendekap kedua tangannya.


"Kayaknya kita musti tukeran baju deh, punyamu terlalu jelas," usulnya penuh solusi.


"Ngarang aja, aku tutup pakai tangan aja, udah cepetan


pulang!" titahnya sembari bersedekap dada.


Keduanya berjalan menuju gubuk seraya berseru pamit pada bapak dan ibu. Mengambil ponselnya terlebih dahulu, setelahnya pulang dengan pakaian basah. Sampai di rumahnya, Wening langsung menuju kamar mandi disusul Seno tentunya.


"Dek, bareng dong! Aku juga dingin nih," keluh pria itu berseru di depan pintu.


"Bentar Mas, antri!" sahut gadis itu dari balik pintu.


Wening pun membuka pintunya, bukan menyuruhnya masuk, malah meminta tolong.


"Mas, tolong ambilin handuk di jemuran, lupa!" pintanya sembari tersenyum.


Seno menurut, keluar rumah samping memilah handuk kepunyaan istrinya.


"Lho Mas, kok basah-basahan gini?" sapa Rara yang baru saja pulang kerja.


"Iya, tadi habis main di sawah, kamu udah pulang?"


"Setengah hari, kurang enak badan," keluh Rara tersenyum.


Perempuan itu pun pamit masuk duluan dan langsung ke kamarnya. Bergegas menuju kamar mandi langsung mengetuk pintunya.


"Dek, handuknya!" pekik pria itu yang sudah bisa dipastikan telinga lainnya mendengar.


"Iya Mas, bentar," ujarnya merampungkan bilasan.


Wening membuka sedikit pintunya lalu menyembulkan kepalanya saja. Tanpa diduga pria itu mendorong pintunya dan memaksa masuk.


"Mas, gantian!" jerit Wening kaget langsung menutup tubuh polosnya yang belum sempurna tertutup handuk.


"Shhttt! Jangan jejeritan nanti Rara denger," peringatnya yang membuat Wening langsung mingkem.


"Mbak Rara udah pulang? Tumben siang gini udah pulang," ujarnya mikir.


"Katanya nggak enak badan, makanya pulang cepet," kata Seno mengulang perkataan Rara.


"Owh ... mandi cepetan Mas, nanti masuk angin!"


titahnya hendak keluar. Namun, Seno menahannya.


"Kenapa Mas?" tanya Wening penuh selidik.


Pria itu tidak menyahut, namun dari tatapan matanya jelas menatapnya dengan aura berbeda. Tanpa bisa dicegah, pria itu menubruk istrinya yang setengah polos, mencumbunya dengan begitu minat.


"Udah Mas, stop! Jangan di sini," tolak Wening menggeleng. Membuat pria itu mengerti dengan ketidaknyamanannya.


Bersabar sebentar lagi lebih tepatnya, tidak mungkin juga melakukan di tempat mertua yang pasti akan mengganggu tetangga kamar. Usai mandi, keduanya berdiam diri di kamar.


"Iya Mas, istirahat saja," ujarnya merasa kasihan.


Setelah suaminya merem, Wening keluar kamar menuju kamar kakaknya.


"Mbak aku masuk ya, katanya sakit, perlu Wening antar ke dokter?" ujar gadis itu perhatian.


"Nggak usah Ning, cuma tadi perutnya kram sedikit, udah enakan kok," ujar Mbak Rara terlihat pucat.


Wening mendekat, memastikan dengan seksama.


"Kamu kapan balik?"


Kalimat bernada mengusir secara halus itu tentu membuat Wening penuh dengan perasaan. Kalau boleh dan suami mengizinkan, ia malah pingin lebih lama lagi sebelum masuk kuliah.


"Besok, maaf kalau kehadiran kami bikin Mbak kurang nyaman," ujarnya sendu.


"Bukan itu, tumben aja Seno mau lama-lama, biasanya dia udah mikir dengan pekerjaannya. Boro-boro nyempetin jalan, tapi sama kamu beda, semoga bahagia selalu ya."


Hmm ... Mbak Wening nggak tahu aja, dia emang semenyebalkan itu ternyata, sampai mau pulang aja dadakan dan tahu-tahu berangkat.


"Mbak, nanti kita mau jalan ke malioboro, Mbak mau ikut?" tawar Wening mencoba menghiburnya.


"Nggak, nanti ganggu malah, nikmati saja acara kalian berdua," ujarnya kembali terasa nyeri. Sudah mati-matian melupakan, tetapi saat dipertemukan kembali dengan perasaan keduanya yang tak lagi sama, membuat perempuan itu jelas merasa tidak nyaman. Jika pantas, dan mungkin ingin rasanya tidak pulang ke rumah saja beberapa hari.


Sesi obrolan keduanya berakhir lantaran Seno memanggil istrinya. Wening segera menyahut dan mendekat.


"Apa Mas?" tanya gadis itu mengunjungi kamarnya.


"Sekarang aja yuk, nanti kesorean," ujarnya penuh harap.


Perempuan itu pun setuju saja, mereka pergi dengan motor yang tadi dibawa ke ladang.


"Sekalian cari makan ya, laper,"ujarnya mlipir ke tempat jajanan.


Setelah mengisi perutnya, Seno berbelanja barang sengaja untuk oleh-oleh mertuanya.


"Mas, belanja barang sebanyak ini buat siapa?"


"Buat bapak sama ibu, kasihan biar tidurnya nyaman."


Usai berbelanja, Wening dan Seno menyempatkan jalan-jalan dan membeli barang pribadi milik keduanya.


"Mas, aku boleh beliin buat Mbak Rara nggak? Baju hamil ini lucu banget," pinta Wening teringat kakaknya.


"Boleh, ambil aja," ujar pria itu membebaskan. Sadar betul jarang membahagiakan istri kecilnya. Saatnya membuat gadisnya merasa nyaman dan lebih berharga, terbukti dua hari ini makin dekat saja.


Puas berjalan-jalan hingga hampir petang, keduanya memutuskan pulang. Kedua orang tua Wening nampak kaget begitu banyaknya barang perabot rumah tangga yang datang. Semua itu sebagai hadiah untuk mertuanya dan merasa senang saja selama tiga hari mendapatkan perlakuan baik dan istimewa dari kedua mertuanya.


"Bu, Pak, kami pamit ya, kapan-kapan kita main lagi," pamit Seno menyalim takzim kedua mertuanya. Diikuti Wening dengan raut mendung, memeluknya penuh keharuan.


"Mbak, Wening pulang ya, eh ya, yang kemarin aku tunjukin foto cowok itu namanya Om Afnan, aku tahu Mbak kenal? Jangan khawatir, aku akan membuatnya dia datang?" bisik gadis itu sambil berpamitan.


Bukan maksud ikut campur terlalu dalam, namun pria itu harus bertanggung jawab. Kasihan ayah dan ibunya cukup sudah menanggung cemoohan tetangga.


Rara tak menyahut, namun gestur tubuhnya merespon ketegangan yang lain.


"Ayo Dek, kamu bisikin apa sampai Rara pucat gitu?" tanya Seno setelah taksi melaju jauh.


"Salam perpisahan, kamu memperhatikan? Ck, masih perhatian aja!" cibir gadis itu mendadak mrengut.


"Kebetulan lihat, niatnya lihatin kamu, otomatis lihat dia dong, jangan cemburuan Dek, entar imutnya ilang."


"Bodo amat, eh kita mau ke mana? Kok turun di sini?" tanya Wening keheranan.


"Bulan madu, ayo turun!" ujarnya dengan tenang.