
"Maksud kamu?" tanya Afnan bak orang bodoh.
Ikh ... pingin aku hih, terus aku tampar mukanya yang pura-pura begok.
"Hihh ....!" sewot Wening gregetan sembari mengepalkan tangannya dengan gigi merapat dan muka kesal setengah mati.
Gadis itu berlalu begitu saja meninggalkan dua manusia yang jelas menatapnya curiga dan bingung. Terutama Seno tentunya, dari tadi jelas mengamati interaksi keduanya dengan wajah bertanya-tanya.
"Apa maksud Wening dengan aku harus bertanggung jawab, dasar bocah tidak jelas!" gumam Afnan menggeleng tak mengerti.
Seno setengah berlari mengikuti istrinya ke kamar hotel. Pria itu tidak sabar meminta klarifikasinya.
"Dek? Maksud kamu apa? Jelasin semuanya?" tanya Seno berusaha menahan diri. Berbicara selembut mungkin, paham betul perempuan yang tengah PMS itu emosian, bahkan tidak salah pun bisa menjadi sasaran amukan. Membuatnya waspada dengan mempersiapkan mental dan kesabaran.
Wening mengatur napas dengan menghirup udara banyak-banyak, lalu mengeluarkan dengan mulut secara teratur beberapa kali. Membuat rileksasi agar semakin tenang.
"Aku kesel sama Om Afnan, tapi aku lebih kesel lagi sama Mbak Rara. Mana bisa aku langsung nuduh-nuduh orang gitu, orang Mbak Rara-nya aja nggak mau ngaku. Padahal kan seharusnya yang paling tahu mereka yang ngelakuin. Ini sangat menyusahkan dan membuatku repot!" curhatnya kesal.
"Kamu ngomong apa sih, jelasin satu-satu. Pertama, dari mana kamu kenal Afnan? Kedua, kenapa main di rumah Yuda nggak pamit. Ini yang paling bikin aku kesel, kamu harus dihukum!" ujarnya mendadak galak.
"Iya, hukum aja, aku pasrah," jawab Wening santai.
"Sini!"
"Sekarang?"
"Iya lah, kamu harus aku jewer," ujarnya serius.
"Beneran?"
"Iya, mendekat Dek!" ujarnya gemas.
Wening mendekati suaminya dengan wajah bertanya-tanya. Sedikit takut, dan tentunya membuatnya penasaran.
"Buka," kata pria itu memerintah.
"Hah, maksudnya?" tanya gadis itu gagal paham.
Pria itu berdiri, mengarahkan istrinya untuk membuka pakaian bawah miliknya.
"Mas, aku suruh lepas ini? Kamu mau mandi?" tanya gadis itu gagal paham.
"Iya, mandi bareng kamu!"
"Hehehe. Aku lagi perboden Mas, harap bersabar," ujarnya nyengir tanpa dosa.
"Tahu, berhubung kamu nggak bisa aku mainin, kamu kenalan sama punya aku."
Seketika otak Wening langsung konek dan membuat fubuhnya panas.
"Tapi Mas, a-aku ... nggak perlu kenalan, aku udah tahu kok nama dan kegunaannya, beneran," ucapnya mencoba meloloskan diri.
"Tenang, nggak perlu gemeter itu kali, ini nggak akan gigit, cukup disayang-sayang. Perlahan tapi pasti, biar makin akrab dan jinak," ujarnya tersenyum lembut. Mengambil tangan istrinya, lalu mengarahkan tepat di atasnya. Membuat gadis itu memekik seketika.
"Aaa ... nggak mau!" rengek gadis itu merasa aneh. Malu, geli, takut, merasa asing dan konyol.
"Dicoba dulu, dia nggak nakal, penyabar dan siap nungguin sampai tempatmu siap. Ayo, ini sebagian hukuman jadi jangan mengelak!"
"Nggak bisa Mas, geli, apaan, nggak mau!" tolak gadis itu geli sendiri.
"Beneran nggak mau, nanti aku gemesin balik loh ya, aku yang bekerja atau kamu yang sayang-sayang."
Wening terdiam dengan napas memburu, panas dingin, deg degan.
"Mas, aku mules, jangan gini, perutku sakit," ujarnya jujur.
"Bohong, udah minum obat juga, sini Sayang, janji nggak melampaui batas."
Astaga! Hukuman macam apa ini?
"Anggap saja lolipop," ujarnya tersenyum santai.
Sepertinya Seno tidak bisa memaksa, dia bukan gadis dewasa yang cukup berpengalaman. Walaupun pria itu begitu menginginkan, harus ekstra sabar.
"Oke, hukumannya ganti aja," ujar Seno mengalah dengan trik yang baru.
"Sini Dek, duduk yang manis," ujarnya menepuk sisi kasur agar lebih merapat.
"Mas, beneran nggak marah, aku boleh duduk dengan nyaman?" tanya gadis itu dengan lega.
"Iya, sini deh. Sini Sayang!" ujar Seno menarik tangan istrinya hingga membuat gadis itu duduk segaris di depannya.
Seno memeluknya dari belakang, mereka sama-sama duduk di atas ranjang dengan punggung pria itu bertumpu pada headboard.
"Kita mau ngapain?" tanya gadis itu deg degan. Jarak mereka begitu rapat, perut Seno bahkan menempel sempurna di punggung istrinya. Kedua kakinya mengurung dengan sempurna.
Pria itu menyambar ponselnya yang tak jauh dari jangkauannya.
"Kita nonton ya, film yang pernah kita tonton terus kamu tidur," ujar pria itu santai. Jarinya sibuk menggulirkan layar, dagunya yang ditumbuhi jenggot halus menempel sempurna di pundak istrinya. Jarak mereka begitu dekat tanpa sekat.
"Mas, aku nggak nyaman," keluh perempuan itu ketika film mulai menampilkan adegan demi adegan.
"Tonton aja, seru itu loh Dek," ujarnya sembari tersenyum. Memposisikan ponselnya tepat di depannya di atas kasur, sementara kedua tangannya sibuk berselancar dengan nakal.
"Mas ....!"
"Hmm ... kaya gitu bisa nggak Dek, dicoba ya?" ujarnya penuh harap.
Sepertinya kali ini Wening benar-benar menjelma menjadi gadis dewasa seutuhnya. Suaminya benar-benar nakal sekali.