Pendekar Pedang Kembar

Pendekar Pedang Kembar
mendung Hitam di atas Martapura bagian 4


Arya Soma yang melihat Wiro Kusumo telah terluka hatinya pun menjadi cemas , karena kalau sampai kehilangan Wiro Kusumo keadaan bisa menjadi sangat gawat,karena dia adalah salah satu Senopati pintar yang di miliki Martapura saat ini setelah Pandan Wangi.


"Paman kencana Loka, cepat selamat kan dulu paman Wiro Kusumo"teriak Arya Soma.


"Sepertinya aku harus meninggalkan Gusti Patih Danuraka sendiri melawan orang ini"batin Kencana Loka setelah mendengar perintah dari Arya Soma itu.


"Gusti Patih sepertinya hamba....


"pergilah kencana Loka, benar apa kata patih Arya Soma, cepat kau bawa Wiro Kusumo ke tempat yang aman dulu setelah itu kau bisa ke medan pertempuran lagi "ucap Patih Danuraka memotong perkataan kencana Loka karena ia sudah tahu maksudnya.


"biar aku sendiri yang hadapi orang ini"lanjut Patih Danuraka sambil membetulkan posisi kuda kudanya.


"Jangan harap salah satu di antara kalian dapat kabur dari sini"ucap Ramapati setelah mendengar perkataan mereka.


"Cepat kencana Loka...!!!"teriak Danuraka.


"Baiklah Gusti"ucap kencana Loka segera menghampiri Wiro Kusumo,


Melihat kencana loka bergerak ke arah Wiro Kusumo yang terluka itu, Ramapati segera berniat menghentikannya ,namun Patih Danuraka langsung menghalangi nya.


"Mau kemana kau..!!"teriak Patih Danuraka,


"Sepertinya aku harus menyingkirkan orang ini lebih dulu"ucap Ramapati dengan kesal.


"Sekarang juga akan ku kirim kau ke neraka"ucap Ramapati langsung menyerang patih Danuraka.


Patih Danuraka pun menyambut serangan itu dan pertarungan kembali terjadi, serangan dua trisula Ramapati menghujani Patih Danuraka dengan hebatnya .


Dan dengan pedangnya Patih Danuraka terus menangkis sambaran sambaran dua trisula itu, tidak mau hanya bertahan Patih Danuraka pun berusaha menyerang balik Ramapati dengan jurus jurus simpanannya. dan pertarungan sengit pun langsung terjadi diantara mereka berdua, hingga tanpa terasa puluhan jurus pun sudah mereka lewati.


Dalam pertarungan itu Patih Danuraka benar benar harus menguras tenaganya untuk bertahan sekaligus menyerang Ramapati.


"Jika begini terus aku tidak akan bisa bertahan lebih lama"ucap Patih Danuraka terlihat kesal karena merasa kemampuan nya masih di bawah Ramapati.


...----------------...


Sementara itu Rangga dan pasukannya akhirnya tiba di Martapura, melihat kedatangan Rangga para prajurit pun segera menyambut nya dan langsung membuka kan pintu gerbang untuk nya.


"Gusti prabu sudah kembali"teriak prajurit penjaga pintu gerbang.


"Apa Gusti prabu sudah kembali"ucap prajurit yang berjaga di dalam dengan langsung melihat keluar untuk memastikannya.


"Ternyata benar baiklah aku harus cepat cepat melapor ini pada Gusti Dewi Kara"ucap prajurit itu kemudian berlari ke dalam.


"Sepertinya peperangan sudah di mulai anak Prabu "ucap raja Bargola,


"Benar sesegera mungkin kita harus menyusul mereka Romo"ucap Rangga sambil melangkah ke dalam.


"Sebaiknya memang begitu anak prabu jangan sampai anak prabu terlambat sampai di medan perang itu sangat tidak baik untuk pasukan Martapura"ucap raja Bargola.


"Setelah melihat keadaan Dinda Sekar secepatnya aku akan langsung berangkat Romo"ucap Rangga sambil berjalan menuju ke dalam istana.


Mendengar laporan dari prajurit itu Dewi Kara dan Dewi Sekar pun tampak gembira,Dewi Kara pun langsung keluar dari kamar untuk menyambut kedatangan Rangga.


Ketika sampai di Balairung istana Dewi Kara tampak gembira setelah melihat ayahnya juga ikut serta ke Martapura.


"Selamat datang Gusti prabu dan Romo prabu"ucap Dewi Kara.


"Kara di mana Sekar"tanya raja Bargola,


"Dia ada di kamarnya romo seperti nya hari ini ia akan melahirkan"ucap Dewi Kara.


"Apa... dia akan melahirkan hari ini"ucap Rangga dengan terkejut ,ia pun segera lari ke dalam untuk melihat keadaan istrinya.


Ketika sampai di kamarnya Rangga mendapati keadaan istrinya yang tengah berbaring dengan di temani oleh bibi Sari, seorang pelayan istana yang ahli dalam menangani orang akan melahirkan .


ia bergegas mendekati dan mencium kening istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Apakah dinda baik baik saja"ucap Rangga.


"Aku tidak apa-apa kanda "ucap Dewi Sekar sambil tersenyum menahan rasa sakit.


"Oh..ya dinda ,Romo prabu sekarang ada di sini .Akan aku perintahkan dia untuk menjaga dinda sampai anak kita ini lahir "ucap Rangga sambil mengusap-usap perut istri nya itu.


"Aku senang mendengarnya kanda,Romo jauh jauh dari Argara sampai datang ke mari "ucap Dewi Sekar,


"Romo pasti bakal betah di sini jika anak kita sudah lahir Dinda, karena dia sudah sangat merindukan kehadiran seorang cucu"ucap Rangga.


"Benar Kanda, kemarin malam saja Dinda bermimpi bahwa Romo prabu sedang bermain-main dengan dengan seorang anak kecil dengan begitu gembiranya"ucap Dewi Sekar.


Rangga tersenyum mendengar cerita istrinya itu,ia berharap istrinya bisa melahirkan dengan lancar.


"Aku sudah menyiapkan nama untuk anak kita Dinda dan Dinda pasti akan suka dengan nama itu "ucap Rangga.


"Dinda ingin tahu kanda ,siapakah nama anak kita ini"ucap Dewi Sekar.


"Baiklah Dinda "ucap Rangga kemudian membisikan ke telinganya.


Mendengar bisikan suaminya itu Dewi Sekar tampak tersenyum dan menyukai nama pilihan Rangga itu, selain bagus juga penuh makna.


"Kanda..prabu"ucap Dewi Sekar.


"Ya ada apa dinda"jawab Rangga,


"kanda prabu sepertinya hari ini ,aku ingin berlama-lama di sisi mu kanda"lanjut Dewi Sekar,


"Kanda juga ingin begitu dinda, tapi sepertinya aku tidak bisa menemani dinda di sini lebih lama lagi,karena secepatnya kanda harus segera pergi untuk membantu kanda Arya di medan perang "ucap Rangga,


Mendengar perkataan Rangga itu Dewi Sekar tampak sedih dan merasa tidak rela jika harus di tinggalnya lagi.Tapi ia juga sadar bahwa Martapura saat ini sedang dalam keadaan gawat.


"Tenanglah dinda jangan sedih,Kanda pasti akan segera kembali untuk menemani dinda, karena kanda juga sudah tidak sabar untuk menimang anak kita ini"ucap Rangga sambil mengusap usap perut istrinya itu.


"Baiklah kanda dan jagalah diri kanda"ucap Dewi Sekar, akhirnya merelakan kepergian suami tercintanya itu.


"Dinda juga harus berjuang untuk kelahiran anak kita"ucap Rangga sambil mengambil sesuatu dari laci meja di kamarnya dan tidak lupa ia juga mencium kening istrinya sebelum pergi dari kamar itu.


Dewi Sekar menatap kepergian Rangga dengan perasaan sedih seakan akan ia tidak rela jika Rangga harus jauh dari sisinya.


Setelah keluar dari kamar istrinya itu, ia pun segera menuju ke balairung istana, tampak di sana Ariani Dewi, Pandan Wangi Dewi Kara dan raja Bargola sudah menunggunya.


"Sebaiknya kita secepatnya menyusul Kanda Patih ke hutan jati Gusti prabu "ucap Dewi Kara.


"Romo dan yunda tetaplah kalian tinggal di sini untuk melindungi dinda Sekar,di sini akan aku tinggalkan lima ratus orang prajurit untuk membantu kalian berdua ,sekaligus untuk melindungi istana ini jika ada apa apa "ucap Rangga.


"Pandan Wangi dan lingga minumlah air ini secara bergantian"ucap Rangga sambil memberikan sebuah wadah air terbuat dari kulit kepada mereka berdua.


Pandan Wangi dan Lingga pun segera maju untuk untuk menerima air itu , tanpa bertanya lagi Pandan Wangi dan Lingga pun segera meminum nya.


Setelah meminum air itu Pandan Wangi merasakan keanehan pada dirinya ia seperti merasakan adanya aliran tenaga dalam pada seluruh tubuhnya dan lukanya pun sudah tidak terasa lagi.


Begitu juga dengan Lingga ia juga merasakan hal yang sama seperti Pandan Wangi, luka di punggungnya pun langsung hilang seketika tanpa bekas tanpa ia sadari.


"Bagaimana keadaan kalian berdua, apakah sudah terasa mendingan"tanya Rangga.


"Benar Gusti prabu saya merasa sudah sembuh"ucap Pandan Wangi.


"Aku juga Gusti prabu rasa sakit ku hilang semua "sahut Lingga.


"Yunda kara tolong bawa ini ke kamar Dinda sekar dan taruhlah di dalam lanci"ucap Rangga sambil menyerahkan wadah air terjun bidadari kepadanya.


"Baik Gusti prabu"ucap Dewi Kara.


"Jangan buang waktu lagi ayo kita berangkat ke hutan jati"ucap Rangga,


"baik Gusti prabu"ucap Pandan Wangi dan yang lainnya.


Akhirnya Rangga pun kemudian berangkat bersama sejumlah tujuh ribu pasukan yang di bawa dari Argara .


...****************...


Sementara itu di hutan jati tempat berjalannya peperangan pasukan Martapura benar benar terdesak oleh gempuran para pasukan dari kerajaan bulan merah,Arya Soma yang ingin membantu pasukannya harus menggigit jarinya karena terhalang oleh Patih Lanang Seta yang menghadang di depannya, sepertinya Lanang Seta sudah dapat membaca jalan pikiran Arya Soma itu.


"Jangan harap kau dapat membantu para prajurit mu "ucap Lanang Seta setelah merasakan kegelisahan pada wajah Arya Soma.


"Sepertinyanya aku memang harus menghabisi mu lebih dulu "ucap Arya Soma , hiiiaat... Arya Soma pun segera menyerang Lanang Seta di depan nya.


Arya Soma langsung mengeluarkan pukulan tapak dewa mautnya, ia berniat secepatnya untuk mengalahkan Lanang Seta ,agar bisa membantu para prajurit yang terdesak itu ,namun Lanang Seta ternyata tidak bisa di anggap remeh, karena ia juga mengeluarkan jurus-jurus andalan nya pertarungan sengit pun berlangsung diantara mereka berdua.


Lanang Seta menangkis dan menghindari serangan Arya Soma,dalam hati ia benar benar terkejut merasakan hawa panas di sekitar area pertarungan itu.


Arya Soma terus mencoba mendesak Lanang Seta dengan jurus nya itu.


merasakan situasi yang tidak menguntungkan Lanang seta segera mengubah jurus nya,


hiiiaat... Lanang Seta melepaskan pukulan tenaga dalamnya ke arah Arya Soma wuuusss... .!!


Mengetahui serangan itu ,Arya Soma segera menggunakan ilmu bela raga nya untuk menghindari nya.


Kemudian ia langsung melepaskan pukulan tapak dewa mautnya wuuusss... Tidak ingin dirinya menjadi ayam panggang ,Lanang Seta langsung menyambutnya dengan pukulan tenaga dalamnya dan duuuaaarrr....... dentuman keras pun terdengar di medan perang itu .


Lanang Seta terhuyung huyung ke belakang Lima langkah setelah benturan tadi.Sementara Arya Soma hanya mundur dua langkah ke belakang menandakan kekuatan Arya Soma masih di atas Lanang Seta.


Raja Kala Murka yang mendengar ledakan itu segera memerintahkan Cakra Lembayung untuk melihatnya.


Cakra Lembayung segera melesat cepat dengan ilmu ringan tubuhnya ke arah ledakan itu, hingga tak berlama ia pun sampai di tempat itu dan mendapati Patih Lanang Seta sedang berhadapan dengan Arya Soma .


"Kau tidak apa apa paman Patih"tanya Cakra Lembayung setelah melihat Lanang Seta dengan nafas terengah-engah.


"ya aku baik baik saja,dia benar-benar kuat pangeran hati hati dengan nya"ucap Lanang Seta.


"benar kah itu paman"tanya Cakra Lembayung sambil menatap Arya Soma dengan pandangan merendahkan.


"Saya baru saja merasakan kekuatan nya pangeran"ucap Lanang Seta dengan nafas tersengal sengal.


"Kalau begitu dia bagian ku paman,aku akan membuktikan kebenaran omongan paman patih tadi"ucap Cakra Lembayung seakan meremehkan.


"tapi pangeran pertarungan ku dengan dia belum selesai dan aku belum merasa kalahkan darinya"ucap Patih Lanang Seta seperti tidak suka pertarungan di ambil alih.


"Sudahlah paman tidak perlu mempersoalkan masalah sepele seperti itu"ucap Cakra Lembayung.


"Sebut kan nama mu Ki sanak karena aku tidak mau membunuh orang yang tidak aku ketahui namanya"ucap Cakra Lembayung tanpa memperdulikan ucapan Lanang Seta itu.


Mendengar pertanyaan Cakra Lembayung itu Arya Soma tersenyum.


"Apakah dalam peperangan di perlukan sebuah perkenalan"ucap Arya Soma dengan santai.


"Haaa....haaa... perlu sih tidak ,tapi bagi ku membunuh orang yang tidak aku ketahui namanya rasanya kurang menarik"ucap Cakra Lembayung dengan sombongnya.


" Baiklah supaya kalian berdua tidak penasaran dengar kan baik baik, nama ku adalah Arya Soma"ucap Arya Soma menyebutkan namanya.


Mendengar itu Patih Lanang Seta pun terkejut karena ia sering mendengar nama itu dari mulut ke mulut,tapi baru kali ini ia berhadapan langsung dengan orang nya, namun berbeda dengan Cakra Lembayung yang tidak tahu siapakah Arya Soma itu sebenarnya.


"Pantas ternyata kehebatan Arya Soma bukan hisapan jempol belaka"gumam Lanang Seta.


"Jadi rupanya kau Patih dari Martapura itu"ucap Patih Lanang Seta.


"kau tidak salah akulah orangnya"ucap Arya Soma dengan tenang.


"bagus dengan begitu aku Cakra Lembayung tidak akan segan segan lagi untuk membunuh mu Patih Arya Soma"ucap Cakra Lembayung .


Serbu.... tiba-tiba dari arah barat bermunculan para prajurit yang di pimpin langsung oleh Rangga,


"hancurkan mereka"teriak Rangga memberikan semangat pada prajuritnya.


Patih Lanang Seta dan Cakra Lembayung pun terkejut melihat kemunculan para prajurit itu.


"Sekarang kalian dalam masalah"ucap Arya Soma sambil menatap kemunculan Rangga dan pasukannya.


"Rupanya mereka masih punya pasukan cadangan pangeran"ucap Patih Lanang Seta dengan heran.


"Cepat paman bantu pasukan kita untuk menghadapi mereka ,aku akan menyusul paman setelah membereskan dia "ucap Cakra Lembayung dengan kepercayaan diri yang tinggi.


"Baiklah pangeran "ucap Patih Lanang Seta segera melesat meninggalkan nya.


"Sekarang tinggal kita berdua Cakra Lembayung ,mari kita buktikan siapa yang akan keluar dari pertarungan ini"ucap Arya Soma.


"Haaa.. haaa ...aku juga tidak sabar untuk menghabisi mu Arya Soma"ucap Cakra Lembayung.


Ia pun langsung melompat ke arah Arya Soma dengan mengirimkan pukulan tangan nya, Arya Soma mengelak menghindarinya dan melompat berganti mengirimkan tendangan kaki kanan nya,


tidak ingin terkena tendangan itu ,Cakra Lembayung segera menundukkan kepalanya dan langsung menyepak kaki Arya Soma,tapi dengan gerakan cepat Arya Soma kembali melompat ke atas dan berjumpalikkan di udara ,huup Arya Soma pun kemudian mendarat dua tombak dari samping Cakra Lembayung.


Melihat keadaan Arya Soma itu Cakra Lembayung langsung mengirimkan pukulan tapak besi nya wuuusss......"sial "maki Arya Soma segera menggunakan jurus belah raga untuk mengindari serangan dadakan itu dan duuuaaarrr... pukulan Cakra Lembayung pun hanya memukul angin.


"Rupanya dia bisa bergerak secepat itu"ucap Cakra Lembayung dengan terkejut yang di tutup tutupi.


"pukulan kilat petir hiiiaat"teriak Arya Soma bergantian menyerang , Cakra Lembayung segera berkelit menghindarinya duuuaaarrr pukulan Arya Soma pun menerpa ruang kosong.


Arya Soma langsung menerjang Cakra Lembayung dengan jurus jurus maut nya ,begitu juga dengan Cakra Lembayung ia pun tidak mau kalah dan melayani Arya Soma dengan jurus jurus andalan nya , hingga pertarungan seru serta sengit pun tersaji di tempat itu.


...----------------...


Pasukan yang baru datang itu langsung terjun ke medan perang untuk memberikan bantuan pada kawan kawan nya.


Di atas kudanya Rangga memperhatikan medan perang itu,ia benar benar merasa bersalah melihat prajuritnya banyak yang tewas.


"Pandan Wangi bagaimana tenaga mu apakah sudah pulih", tanya Rangga pada Pandan Wangi yang ada di sampingnya bersama dengan Ariani Dewi.


"benar Gusti prabu rasanya hamba juga bertambah kuat "ucap Pandan Wangi.


"Air yang kau minum itu adalah air terjun bidadari Wangi"ucap Rangga,


Pandan Wangi pun terkejut mendengar itu mungkin dia tidak akan percaya kalau saja yang mengatakan itu orang lain.


"Jadi tempat itu benar benar ada Gusti"tanya Pandan Wangi,


"benar Wangi,tapi sekarang aku tidak punya waktu untuk menjelaskan nya pada mu"ucap Rangga.


"Hamba mengerti Gusti prabu"ucap Pandan Wangi.


"Wangi segera lah kau bantu ratu Gandari disana, seperti nya dia sedang terdesak"perintah Rangga sambil menunjuk ke arah sebelah timur yang tidak jauh darinya berada.


"baik Gusti prabu"ucap Pandan Wangi segera melesat pergi.


"Ariani Dewi kau pimpinan lah para prajurit untuk mendesak mereka ,tapi sebelum kau pergi bawalah pedang ini"ucap Rangga sambil mengeluarkan dua pedang kembar warisan guru nya si Raja Alam dari kedua tangannya dan langsung memberikan pada Ariani Dewi.


"Jagalah pedang itu Ariani karena Pedang itu sekarang milik mu sepenuhnya"ucap Rangga kemudian.


"Jika pedang ini Gusti prabu berikan pada hamba ,lalu Gusti prabu akan memakai pedang apa"ucap Ariani Dewi.


"Kau jangan khawatir Ariani , apa kau lupa bahwa aku masih punya Pedang kembar dua mustika"ucap Rangga .


"ba ..ba....ik lah Gusti prabu"ucap Ariani Dewi tampak gugup .


Ariani Dewi pun menerima pedang kembar itu dengan tangan gemetaran, bagi mana tidak karena pedang itu bekas dari pendekar pendekar besar seperti Raja Alam dan Rangga .


"Sekarang berangkatlah Ariani "perintah Rangga.


"Baik Gusti prabu"ucap Ariani Dewi ,ia pun segera melesat menuju ke tengah tengah pertempuran.


Setelah Martapura mendapat kan tambahan pasukan akhirnya para prajurit Martapura pun dapat mengimbangi para prajurit bulan Merah.


Tidak mau hanya melihat saja Rangga pun langsung melesat ke tengah tengah pertempuran menyusul Ariani Dewi,ia langsung melepaskan pukulan badai menerjang ombak dengan kekuatan penuh ke arah para prajurit bulan merah duuuaaarrr...... dentuman keras kembali mewarnai peperangan itu.


Para prajurit Martapura yang melihat rajanya turun langsung itu semangat mereka pun bertambah dua kali lipat,


"hancurkan bulan merah ..."teriak para prajurit bersahutan.


Rangga terus mengamuk di tengah tengah pertempuran itu, duuuaaarrr..... duuuaaarrr..tak ayal lagi korban dari prajurit bulan merah pun bergelimpangan.


Melihat keganasan Rangga itu raja Kala Murka masih menatap tenang di atas kudanya.


Berbeda dengan Patih Lanang Seta yang tampak marah melihat sepak terjang Rangga,ia pun langsung melesat menghampiri ,namun sebelum ia sampai di tempat Rangga Lingga telah menyambutnya wuuusss...sebuah pukulan ia lepaskan ke arahnya.


"Sialan"ucap Lanang Seta ,ia segera menangkis pukulan itu dengan pukulan tenaga dalamnya dan pukulan mereka pun bertemu duuuaaarrr.... terlihat asap hitam mengepul.


"Akulah Lawan mu Lanang Seta"ucap Lingga.


"Kurang ajar"ucap Lanang Seta dengan geram,ia pun langsung menyerang Lingga dengan pukulan tenaga dalamnya wuuusss... Lingga segera mengelak ke samping dengan cepat,merasa serangan nya gagal Lanang Seta langsung melabrak Lingga dengan pedangnya.


Dengan penuh amarah Lanang Seta menghujani Lingga dengan sabetan pedangnya.


Tapi dengan gerakan cepat Lingga menghindarinya, diam diam Lingga sangat heran dan penasaran pada dirinya ,ia merasakan tenaga dalamnya saat ini berlipat ganda.


"Apa yang terjadi dengan diriku rasanya aku seperti sudah berlatih puluhan tahun"batin Lingga sambil terus menghindar dari serangan serangan Patih Lanang Seta.


Lingga memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan menghindari tusukan dan sabetan pedang Patih Lanang Seta.


Tidak ingin jadi bulan bulanan serangan lawan nya itu , Lingga melompat menjauhi Lanang Seta dan segera mencabut pedangnya.


Sriiing... terdengar Lingga mencabut pedangnya.


"Lanang Seta bersiap lah sekarang juga akan ku kirim kan kau ke neraka", ucap Lingga.


"Lakukan kalau kau mampu"ucap Lanang Seta langsung berkelebat ke arahnya dengan pedang terhunus.


Hiiiaat... Lanang Seta mengayunkan pedangnya weess..... Lingga pun segera menggunakan pedang untuk menangkis sabetan pedang itu.


Lingga merasakan getaran pada tangannya begitu juga dengan Patih Lanang Seta juga hal yang sama.


Lingga segera menarik kembali pedangnya begitu juga dengan Lanang seta,ting..ting terdengar pedang mereka bertemu lagi.


Lingga memutar badannya sambil mengirimkan tendangan nya ke arah Lanang Seta, mendapatkan serangan itu Lanang Seta segera menjatuhkan dirinya, namun Lingga segera mengirim tusukan pedangnya ke arah Lanang Seta yang masih dalam keadaan berbaring di tanah itu, mendapatkan serangan susulan itu Lanang seta segera menghindarinya dengan berguling guling di atas tanah.


Merasakan keadaan yang tidak menguntungkan Lanang Seta cepat cepat melepaskan pukulan wuuusss.... mendapatkan serangan tiba-tiba itu Lingga segera menarik dirinya melompat ke samping, duuuaaarrr pukulan itu pun mengenai ruang kosong.


Tidak jauh dari Lingga Ratu Gandari terlihat kewalahan menghadapi Ki Balung Waja, berkali kali ia harus jatuh bangun menghindari serangannya,


hiiiaat.... duuug Ratu Gandari terpental setelah tendangan Ki Balung Waja tepat mengenai nya,


"Akhh.... benar benar kuat orang itu "ucap Ratu Gandari dalam hati.


"haaa.. haaa... mampus lah kau perempuan sialan rasakan kematian mu "ucap Ki Balung Waja .


Ratu Gandari berusaha bangun dengan batuan pedangnya, terlihat darah keluar dari bibirnya.


"Ini sangat memalukan aku benar-benar lemah di hadapannya"ucap Ratu Gandari memaki dirinya sendiri.


"terima ini"teriak Ki Balung Waja dengan melepaskan pukulan tapak besi nya ke pada Ratu Gandari wuuusss..... duuuaaarrr...Ki Balung Waja terpental lima tombak setelah ledakan itu ,ia pun memegangi dadanya yang terasa sakit .


"Ratu Gandari beristirahat lah dan pulih kan diri mu biarkan aku yang mengurus dia"ucap Pandan Wangi ,


"Baiklah Pandan Wangi ,hati hati dengan pukulan tapak besi nya"ucap Ratu Gandari mengingatkan.


"Jangan khawatir Gusti Ratu aku sudah tahu itu"ucap Pandan Wangi sambil menatap tajam Ki Balung Waja yang masih memegangi dadanya itu.


"Kau harus membayar perbuatan mu perempuan"ucap Balung Waja sambil menunjuk wajah Pandan Wangi.


"Tidak masalah Ki akan ku kembali beserta bunganya pada mu"ucap Pandan Wangi.


"Sombong "teriak Ki Balung Waja dengan marah ia pun langsung mengerahkan tenaga dalamnya ke kedua tangannya , lama kelamaan tangan Ki Balung Waja pun merah membara dan udara di sekitarnya pun terpengaruh menjadi terasa panas.


Melihat lawannya akan mengeluarkan jurus pamungkas nya Pandan Wangi pun segera bersiap untuk mengeluarkan pukulan lembur gunung tingkat akhirnya cepat cepat merapat kan dua tangannya perlahan lahan keluar sebuah cahaya dari dua telapak tangannya yang makin lama makin membesar.


"pukulan tapak besi hiiiaat"teriak Ki Balung Waja, wuuusss... pukulan tapak besi meluncur deras ke arah pandan wangi , Pandan Wangi pun segera melepaskan pukulan nya wuuusss... pukulan mereka pun bertemu duuuaaarrr....asap memenuhi tempat mereka bertarung itu ,Ratu Gandari tampak cemas melihat Pandan Wangi tidak ada di tempat nya,


"Terimalah kematian mu"teriak Pandan Wangi tiba tiba muncul tepat di atas kepala Ki Balung Waja dengan Pedang naga mas di tangannya.


Rupanya setelah melepas pukulan lembur gunung nya Pandan Wangi langsung bergerak cepat ke arah Ki Balung Waja.


"apa.... kapan dia ber...gerak "ucap Ki Balung Waja dengan tercekat.


"hiiiaat..."teriak Pandan Wangi crash.. pedang Pandan Wangi pun meluncur deras ke arah Ki Balung Waja tanpa bisa di cegah dan dia pun ambruk ke tanah dengan berlumuran darah.


Huuuuup....huuuuup... terdengar Pandan Wangi mengambil nafas.


"Seandainya aku tidak meminum air itu mungkin aku tidak akan menang melawan pukulan tapak besi tadi"ucap Pandan Wangi merasa bersyukur.


"Wangi apakah kau berhasil mengalahkan nya"teriak Ratu Gandari dari arah belakang nya,


"Benar Ratu"ucap Pandan Wangi sambil berjalan ke arah Ratu Gandari .


"Bagaimana keadaan ratu"tanya Pandan Wangi.


"Aku baik baik saja Wangi"ucap Ratu Gandari.


"Kalau begitu mari kita bantu yang lainnya"ucap Pandan Wangi.


Melihat Ariani Dewi dan dan Kencana Loka yang berhasil mendesak para prajuritnya raja Kala Murka pun segera melesat dengan ilmu ringan tubuhnya ,ia langsung melepaskan pukulan nya duuuaaarrr..... duuuaaarrr..


",Pasti dia yang bernama Kala Murka"ucap Rangga langsung berkelebat ke arahnya.


Raja Kala Murka langsung mengamuk dengan Pedang setannya , bagaikan angin topan sambaran pedangnya itu hingga membuat seluruh para prajurit Martapura termasuk Ariani Dewi dan Kencana Loka terpental.


"Rasakan kemarahan ku"ucap raja Kala Murka sambil menyabetkan pedangnya kembali benar benar luar biasa kekuatan yang keluar dari pedang itu hingga banyak membuat para prajurit Martapura harus meregang nyawa.


"Hentikan Kala Murka"teriak Rangga setelah berada di hadapannya.


Kala Murka pun menghentikan serangannya setelah mendengar teriakkan dari Rangga itu dan menatap tajam ke arah nya.


"Jadi kaulah raja Martapura itu"ucap kala Murka .


"ya aku Rangga raja Martapura", jawab Rangga.


"Mari kita tentukan siapa yang paling kuat di antara kita bulan merah atau Martapura"ucap Kala Murka.


"Sebenarnya aku tidak suka dengan yang namanya peperangan Kala Murka, tapi jika ada orang yang ingin macam macam dengan Martapura tidak akan segan segan untuk menghabisinya"ucap Rangga dengan mengepalkan tangannya.


"haaa.....haaaa....dari nada bicara mu seakan akan kau dapat dengan mudah untuk memenangkan peperangan ini Rangga"ucap Kala Murka.


"Mari kita buktikan"ucap Rangga.


Hiaaaat.... wuuusss... Rangga langsung melepaskan pukulan badai menerjang ombak nya .


Kala Murka menangkis pukulan itu dengan Pedang setannya duuuaaarrr...


Rangga langsung menyerang kala Murka dengan mengirimkan tendangan dan pukulan kearah nya, tapi dengan sigap kala Murka mengelak dan menghindari nya.


"Apa cuma ini kemampuan raja Martapura yang terkenal itu"ucap Kala Murka dengan nada mengejek setelah tak ada satu pun serangan Rangga yang mengenainya.


"sabarlah Kala Murka nanti akan ku beri kan lebih untuk mu "ucap Rangga,ia pun segera mengerahkan tenaga dalamnya hiiiaat...Kala Murka pun melompat menjauh setelah getaran tenaga Rangga menyambar nya .


"Rupanya kau mulai serius"ucap Kala Murka dengan santai.


Rangga hanya tersenyum mendengar perkataan Kala Murka itu, lalu ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


"Ariani dan paman Kencana Loka bawalah para prajurit menjauhi tempat ini"teriak Rangga karena ia tidak mau para prajurit nya terkena dampak dari pertarungan nya dengan Kala Murka.


"Cepat kalian jauhi tempat ini ", teriak Ariani Dewi dan Kencana Loka setelah mendengar perintah dari Rangga itu.


Para prajurit pun berbondong-bondong meninggalkan medan pertempuran itu begitu juga dengan para prajurit bulan merah , mereka juga memilih menjauh dari pada harus terkena imbas dari pertarungan rajanya itu.


"Kita mulai pertarungan kita yang sesungguhnya Kala Murka"ucap Rangga setelah para prajurit sudah menjauh.


" hiiiaat Rangga segera mengeluarkan tenaga dalamnya dan langsung berkelebat menerjang kala Murka wuuusss.... kala Murka pun langsung bergerak menyambut wuusss dan pertarungan di udara pun terjadi, Rangga segera mengeluarkan pedangnya kembar dua mustika nya.


Dengan pedang itu ia menghujani kala Murka dengan sabetan pedangnya, merasakan kekuatan lawannya meningkat,


kala Murka pun juga langsung meningkatkan tenaga dalamnya,ting.....ting..pedang mereka pun beradu, Rangga bergerak ke samping dan hiaaaat dess.... Rangga berhasil melepaskan tendangan nya tepat mengenai Kala Murka sehingga membuat nya terjatuh duug ......sampai menyentuh tanah .


Rangga tidak membiarkan nya begitu saja ia langsung meluncur ke arah Kala Murka ,tapi tiba-tiba sebuah pukulan tenaga dalam yang berbentuk bola keluar dari arah kala Murka terjatuh itu dan meluncur cepat menuju ke arah Rangga,"jurus tebasan seribu pedang "teriak Rangga dengan dua pedang nya ia menghalau pukulan itu duuuaaarrr.. Rangga masih terus meluncur dan hiaaaat .


"apa...!!!"ucap Rangga setelah tidak mendapati kala Murka di tempatnya,


"rasakan ini hiaaaat"teriak Kala Murka sambil mengayunkan pedangnya dari arah belakang Rangga, tapi dengan sigap Rangga menangkis sabetan pedang itu tinng .. Rangga pun terpental lima tombak dengan posisi masih berdiri setelah pedang nya berbenturan dengan pedang setan kala Murka.


"Jurus halimun tapi kenapa gerakan tidak bisa aku rasakan "ucap Rangga dengan heran.


"Gerakan benar benar cepat, jarang ada yang bisa menghindari serangan dadakan seperti itu"ucap Kala Murka setengah tidak percaya.


Ariani Dewi dan Kencana Loka yang memperlihatkan pertarungan itu tampak cemas setelah melihat Rangga terpental.


"Paman bagaimana mana kalau kita bantu Gusti prabu"ucap Ariani Dewi.


"tidak Ariani kita hanya akan menjadi beban Gusti prabu saja"ucap kencana Loka.


Di sisi lain Patih Danuraka tampak nya mulai ke habisan tenaganya , rupanya kemampuannya benar benar di bawah Ramapati.


"Jika aku harus mati hari ini tidak mengapa "ucap Patih Danuraka terlihat pasrah.


"Sepertinya hidup mu berakhir hari ini Gusti pati"ucap Ramapati dengan nada mengejek.


"Pandan Wangi cepat kau salurkan tenaga dalam mu pada ku"ucap Ratu Gandari setelah melihat Patih Danuraka dalam keadaan hidup dan mati.


"buat apa Gusti Ratu"tanya Pandan Wangi.


"tidak ada waktu untuk memberikan penjelasan cepat lakukan saja"perintah Ratu Gandari,


"baik Gusti ratu"ucap Pandan Wangi,ia pun segera menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Ratu Gandari.


Ratu Gandari benar benar terkejut merasakan tenaga dalam Pandan Wangi yang terasa sangat besar itu.


"cukup Pandan Wangi"ucap Ratu Gandari.


Pandan Wangi pun segera mengangkat tangan nya dari bahu Ratu Gandari.


"Terima kasih wangi cepat lah kau bantu Lingga sementara aku akan membantu paman Danuraka"ucap Ratu Gandari segera melesat ke arah Patih Danuraka .


Pandan Wangi pun segera meluncur ke arah Lingga yang sedang bertarung dengan Patih Lanang Seta.


Sementara itu Ramapati tengah bersiap siap untuk menghabisi Patih Danuraka dengan dua trisula nya.


Hiiiaat.. Ramapati meluncur cepat ke arah Patih Danuraka yang tampak sudah tidak berdaya itu.


Duuuaaarrr...... sebuah hantaman mendarat di hadapan Ramapati ia pun terpaksa mengurungkan niatnya untuk menghabisi Patih Danuraka.


"Kurang ajar kau "tunjuk Ramapati setelah melihat Ratu Gandari di depannya.


"beraninya kau melukai paman Danuraka "ucap Ratu Gandari dengan marah.


"Oh jadi kau ingin mengganti kan dia dengan nyawa mu, baiklah dengan senang hati aku membunuh mu lebih dulu"ucap Ramapati.


Ramapati melompat menyerang Ratu Gandari , dua trisulanya memaksa Ratu Gandari meliuk-liuk untuk menghindari nya.


Ia melompat ke kiri sambil mengirimkan tendangan geledek nya dengan mengerahkan seluruh kekuatan nya duuug...tepat mengenai punggung Ramapati yang membuat nya terhuyung huyung ke depan.


Ramapati segera membalikkan badannya dan bersiap menyerang kembali,namun ia kemudian menghentikan langkahnya setelah merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya.


"Apa dia mempunyai ilmu kebal "ucap Ratu Gandari setelah melihat Ramapati tampak tidak apa-apa setelah terkena tendangan geledek nya.


"baiklah sepertinya aku harus segera menghabisi nya ", ucap Ratu Gandari merasa tenaganya hampir habis.


namun pada saat ia akan menyerang tiba-tiba buug... Ramapati pun roboh ke tanah dengan punggung menghitam.


Ratu Gandari pun kemudian jatuh berlutut di hadapan Patih Danuraka setelah merasakan tenaganya benar benar habis.


Di sebelah Utara Arya Soma masih sibuk melayani Cakra Lembayung yang nampak nya sangat bernafsu untuk mengalahkan nya.


Duuuaaarrr.... duuuaaarrr... Cakra Lembayung menyerang Arya Soma bertubi-tubi , Arya Soma bergerak cepat menghindari nya


"Ayo serang aku lagi"teriak Arya Soma.


"Dia benar-benar merendahkan ku"ucap Cakra Lembayung dengan tersulut emosi nya.


Cakra Lembayung segera mengangkat tangan kanannya dan muncul sebuah gada.


Arya Soma yang melihat gada itu mengerutkan keningnya karena pernah melihat benda itu sebelumnya.


"Jadi rupanya kau punya hubungan istimewa dengan Balung Wesi"ucap Arya Soma.


"Benar hari ini juga kau harus membayar kematiannya Arya Soma"ucap Cakra Lembayung.


"Benda itu benar benar merepotkan, tapi kali ini jangan harap benda itu bisa mengenai ku "ucap Arya Soma karena pernah merasakan keampuhan benda itu.


Cakra Lembayung segera melempar kan gada itu ke arah Arya Soma wuuusss....gada itu pun berputar putar di atas kepala Arya Soma dengan mengeluarkan bunyi dengung yang sangat kuat Arya Soma pun tak berdaya menghadapinya ,ia berusaha lepas dari pengaruh gada itu tapi sepertinya kekuatan gada itu jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Melihat Arya Soma yang tidak berdaya itu Cakra Lembayung segera menghantamnya dengan pukulan penghancur raganya duuuaaarrr.... tempat tanah Arya Soma itu pun berlubang dan berantakan.


"Haaa...haaa...haaa... akhirnya kau mati juga di tangan ku Arya Soma"ucap Cakra Lembayung dengan tertawa penuh kemenangan.


Cakra Lembayung tertawa penuh kemenangan, karena merasa dapat membunuh seorang pentolan Martapura yang terkenal kuat dan sakti mandraguna itu.


Namun terlalu dini bagi Cakra Lembayung untuk merasa menang, Karena ia sadari dari arah samping nya tiba tiba terdengar sebuah teriakan"pukulan tapak dewa maut "teriak suara itu yang tidak lain adalah Arya Soma ,ia langsung meluncur ke arahnya .


"Sial"ucap Cakra Lembayung setelah menyadari kedatangan Arya Soma ,ia pun segera buru buru menyambut serangan Arya Soma dengan pukulan penghancur raga hiiiaat duuuaaarrr.... Cakra Lembayung terpental dengan darah mengalir dari hidungnya.


"Ke......napa kau bi..sa lolos dari gada itu Arya Soma"tanya Cakra Lembayung dengan terbata bata karena merasakan sesak di dada dadanya.


"Dengar baik baik Cakra Lembayung ,yang terperangkap dalam gada itu adalah bayangan ku , karena waktu kau melempar gada itu aku langsung menerapkan ilmu belah raga "ucap Arya Soma.


"Kurang ajar "ucap Cakra Lembayung berusaha bangun dan bermaksud menyerang kembali.


"Cukup Cakra Lembayung jangan kau teruskan pertarungan yang tidak ada gunanya ini karena kau sudah kalah"ucap Arya Soma,


"Aku merasa belum kalah Arya Soma"ucap Cakra Lembayung.


"itu menurut mu, tapi bagi ku kau sudah kalah Cakra Lembayung aku tidak mau menghabisi lawan yang sudah tidak berdaya"ucap Arya Soma sambil membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Cakra Lembayung.


Merasa di rendahkan oleh kata kata Arya Soma itu , diam diam Cakra Lembayung bermaksud membokongnya ,ia segera menyiapkan pukulan tapak besinya lalu wuuusss..... meluncurlah pukulan itu ke arah Arya Soma ,


merasakan adanya getaran getaran bahaya Arya Soma segera menjatuhkan dirinya dan dengan gerakan kilat ,ia melemparkan keris Guntur Geninya wuuusss jleeeb .... terdengar jeritan dari Cakra Lembayung setelah keris itu menancap di dadanya.


"Rupanya percuma memberi ampun pada orang yang di butakan oleh dendam "ucap Arya Soma sambil menghampiri Cakra Lembayung dan mencabut keris nya.


...----------------...


Tanpa terasa senja pun mulai tiba sementara itu pertarungan Rangga dan Kala Murka masih berlangsung dengan seru dan belum ada tanda-tanda akan berakhir.


Pedang setan di tangan Kala Murka tampak menyala ke hitam hitaman berlawanan dengan Pedang kembar dua mustika di tangan Rangga yang menyala putih bagaikan sang mentari.


Pedang mereka menyambar nyambar bagai kan petir duuuaaarrr.... duuuaaarrr..... dentuman dentuman menghujam bumi bak di landa letusan gunung Merapi di sekitar tempat itu.


"menjauh lah kalian" teriak Arya Soma kepada para prajuritnya karena khawatir mereka terkena sambaran pedang itu.


Dengan jurus dewa pedang membelah bulan tingkat dua Rangga terus menyerang Kala Murka dengan gencar ,tapi sepertinya serangan serangan itu masih belum juga bisa menjatuhkan nya.


"Haaa....haaa.... gerakan mu masih sangat lamban Rangga"ucap Kala Murka ,ia pun segera berkelebat cepat wuusss... dan hilang di hadapan Rangga .


"Lagi-lagi jurus ini "ucap Rangga sambil menajamkan panca inderanya "hiiiaat Kala Murka muncul tiba-tiba sambil mengayunkan pedangnya, dengan gerakan cepat Rangga menangkisnya...ting..dan mengirim kan tendangan wessss....kala Murka melompat ke atas menghindarinya , Rangga segera mengirimkan pukulan ke arah wuuusss , Kala Murka menangkis dengan pedangnya duuuaaarrr.


Tidak ingin berlama-lama Rangga pun segera mengeluarkan jurus dewa pedang membelah bulan tingkat empat , pedang Rangga pun menyala lebih terang dari sebelumnya di hari yang sebentar lagi malam itu.


"Jadi dia meningkatkan jurus nya baiklah aku pun harus mengikuti permainan nya"gumam Kala Murka segera meningkatkan tenaga dalamnya.


Melihat Rangga berkelebat ke arah nya kala Murka pun segera melepaskan pukulan nya duuuaaarrr.... duuuaaarrr... duuuaaarrr tapi tak ada satu pun yang mengenainya.


Hiiiaat.. dengan gerakan yang cepat Rangga menyabetkan pedangnya wuuusss.... Kala Hitam menangkisnya , tapi kali ini Kala Murka di buat nya terkejut setelah merasakan begitu berat sabetan pedang Rangga itu hingga membuat dua kakinya amblas ke tanah,


"Apa kau masih meminta lebih Kala Murka , segera aku berikan "ucap Rangga segera memukul Kala Murka dengan pukulan badai menerjang ombak Duuug wuusss duuuaaarrr...Kala Hitam pun terpental membentur pohon akibat pukulan itu.


Rangga menatap tajam ke tempat jatuhnya Kala Murka sambil bersiap siap menghadapi serangan kejutan.


Sementara itu pertarungan Patih Lanang Seta dan Lingga telah selesai setelah Pandan Wangi ikut andil dalam pertarungan itu, Patih Lanang Seta tewas setelah Pedang naga mas Pandan Wangi merobek perutnya.


"Apakah dia sudah mati"ucap kencana Loka.


"Kurasa belum paman karena Gusti Prabu masih belum pergi dari situ"ucap Arya Soma.


"Gusti Patih apa tidak sebaiknya kita membantu Gusti kita gempur dia bersama sama"ucap Pandan Wangi.


"Sepertinya kita semua bukan tandingan mereka berdua ,jika kita ke sana kita hanya akan menganggu Gusti prabu saja "ucap Arya Soma.


"Tapi Gusti Patih ..."ucap Ariani Dewi tampak tidak setuju dengan perkataan Arya Soma itu.


"percayalah pada Gusti Prabu Ariani"ucap Arya Soma.


"Hiiiaat...."terdengar teriakan dari Kala Murka kemudian ia pun bangkit kembali, ternyata pukulan Rangga tadi tidak bisa membinasakannya.


"Kau harus membayar perbuatan mu Rangga"ucap Kala Murka segera merapat kan kedua tangan nya dan keluarlah sebuah bola api dari kedua tangan kala Murka yang berwarna merah darah, bola api itu makin lama makin membesar.


Rupanya Kala Murka ingin segera mengakhiri pertarungan itu, ia pun segera mengeluarkan pukulan andalan nya.


Rangga pun langsung terkejut begitu melihat sebuah cahaya merah yang semakin lama semakin membesar itu.


"Bukankah itu pukulan banaspati mengguncang alam",pekik Rangga, setelah melihat bola api di tangan Kala Murka.


"Ku akui kau pantas menjadi lawa ku, karena bisa memaksa ku mengeluarkan jurus andalan ku ini"ucap Kala Murka.


Arya Soma pun tercekat melihat Kala Murka menguasai ilmu terlarang itu, karena setahun dia ilmu itu sudah musnah beberapa tahun silam.


"Kanda Patih cepat tinggalkan tempat ini"teriak Rangga.


"Baik Gusti prabu"ucap Arya Soma,


"Semua tinggal kan tempat pertempuran ini cepat selagi sempat, kembali lah ke Martapura"teriak Arya Soma.


Para prajurit pun berbondong-bondong meninggalkan hutan jati itu, sementara Ariani Dewi, Pandan Wangi , kencana Loka dan Arya Soma masih di situ dengan siap siaga.


Melihat bola api semakin membesar itu, Rangga segera meningkatkan jurusnya menjadi jurus dewa pedang membelah bulan tingkat akhir,ia pun mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya sampai batas akhir.


"Rasakan ini hiiiaat ", teriak kala Murka bola api itu pun meluncur deras .


"Baiklah akan ku tangkis pukulan itu dengan pedang ini"gumam Rangga Segera melesat menyambut bola api itu wuuusss... hiiiaat Rangga menyabetkan Pedang nya dengan kekuatan penuh , namun tampaknya belum bisa untuk menghancurkan nya .


"Sial kekuatan ajian banaspati benar benar sangat kuat,jika aku sampai kalah hancurlah Martapura", ucap Rangga tampak khawatir padahal tenaga dalamnya sudah ia kerahkan semua.


Di saat kepanikan itu Rangga segera teringat pada pusaka penjaga Martapura.


"pulang Geni berikan kekuatan mu "ucap Rangga ,lalu keris yang ada di dalam tubuh nya itu tiba tiba muncul di depan nya dan langsung memberikan kekuatan nya pada Rangga.


Hiiiaat ... dengan kekuatan tambahan dari keris pulang Geni itu akhirnya duuuaaarrr...... duuuaaarrr..... ledakan pun terjadi di hari menjelang malam itu.


Seluruh hutan jati pun hancur berantakan pohon pohon pun hangus terbakar menjadi abu tanpa sisa sedikit pun .


Arya Soma dan yang lainnya pun juga tidak luput dari ledakan itu , walaupun mereka sudah membentengi diri mereka dengan tenaga dalam, masih saja terpental tidak mampu untuk menahan nya.


D****i Martapura


Tepat ledakan itu terjadi lahirlah bayi yang ada dalam kandungan Dewi Sekar ke dunia.


Mendengar tangisan bayi di waktu senja itu raja Bargola tampak sangat bahagia sekali , sudah tidak sabar lagi rasanya ingin melihat cucu pertama nya itu.


Raja Bargola terlihat mondar mandir di pintu kamar Dewi Sekar ,tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka dan muncullah bibi Sari.


"Bagaimana Sari apakah cucu ku lahir dengan sehat "tanya raja Bargola.


"benar Gusti prabu cucu Gusti prabu lahir dalam keadaan sehat,tapi...Sari tidak melanjutkan kata-katanya.


"Tapi kenapa Sari"tanya raja Bargola.


"Maaf Gusti prabu, Gusti permaisuri nyawanya tidak bisa tertolong karena pendarahan"ucap Sari sambil menundukkan kepalanya.


"Apa...!!! Sekar..."teriak raja Bargola, segera berlari menghampirinya.


"Sekar bangun Sekar apa kau mau meninggalkan anak mu"ucap raja Bargola sambil menggoyangkan tangan Dewi Sekar, yang terdiam itu.


Dewi Kara nampak berdiri terpaku di depan pintu melihat adik satu-satunya itu, berbaring dengan mata terpejam ,tanpa terasa air mata nya pun mengalir di pipinya.


Dewi Kara benar benar merasa terpukul dengan kepergian adiknya itu lebih lebih raja Bargola.


"Sudahlah Romo relakan dinda Sekar"ucap Dewi Kara dengan suara sendau menahan tangis.


Seakan tidak mendengar perkataan Dewi Kara raja Bargola terus memandangi Dewi Sekar yang berbaring itu dengan kesedihan yang mendalam.


Ia benar-benar tidak menyangka jika kedatangan nya ke Martapura adalah hari terakhir untuk melihat anaknya itu.


Raja Bargola pun tersadar ketika terdengar tangisan bayi mengalun nyaring di telinga nya,ia pun bangkit menghampiri bayi itu.


"Kedatangan mu tidak menambah dan mengurangi penduduk di bumi ini cucu ku, karena setelah kau datang saat itu pula ibu pergi"ucap raja Bargola lalu mencium bayi itu dengan penuh kasih sayang.


Tidak lama kemudian terdengar suara hiruk pikuk di halaman istana rupanya para prajurit sudah sampai di istana Martapura.


Terlihat Ratu Gandari Patih Danuraka, Wiro Kusumo dan Lingga telah sampai di istana.


Dewi Kara segera keluar untuk menyambut kedatangan mereka,


Selamat datang kembali di istana Martapura Ratu Gandari"ucap Dewi Kara dengan wajah masih memancarkan kesedihan.


"Terima kasih Gusti"ucap Ratu Gandari.


"Lalu di mana Gusti prabu Kanda Arya Soma dan yang lainnya Ratu Gandari "tanya Dewi Kara


"mereka masih ada di sana Gusti ", jawab Ratu Gandari ,lalu ratu Gandari menjelaskan kejadiannya kenapa ia sampai duluan di istana.


"Kalau begitu kita tunggu sampai Gusti prabu kembali"ucap Dewi Kara.


Sementara itu di hutan jati, Arya Soma Pandan Wangi, Ariani Dewi dan Kencana Loka sedang panik mencari keberadaan Rangga .


"Gusti prabu", teriak Ariani Dewi ia terus mencari cari Rangga.


"Gusti prabu ", teriak Pandan Wangi sambil menyisir seluruh hutan.


Setelah lelah mencari dan tidak menemukan Rangga akhirnya Arya Soma pun meminta mereka berkumpul.


"Sepertinya terlalu sulit untuk mencari Gusti prabu dalam keadaan gelap begini"ucap Arya Soma,


"Sebaiknya kita kerahkan prajurit untuk mencari keberadaan Gusti dengan membawa obor Gusti Patih"usul Ariani Dewi,


"ya aku sudah memikirkan hal itu Ariani, sebaiknya salah satu dari kita kembali ke istana untuk membawa lima ratus prajurit untuk mencari Gusti prabu"ucap Arya Soma.


"Biarkan hamba saja Gusti Patih yang ke istana"ucap kencana Loka menawarkan dirinya,


"baiklah paman cepat berangkat"ucap Arya Soma.


"baik Gusti"ucap kencana Loka segera pergi.


"Apa kira kira Gusti prabu tewas dalam pertarungan itu Gusti Patih"ucap Ariani Dewi,


"Kau jangan bicara sembarangan Ariani atau pedang ku ini yang akan menutup mulut mu "ucap Pandan Wangi merasa tidak suka dengan perkataan Ariani Dewi itu.


"Kenapa kau jadi marah Pandan Wangi"ucap Ariani Dewi ,


"Sudah-sudah ,kenapa kalian berdua jadi ribut"ucap Arya Soma merasa kesal.


"lihat itu "ucap Arya Soma sambil menunjuk sebuah cahaya terang meninggalkan tempat itu.


"Kira kira itu cahaya apa Gusti Patih"tanya Pandan Wangi,


" Entah lah ,tadi saya lihat cahaya itu muncul dari sana sebaiknya cepat kita periksa tempat itu"ucap Arya Soma segera menuju tempat itu.


Tidak lama kemudian sampailah mereka bertiga di tempat itu.


Bukankah ini tempat di mana Gusti prabu bertarung tadi Gusti Patih"ucap Pandan Wangi.


"Kau benar Wangi di sinilah Kala Murka dan Gusti prabu bertarung"jawab Arya Soma.


"Gusti Patih bukan kah ini tubuh Kala Murka"ucap Ariani Dewi setelah melihat sebuah tubuh terbujur kaku.


"Sepertinya iya ,kita pastikan setelah para prajurit datang membawa obor"ucap Arya Soma.


Tidak lama kemudian datang iring iringan prajurit dengan membawa obor di tangan mereka masing-masing.


"Sebelah sini"teriak Arya Soma .


mendengar teriakkan Arya Soma itu prajurit yang di pimpinan oleh kencana Loka pun segera menuju kearah teriakan tadi dan tidak lama mereka pun sampai di hadapan Arya Soma.


"Berikan aku obor"ucap Arya Soma,


"ini Gusti Patih "ucap salah seorang prajurit dengan memberikan obornya.


"cepat lah kalian semua menyebar untuk mencari Gusti prabu ,kalian sisir tempat ini jangan sampai ada yang terlewat satu pun"ucap Arya Soma .


"baik Gusti Patih", ucap prajurit itu segera menyebar.


Arya Soma pun segera mendekat kan obor itu ke mayat tadi dan ternyata benar kalau itu adalah mayat Kala Murka, ia tewas dengan kepala berlubang.


"Gusti Patih lalu cahaya tadi itu apa"tanya Ariani Dewi,


"Saya rasa tadi itu pasti cahaya dari keris pulang Geni"ucap Arya Soma,


"maksud Gusti Patih"tanya Pandan Wangi.


"begini ,tampak nya Gusti prabu sempat melepaskan keris pulang Geni itu ke kepala kala Murka sebelum terjadinya ledakan"ucap Arya Soma menafsirkan.


.