
Rangga meninggalkan Argara untuk kembali ke Martapura dengan menaiki kudanya, walaupun hari sudah gelap dia tidak memperdulikannya, karena ingin cepat cepat ke Martapura.
Namun tiba-tiba wuusss.... Rangga langsung melompat dari kudanya dan berjumpalikan di udara beberapa kali setelah merasakan adanya serangan gelap yang datang dari arah belakang,dan Rangga pun berhasil mendarat dengan sempurna.
"Kurang ajar perbuatan siapa ini"ucap Rangga,sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling,tapi tidak melihat siapa pun di tempat itu.
"Jangan seperti pengecut ayo cepat keluar tunjukkan diri mu,"teriak Rangga.
Namun tak juga ada sahutan wuusss... wuusss... sebuah serangan datang lagi dari arah depan nya, Rangga langsung menangkis serangan itu blaaar...blaaar terdengar bunyi ledakan setelah dua tenaga dalam berbenturan.
"Baiklah jika tetap tidak mau keluar akan ku paksa kau,"kata Rangga lalu menyilang kan kedua tangannya lalu blaaar... blaaar ia melepaskan pukulan beberapa kali ke segala arah untuk memaksa si penyerang gelap itu muncul.
Haaa ....haaa...dan benar saja tidak lama kemudian sekelebat bayangan muncul dihadapannya seorang laki laki setengah baya dengan tongkat di tangannya sambil tertawa.
"Apakah kita punya masalah ki sanak "tanya Rangga,
"Haaa.. haaa.. punya masalah atau tidak bagi ku tidak jadi soal karena aku adalah orang yang bebas untuk melakukan apa yang aku sukai",kata orang itu.
"O..jadi begitu aku juga tidak segan-segan dengan orang yang tidak punya aturan,"kata Rangga dengan bersiap menyerang.
Haaa...haaa... saya suka dengan nada bicara mu itu anak muda,"kata orang itu kemudian.
Apa tujuan ki sanak menyerang saya,"tanya Rangga,
"karena aku ingin membunuh mu jawab,"orang itu.
"Kurang ajar "ucap Rangga merasa marah.
"Aku punya satu pertanyaan pada mu anak muda "kata orang itu,
"lekas katakan apa pertanyaan mu,"kata Rangga.
"Apakah kamu yang telah melakukan pembunuhan terhadap sepuluh pendekar dari bukit tengkorak itu,"tanya orang itu.
"Aku mau jawab pertanyaan mu, tapi katakan dulu siapa kau sebenarnya,"tanya Rangga ,
"Haaa....haaa...haaa...ku akui kau memang pintar anak muda baiklah aku ku beri tahu nama ku, orang-orang biasa memanggil ku si Pencabut Nyawa dari gunung tidar,"kata orang itu memperkenal kan dirinya.
"Jadi apakah kau juga akan mencabut nyawa ku"tanya Rangga.
"Tentu saja cepat jawab pertanyaan ku yang tadi,"kata si Pencabut Nyawa itu mulai marah.
"Benar aku yang melakukan pembunuhan itu, karena mereka pantas untuk mendapatkan nya,"kata Rangga.
"Lalu apa hubungan mu dengan si Raja Alam anak muda,"tanya si Pencabut Nyawa,
"Raja alam adalah guru ku,"jawab Rangga.
"Kalau begitu aku tak segan segan lagi untuk mencabut nyawa mu anak muda, karena Raja Alam adalah musuh ku"kata si Pencabut Nyawa .
Memang nya apa yang telah di lakukan guru ku pada mu? tanya Rangga.
"Raja Alam telah membunuh adikku Beberapa tahun lalu,"kata si raja Alam.
"Berarti adik mu itu orang jahat sehingga ia patut untuk di bunuh oleh guru ku "kata Rangga,
"Kurang ajar kau ,"kata si Pencabut nyawa,lalu wuusss.... si pencabut sambil mengirimkan pukulan ke arah Rangga, dengan gerakan yang cepat Rangga menggeser tubuhnya ke samping sehingga pukulan itu mengenai tempat yang kosong,
kemudian si Pencabut Nyawa langsung menyerang Rangga dengan tongkatnya, Rangga menundukkan kepalanya untuk menghindari serangan itu kemudian salto kebelakang dua kali,
kemudian si pencabut nyawa melompat tinggi sambil bersiap memukul Rangga.
" Jurus tongkat pemukul gunung hiaaaat,, pencabut nyawa mengeluarkan salah satu dari jurusnya, mengetahui itu Rangga langsung mengeluarkan dua pedang kembarnya dan langsung menangkis serangan itu dan blaaar....terjadi ledakan sehingga keduanya sama sama terpental.
"Tidak percuma kau jadi murid si Raja Alam,"kata si pencabut Nyawa segera menyerang nya kembali dengan tongkatnya.
Melihat lawannya kembali datang menyerang Rangga segera berlari menyambutnya dan langsung melompat ke atas sambil mengarahkan pedangnya ke leher si Pencabut Nyawa,
tapi masih bisa di hindari oleh si Pencabut Nyawa dengan mengubah arah lari ke samping, lalu wusssss..satu pukulan mengarah kepada Rangga,
dengan dua pedang nya Rangga menangkis serangan itu lalu blaarrr.... kembali terjadi ledakan.
"Ternyata dia cukup kuat,"kata si pencabut nyawa sambil mengatur nafas.
"Kalau begini terus aku bisa terlambat sampai ke Martapura,"ucap Rangga.
Lalu si Pencabut Nyawa menyerang kembali , "pukulan penghancur gunung tingkat tinggi hiaaaat" teriak si Pencabut Nyawa sambil melepaskan pukulan mautnya,
Rangga terus berlari ke arah si Pencabut Nyawa sambil menghindari serangannya blaarrr .... blaaar... blaaar, pukulan si pencabut nyawa tak mengenai sasaran .
Si pencabut nyawa terus menyerang Rangga dengan gencarnya tapi tidak satu pun dari serangan nya yang dapat mengenainya.
lalu dengan gerakan yang cepat Rangga langsung menebaskan pedangnya ke arah di Pencabut Nyawa hiiiaat. ...si pencabut nyawa tidak sempat menghindarinya ,
lalu crash..sesuatu terpotong oleh pedang Rangga,lalu roboh lah si pencabut nyawa dengan kepala terpisah.
"Benar benar merepotkan"kata Rangga, lalu ia bangkit kemudian langsung melanjutkan perjalanannya.
Di ruang pendopo istana Martapura, patih Arya Soma terlihat mondar-mandir tak karuan , karena sampai saat ini Rangga belum kembali padahal seluruh pendekar dari padepokan sudah berkumpul.
"Bagaimana kalau yang mulia kita susul ke sana saja gusti patih,"tanya Ariani Dewi,
"saya juga berfikir demikian gusti patih ,"ucap Pandan Wangi,
"jangan karena kita belum tahu akan situasi di sana, karena aku yakin setelah selesai menyelidiki situasi di sana dia pasti segera kembali,"kata Arya Soma.
Setelah mengalahkan si Pencabut nyawa Rangga melanjutkan perjalanan tanpa henti hingga akhirnya sampai Rangga di Martapura.
"Maaf kanda patih jika kedatangan saya terlambat"kata Rangga tiba tiba muncul,
"hormat saya Gusti prabu ,"ucap Arya Soma dengan gembira melihat kedatangan orang yang di tunggu-tunggu itu,
"selamat datang yang Gusti prabu "kata orang -orang yang ada di ruangan itu serempak dengan berdiri.
"baiklah silahkan duduk kembali,"kata Rangga.
"Bagaimana dengan persiapan pasukan kita kanda ,"tanya Rangga,
"semuanya sudah siap dinda prabu ,kita bisa memberangkatkan mereka kapan pun ,"jawab Arya Soma,
",Bagus kanda saya senang mendengarnya,"ucap Rangga,
"lalu kapan kita akan menyerang mereka dinda prabu,"tanya Arya Soma.
"Secepat kita hancurkan mereka, jangan sampai mereka menginjakkan kaki mereka di sini,"kata Rangga dengan tegas.
Lalu ke esok kan sore harinya berangkat lah seluruh pasukan dari Martapura yang di pimpin langsung oleh Rangga sendiri menuju ke Markuraka.
Dengan sekitar tujuh belas ribu dan di tambah lima ribu pasukan dari Argara mereka akan langsung menyerang Markuraka.
Di lain tempat Markuraka juga tidak kalah siap, mereka juga telah mensiagakan seluruh pasukan nya untuk siap siap berangkat ke Martapura.
Dengan bergabungnya Ki Brajadara dan Ki Manggala membuat kesatuan pasukan Markuraka tampak percaya diri.
"Semua sudah siap yang mulia,"kata Kala Hitam,
"segera berangkat kita bumi hanguskan Martapura,"kata Karang Hitam.
Dengan semangat yang menggebu-gebu berangkat lah pasukan itu dengan kekuatan penuh.
Mereka tidak mengetahui jika Martapura juga sedang dalam perjalanan menuju ke Markuraka.
Tak lama kemudian pasukan dari Martapura itu telah sampai di hutan wilayah Argara.
"Berhenti!! "teriak Rangga
"kita istirahat di sini sambil menunggu pasukan dari Argara,"kata Rangga kemudian.
"Kanda apakah tilik sandi kita belum memberikan kabar,"tanya Rangga,
"belum dinda prabu mungkin besok ,karena mereka telah saya suruh berangkat tiga hari yang lalu"jawab Arya Soma.
"Baiklah kalau begitu"ucap Rangga.
Seluruh prajurit pun beristirahat sambil menunggu kedatangan Putri Gandari dan Patih Danuraka.
Sementara itu putri Gandari dan Patih Danuraka nampak sedang menggebah kudanya dengan cepat.
" Apakah menurut paman mereka sudah sampai di hutan itu,"tanya putri Gandari,
"mungkin mereka sudah sampai jadi percepat jalan prajurit kita,"kata patih Danuraka.