Pendekar Pedang Kembar

Pendekar Pedang Kembar
Keputusan Rangga


"Pandan Wangi aku tahu kemampuan mu dalam membaca situasi seperti ini ,jadi menurut mu apa harus di lakukan untuk mengatasi masalah ini"tanya Rangga,


Namun sebelum Pandan Wangi menjawab pertanyaan dari Rangga itu Wiro kusumo langsung mendahuluinya begitu juga dengan yang lain.


"Apa tidak sebaiknya kita melakukan penyelidikan Gusti prabu"ucap Wiro Kusumo,


"ya saya kira itu cara yang tepat Gusti prabu"tambah Lingga,


"Benar dinda prabu kita bisa menyuruh dua atau tiga orang untuk menyelidiki masalah ini"ucap Arya Soma,


"Saran kalian aku tampung dulu,tapi aku ingin dengar pendapat dari Pandan Wangi terlebih dahulu setelah itu aku akan mempertimbangkan saran dari kalian semua"ucap Rangga,


"Kalau menurut hamba sebaiknya kita segera memperkuat Argara Gusti prabu"ucap Pandan Wangi berbeda pendapat dengan mereka bertiga.


"memangnya apa yang akan terjadi dengan Argara Pandan Wangi"tanya Wiro Kusumo heran,


"tahan dulu paman Wiro Kusumo sebaiknya kita dengarkan dulu pendapat Pandan Wangi"ucap Rangga menyuruhnya diam.


"silahkan lanjutkan Pandan Wangi"ucap Rangga,


"baik Gusti prabu, saya pikir para penyerang itu akan segera melanjutkan aksinya ke Argara Gusti"ucap Pandan Wangi.


"kenapa kau begitu yakin kalau mereka akan menyerang Argara Pandan Wangi"tanya Rangga,


"Karena Argara adalah kerajaan yang paling dekat dengan kerajaan Kumaya Gusti prabu di banding kan dengan kerajaan lainnya"ucap Pandan Wangi,


"ya kau benar juga Wangi kenapa saya tidak berfikir ke arah sana "ucap Rangga.


"Sebaiknya kita harus cepat bertindak Gusti prabu karena kalau sampai Agara jatuh ke tangan mereka nanti akan membuat Martapura dalam kesulitan, karena aku yakin sasaran mereka adalah seluruh kerajaan di tanah Jawa ini "ucap Pandan Wangi,


"Baiklah , setelah saya mendengar pendapat Pandan Wangi hari ini juga saya putuskan Ariani Dewi, Pandan Wangi dan saya sendiri akan segera ke berangkat ke Argara untuk menghadapi mereka"ucap Rangga,


"Sementara kanda Patih dan yang lain tetap tinggal di sini , karena saya tidak mau Martapura kosong"ucap Rangga,


"Kanda prabu izinkan saya ikut"ucap Dewi Sekar,


"bukan kah dinda tengah mengandung , sebaiknya dinda di sini saja bersama yunda Kara "ucap Rangga,


"benar dinda Sekar, kalau dinda pergi siapa yang menggantikan Gusti prabu di sini"ucap Dewi Kara,


"Benar apa kata yunda Kara sebaiknya dinda di sini untuk keselamatan dinda dan anak kita yang masih dalam kandungan itu"ucap Rangga,


Mau tidak mau Dewi Sekar pun menurut juga, walaupun dalam hatinya sangat cemas dengan keadaan di sana.


"Baiklah kanda prabu"ucap Dewi Sekar.


"maaf Gusti prabu perkenankan hamba untuk ikut Gusti"pinta Patih Kencana Loka,


"paman sebaiknya di sini menemani kanda Arya Soma , karena kanda Patih butuh teman seperti paman pada saat-saat seperti ini dan hari ini juga paman ku angkat menjadi senopati Martapura , jadi lindungi lah Martapura seperti paman melindungi Prada Jaya dulu"ucap Rangga.


Patih Kencana Loka benar benar terharu mendengar perkataan Rangga itu dalam hati dia berjanji untuk menyerahkan hidupnya untuk Martapura.


"Jika itu kehendak Gusti prabu baiklah hamba tidak bisa membantahnya"ucap Patih Kencana Loka,


"Lingga aku perintah kan kamu untuk mencari tahu tentang lambang bulan dan kalung ini ,karena menurut ku kaulah yang paling ahli dalam bidang ini"perintah Rangga,


"hamba siap Gusti prabu"jawab lingga,


"Apakah ada pertanyaan sebelum saya bubarkan pertemuan ini"tanya Rangga,


"Apakah kanda prabu tidak membawa pasukan dari sini"tanya Arya Soma,


"Saya kira prajurit di Argara cukup kanda"ucap Rangga.Pertemuan pun akhirnya selesai.


Dan pada hari itu juga berangkatlah Rangga ke Argara bersama Pandan Wangi dan Ariani Dewi, alasan Rangga mengajak mereka adalah selain pandai mengatur siasat Pandan Wangi dan Ariani Dewi juga merupakan Senopati andalan Martapura.


...****************...


Di kerajaan bulan merah pagi itu terlihat Patih Lanang seta sedang menghadap pada raja Kalamurka untuk menyampaikan sebuah berita penting.


"Hamba menghadap paduka raja Kala Murka"ucap Patih Lanang Seta sambil menjura hormat,


"Ada kabar apa Lanang Seta"tanya raja kala Murka,


"semua berjalan sesuai dengan rencana paduka raja "ucap Patih Lanang Seta,


"bagus Lanang Seta itu yang aku harap kan"ucap raja Kala Murka dengan memperlihatkan wajah senang,


"Apakah kita perlu mengirimkan pasukan tambahan untuk membantu pasukan gagak Hitam paduka", tanya Patih Lanang Seta,


"ya secepatnya duduki Kumaya agar semakin kuat pertahanan kita di sana dan juga gerakan pasukan secepatnya untuk sasaran berikut nya Lanang Seta"perintah raja Kala Murka,


"Baiklah akan hamba segera laksanakan perintah paduka"ucap Patih Lanang Seta kemudian berlalu dari hadapan Kala Murka.


Setelah mendapat perintah dari raja Kala Murka itu Patih Lanang seta segera pun mengirimkan pasukan tambahan dalam jumlah besar ke Kumaya untuk memperkokoh kekuatan di sana.


Sementara itu Sariti dan Brajadewa merasa senang dan betah tinggal di istana Bulan Merah, mereka merasa kebutuhan tercukupi dan tidak merasa kesepian lagi seperti di gunung Lawu.


"Sariti bagaimana menurut mu kalau ayah usulkan pada Gusti Patih untuk mengangkat mu menjadi wakil ku", ucap Ki Jamprang,


"Terserah ayah saja tak masalah bagi ku"ucap Sariti Ningrum,


"baiklah nanti ayah temui Patih Lanang Seta untuk membicarakan hal itu, lalu kemana cucu ku kenapa seharian ini aku tidak melihatnya Sariti" tanya Ki Jamprang,


"dia tadi bersama kakang Gautama entah kemana "jawab Sariti Ningrum,


"Oh begitu "ucap Ki jamprang pendek saja.


"Ayah ada yang ingin ku tanyakan pada mu


"tanya apa Sariti"


"Apa tujuan paduka raja melakukan penyerangan besar besaran ke kerajaan lain itu ayah"tanya Sariti Ningrum,


"Yang jelas untuk memperluas wilayah kekuasaan anak ku, karena paduka raja berambisi untuk menaklukkan seluruh kerajaan kerajaan di sekitarnya supaya mereka semua tunduk di bawah kekuasaannya "jawab Ki Jamprang menjelaskan.


"kalau memang begitu kenapa Prada Jaya tidak di tempati ayah dan di hancurkan begitu saja"tanya Sariti Ningrum ,


"kalau masalah itu saya tidak tahu apa alasannya Sariti mungkin raja Kalamurka ingin menunjukkan pada kerajaan lain bahwa kerajaan bulan merah adalah kerajaan di tanah jawa ini "jawab Ki Jamprang,


"lalu mengenai pedang mustika kembar yang ayah idam idamkan itu ,apakah ayah sudah menyerah untuk mencarinya"tanya Sariti Ningrum mengalihkan arah pembicaraan.


"Ayah juga heran tentang pedang itu kira kira di mana Pakuan menyimpan nya, padahal di rumahnya ,saya cari tidak ada bahkan sampai di dalam istana Prada Jaya aku acak acak juga tidak ada, aku benar-benar heran dimana pedang itu saat ini Sariti"ucap Ki Jamprang.


"Apa mungkin begawan Pakuan menyimpan di tempat lain ayah, selain di rumahnya"ucap Sariti Ningrum,


"mungkin begitu ,tapi sudahlah Sariti lupakan pedang itu aku tidak mau membahasnya lagi"ucap Ki Jamprang merasa jengkel jika teringat dengan pedang mustika kembar itu.


"Ayah seperti nya aku akan keluar jalan jalan untuk melihat lihat keramaian di luar istana ini"ucap Sariti Ningrum,


"Silahkan saja jika itu keinginan mu Sariti"ucap Ki Jamprang.


"baik ayah aku keluar dulu sambil mencari Brajadewa dan kakang Gautama"ucap Sariti Ningrum dan segera pergi meninggalkan ayahnya.


Setelah Sariti Ningrum pergi lalu datanglah Lasem menghadap Ki Jamprang ,


"ada kabar penting guru"ucap Lasem,


"kabar apa yang kau bawa Lasem "tanya Ki Jamprang,


"ternyata kerajaan Kumaya berhasil di rebut dengan mudah guru"ucap Lasem,


"Kamu tahu dari mana kabar itu Lasem bukan kah Gusti Patih belum mengumumkan hal itu"tanya Ki Jamprang,


"Aku tidak sengaja mendengar kabar dari prajurit tilik sandi guru"jawab Lasem.


"Kabar bagus Lasem dengan begitu kita bisa menghemat tenaga kita"ucap Ki Jamprang,


ketika mereka berdua sedang berbincang-bincang datang lah seorang prajurit menghampiri mereka,


"ada apa prajurit "tanya Ki Jamprang,


Gusti Senopati di suruh menghadap Gusti Patih di Kepatihan Gusti"jawab prajurit itu,


"baiklah aku akan segera ke sana "ucap Ki Jamprang,


"Lasem cepat kau susul Sariti dan Gautama karena sepertinya ada yang penting"perintah Ki Jamprang,


"baik guru ,tapi di mana mereka "tanya Lasem,


"Carilah mereka di sekitar istana ini ,kalau tidak ada kau coba cari di luar"ucap Ki Jamprang dan segera pergi menuju ke Kepatihan.


Lasem pun segera pergi dari tempatnya itu untuk mencari mereka berdua.


"Sepertinya ini cocok untuk ku ayah karena selain bentuknya bagus pedang ini juga ringan"ucap Brajadewa,


"coba ibu lihat Brajadewa "ucap Sariti Ningrum segera mengambil pedang itu dari tangan Brajadewa dan memainkannya,


"Bagaimana Sariti apakah pedang itu cocok untuk Brajadewa"tanya Gautama,


"menurut ku semua pedang itu sama kakang tergantung pemiliknya saja apakah dia bisa atau tidak dalam menggunakan nya,tapi kurasa pedang ini sepertinya cocok untuk mu Brajadewa"ucap Sariti ,lalu menyerahkan pedang itu kepada Brajadewa kembali.


"Berapa harga pedang ini Ki sanak"tanya Gautama,


"boleh aku melihat tanda pengenal tuan"ucap pandai besi itu,


"tanda pengenal apa maksud mu ki sanak"tanya Gautama tidak mengerti,


"cuma sekedar ingin memastikan bahwa tuan bukan orang luar , karena kalau saya ketahuan menjual senjata pada orang luar saya pasti akan di kenakan hukuman tuan" jawab pandai besi itu,


Mendengar pertanyaan dari pandai besi itu Gautama pun teringat akan medali yang di berikan oleh Patih Lanang Seta beberapa hari lalu,


"Ini tanda pengenal ku Ki sanak"ucap Gautama sambil memperlihatkan medali itu,


melihat tanda medali Gautama itu pandai besi pun segera memberikan hormat,


"maafkan saya Gusti Senopati kalau tuan mau ,ambil saja pedang itu karena seluruh pandai besi di kota ini bekerja untuk paduka raja Kala Murka,jadi tuan tidak usah membayarnya"ucap pandai besi itu,


"oh jadi seluruh penduduk sini semua nya bekerja untuk kerajaan"gumam Sariti Ningrum setelah mendengar perkataan pandai besi itu.


"Ternyata kalian bertiga ada di sini"ucap Lasem tiba tiba datang,


"ada apa Lasem kenapa kau terlihat tergesa-gesa"tanya Sariti Ningrum,


"guru memanggil kalian berdua untuk segera menghadap"ucap Lasem,


"memangnya ada apa Lasem"tanya Gautama,


"Sepertinya ada sesuatu yang penting kakang, karena guru di suruh menghadap Gusti Patih saat ini"terang Lasem,


"Sariti dan kau Brajadewa cepat kita menghadap ayah"ucap Gautama,


"untuk pedangnya saya ucapkan terima kasih Ki,"ucap Gautama dan segera meninggalkan tempat itu.


Sementara itu di Kepatihan Ki Jamprang dan Patih Lanang Seta tampak sedang terlibat dalam perbincangan yang sangat serius.


"Jamprang aku memanggilmu mu ke sini tidak lain adalah untuk memindahkan diri mu dari sini ke kumaya"ucap Patih Lanang seta.


"Memangnya kerajaan kumaya sudah di taklukkan Gusti patih"tanya ki jamprang walau pun dirinya sudah mendengar berita itu tadi dari Lasem,.


"Benar jamprang gagak Hitam dan pasukan telah bekerja dengan cepat dan hasilnya memang selalu memuaskan tidak salah jika paduka raja memberinya hak istimewa padanya"ucap Patih Lanang seta.


Ki jamprang mengangguk angguk mendengar perkataan Patih Lanang seta itu,ia merasa penasaran dengan pasukan gagak Hitam yang di bicarakan oleh Patih Lanang seta itu.


"Jamprang secepatnya kau harus segera berangkat ke kumaya karena aku tidak ingin terjadi apa-apa di sana "ucap Patih Lanang seta.


"Baiklah kalau begitu hamba mohon pamit Gusti patih "ucap ki jamprang.


Ki jamprang segera berlalu dari hadapan Patih Lanang seta dan segera kembali ke rumah dinasnya.


Ki jamprang mempercepat langkahnya hingga dalam waktu beberapa saat saja ia sudah tiba di kediamannya,di sana ia mendapati Gautama, Sariti dan Brajadewa serta lasem.


"Baguslah kalian sudah kembali"ucap Ki jamprang ketika melihat mereka bertiga sudah berada di rumah.


"Ada apa ayah mencari kami"tanya Sariti Ningrum.


"segera persiapkan diri kalian karena sebentar lagi kita akan berangkat"ucap Ki Jamprang,


"berangkat ke mana kakek"tanya Brajadewa,


"nanti kau akan tahu Brajadewa, cepat lah bersiap siap dan kemasi barang kalian"ucap Ki Jamprang,


"Apakah kali ini akan terjadi penyerbuan besar-besaran ayah"tanya Gautama,


"nanti akan aku jelaskan di perjalanan sebaiknya kau cepat berkemas "ucap ki jamprang.


setelah mendengar perkataan Ki Jamprang itu mereka bertiga pun segera bersiap siap.


...----------------...


Akhirnya Rangga pun tiba di Argara bersama Pandan Wangi dan Ariani Dewi, melihat kedatangan mereka raja Bargola pun tampak senang dan segera menyambutnya dengan pelukan hangat .


"Apakah Martapura baik-baik saja anak prabu"tanya raja Bargola,


"benar romo,Martapura aman aman saja"jawab Rangga,


"lalu kiranya ada angin apa yang membuat anak prabu tiba-tiba saja datang kemari"tanya raja Bargola,


"Apakah Romo sudah dengar tentang di serangnya kerajaan Kumaya"tanya Rangga,


"benar anak prabu ,kabar baru baru ini juga mengatakan begitu"jawab raja Bargola,


"Kabar Itulah yang mendorong saya datang ke mari Romo"jawab Rangga,


"apakah anak prabu berniat akan berangkat ke Kumaya"tanya raja Bargola,


"tidak Romo, saya tidak akan ke Kumaya karena saya pikir sudah terlambat untuk ke sana lebih baik aku tunggu perkembangan selanjutnya dan tujuan ku ke sini adalah untuk membantu romo mempertahankan Argara "ucap Rangga,


"mempertahankan Argara , apakah maksud anak prabu Argara juga akan di serang seperti Kumaya"tanya raja Bargola,


"Saya kurang tahu pasti romo,tapi sebaiknya seluruh prajurit di kerajaan ini segera bersiap siaga untuk menjaga segala ke kemungkinan yang bakal terjadi romo"ucap Rangga,


"benar raja Bargola mulai sekarang sebaiknya kita harus mensiagakan pasukan untuk mengantisipasi dari hal hal yang tidak kita inginkan"ucap Pandan Wangi.


"benar romo kita tidak boleh menunda-nunda lagi"tambah Rangga,


"Jika itu yang anak prabu perintah kan baiklah"ucap raja Bargola, kemudian ia pun segera menyuruh prajurit memanggil Patih Guntoro untuk segera menghadap nya dan tak lama kemudian tibalah lah Patih Guntoro di Balairung istana.


"hormat saya Gusti prabu dan anak prabu"ucap Patih Guntoro,


"duduklah kakang Patih"ucap raja Bargola,


"Ada apa Gusti prabu memanggil hamba"tanya Patih Guntoro,


"Segera lah kakang siap kan pasukan untuk siaga perang dan juga perketat penjagaan"ucap raja Bargola,


"Dari ancaman apa Gusti prabu"tanya Patih Guntoro merasa bingung,


"mengenai hal itu nanti anak prabu yang akan menjelas pada mu sebaiknya cepat kerjakan perintah ku kakang"ucap raja Bargola,


"perlu di ingat paman Patih sebaiknya, bersikap lah seperti biasa dan jangan terlalu tegang"pesan Rangga,


"baik anak prabu "jawab Patih Guntoro lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


"Aku tidak mengira akan segawat ini anak prabu"ucap raja Bargola,


"Romo jangan terlalu memikirkan hal itu , nanti bisa mempengaruhi kesehatan Romo"ucap Rangga,


"ya kau benar anak prabu dan sebaiknya anak prabu istirahat dulu , anak prabu pasti lelah karena baru saja menempuh perjalanan jauh"ucap raja Bargola.


"Baiklah romo ,dan kalian berdua beristirahat lah kalian juga pasti merasa lelah"ucap Rangga,


"baiklah Gusti prabu"ucap Pandan Wangi dan Ariani Dewi , kemudian mereka pun segera menuju kamar yang telah di siapkan khusus untuk tamu.


Malam itu di Argara tampak tenang seperti biasa walaupun sebenarnya seluruh prajurit istana itu dalam posisi siaga berperang.


Sementara di halaman depan Pandan Wangi dan Ariani Dewi tampak sedang berjalan jalan untuk mengamati keadaan sekelilingnya,


"apa jangan jangan perkiraan mu salah Pandan Wangi karena sejauh ini belum ada tanda-tanda pergerakan para penyerang kerajaan Kumaya itu wangi"ucap Ariani Dewi,


"bersabar lah Ariani jika perkiraan ku meleset malah bagus tidak ada korban jiwa,tapi aku merasa yakin pasti tidak lama lagi mereka datang"ucap Pandan Wangi dengan mantap.


Ketika mereka berdua sedang berbincang-bincang datang lah Rangga bersama Patih Guntoro menghampirinya,


"Bagaimana apakah sudah ada tanda-tanda"tanya Rangga,


"belum Gusti prabu"ucap Pandan Wangi,


mendengar jawaban dari Pandan Wangi itu Rangga tampak berfikir,


"baiklah kalian bertiga tetap dalam posisi siaga sementara aku akan keluar sebentar,jika ada sesuatu nanti akan aku kirim kan tanda pada kalian dengan panah api ini"ucap Rangga sambil menunjukkan anak panah itu.


"baik Gusti prabu"ucap mereka bertiga dan kemudian Rangga pun segera melesat keluar dari istana itu dan hilang dalam kegelapan.