Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Bukan Pelayan Melainkan Seorang Budak!


Chelsea gelagapan, nyaris berteriak meminta pertolongan. Ia merasa seperti berada di dalam air yang dalam dan tak bisa mengambil napas sama sekali. Namun kemudian seseorang yang menyebut namanya dengan lantang, membuatnya lantas tersadar. Chelsea pun terjaga, dan seketika membuka matanya dengan lebar. Ia juga langsung membangunkan dirinya. Rupanya Kayla Hannes yang telah ada di kamar Chelsea yang sudah cukup rapi tersebut.


Di tangan wanita bertubuh seksi itu terlihat sebuah gelas berukuran besar. Membuat Chelsea lebih sadar, bahwa pelaku yang membuatnya harus membuka mata serta dalam keadaan basah kuyup adalah Kayla! Namun mengapa Kayla melakukan hal itu? Padahal waktu masih sangat gelap. Saat Chelsea mengintip waktu di jam dinding kecil, terlihat jarum pendek masih berada di angka dua.


"Apa yang kau lakukan, Nona?!" ucap Chelsea yang kini dikuasai kejengkelan begitu besar. Ia pun lantas turun dari ranjang kecilnya dan segera berdiri tegak di hadapan wanita yang memiliki tinggi badan nyaris sama dengan raganya. "Apa kau sudah gila, Nona Kayla?! Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini?! Ini memang pantas disebut sebagai tempat tikus, tapi camkan baik-baik, jika aku bukan tikus!"


Dan sungguh, Chelsea tidak terima ketika dirinya diperlakukan bak binatang menjijikkan.


Kayla menyeringai. "Lantas, aku harus memperlakukanmu seperti apa? Seperti tuan putri? Ingatlah baik-baik, bahwa kau itu hanya seorang budak! Ingat baik-baik jika kau itu...." Kayla menuding Chelsea dengan jari telunjuk secara kurang sopan. "Kau itu bu-dak! Bukan seorang pelayan. Jadi, pantas saja jika aku membangunkanmu dengan—"


"Kau sendiri bukannya sama saja?" sahut Chelsea cepat. Salah satu alisnya terangkat. Ia juga tak segan untuk menunjuk-nunjuk Kayla. Bahkan ia mendorong pundak wanita yang lebih tua darinya itu dengan telunjuknya. "Kau juga seorang budak, Nona! Bahkan lebih parah dariku. Kau begitu murahan. Dan aku yakin, kau juga telah menjadi budak ranjang bagi Reynof sejak lama. Hihi. Menyedihkan!"


Gemelutuk gigi lantas terdengar dari dalam rahang Kayla. Kemarahan juga sudah terpancar di wajahnya. Betapa ia sangat kesal ketika dirinya dianggap budak ranjang oleh gadis kecil yang derajatnya bahkan lebih rendah darinya. Ia adalah sekretaris kesayangan Reynof! Jadi, mana mungkin ia memiliki posisi yang bisa disamakan dengan posisi Chelsea, ketika gadis itu hanyalah sebuah barang atas kesepakatan kekalahan judi Hery Padiman pada Reynof?


Plak!


Keras dan menyakitkan. Kayla mendaratkan tamparannya di pipi kiri milik Chelsea, dan tentu saja membuat wajah gadis itu sampai terlempar ke samping. Memar merah juga langsung kelihatan. Mata Chelsea membelalak lebar. Sebagai Emily, ia memang sudah dibunuh oleh suaminya sendiri. Namun, sebagai Emily, ia tidak pernah ditampar oleh siapa pun. Saat ini harga dirinya sebagai Emily langsung bangkit. Ia memang sudah menjadi Chelsea Indriyana, tetapi jiwanya tetap seorang ratu dari kerajaan bisnis yang besar, dan ia tidak terima ditampar oleh siapa pun!


Chelsea berteriak, membuat niat Kayla untuk berbicara langsung terhenti detik itu juga. Dengan cepat, Chelsea menjambak rambut Kayla, membuat wanita yang lebih tua dari raganya itu pontang-panting dan meronta. Namun Kayla juga tidak ingin mengalah begitu saja.


Rambut Chelsea yang kebetulan sepanjang pinggang menjadi salah satu anggota tubuh Chelsea yang mudah diraih oleh Kayla. Keduanya bertengkar. Keduanya saling serang. Dan keduanya kerap melontarkan kekesalan, bahkan sampai umpatan-umpatan yang kasar.


Suasana di dalam kamar yang sebelumnya sangat kumuh itu begitu gaduh. Sampai membuat beberapa pelayan terbangun. Mereka berunding, memperundingkan cara melerai pertengkaran Chelsea dan Kayla. Salah satu pelayan pria atau lebih tepat dianggap sebagai kepala dari semua pelayan lantas pergi mengambil langkah cepat. Ia harus mengatakan apa yang terjadi pada Reynof, karena pertengkaran itu menyangkut Kayla Hannes yang cukup penting bagi tuannya.


Namun di tengah perjalanan untuk menuju kamar milik Reynof, si kepala pelayan justru bertemu dengan Ruben Diego. Sekretaris utama atau kaki tangan terpenting bagi Reynof itu baru saja memasuki ruangan utama mansion yang begitu besar.


"Selamat malam, Tuan Ruben," ucap sang kepala pelayan.


Ruben menghentikan langkah kakinya. Heran dan juga penasaran tentang apa yang membuat kepala pelayan itu berlari tergopoh-gopoh, padahal sudah cukup tua. Selain itu, di jam dua dini hari dengan pakaian tidur, bukankah itu aneh jika sekadar untuk berjalan-jalan?


"Ada apa, Pak Kepala?" ucap Ruben.


Sang kepala pelayan lantas menjawab, "Saat ini Nona Chelsea sedang bertengkar dengan Nona Kayla. Kami tidak bisa melerai keduanya karena hal tersebut menyangkut Nona Kayla."


"Apa?!" Ruben dibuat agak terkejut. Kayla Hannes bertengkar dengan seorang gadis muda? Konyol sekali. "Di mana mereka?"


"Di kamar belakang, kamar milik Nona Chelsea."


"Kedua gadis itu!"


Setelah berkata tegas, Ruben segera mengambil sikap. Ia langsung berlari ke arah kamar Chelsea yang memang berada di bagian belakang, dekat dengan sebuah gudang serta taman kecil. Akan fatal jadinya jika keduanya terlibat masalah dan membuat Reynof marah-marah.


***


Kini, kedua perempuan beda usia secara raga itu sudah berada di hadapan Reynof, sementara Reynof tampak duduk dengan posisi paling nyaman. Tubuhnya terbalut piyama pria yang menunjukkan bagian dadanya. Dan tak berselang lama, tawanya terdengar keras. Merasa lucu ketika melihat dua orang wanita dalam keadaan berantakan, bahkan basah kuyup.


"Gila, gila, gila! Kenapa kalian memperebutkan diriku sampai bertengkar seperti itu? Kenapa, Kay? Kau cemburu pada si Nona Kecil?" ucap Reynof sembari bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah Chelsea dan Kayla yang masih berdiri sembari menundukkan kepala. Dan sesaat setelah berhenti di tengah-tengah mereka, Reynof kembali berkata, "Ini masih jam dua malam lho. Hebat sekali kalian justru bermain air begitu? Hahaha! Tenang saja! Aku akan membagi waktuku untuk kalian secara adil kok! Tenaaang, Kedua Kesayanganku!"


Chelsea menggertakkan gigi. Perasaannya tidak senang. Mengapa pria itu begitu percaya diri? Dan ia tidak bertengkar demi Reynof, melainkan demi menjaga harga dirinya sendiri. Ia tidak mau Kayla terus-terusan merendahkannya!


"Silakan Tuan Reynof memberikan seluruh waktu Tuan pada Nona Kayla saja. Aku bahkan tidak membutuhkannya, selain hanya untuk kesepakatan kita. Dan aku tidak menyerang Nona Kayla karena kau, Tuan. Tapi demi harga diriku sendiri!" ucap Chelsea yang tidak mampu menahan keinginan untuk menyadarkan Reynof.


Mendengar ucapan Chelsea, wajah Reynof yang sebelumnya tampak girang, kini berubah menjadi garang. Ia merasa dipermalukan. Memang benar, bahwa sejak awal gadis itu menolak dirinya. Namun kali ini, Chelsea sudah keterlaluan. Padahal Reynof sudah menuruti ucapan Chelsea, tetapi nyatanya tak membuat Chelsea bersedia untuk melihatnya sebagai seorang pria. Gadis itu cukup menarik, tetapi juga sangat menjengkelkan!


"Kayla, keluarlah!" titah Reynof pada Kayla.


Titah Reynof membuat Kayla langsung menatap tuannya itu. Tidak percaya bahwa saat ini Reynof justru ingin bersama Chelsea saja. Meskipun ia tahu bahwa Reynof tampak marah pada Chelsea yang sudah mengatakan kalimat pertentangan, tetap saja ia masih tidak habis pikir. Mau bagaimanapun dirinya adalah seorang sekretaris yang selama lima tahun menemani Reynof, ia selalu menuruti ucapan pria itu, dan ia tidak pernah sekalipun bersikap dingin seperti halnya sikap Chelsea.


Namun mengapa Reynof justru lebih memperhatikan Chelsea? Padahal seharusnya, cukup satu kali saja, Reynof bersama gadis hasil pertaruhan judi itu, seperti saat-saat sebelumnya. Herannya, saat ini Reynof justru tak hanya tergiur atas diri Chelsea, tetapi juga sampai membawa gadis itu ke rumah!


"Ba-baik, Tuan." Pada kenyataannya, tidak ada yang bisa Kayla katakan selain hanya menurut. Ia pun segera mengangkat kakinya dan meninggalkan kamar super luas itu dengan segelintir perasaan kecewa dan cemburu.


Chelsea menelan saliva ketika Kayla sudah berangsur menutup pintu. Perasaannya tidak enak. Jika hanya Kayla saja yang diminta keluar, sudah pasti Reynof hendak membuat perhitungan dengannya yang sudah mengatakan kalimat provokasi. Namun meski akan mendapatkan masalah besar, ia sama sekali tidak merasa menyesal. Mau bagaimanapun harga dirinya tetap harus dijunjung tinggi. Meski raga dan identitas yang ia miliki bukanlah miliknya sendiri, ia tetap ingin menjaganya dengan sebaik mungkin.


"Duduk! Bersimpuhlah di hadapanku kau, Nona Kecil!" ucap Reynof dengan tegas dan keras.


Chelsea masih tidak berkutik. Jika ia menurut, sama saja ia harus menyembah manusia iblis di hadapannya tersebut.


"Oh, kau tidak berkenan ya rupanya? Memangnya kau sudah melupakan apa yang kau inginkan di malam sebelumnya?" Reynof memberikan pancingan.


Chelsea kembali menelan saliva dengan susah-payah. Matanya kini berangsur menatap wajah tampan Reynof yang tengah menunjukkan ekspresi bengis dan kejam. Dan kini Chelsea mulai sadar bahwa pria itu sudah berhasil mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Mengenai hal-hal yang terjadi di perusahaan Pano Diamond serta rumah besar miliknya sebagai Emily.


"Ugh ...." Meski mengeluh dan merasa enggan, pada akhirnya Chelsea tetap meluruhkan badan. Ia duduk bersimpuh di hadapan Reynof demi informasi terkait rumah dan perusahaannya sebagai Emily yang saat ini sudah pasti dimiliki oleh suami dan sepupunya.


"Begitu dong! Menjadi gadis yang penurut bukan sesuatu yang sulit, bukan?" ucap Reynof lalu tertawa keras, merasa mendapatkan kemenangan telak atas pertempuran melawan harga diri tinggi milik Chelsea. "Hoho, sepertinya kau pun juga memiliki kepekaan yang cukup tinggi ya, Nona? Kau pasti sudah menduga bahwa aku berhasil mendapatkan beberapa informasi terkait rumah dan perusahaan sahabat yang katamu dekat."


"Katakan. Aku sudah menyembahmu sekarang, jadi katakan, Tuan Reynof!" sahut Chelsea.


Mata Reynof memicing tajam. Dengan angkuh ia memberikan tatapan. Ia melipat kedua tangannya ke depan. Seringai sinis masih terlukis di bibirnya, hingga salah satu sudut bibirnya tampak melengkung naik. Salah satu alisnya juga terangkat. Dan tak berselang lama, Reynof melangkahkan kakinya di hadapan Chelsea.


"Bersihkan sandal kamarku dengan menggunakan lidahmu, dan aku akan memberitahu semua yang aku tahu, Nona Kecil Yang Menjengkelkan!" titah Reynof.


Mata Chelsea melebar. Ia menatap alas kaki Reynof yang berwarna hitam. Dan haruskah ia menggunakan lidahnya untuk membersihkan sandal tidur itu? Walau terlihat bersih, bukankah titah Reynof sudah sangat keterlaluan?


***