
Di sebuah kafe berkonsep retro dan begitu aestetik, Chelsea akhirnya menggelar pertemuan dengan Ronald. Ia yakin Nora tidak akan mendatangi tempat semacam itu, bahkan dirinya sendiri tidak pernah datang ke tempat yang super melankolis dan klasik tersebut.
Sejak sepuluh menit berada di kafe itu, Chelsea sudah memperbincangkan beberapa hal dengan Ronald. Chelsea pun tidak ketinggalan dengan aksinya untuk bisa mengulik apa yang terjadi di antara Ronald dan Nora dengan agak genit, kendati ponselnya sudah tersambung dengan Reynof sejak memasuki kafe tersebut.
Beberapa cerita telah Chelsea dengar, termasuk ketika Ronald memutuskan untuk memeriksa nyaris seluruh area kamar Nora, tetapi tidak ada satu pun benda yang mencurigakan. Kemungkinan Nora sudah memusnahkan segala bukti yang ada. Untuk menjadikan sebuah kejahatan sesempurna mungkin, Nora memang harus menghilangkan apa pun yang memberatkan dirinya. Namun yang namanya kejahatan, pasti tak ada yang sempurna, sebab kebenaranlah yang akan mengungkap segalanya.
Chelsea mengulas senyuman. Dengan tenang, ia lantas berkata, “Ada cara lain untuk membuat Nona Nora mengakui segala kesalahannya, Tuan Ronald.”
Ronald mengernyitkan dahi. ”A-apa itu?” balasnya bertanya.
Jujur saja, Ronald merasa agak gugup, sebab ia takut jika yang terungkap adalah kejahatannya sendiri. Namun jika ide Chelsea memiliki kemungkinan untuk membuatnya berhasil dalam menghancurkan Nora, tentu saja ia akan mencoba. Karena saat ini, Ronald terbilang tidak punya apa pun selain hanya uang beberapa juta.
Apalagi usia pernikahan Ronald dengan Emily baru menginjak usia satu bulan sebelum Emily meninggal, dan membuat Ronald belum bisa mengeruk banyak aset dari mendiang istrinya itu. Awalnya Ronald pikir, setelah dirinya membunuh Emily secara tragis, Nora akan membuatnya menjadi seorang raja di Pano Diamond, sementara wanita itu hanya akan menikmati hasil kekayaan keluarga Rukmana dengan sekadar berfoya-foya saja. Namun nyatanya Nora justru merampas semuanya dan membuat Ronald sama sekali tidak memiliki kuasa.
Untuk membuat Nora yang sudah memiliki segalanya, tentu saja Ronald harus meminta bantuan seseorang. Dan saat ini, Chelsea yang sedang menawarkan diri. Selain cantik dan pintar, orang di belakang Chelsea sangatlah kuat. Saat ini pun Ronald tidak bisa gegabah, seperti contohnya memutuskan untuk mengungkap bahwa surat wasiat yang menyatakan Nora adalah pewaris tunggal adalah surat palsu, jika ia melakukan hal itu, dirinya disingkirkan dengan mudah oleh Nora. Setidaknya sampai mendapatkan sisa bukti, Ronald akan bertahan untuk nantinya bisa membalikkan situasi ini.
“Sebenarnya, tadi malam saya bertemu dengan Nona Nora, Tuan Ronald,” ungkap Chelsea. “Kami sempat berdebat, entah mengapa saya menjadi sensitif ketika bertemu dengan beliau. Memang sih, ini salah saya karena sudah bersikap ketus. Dan saya juga minta maaf karena saya yang sempat memuji ketampanan Anda, justru membanding-bandingkan sosok Anda dengan sosok Tuan Reynof. Mau bagaimana lagi, Nona Nora yang marah sampai menyebut bahwa saya terobsesi untuk menjadi Nyonya Emily.”
”Dari cara berpakaian, cara makan, hingga cara bersikap saya benar-benar mirip dengan Nyonya Emily. Saya dituduh telah menguntit Nyonya Emily, dan lantas sedang mengincar Anda, Tuan Ronald. Karena jika saya berhasil mendapatkan Anda, maka keinginan saya untuk menjadi Nyonya Emily akan sempurna. Itulah yang beliau katakan. Padahal saya hanya penggemar berat saja yang sering melihat tayangan yang menyajikan sosok Nyonya Emily. Seperti halnya para penggemar seorang artis, pasti mereka akan mengikuti apa pun yang digunakan oleh sang idola. Dan saya hanya bersikap seperti itu, bahkan sampai tak sadar jika ternyata apa pun yang melekat pada diri saya ternyata sudah begitu mirip dengan sosok Nyonya Emily.”
“Tapi, yang membuat saya tersinggung adalah ketika Nona Nora menganggap bahwa saya sudah melakukan tindak kejahatan penguntitan,” lanjut Chelsea.
Ronald menelan saliva. Ternyata tidak hanya dirinya yang berpikir jika Chelsea memang memiliki kemiripan dengan sosok Emily. Rupanya Nora pun berpikir demikian. Namun ini bukan saatnya membahas kemiripan Chelsea dan Emily, lantaran Ronald harus segera mencari tahu soal ide yang tidak segera Chelsea katakan.
“Jadi, Anda merasa bersalah hanya karena telah membanding-bandingkan saya dengan Tuan Reynof, ya? Sebenarnya tidak masalah, Nona. Lagi pula, memang benar, jika dibandingkan dengan Tuan Reynof, tentu saja level saya masih berada di bawah beliau. Saya justru senang karena Anda telah memuji ketampanan yang mungkin saya miliki sampai harus berdebat dengan Nora.” Ronald lantas mengulas senyuman. ”Dan untuk ide itu, bisakah Nona Chelsea segera menjelaskan pada saya?”
”Seperti yang saya katakan di pertemuan kita sebelumnya, mengenai teror. Saya tidak bermaksud memberikan saran berbahaya. Teror yang saya maksud pun bukan teror yang akan membuat Nona Nora celaka. Tapi, ... Anda bisa menggunakan saya, Tuan Ronald. Jika saya memang semirip itu dengan Nyonya Emily, sepertinya saya pun bisa menjadi hantu untuk mengganggu Nona Nora sampai membuat beliau mengakui kesalahannya,” lanjut Chelsea.
Senyuman di bibir Chelsea yang hanya terpoles lipgloss bening semakin melebar. “Jika Anda mengerti maksud saya, Anda bisa langsung mempertimbangkan, Tuan Ronald. Jika Anda setuju, serahkan segalanya pada saya, asalkan Anda berkenan memberikan izin bagi saya untuk memasuki rumah Anda demi kelancaran rencana ini. Saya hanya turut membantu, jadi, saya tidak bisa memaksa Anda, tanpa meminta izin terlebih dahulu.”
Ronald menelan saliva dengan susah-payah. Rencana yang Chelsea katakan memang bisa membuat Nora merasa tersiksa. Jika Chelsea berperan sebagai Emily yang sudah mati untuk meneror Nora yang telah melupakan segala kejahatan, tentu akan menimbulkan kecemasan besar di hati Nora.
Lalu mengizinkan Chelsea untuk memasuki rumah Emily, apakah akan baik-baik saja? Sejauh ini, Chelsea memang bersikap normal, bahkan ketika melakukan kesalahan kecil saja, Chelsea lantas meminta maaf pada Ronald. Tak seperti saat di pertemuan awal, Chelsea yang belakangan ini Ronald temui sungguh menunjukkan sikap seorang gadis yang masih menyukai tantangan seperti para gadis seusianya.
“Saya tidak akan ketahuan, dan tidak akan membuat Anda kerepotan, Tuan,” ucap Chelsea masih berusaha untuk mempengaruhi hati Ronald, dan agar dirinya diizinkan untuk memasuki rumahnya sendiri.
Ronald menghela napas. “Nora itu ... orangnya mudah menyalahkan orang lain, apalagi jika keadaannya sudah terlalu tertekan, Nona Chelsea. Saya khawatir jika nantinya Anda justru tak percaya pada saya ketika Nora yang berhasil Anda takut-takuti mendadak menyebut nama saya.”
Rupanya, Ronald tidak terlalu bodoh meskipun mudah sekali dikendalikan. Dia mengatakan hal itu agar dirinya tetap aman, ketika Nora melimpahkan segala kesalahan padanya. Mengenai mudah dikendalikan, aku tidak menyangka seorang penipu pun bisa dikuasai oleh seorang wanita. Bahkan ketika aku berkata seperti itu pun, dia tampaknya langsung percaya dan berharap pada rencana terorku. Aku jadi berpikir, apakah dulu yang mencetuskan ide untuk membunuhku adalah Nora? Karena seingatku Nora pernah membisikkan sesuatu padanya, batin Chelsea.
“Kalau saya tidak percaya pada Anda, mana mungkin saya terus menemui Anda, Tuan? Dan saya sudah memahami sifat Nona Nora, bukan karena saya sudah mengenal beliau, melainkan memang terlalu banyak orang yang memiliki sifat seperti beliau yang tak mau kalah dan kerap melimpahkan kesalahan pada orang lain. Jadi, nantinya saya tidak akan terpengaruh atas ucapan Nona Nora di saat beliau membawa-bawa nama Anda, Tuan Ronald,” ucap Chelsea untuk meyakinkan suami dari sosok jiwanya.
Ronald malah terdiam bingung. Masih khawatir tentang apa yang ia takutkan kendati Chelsea sudah mencoba menenangkan dirinya. Namun sebagian besar relung hatinya sudah setuju atas penawaran yang diberikan oleh gadis itu. Lagi pula, tak ada bukti yang tersisa setelah ia mencari ke mana-mana, jadi akan aman-aman saja jika Chelsea ia bahwa ke dalam rumah mendiang istrinya. Ronald pun sudah merasa penasaran dengan bagaimana Chelsea akan beraksi untuk membuat Nora benar-benar ketakutan, setelah selama ini Nora bersikap angkuh dan sok berkuasa.
”Baik, saya setuju dan saya berterima kasih jika Nona Chelsea berkenan untuk membantu saya sampai sejauh ini. Saya benar-benar akan membalas semua kebaikan Anda nantinya,” ucap Ronald pada akhirnya dan jawabannya membuat senyuman Chelsea yang sejatinya adalah Emily langsung melebar detik itu juga.
Sebab selain untuk meneror Nora dan menjebak Ronald, ada banyak sekali barang berharga yang ingin Chelsea ambil. Meliputi cap resmi miliknya, sebuah alat khusus untuk membuka segel brankas, ponsel cadangannya, dan beberapa barang lainnya. Namun tentu saja ia tidak akan seserakah itu dulu untuk mengambil semuanya di saat sudah berhasil memasuki rumahnya. Dan tidak hanya Nora saja yang akan Chelsea siksa, sebentar lagi Ronald juga akan merasakan siksaan yang sama.
***