
Ronald yang masih nyenyak tidur, apalagi setelah diperbolehkan membersihkan diri, mendadak dibangunkan oleh seseorang. Ia terbangun dengan keadaan menggeragap dan langsung meringkuk untuk melindungi dirinya. Namun perlindungan diri yang tak seberapa tersebut, tentu saja tidak membuat seseorang berbadan besar dan kekar itu kesulitan dalam menarik paksa tangan Ronald.
Ruben yang ternyata turut hadir, kemudian bertitah, “Ikat dia seerat mungkin. Jangan sampai tangan atau kakinya lolos dari jeratan tali. Tapi, taruh tangannya di depan.”
”Baik, Tuan,” sahut si badan besar.
“Ampuni saya, tolong! Bunuh saya kalau perlu, agar saya tidak kesakitan lagi!” ronta Ronald memohon meski dirinya sudah mulai dijerat tali tambang lagi. ”Tolong, Sekretaris Ruben, tolong ampuni saya!”
Namun Ruben memilih mengabaikan permohonan Ronald. Sekalipun ia memiliki wewenang untuk membuat keputusan dalam memperlakukan Ronald, ia tetap akan mengikat Ronald dengan tali tambang tanpa memberikan pengampunan. Bukan perkara Ronald adalah pelaku pembunuhan atas diri Emily saja, tetapi Ronald yang juga hampir membunuh Reynof dan Chelsea, telah membuat Ruben marah besar.
“Sekretaris Ruben?!” ucap Ronald sembari berusaha melepaskan diri dari jeratan tali yang mengikat dirinya di kursi besi. Sayangnya seruannya lagi-lagi tidak diindahkan oleh Ruben bahkan juga si Badan besar, ketika kedua pria penyiksa itu sudah beranjak pergi.
Ronald mengeluh sedih. Sementara hatinya tetap merasa heran, mengenai mereka yang tidak lantas membunuh. Padahal ia sudah disekap cukup lama, bahkan ia sampai tidak tahu sudah berapa hari dirinya ada di dalam ruangan pengap tersebut. Belakangan ini, Ruben dan para bawahan juga tak sampai menyiksa Ronald secara brutal. Mereka malah memberikan makanan, yang meski bukan makanan layak disantap.
Beberapa jam yang lalu pun, Ronald diizinkan untuk membersihkan diri, sampai Ronald menjadi salah paham. Ia mengira dirinya akan lekas dibebaskan, tetapi sekarang? Ia justru diikat dengan erat di kursi besi itu. Sebenarnya apa yang mereka rencanakan? Apakah mereka berencana untuk membunuh Ronald, setelah membuat Ronald mendapatkan secercah harapan?
“Kenapa begini? Emily, maafkan aku ...,” gumam Ronald ketika buliran air mata juga sudah meluruh menodai pipinya yang kian tirus.
Lalu tiba-tiba terdengar suara benturan ujung highheels dengan lantai, yang membuat Ronald langsung mengangkat kepalanya. Seorang wanita muncul di ruangan penyekapan tersebut. Adalah Chelsea yang memang benar-benar memakai sepatu berhak tinggi dan gaun yang begitu cantik. Penampilan Chelsea sungguh persis dengan penampilan terakhir Emily beberapa saat sebelum Emily mati. Namun di tangan gadis atau wanita itu tampak menenteng sesuatu.
”Emily ...?” Bibir Ronald yang kering dan pucat menggumamkan nama istrinya. Ia yang semakin yakin bahwa Chelsea adalah Emily, tanpa memedulikan logika, kini sibuk melebarkan mata. Rahangnya turut menganga, di mana jantungnya pun berdetak semakin cepat.
Chelsea menghentikan langkah tepat di hadapan Ronald yang membuatnya cukup terkejut. Ia tidak menyangka suaminya itu sudah berubah menjadi pria kurus yang tampak lemah dan berantakan. Tampaknya Reynof benar-benar memberikan penyiksaan yang tidak hanya melukai fisik, tetapi juga mental Ronald.
Detik berikutnya, Chelsea menaruh barang bawaannya di lantai abu-abu dari tempat itu. Sementara map yang berisikan surat perceraian ia letakkan di atas barang lainnya.
”Hai, Suamiku,” ucap Chelsea lalu tersenyum lebar. ”Bagaimana kabarmu? Ah ...!” Chelsea menutup mulutnya dan berlagak bodoh. “Benar juga, kabarmu pasti tidak baik-baik saja ya? Oh, maafkan aku karena aku sungguh tak peka.”
”Emily ... Emily, maafkan aku. Kumohon maafkan aku, Emily.” Ronald meronta dan berusaha mendekati sosok berwajah Chelsea yang sudah ia yakini merupakan sang istri. ”Maafkan aku, aku mohon, Emily.”
”Waaah! Tak seperti Nora yang langsung menuduhku sebagai seorang penguntit, ternyata kau lebih mudah diyakinkan ya, Ronald?” Chelsea mengambil satu langkah maju. Detik berikutnya, ia menarik paksa dagu suaminya itu. ”Ya, aku memang istrimu, Sayang. Istri yang kau bunuh!”
”Emily, aku sungguh minta maaf. A-aku bisa melakukan apa pun, a-aku—”
”Kalau begitu, turuti ucapanku, Ronald.” Chelsea berangsur melepaskan tangannya dari dagu Ronald. Detik berikutnya, ia mengambil map dan meraih surat perceraian di dalamnya. Chelsea menaruh sebuah bolpoin sekaligus juga surat itu di pangkuan Ronald. ”Tandatangani surat itu, Ronald, aku ingin bercerai denganmu bahkan meski aku sudah bukan Emily lagi.”
Ronald menatap surat lalu menatap Chelsea. “Cerai?”
“Ya, aku tidak hanya ingin sekadar gerai mati dariku, melainkan juga cerai secara sah! Jika kau merasa bersalah, tandatangani surat itu, Ronald. Meski diikat, aku lihat tanganmu masih cukup leluasa.”
Ronald kembali menatap surat persetujuan perceraian, lalu menelan saliva. Gamang hatinya. Namun apa mau dikata. Ia tidak seharusnya menolak permintaan dari Chelsea alias Emily. Hingga akhirnya, Ronald membubuhkan tanda tangannya dengan berat hati.
Chelsea langsung meraih surat perceraian itu, lalu tersenyum lebar. Lega setelah dirinya telah menjadi mantan istri dari suami yang telah membunuhnya. Namun niat Chelsea tak hanya sekadar itu saja, ia masih harus melakukan sesuatu.
Mata Ronald melebar, rahangnya pun demikian. Syok menerpa dirinya ketika Chelsea alias Emily mempertanyakan hal yang seharusnya masih menjadi sebuah rahasia. Sungguh tak mudah bagi Ronald untuk memberikan jawaban yang sesuai kenyataan. Ia tak siap dengan kebencian besar dari istri yang telah menjadi mantan teruntuk dirinya. Saat ketahuan bahwa dirinya telah membunuh Emily saja, sudah membuatnya berada di ambang kehancuran. Apalagi setelah ketahuan membunuh kedua mertuanya. Ia yakin dirinya akan kembali disiksa secara brutal dan belum diizinkan untuk mati.
”Emily, a-aku ....” Benar-benar tak sanggup. Tenggorokan Ronald seperti dicekik. “Aku ....”
”Jawab, Sialan!” Chelsea memberikan ketegasan.
Sayangnya, Ronald justru tampak kebingungan.
Detik itu juga, Chelsea yang terlanjut geregetan mengambil salah satu barang bawaannya, yang merupakan botol berisi wine. Untuk jumlah minuman tersebut, Reynof sudah membekalinya hingga enam botol dengan kadar alkkohol yang sangat tinggi. Chelsea membuka segel dari minuman tersebut. Dan setelahnya, ia kembali menghampiri Ronald.
Dengan kasar, Chelsea menarik rambut gondrong Ronald hingga membuat kepala pria itu mendongak. Kemarahan dan dendam yang sudah teramat besar membuat Chelsea tak mau memberikan sedikit pun belas kasihan. Ia mencekoki Ronald dengan minuman yang juga pernah Ronald dan Nora masukkan paksa ke dalam mulutnya.
Ronald meronta-ronta ketika Chelsea tak segera menyingkirkan botol dari mulutnya. Bahkan pria itu sampai tersedak beberapa kali.
“Asal kau tahu, Ronald, tanpa kau membunuh kedua orang tuaku, aku sudah tertarik padamu di saat itu! Tapi, kau malah menjadi iblis hina dan serakah. Kau menghancurkan keluargaku! Kau jauh lebih hina, Ronald! Kau bukan manusia!” ucap Chelsea. ”Telan! Jangan kau muntahkan sedikit pun, Sialan! Telan! Rasakan bagaimana sakit dan terbakarnya tenggorokanku ketika kau paksa menenggak minuman keras ini, Ronald!”
”Em ... ely.” Ronald terbatuk-batuk dan gelagapan setelah Chelsea berkenan menyingkirkan botol tersebut. Ia seperti sedang berada di dalam sebuah laut yang membuatnya hampir tenggelam. ”Emily, uhuk! Maafkan aku, Emily. Maaf.”
”Maaf?! Kau pikir, kata maafmu itu bisa mengembalikan ayah dan ibuku, serta tubuhku?!” Geram, Chelsea kembali menarik rambut Ronald dan mengulangi penyiksaannya terhadap pria itu. ”Bahkan, kau itu tidak pantas untuk mati!”
Air mata Ronald berderai, tak hanya karena kesedihannya, melainkan juga efek penyiksaan dari Chelsea. Berulang kali ia tersedak, terbatuk-batuk, dan nyaris pingsan. Namun Chelsea masih tiada ampun untuk memasukkan wine-wine itu ke dalam lambungnya. Tenggorokan Ronald benar-benar sakit, perih, dan panas. Kepalanya pusing. Efek alkkohol membuatnya akan kehilangan kesadaran. Ronald berharap dirinya meregang nyawa pada saat ini juga. Terlalu perih segala hal yang ia terima. Istri yang ia bunuh pun tak berkenan untuk memberikan maaf untuknya.
”Aaaaaaa! Kau tak boleh mati, Sialan!” pekik Chelsea ketika Ronald sudah lunglai. Chelsea melemparkan botol kelima minuman itu ke sudut ruangan sampai pecah parah. Ia bahkan menangis sejadi-jadinya, setelah lima botol wine berhasil ia masukkan ke dalam tubuh mantan suaminya itu.
Hingga akhirnya Chelsea terduduk lemah. Meratapi nasib yang menimpa dirinya serta kedua orang tuanya. Ya, pembalasan dendamnya sebagai seorang istri yang dibunuh suaminya memang berhasil. Namun keberhasilan itu malah disertai dengan kenyataan di balik kematian kedua orang tuanya yang ternyata dibunuh oleh orang yang sama.
Pada akhirnya dendam dan kemarahan tak serta merta membuat Chelsea mendapatkan kebahagiaan. Meski keadilan sudah ia dapatkan, rasanya tetap hampa dan menyakitkan. Apalagi setelah ini, dirinya akan pergi meninggalkan pria yang sudah sangat berarti.
Tak lama berselang, Reynof pun muncul. Di belakang Reynof, ada Ruben yang terbengong-bengong dan bingung. Ruben telah mendengar semua ucapan Chelsea pada Ronald, dan ia benar-benar sulit memahami situasi Chelsea saat ini. Chelsea adalah Emily. Dan bagaimana Chelsea menyiksa Ronald dengan beberapa botol minuman keras, memang sukses membuat Ruben pusing tujuh keliling.
“Ayo, kau sudah bekerja keras, Nona. Biarkan Ruben yang mengakhiri rencanamu,” ucap Reynof sembari membantu Chelsea untuk bangkit.
“Jangan biarkan dia mati dulu,” ucap Chelsea yang telah mengikuti ucapan Reynof untuk lekas bangkit dan pergi.
”Se-serahkan pada saya, No-nona,” sahut Ruben yang masih sulit meredam kebingungannya.
Chelsea menjawab pelan, “Terima kasih.”
***