Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Momen Manis Reynof dan Chelsea Bagian 2


Kesal bercampur gemas, membuat Reynof tak hanya sekadar memeluk Chelsea dengan erat, melainkan juga sampai menggelitiki pinggang gadis itu. Sampai suara tawa mereka terdengar secara bersamaan. Pun dengan kekesalan di hati Reynof yang mulai menepi, tergantikan oleh rasa senang karena ia bisa melewati momen manis ini bersama Chelsea—Emily. Reynof senang ketika sosok di dalam tubuh itu tak lagi kaku, ketus, dan dingin. Si Jiwa yang selalu membencinya tampaknya sudah benar-benar membuka kesempatan untuk berhubungan dengan baik dengannya.


Namun di balik rasa senang yang baru Reynof dapatkan, hadir juga kecemasan sekaligus rasa sakit. Ia tidak mau kehilangan Chelsea—Emily lebih tepatnya. Hanya saja, ia tak punya kuasa. Seandainya raga Emily belum terkubur, mungkin Reynof masih memiliki kesempatan. Sayangnya, keadaan saat ini sudah berbeda. Reynof menyesal karena tidak mengenali sosok Emily sejak awal atau sejak sebelum jasad Emily dikuburkan.


”Sudah, sudah, hentikan. Aku bisa mati lemas kalau kau tak mau menghentikan ulah jarimu, Tuan Rey ....” Chelsea menatap Reynof.


“Rey?” sahut Reynof sembari menaikkan kedua alisnya.


”Nooof! Puas?”


Lengkungan senyum manis lantas terlukis di bibir Reynof. “Nah, begitu dong! Dan tolong, jangan ucapkan kata 'mati' lagi, Nona.”


“Kenapa? Sepertinya kau sudah terlalu familier dengan ungkapan itu.” Chelsea menjawab sembari mengernyitkan dahi.


”Tidak apa-apa. Tapi kau tetap tak boleh mengatakannya dan ini perintah!”


“Ouh astaga! Perintah yang sangat aneh!”


Reynof tak lagi menyahut, melainkan kembali mendekap tubuh Chelsea dengan erat. Netra abu-abunya melihat ke segala penjuru ruangan dan memang tak ada satu pun vas bunga. Entah apa yang membuat Chelsea begitu membenci bunga, tetapi Reynof yakin ada kaitannya dengan kematiannya sebagai Emily. Sialnya, Reynof justru menambah rasa benci Chelsea terhadap benda itu dengan menyodorkan pecahan vas bunga ke leher Chelsea.


“Kau aneh! Kenapa belakangan ini kerap memelukku?” ucap Chelsea. “Lepaskan aku, Tuan. Rambutku yang sudah tergelung rapi menjadi berantakan lagi. Dan kita harus segera berangkat bekerja, bukan?”


”Tidak,” sahut Reynof yang masih enggan melepaskan dekapannya. “Satu Minggu lagi, kerja sama kita dengan Gaspard Cassel akan diresmikan dan tentu kabar itu akan mencuat ke berbagai media. Di mana kita pun akan semakin sibuk, terutama dirimu, karena kau pasti akan tetap melanjutkan rencanamu. Kita harus menghadapi Nora yang pasti akan menaruh curiga bahkan marah besar, karena kita justru mendapatkan kesempatan kerja sama dengan sang pengusaha dari Prancis, di saat dia gagal. Ada banyak hal yang harus kita lakukan. Dan waktu kita untuk bersantai sudah tak banyak lagi.”


“Jadi, Nona,” lanjut Reynof sembari mengubah sikapnya. Ia berangsur menangkup kedua pipi Chelsea. “Full hari ini, bahkan hingga besok, mari kita berkencan. Lagi pula, ini hari Sabtu, bukan? Sekarang, Ronald juga sudah berada di genggamanmu. Lupakan rencanamu terlebih dahulu, dan biarkan dia bertindak untukmu, agar kau bisa fokus pada kencan kita dua hari ini. Kau tak keberatan, bukan?”


Chelsea menelan saliva. Sejujurnya ia cukup bingung. Ia ingin menyelesaikan apa yang sudah ia rencanakan. Dua hari adalah waktu yang begitu berarti, karena barangkali ia bisa mendapatkan sesuatu yang berharga dalam jumlah hari tersebut. Namun wajah tampan Reynof malah menunjukkan pengharapan yang begitu besar.


Reynof pun sudah melakukan banyak hal untuk Chelsea, dan bahkan berkenan untuk tidak menyentuh Chelsea secara intim lagi. Dan tak hanya segala bantuan yang mengacu pada rencana Chelsea, Reynof juga telah memberikan penginapan mewah teruntuk Dahlia. Sungkan rasanya bagi Chelsea untuk menolak permintaan kecil Reynof yang sudah banyak berubah demi dirinya.


“Baiklah,” ucap Chelsea lalu tersenyum sembari terus menatap Reynof. “Jadi, kau mau mengajakku kencan di mana selama dua hari ini? Berkemah di sekitar gunung, atau mungkin di pinggir pantai?”


“Jika kau menginginkan hal itu, tentu aku akan langsung memesan tiket untuk ke Bali. Dan sekaligus menambah hari kencan kita, Nona,” sahut Reynof.


Chelsea tercengang. ”Tidak, tidak! Jangan menambah hari. Lakukan di dekat-dekat saja, Tuan.”


”Baiklah, apa pun yang kau mau.”


“Aku tak keberatan, saat ini aku justru senang.”


“Kau bukan seperti Tuan Reynof yang aku temui untuk pertama kali.”


“Aku berubah untukmu.”


”Tapi, kau tetap orang yang membeliku dari ayahku.”


”Dan kau adalah wanita yang tak pernah memandangku selayaknya manusia.”


”Hahah, memang benar, tapi sekarang kau sudah nyaris selayaknya manusia, jadi jangan khawatir.”


Chelsea segera melepaskan tangan Reynof yang sejak tadi sudah menggenggam tangannya. Ia menjauh dan berjalan ke arah cermin rias. Dan ternyata rambutnya sudah dalam keadaan berantakan parah. Reynof memang menyebalkan. Namun, baiklah, untuk kali ini Chelsea tak akan marah-marah.


Tak lama berselang, Reynof kembali mendekati Chelsea. Ia segera merampas sisir putih dari tangan gadis itu. Dengan perlahan dan tanpa berkata berlebihan, Reynof membantu merapikan rambut Chelsea. Hatinya terus berharap, agar ia bisa bersama Chelsea—Emily lebih lama lagi. Kesedihan dan ketakutan benar-benar telah mengusir segala kebengisan sekaligus keangkuhannya. Saat ini dirinya sungguh tak berdaya. Ia hanyalah seorang manusia, yang tidak memiliki kuasa untuk mempertahankan si Jiwa.


Aku mencintaimu, Emily. Tak bisakah kita terus bersama seperti ini? Kenapa di saat kita sudah saling membuka hati, justru ada kenyataan yang membuat kita terancam tak bisa bersama lebih lama lagi? Kenapa kita baru bisa saling menatap, ketika kau tinggal di tubuh orang lain? Kenapa bukan aku yang menikah denganmu, dan malah Ronald yang akan menjadi salah satu calon tersangka atas kematianmu? Rintih Reynof dalam hati. Dan wajahnya tak seceria tadi. Ia hanya sesekali tersenyum ketika Chelsea tersenyum padanya.


Kenyataan ini benar-benar sulit bagi Reynof. Bahkan ia yang jarang menitikkan air mata sejak menjadi penguasa Neverley dan menjelma menjadi sosok bengis, kini justru ingin sekali menangis.


Dengan kenyataan yang tak bisa dinalar akal tersebut, lantas bagaimana jalan kisah Reynof dan Chelsea yang sejatinya adalah Emily terus berlanjut? Haruskah Reynof meminta bantuan seorang dukun untuk memagari tubuh Chelsea, agar jiwa Emily tak pernah keluar dari tubuh itu sampai kapan pun?


“Nanti kalau aku banyak belanja, lantaran aku memang sudah lama tidak berbelanja, jangan marah ya!” celetuk Chelsea.


Reynof tersenyum tipis lalu mengangguk. ”Kau boleh bersenang-senang, Nona. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan tanpa harus memikirkan diriku, karena dua hari ini aku benar-benar akan membebaskan dirimu, selama kau juga terus berada di sampingku.”


”Ah, itu namanya bukan bebas dong! Tapi baiklah, aku benar-benar akan menghabiskan uang di brankasmu, Tuan Reynop!”


”Hei, ayolah! Jangan kumat!”


”Biar saja hahaha.”


***