
Tak diduga, tak dinyana. Tiba-tiba saja, Reynof menyingkirkan tangan Chelsea dari salah satu bagian tubuhnya. Bahkan tak hanya itu saja. Reynof sampai menghempaskan tubuh gadis itu. Sikap Reynof yang terbilang kasar langsung membuat Chelsea terpekik sekaligus terkejut dalam waktu yang bersamaan. Tubuhnya terlempar di atas lantai, bahkan meski ada sebuah permadani yang menutupi, siku dan lututnya terasa nyeri.
Dengan ekspresi yang kebas, Chelsea menatap Reynof. Penuh tanda tanya besar di benaknya yang tengah tidak habis pikir. Namun ketika teringat tentang sikap Reynof di saat pria itu mengarahkan pecahan vas bunga pada lehernya, ia langsung mewajarkan apa yang dilakukan pria itu saat ini. Kini selain merasa sangat dipermalukan, Chelsea juga harus menerima kenyataan bahwa dirinya tidak bisa mendapatkan posisi yang setara dengan jabatan Kayla Hannes. Ia yang sudah berusaha untuk menawarkan diri, padahal hal itu sangat ia benci, sudah ditolak mentah-mentah oleh Reynof.
"Kenapa kau melihatku dengan wajah syok dan frustrasi seperti itu, Nona Kecil?" ucap Reynof diiringi embusan napasnya yang terdengar kasar. Ia bahkan sampai menggertakkan giginya. Detik berikutnya, ia kembali menuangkan wine ke dalam gelas yang masih sama.
Reynof menyantap minuman itu, tetapi tidak tampak menikmati seperti sebelumnya. Ekspresi di wajah tampannya juga lebih dingin dan tidak senang dengan situasi yang ada saat ini. Dan memang benar bahwasanya ia sedang tidak berselera. Chelsea lagi-lagi membuat keputusan yang tak sejalan dengan keinginan Reynof. Selain terus membantah, gadis itu mulai lupa diri akan posisi.
"Kau pikir ...." Reynof meletakkan gelas wine-nya, lalu bersandar dengan angkuh. Tatapannya begitu tajam, tertuju pada Chelsea yang masih tampak frustrasi. "Mentang-mentang kau cantik dan aku menginginkanmu, lantas membuat kepercayaan dirimu menjadi setinggi angkasa, begitu?"
"Apa maksudmu?" sahut Chelsea masih tidak mengerti. "Aku meminta sesuatu dan aku akan membayar apa yang aku minta itu! Dan itulah yang kita sepakati!"
"Ya!" Keras dan tegas, Reynof menyahut. "Tapi, tidak dengan keadaan seburuk itu, Nona. Kau terlalu berantakan dan justru membuatku tidak berselera. Jangan mentang-mentang kau diinginkan, lantas kau merasa percaya diri dan besar kepala di semua keadaan. Jika kau ingin menggodaku, setidaknya kau harus memperbaiki penampilanmu, Nona. Dan lagi, ... kau pikir aku akan memercayakan posisi yang setinggi Kayla Hannes pada gadis yang bahkan tidak lulus kuliah? Memangnya kau sepintar apa, selain hanya pintar membantah saja?"
Tidak! Kau salah, Reynof! Aku adalah wanita pintar. Bukan gadis yang bahkan tidak lulus kuliah! Aku bukan Chelsea yang sebenarnya. Aku adalah Emily, dan kau pasti tahu seberapa pintarnya diriku, sampai kau selalu takut jika Pano Diamond mengalahkan Nerverley. Kau bahkan pernah berbuat curang karena takut akan kemampuanku! Chelsea ingin mengaku. Mempertegas bahwa dirinya adalah Emily Panorama Rukmana. Agar setidaknya Reynof tidak terlalu meremehkan dirinya. Namun apa daya, ia tidak mampu melakukannya. Sama seperti Dokter August, Reynof pasti akan menganggapnya sedang mengalami gangguan syarat atau tengah berhalusinasi.
Bersyukur karena diberikan kesempatan kedua, tetapi di keadaan sepelik ini, rasa ingin mengeluh itu tetap ada. Mengapa harus mendapatkan tubuh seorang gadis miskin dan lemah? Sebenarnya, bagaimana Chelsea yang asli menjalani hidupnya selama ini, bahkan sampai tak lulus kuliah? Apakah Heri Padiman yang membuat gadis itu sampai kehilangan mimpi?
Chelsea memejamkan matanya dan menghirup udara dingin nan menyakitkan secara perlahan. Ia harus tenang dan berpikir memakai akal yang sehat. Ia tidak boleh kehilangan waktu lebih banyak lagi untuk bisa membalas perbuatan suami yang telah membunuhnya dan juga sepupu yang telah berkomplot untuk membunuhnya.
Dengan menggunakan ingatan Emily yang masih terpatri jelas, Chelsea berharap bisa mendapatkan satu saja senjata untuk membuat Reynof percaya. Karena jika hanya mengandalkan diri saja, tampaknya malam ini pria itu benar-benar sedang tidak berselera.
"Pergilah. Malam ini kau cukup menjengkelkan, Nona, padahal aku sudah memberikan informasi yang kau inginkan. Jika kau terus berada di sini, bisa-bisa aku tak pernah menginginkanmu lagi, melainkan langsung muak padamu!" ucap Reynof dengan tegas. Tak ada sedikit pun kesempatan yang ingin ia berikan pada gadis idamannya yang kurang ajar itu.
Chelsea menelan saliva. Detik berikutnya, ia berangsur membuka matanya yang terpejam cukup lama. Ia menatap Reynof dengan tegas dan penuh keyakinan. "Tidak lama lagi, Pano Diamond akan memiliki diskusi penting dengan seorang pengusaha dari Prancis. Sebuah perusahaan real estate terkemuka di Eropa itu ingin membangun sebuah kompleks elit di negara ini. Pano Diamond ditunjuk sebagai salah satu calon partner bisnis karena Emily yang mampu menunjukkan kemampuannya ketika baru saja satu tahun memimpin perusahaan. Seharusnya kau bisa merampas kerja sama dengan pengusaha besar itu, di saat Pano Diamond sedang tak memiliki pemimpin yang kompeten. Karena aku yakin, baik Ronald ataupun Nora, keduanya tidak bisa bekerja sebaik Emily. Selain itu, kenaikan jabatan yang akan terjadi pada salah satu di antara mereka pasti akan menimbulkan pro dan kontra di antara para petinggi. Ini kesempatan yang bagus untuk mengalahkan Pano Diamond, bukan? Kau pun punya darah Prancis, barang kali hal itu bisa menguntungkanmu dalam memikat pengusaha itu."
Terkejut diri Reynof, rahangnya sampai ternganga dan ia menarik tubuhnya. Sungguh tidak menyangka tentang bagaimana bisa seorang gadis berusia 20 tahun mampu mengetahui sebuah rencana besar, dan bahkan sampai tahu hal penting yang berkaitan dengan Pano Diamond Group Real Estate Company. Chelsea bertindak seolah-olah dirinya adalah Emily. Sebenarnya seberapa hebat dan pintarnya gadis itu? Dan bagaimana bisa?
Detik berikutnya, Reynof memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah Chelsea dengan menyusuri permadani abu-abu yang menutupi lantai hitam kamar itu. Namun alih-alih memberikan reaksi lewat kata-kata, Reynof justru terus melangkahkan kaki dan mengelilingi tubuh gadis itu.
"Aku mengatakan sesuatu yang benar. Aku tidak mengada-ada. Apalagi menyangkut dua perusahaan besar. Dan setahuku rencana itu masih disimpan rapat-rapat oleh kedua belah pihak. Emily belum mengemukakan apa pun, bahkan sampai hari kematiannya. Dan kau juga tidak pernah mendengar hal itu, bukan?" ucap Chelsea tanpa memedulikan pergerakan Reynof saat ini.
Yang Chelsea harapkan adalah dirinya mampu mempengaruhi hati dan pikiran pria itu, meski ia harus mempertaruhkan Pano Diamond Group yang ia miliki sebagai Emily. Dan sebagai Emily, ia juga telah membuang sebuah kesempatan besar untuk bekerja sama dengan pengusaha dari Eropa, padahal ia sudah susah-payah dalam mendapatkan hal itu. Apa mau dikata. Pano Diamond juga akan hancur jika berada di tangan Ronald, atau Nora. Jadi, sekalian saja!
"Hei, Nona!" Akhirnya Reynof ambil suara. Langkahnya terhenti tepat di depan wajah Chelsea. Detik berikutnya, ia berjongkok. Ia mengamati wajah Chelsea yang tetap cantik meski saat ini penampilan Chelsea sangat berantakan. Tidak ada satu pun gurat kebohongan yang tertera di wajah ayu gadis itu. "Apa kau ... adalah Emily?"
"Apa kau adalah Emily Panorama Rukmana?"
"Apa kau tak salah tanya?"
"Kenapa?"
"Jika aku katakan bahwa aku adalah Emily, apa kau akan percaya, Tuan?"
"Mmm ...." Reynof menghela napas, lalu berangsur menggeleng-gelengkan kepalanya. "Maksudmu aku harus memercayai jika yang ada di dalam tubuh Chelsea adalah roh Emily, begitu?"
Chelsea mengangguk. "Ya. Jika jiwa yang mengisi raga ini adalah Emily, apa kau akan percaya?"
"Tentu saja tidak! Hahaha! Kau pikir aku sudah tidak waras?" Reynof menjadi geli sendiri setelah mendapatkan pertanyaan konyol dari Chelsea. "Jika roh seseorang ada di raga orang lain, itu sama halnya kesurupan! Dan aku tidak memercayai hal-hal mistis seperti itu! Realistis saja!"
"Baik, aku paham." Chelsea menghela napas. Merasa konyol setelah mengajukan pertanyaan bodoh pada Reynof. "Aku hanya terlalu dekat dengan Emily, dan mengetahui banyak hal tentangnya. Dia sering berbagi cerita penting hanya denganku. Bisa dibilang aku adalah sahabat miskin rahasianya. Jadi, kau tidak akan mendapatkan informasi tentangku di orang-orang sekitarnya, Tuan Reynof!" Dan ia berharap penjelasan kali ini lebih masuk akal lagi.
Reynof masih cengengesan, tetapi ia juga berkata, "Baik, baik. Aku akan mencoba memercayai pengakuanmu yang satu itu. Tapi tidak dengan pengakuan bahwa kau adalah Emily. Kau boleh saja terus berusaha mengendalikan situasi, tapi kau tidak bisa membuatku menjadi orang tidak waras, Nona! Selain itu, meski kau cantik, aku rasa, Emily jauh lebih cantik. Dia juga seksi, pintar, memesona, dan terawat sekaligus kaya. Kalian berdua sangat berbeda. Tapi sepertinya kalian satu tipe soal sikap. Sama-sama keras kepala dan sok jual mahal!"
Oh ternyata seperti itu sosok Emily di mata Reynof. Pria mata keranjang yang tetap menilai badan Emily, meskipum selama ini Emily selalu bersikap dingin. Bahkan ketika Emily sudah dinyatakan mati saja, pria itu masih tidak merasa berdosa untuk menunjukkan pikiran kotornya. Membuat Emily yang hidup di tubuh Chelsea menjadi semakin muak. Namun sekali lagi, saat ini ia adalah Chelsea dan ia tidak boleh bersikap seolah-olah dirinya adalah Emily, meski hal itu sangat benar.
"Aku ingin kau membantuku, dan aku benar-benar akan melakukan apa yang kau inginkan, Tuan. Karena Emily memang sedekat itu dengan diriku. Dan aku berharap informasi rahasia yang baru saja aku katakan bisa menjadi pertimbangan untukmu," ucap Chelsea. Detik berikutnya, ia berusaha untuk bangkit.
Chelsea memutuskan untuk segera keluar dari kamar itu. Ia tidak mau mati kedinginan di saat ia belum berganti pakaian sejak tadi. Lagi pula menunggu keputusan Reynof sama saja seperti menunggu keadilan yang ia inginkan, dan itu pasti akan memakan waktu lebih lama.
"Aku permisi terlebih dahulu, untuk mengurus tubuhku yang tidak terawat," ucap Chelsea lalu menghela napas dalam, kemudian membungkuk di hadapan Reynof. "Tolong pertimbangkan apa yang aku katakan. Jika aku tidak bisa mendapatkan jabatan seperti Kayla, aku harap kau tak berhenti untuk membantuku."
"Besok pagi ...," ucap Reynof dan membuat niat Chelsea untuk memutar badan lantas terhenti. "Datanglah ke meja makan. Aku mengundangmu untuk sarapan bersama."
Chelsea menatap Reynof. Dan tanpa mengatakan apa pun, ia menganggukkan kepalanya. Detik berikutnya, ia benar-benar memutar badannya dan bergegas untuk keluar. Ia berharap semoga saja undangan santap sarapan bersama merupakan pertanda yang bagus. Reynof akan terus membantunya, syukur-syukur jika Reynof memberikan posisi yang setara dengan posisi Kayla Hannes.
***