
“Halo, Nona Chelsea. Selamat malam, saya minta maaf jika kiranya saya sangat menganggu waktu Anda. Mm, hanya ingin menyampaikan bahwa saya sudah memutuskan barang apa yang hendak saya berikan pada Anda selaku penggemar berat dari istri saya, bagaimana jika kita besok bertemu? Mm, tentu saja jika Nona tidak keberatan dan sedang tidak sibuk,” ucap Ronald yang langsung panjang lebar, sekalipun Chelsea belum menyahut sama sekali. Dan memang benar bahwa saat ini dirinya tengah gugup sekaligus takut membuat Chelsea merasa terganggu.
Chelsea yang masih berada di restoran bersama Reynof tidak langsung menjawab ucapan Ronald, melainkan justru menatap Reynof. Tatapan Chelsea dibalas dengan sinis oleh Reynof, diiringi gertakan pelan yang dilakukan tuannya itu untuk memberikan penekanan.
Namun Chelsea hanya bisa menghela napas, di saat perasaannya terasa sesak setelah terjebak di antara dua pria yang sangat merepotkan. Satu, pria yang merupakan suaminya kala masih hidup sebagai Emily sekaligus pembunuhnya, yang satunya merupakan pria bengis yang begitu tergila-gila pada pesonanya sebagai Chelsea Indriyana. Dan sungguh! Rasanya Chelsea nyaris kewalahan untuk menghadapi mereka dalam waktu yang bersamaan.
“Nona Chelsea ...?” Suara Ronald terdengar lagi, hendak memastikan apakah Chelsea masih mendengar suaranya dengan baik.
“Ya, Tuan Ronald,” sahut Chelsea dan tetap menatap mata abu-abu Reynof yang masih begitu tajam. “Saya besok ada waktu kok. Jadi, kita bisa bertemu di siang hari.”
Reynof tambah melotot. Tak senang karena Chelsea justru setuju pada penawaran Ronald, ia berencana mengambil ponsel Chelsea untuk mematikan panggilan itu. Namun usahanya harus gagal ketika Chelsea malah jauh lebih sigap. Gadis itu merampas ponselnya sendiri sekaligus sudah menempelkan benda itu di daun telinganya, kendati pengeras suara masih saja menyala.
“Ah, bagus!” Suara Ronald terdengar antusias, sampai membuat Chelsea terkejut setelah menyadari pengeras suara memang belum ia matikan.
Sesaat setelah agak menjauhkan ponsel dari telinganya, Chelsea lantas berkata, “Tapi saya hanya bisa bertemu di restoran yang posisinya dekat dengan gedung perusahaan Neverley. Saya juga tidak memiliki banyak waktu. Karena meski sedang berada di jam makan siang, bos saya kerap memanggil agar saya tetap bekerja! Dan kalau saya tidak cepat datang, bos saya bisa menjelma menjadi seekor singa yang siap menerkam saya kapan saja! Kalau Anda mengetahui image beliau yang memang super bengis, sepertinya saya tidak harus menjelaskan lagi untuk membuat Anda mengerti, Tuan Ronald.” Ia cukup sarkastik terhadap Reynof. “Jadi, maaf jika nantinya saya yang harus menentukan tempat pertemuan kita, Tuan Ronald.”
“Ah, baik, Nona Chelsea. Ti-tidak masalah, toh, hanya sekadar mengantarkan kenang-kenangan milik Emily saja.” Terdengar suara helaan napas Ronald yang tampaknya agak kecewa. “Kalau begitu—”
“Kalau begitu sampai jumpa besok, Tuan Ronald!”
Detik setelah memotong ucapan Ronald, Chelsea langsung mematikan panggilan. Ia bahkan tak berkenan untuk mengatakan kalimat pamit yang lebih elegan. Sekadar mendengar suara pembunuh itu sebenarnya ia sudah sangat muak, apalagi jika ditambahi tatapan dingin dari Reynof yang seolah sampai menembus ulu hatinya.
“Ck, girang sekali karena mau berkencan ya!” Reynof berceletuk disertai ekspresi tidak senang.
“Tuan lebih baik pulang saja, karena aku sudah terlalu lelah untuk bertengkar. Aku juga harus segera kembali ke rumah sakit. Malam ini aku berencana menginap di rumah sakit saja, melihat kondisi Ibu yang tampaknya membutuhkan diriku. Kau tak akan bisa tidur pulas di rumah sakit yang katamu jelek itu, bukan?” Chelsea menatap sinis kemudian berangsur bangkit dari duduknya. “Jika tak percaya padaku, kau bisa memastikan lagi alat pelacak yang sudah kau pasang untuk memastikan aku tidak kabur. Kau juga memiliki banyak anak buah, kau bisa mengintaiku diam-diam dengan menggunakan mereka.”
“Tidak!” tandas Reynof cepat. Ia juga sudah bangkit dari duduknya. “Jika aku pulang, kau juga harus pulang. Kau harus menemaniku lagi malam ini dan ini perintah! Soal ibumu, aku bisa mengirimkan salah satu pelayanku untuk menjaganya!”
Chelsea menghela napas, merasa tambah lelah karena Reynof tetap berlaku ketat. “Aku mohon, kali ini saja, Tuan Reynof. Dan aku akan menemanimu sampai kau puas, setelah kau mengizinkan aku ada di sisi ibuku. Berikan sedikit waktu bagiku untuk bisa bernapas. Dan hanya dengan melihat ibuku, aku baru bisa merasakan sedikit hidup nyaman meski hanya beberapa jam saja.”
“Jadi?”Mata Reynof memicing tajam. “Setelah banyaknya perhatian bahkan fasilitas yang aku berikan, kau tetap merasa tidak nyaman?”
“Sejujurnya iya, meski aku tetap berterima kasih atas semua bantuan darimu. Tapi, mau bagaimanapun aku adalah seorang budak yang harus terus menuruti dirimu, baik pekerjaan maupun di dalam kamar. Aku merasa sesak, dan saat ini aku sangat berharap kau berkenan untuk berbaik hati memberikan jatah libur untukku, apalagi aku menggunakan hari liburku untuk menjaga ibuku bukan bersenang-senang, Tuan Reynof.”
Pengakuan Chelsea yang dikatakan secara jujur itu akhirnya sukses meruntuhkan ego Reynof yang sangat tinggi. Keduanya berpisah setelah melewati makan malam sederhana di rumah makan yang juga sederhana. Reynof membawa sejumlah kekesalannya untuk pulang ke kediamannya, dan memang langsung ke mansion itu, bukannya ke diskotik maupun tempat perjudian. Entah. Ia hanya merasa resah dan tidak ingin melakukan kegiatan apa pun, selain melamun.
Hingga pagi menjelang, Reynof masih saja melamun. Sepanjang malam ia tidak bisa tidur sama sekali, kendati matanya sudah terasa pedas dan nyaris bengap. Nyatanya pengakuan Chelsea tidak hanya mampu meruntuhkan egonya di satu waktu saja, melainkan juga sampai membuatnya kepikiran. Namun ia tidak mau mengakui bahwa dirinya sudah bersalah karena telah memberikan banyak penekanan pada gadis itu, karena ia merasa bahwa apa yang ia lakukan adalah suatu kewajaran di saat gadis itu tak pernah mau patuh dan malah ingin selalu mengendalikan keadaan.
“Tuan Reynof?” Ruben yang sudah memasuki kamar Reynof buka suara. Ia cukup heran dengan kondisi tuannya yang tampak kuyu bahkan masih menggunakan setelan blazer dan celana abu-abu yang masih sama seperti tadi malam. Dua botol wine di atas meja juga telah habis. Ruben menebak Reynof tidak berpindah ke tempat tidur dan terus berada di sofa panjang yang cantik itu.
“Apakah ada masalah serius, Tuan?” Ruben memberanikan diri untuk melakukan penyelidikan. “Sepertinya Anda tidak tidur sama sekali.”
Mata Reynof yang agak memerah berangsur menatap Ruben. “Kaulah yang agak menggangguku,” sahutnya dengan suara yang cukup parau.
“Hah? A-apakah saya sudah melakukan kesalahan yang membuat Anda tidak senang, Tuan Reynof?” Sempat melongo, tetapi Ruben langsung mencari tahu letak kesalahannya sendiri. “Apa yang sudah saya lakukan ...?”
“Apa kau jatuh cinta pada Chelsea?”
“Haaah?!” Ruben semakin terperanjat. “Ma-mana mungkin saya menyukai wanita Anda, Tuan! Itu tidak mungkin sama sekali! Lagi pula, Nona Chelsea terlalu muda untuk saya.”
Dahi Reynof mengernyit ketika matanya juga semakin tajam dalam menatap sang kaki tangan. “Jadi, maksudmu aku terlalu tua untuknya? Kau bahkan lebih muda dariku, tapi kau berani mengatakan hal itu, ya?”
”Ah! I-itu ....” Ruben semakin gelagapan. Ia menyesal karena menggunakan kalimat yang tak pantas dan sekarang ia harus menyesal. “Ti-tidak seperti itu, Tuan Reynof. Saya hanya tidak menyukai gadis yang terpaut usia cukup jauh dengan saya ....”
“Jadi, kau berpikir bahwa aku adalah seorang ped*fil?”
“Haaaa ....” Reynof mengembuskan napasnya secara kasar. “Jangan jatuh cinta padanya, sekadar tersenyum padanya saja kau sama sekali tidak boleh! Termasuk juga mengajaknya makan siang bersama!”
“Ba-baik, Tuan. Saya akan berusaha untuk tidak melakukannya lagi.”
Ruben mati langkah, dan selalu seperti itu ketika Reynof sudah marah. Apa daya, dirinya hanyalah seorang bawahan yang dituntut untuk selalu manut. Apalagi ketika kondisi Reynof yang tampak badmood, membuat Ruben harus terus setuju kendati beberapa kali tuannya itu memberikan perintah yang wagu.
Sepertinya, Tuan Reynof habis bertengkar dengan Nona Chelsea lagi. Sungguh gadis yang hebat, bahkan meski sudah kerap menentang, tapi tetap Tuan Reynof pertahankan. Padahal selama ini Tuan Reynof selalu ingin melenyapkan siapa pun yang menentang, apalagi mengganggu, batin Ruben.
“Ruben?” ucap Reynof setelah sekian detik hanya terdiam
“Ya, Tuan?” sahut Ruben.
Detik berikutnya, Reynof kembali menatap Ruben setelah sempat mendongak menatap langit-langit kamarnya yang didesain begitu apik. “Bagaimana pandanganmu tentang hal-hal mistis? Apa kau percaya apa pun yang menyangkut hal mistis?”
“Mm, maksud Tuan Reynof semacam hantu?” Ruben menghela napas. Ia telah menyangga dagunya menggunakan telapak tangannya sementara lengan tangan yang lain menopang tangan penyangga. “Saya tidak pernah memikirkan soal hal-hal mistis, tapi di negara ini memang banyak sekali cerita mistis, bahkan ratusan mitos sudah menjadi bahan pembicaraan. Tapi kalau soal hal gaib sepertinya memang ada, Tuan, karena tak mungkin setelah kita mati, jiwa kita langsung lenyap begitu saja. Pasti ada alam lain yang 'gaib' yang akan menjadi tempat tinggal baru untuk jiwa kita, mungkin neraka ataupun surga.”
Reynof menggigit bibir bagian bawahnya. Dan meski agak sungkan, ia tetap bertanya, “Lalu apa kau akan percaya jika ada jiwa si Mati masuk ke dalam raga si Hidup? Seperti misalnya seorang wanita jenius yang mati, tapi rohnya berpindah ke raga gadis bodoh, bagaimana menurutmu?”
“Setahu saya kalau roh masuk ke dalam raga orang hidup, si Hidup akan lantas kesurupan, Tuan.”
“Benar, 'kan! Ah ... sial. Tapi, Ruben, yang aku maksud adalah si Mati bisa bersikap layaknya si Hidup. Dia tidak mengamuk layaknya orang kesurupan. Dia justru bertindak sama seperti manusia biasa!”
“Itu ... sepertinya hanya ada di novel-novel, drama, atau film saja, Tuan.”
“Ah, kau benar, mana ada hal seperti itu di dunia ini!” Reynof menjatuhkan kepalanya di sandaran sofa, kemudian berangsur memejamkan matanya. “Aku terlalu bodoh ....”
Ruben tersenyum tipis. “Anda tidak berpikir bahwa Nona Chelsea sedang dirasuki oleh roh wanita jenius, 'kan?”
“Hah?” Reynof berangsur menegakkan tubuhnya lagi sekaligus membuka matanya. “Apa kau juga pernah berpikir seperti itu?”
“Tentu saja tidak, Tuan. Meski kepintaran Nona Chelsea memang cukup mengejutkan, tapi masih banyak alasan untuk membuat kenyataan tersebut menjadi lebih masuk akal. Dan meski tidak melanjutkan kuliah, menurut informasi yang saya dapatkan, Nona Chelsea adalah gadis yang cerdas dan kerap mendapatkan ranking teratas di sekolah. Beliau bahkan kerap mendapatkan beasiswa karena prestasi. Andai saja kuliahnya tidak terhenti, mungkin beliau tetap akan berkuliah dengan beasiswa penuh.”
“Ah, ya, dia memang jenius dan tidak sedang dirasuki roh Emily, meski ... tetap saja aneh mengingat kemampuannya yang nyaris setara dengan kemampuanku.”
Dahi Ruben mengernyit. ”Roh Emily?”
“Ya, dia sempat mengatakan bahwa dirinya adalah Emily. Mungkin gadis dingin itu ingin bercanda dengan wajahnya yang kerap datar, dan malah berakhir seperti sebuah keseriusan.”
Pas sekali. Kenapa Nona Chelsea membawa-bawa nama Nyonya Emily? Bahkan beliau bertahan di sisi Tuan juga karena demi mengungkap kematian Nyonya Emily. Apakah ini kebetulan saja? Kalau dipikir-pikir memang aneh, seorang gadis miskin menjalin persahabatan rahasia dengan wanita konglomerat. Dan lagi, mereka jatuh di sungai yang sama dan dalam waktu berdekatan, batin Ruben yang berangsur kepikiran.
Ruben memang sudah merasa curiga sejak Reynof menceritakan setiap permintaan dan penawaran yang Chelsea berikan. Hanya saja, selama ini, Ruben memutuskan untuk abai karena ia berpikir dirinya tidak memiliki wewenang apa pun, selama Reynof sudah mengambil keputusan.
"Siapkan mobil untukku, aku akan berkendara sendiri hari ini. Aku hendak menjemput Emily ... ah, sial, maksudku Chelsea. Gara-gara kepikiran, aku sampai menyebut nama wanita yang sudah mati itu," ucap Reynof.
“Tapi, Tuan, Anda tampaknya tidak tidur semalaman? Akan—” Sayangnya ucapan Ruben justru dipotong begitu saja.
“Lakukan saja perintahku, Ruben. Dan termasuk semua perintah yang aku katakan padamu sebelumnya, lagi pula, perkara tidak tidur seharian nyatanya tidak hanya kali ini saja, bukan?!”
“Baik, Tuan. Kalau begitu saya undur diri dulu.”
***