
Chelsea dan Reynof tetap bersama di malam yang dingin ini, tetapi bukan kamar maupun hotel yang menjadi latar keberadaan mereka, melainkan sebuah restoran. Namun restoran itu bukanlah restoran bintang lima yang mewah dan kerap Reynof bahkan Chelsea kunjungi kala masih hidup sebagai Emily. Hanya sebuah restoran kecil yang bagi mereka benar-benar menjadi pengalaman baru bersantap ke tempat semacam itu.
“Sebenarnya, kenapa kau mendadak berubah? Aku masih tidak mengerti, dari yang sebelumnya kau selalu memberikan tekanan, bahkan sampai memberiku kamar yang kumuh, sekarang kau justru lebih lunak dan mm ... agak perhatian padaku. Apa alasanmu yang sesungguhnya, Tuan Reynof?” tanya Chelsea pada Reynof yang masih saja enggan menyentuh hidangan di atas meja setelah menganggap rumah makan itu tidak bintang lima. “Kalau kau berubah hanya karena iba padaku yang memiliki ayah buruk, seharusnya kau melakukan hal itu sejak awal, bukan? Tapi nyatanya tidak begitu, sejak awal kau justru bersikap buruk padaku.”
Reynof menatap Chelsea dengan tatapan yang sudah memicing tajam. Namun bibirnya masih saja terkunci rapat. Butuh waktu sedikit lebih lama baginya untuk mencari jawaban yang pantas dan pas, ketika dirinya juga cukup bingung dalam menjabarkan alasan sebenarnya yang membuat sikapnya mendadak melunak pada gadis menjengkelkan itu.
“Karena kau pandai bekerja.” Tidak! Nyatanya alasan yang Reynof katakan bukanlah alasan sebenarnya. Sejujurnya, karena ia merasa kagum pada cara Chelsea dalam menghadapi Hery. Bahkan Chelsea tak segan untuk menyerahkan diri demi bisa menghajar pria tua itu.
Gadis itu sangat pemberani dan membuat Reynof teringat masa lalu bahkan malu pada dirinya sendiri. Sebagai seorang anak yang juga memiliki ayah super kejam, Reynof justru menyerah dan serba manut. Ia menjadi pengecut yang malah melampiaskan kemarahannya pada orang lain, dan berlagak berkuasa di hadapan mereka, tetapi tetap ciut di hadapan ayahnya.
Namun berbeda dengan Chelsea. Dengan penuh keberanian, gadis itu membalas perbuatan Hery dengan jauh lebih kejam. Chelsea tidak menyerah dan tidak mudah manut seperti apa yang telah Reynof lakukan selama ini. Chelsea pun tidak sampai melampiaskan kekesalannya pada orang lain. Chelsea sungguh gadis yang amat menakjubkan, dan sukses membuat Reynof yang awalnya ingin menguasai gadis itu justru berangsur merasa takjub.
Chelsea menghela napas, kemudian ia menatap piring saji Reynof yang berisikan menu masakan Padang masih saja penuh. Ia cukup paham apa yang ada di dalam benak pria itu, tetapi ia yang sudah mengetahui betapa menderitanya kehidupan Dahlia, tidak sampai menolak makanan enak yang disediakan oleh pihak restoran. Lagi pula, makanan tersebut memang sangat enak dan membuat Chelsea lantas ketagihan.
“Jadi, kau berpikir bahwa aku adalah gadis jenius? Kau tahu jika aku tidak lulus kuliah, bukan? Kau seharusnya merasa aneh pada setiap kemampuan yang aku miliki, Tuan,” ucap Chelsea dan ia memang sudah menebak soal ini. Sudah pasti Reynof tertegun pada setiap kemampuan yang ia miliki, padahal Chelsea yang asli tak mungkin secerdas dirinya.
Reynof tampak berpikir. Detik berikutnya, ia mencondongkan kepalanya ke depan. “Ya, aku memang merasa aneh pada dirimu. Kemampuanmu benar-benar di atas rata-rata, bahkan nyaris setara dengan kemampuanku dalam berbisnis. Setiap kali kita berdiskusi, kau selalu memberikan usulan yang fantastis. Kayla dan Ruben yang sudah lama bekerja denganku saja, terbilang kalah telak darimu, Nona Kecil. Sehingga akhir-akhir ini aku lebih nyaman bekerja denganmu. Aku sampai berpikir, apakah ucapanmu memang benar bahwa kau adalah Emily. Maksudku jika saat ini dirimu sudah kerasukan roh Emily,” ucapnya.
“Apa?” Chelsea sempat terkesiap, tetapi tak berselang lama ia justru tertawa kecil. “Ketika kau sudah kepikiran hal itu, seharusnya kau memilih percaya saja jika aku memang sudah kerasukan roh Emily, Tuan. Barangkali hal itu memang tengah terjadi.”
Reynof menelan saliva ketika menatap wajah Chelsea yang tampak semringah, kendati gadis itu tengah menertawai ucapan konyolnya. Demi tidak terlihat aneh di mata Chelsea, Reynof langsung memasang ekspresi tak setuju. “Sayang sekali, aku bukan orang yang mudah dibodohi dengan hal-hal mistis dan tidak masuk akal seperti itu, Nona Kecil. Aku lebih percaya jika kau memang sangat jenius, apalagi kau mengaku telah lama bergaul dengan mendiang Emily.”
“Baiklah, Tuan berlogika, memang lebih baik jika kita memercayai kenyataan yang ada di depan mata.”
Seperti halnya Chelsea yang terpaksa harus memercayai kondisinya dirinya. Ketika sebelumnya hidup bak putri raja bernama Emily Panorama Rukmana, kini justru merasuk ke dalam tubuh seorang gadis miskin yang tak punya daya apa-apa. Belum lagi ia justru harus jatuh ke tangan pria bengis, bahkan sampai menyerahkan dirinya tanpa adanya ikatan pernikahan.
Kenyataan amat buruk yang lambat-laun mulai membuat Chelsea terbiasa, meskipun ia tidak pernah melupakan soal dosa dan rencana pembalasan dendamnya. Dan ia memang tidak boleh terlena hanya karena Reynof sudah sedikit memperhatikan dirinya. Ia harus tetap fokus pada misi hidup di kesempatan keduanya ini, sebelum nantinya ia akan pergi sebagai Emily dan mengembalikan tubuh yang ia tinggali pada sang pemilik asli.
“Kau sendiri, kenapa kau mengaku tidak terlalu membenciku lagi?” tanya Reynof yang juga cukup penasaran. Alasan Chelsea yang menyatakan bahwa Reynof sudah memberikan perhatian sama sekali tidak bisa Reynof percayai.
Chelsea menelan makanan yang sudah melembut di dalam rahangnya. Kemudian meneguk air putih yang baru saja ia raih. “Aku sudah mengatakan alasanmu, karena kau lebih memperhatikan aku. Tapi jika kau tidak percaya, mungkin ... karena aku memang sudah mulai terbiasa,” jawabnya setelah itu.
“Tapi—”
Sayangnya ketika Reynof hendak kembali berucap, dering ponsel Chelsea yang terdengar keras membuat niatnya langsung terhenti. Matanya yang sempat menatap teduh, kini justru berubah lebih tajam. Ia menatap Chelsea yang sudah memegang ponsel dan memeriksa siapa yang tengah menghubungi.
“Siapa? Bukankah hanya aku yang menyimpan nomor ponselmu? Atau kau sudah menyerahkan pada orang lain selain aku? Apa kau bahkan sudah bertukar kontak dengan Ruben?” tanya Reynof bertubi-tubi disusul perasaan kesal dan benci.
“Kenapa dia? Bodoh! Aku akan lebih memaafkanmu jika kau hanya menukar kontakmu dengan Ruben, tapi kenapa malah Ronald?!” Dan sungguh, Reynof semakin tidak senang. “Jangan karena aku sudah mulai melunak padamu, lantas kau bisa melakukan apa pun tanpa sepengetahuanku, Nona! Kau harus ingat bahwa kau itu milikku, kau adalah budak yang harus menuruti—”
“Aku memberikan nomor lain pada Ronald. Ponsel yang kau berikan ini bisa dipasangi dua kartu. Aku menggunakan nomor lain untuk menipu Ronald, dan tetap hanya mengisi satu kontak milikmu saja, Tuan Reynof. Yang aku berikan nomor baruku hanya Ronald saja, sehingga meski aku tak menyimpan kontaknya, aku tetap tahu bahwa yang menghubungiku barusan adalah dia. Sebelum berangkat ke Pano Diamond sebagai perwakilan Neverley, aku juga sudah membuat kartu nama dengan yang mencantumkan nomor ponsel baruku demi mengelabui Ronald," potong Chelsea menjelaskan.
“Meski kau sudah menjelaskan segalanya, aku tetap tidak senang jika kau berniat menggoda Ronald demi melancarkan semua rencanamu, Chelsea. Kau adalah gadis yang super nekat, dan aku yakin suatu saat kau bisa menyerahkan dirimu pada Ronald juga, hanya demi mengungkap kasus kematian Emily! Lagi pula, kenapa kau begitu ngotot ingin membela wanita yang sudah mati, bahkan sampai mengorbankan banyak hal, hah?!”
Baiklah, aku memang wanita yang sudah mati, Reynof. Jika saja kau percaya bahwa yang ada di dalam tubuh ini adalah Emily, mungkin kau akan lebih bisa menerima jawabanku. Tapi, meski sudah menyadari segala keanehan pada diri ini, kau tetap tak mau percaya, Reynof. Entah aku harus bersyukur atau mengeluh karena prinsip hidupmu yang selalu mengedepankan logika itu, Tuan Bengis! Batin Chelsea.
“Aku tak akan menyerahkan diriku padanya. Kau pikir aku ini seorang kupu-kupu malam?” Chelsea mendengkus kesal. ”Kau tahu? Saat ini aku sangat membenci diriku yang sudah disentuh olehmu, dan aku merasa sangat berdosa. Mana mungkin aku yang bahkan merasa jijik pada diriku sendiri justru masih menjajakkan diri? Sekalipun aku harus merayu Ronald, tentu hanya sebatas melakukan pertemuan di tempat umum dan membuat Nora cemburu buta. Rencanaku hanya sebatas itu saja, tidak lebih! Saat ini dia beranggapan bahwa aku adalah penggemar berat mendiang istrinya, jika aku bisa mendekatinya sebagai teman, tentu aku bisa lebih banyak menggali informasi mengenai dirinya sendiri maupun Nora. Syukur-syukur kalau aku bisa mendapatkan bukti!”
“Aku tak yakin kau hanya ingin menjadi temannya, apalagi demi sebuah informasi penting.” Reynof masih enggan untuk percaya. “Lebih baik kau hentikan saja semua rencanamu, dan mulai fokus bekerja hanya untukku. Aku juga tidak akan menginginkan saham Pano Diamond lagi. Aku sudah kaya!”
Melihat Reynof yang tak mau mengerti dan tetap kesal karena Cheslea berencana untuk mendekati Ronald, bahkan sampai meminta Chelsea menghentikan segala rencana yang sudah dimulai, tentu saja langsung membuat Chelsea panik. Chelsea sama sekali tidak kepikiran soal Rekasi Reynof yang pasti akan menentang, mengingat kejiwaan Reynof yang memang tak mau kalah dan tak mau dibantah.
Cepat, Chelsea langsung memikirkan bagaimana cara agar Reynof tetap memercayai dirinya.
“Tolong jangan bersikap seperti itu apalagi sampai melarangku untuk tetap menjalankan rencanaku, Tuan Reynof. Karena mau bagaimanapun aku sudah menyerahkan diriku dan bekerja untukmu demi keinginanku. Coba posisikan diri Tuan, karena meski kau sudah melakukan banyak kejahatan, aku yakin kau masih memiliki beberapa orang yang kau sayangi. Semacam Ruben yang memang sangat kau sayangi, dan pasti kau tidak akan membiarkan Ruben disakiti oleh siapa pun, bukan?” ucap Chelsea.
“Apa? Ruben?” Dahi Reynof sampai berkerut, ketika matanya juga telah memicing. “Aku tidak menyayangi Ruben!”
Chelsea yang kali ini memicingkan matanya dengan tajam. Kedua telapak tangannya sudah mengepal saking tidak mampunya menahan kekesalan terhadap sang tuan. Namun ia tetap harus bersabar.
“Begini saja, mengingat Tuan Ruben yang sudah lama bekerja denganmu, dan seandainya tiba-tiba saja Tuan Ruben disakiti oleh pihak lain, kau pasti akan menuntut balas atas perbuatan pihak lain terhadap Tuan Ruben, bukan?” ucap Chelsea masih berusaha. “Dan itulah yang aku rasakan saat ini, Tuan, aku hanya sedang menuntut balas atas kematian sahabatku yang paling aku sayangi. Dan aku sangat tidak yakin, Emily yang bahkan tidak pernah sekalipun menyantap alkohol, justru mati karena alkohol. Aku yakin suaminya adalah dalang di balik kematiannya. Oleh sebab itu, aku harus mendekati suaminya itu, hanya sebagai teman! Lagi pula, kesepakatan awal kita adalah aku menyerahkan diriku dan kau akan membantuku untuk menjalankan rencanaku, bahkan aku menjanjikan saham besar untukmu, Tuan! Jadi jangan melarangku lagi!”
“Anggap saja aku adalah Emily yang sedang menuntut balas atas kematianku sendiri!” lanjut Chelsea dengan tegas.
“Sial ...!” Reynof mengumpat. Sedetik kemudian, ia sibuk menggertakkan gigi. Gadis nakal di hadapannya itu benar-benar sulit diatasi. Selalu keras kepala dan tidak mau kalah, tetapi alasan yang diberikannya selalu membuat Reynof mati langkah.
Suara ponsel Chelsea kembali terdengar, meskipun Reynof belum juga mampu menyudahi rasa kesalnya. Namun karena sudah mati langkah oleh ucapan Chelsea, Reynof tetap mengizinkan gadis itu untuk menerima panggilan yang kemungkinan besar dari Ronald tersebut.
“Nyalakan speakernya, setidaknya sampai aku bisa mendengar semua ucapan cecunguk itu!” titah Reynof.
Chelsea menghela napas, lalu mengangguk pelan. Detik berikutnya, ia menekan tombol untuk menerima panggilan dari Ronald. Sesaat setelah mengaktifkan fitur pengeras suara, Chelsea meletakkan ponsel itu di tengah-tengah meja.
***