Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Di Restoran yang Sama


Kondisi Robby Wangsa semakin drop. Jika dulu bisa berjalan dengan benar, untuk saat ini ia hanya bisa memakai kursi roda. Ia sudah benar-benar pikun. Namun ingatannya yang paling jelas adalah saat dirinya masih kecil. Kerap kali ia memanggil sang ayah yang sudah lama meninggal. Sampai menganggap Reynof, yang notabene adalah putranya sebagai ayahnya.


“Ayah, mau cokelat, mau, mau!” ceracau Robby sembari mengguncang tangan Reynof di saat Reynof berdiri di sampingnya. Ia bersikap layaknya anak kecil berusia lima tahun.


Melihat kondisi sang ayah, Reynof justru bingung. Ia tidak tahu harus merasa seperti apa. Tidak ada kesedihan, karena hatinya malah cukup hampa. Haruskah ia bersyukur karena ayah yang selalu bersikap kejam padanya, saat ini telah berada dalam kondisi memprihatinkan? Atau, haruskah ia merasa sedih, lantaran mau bagaimanapun Robby Wangsa adalah ayah kandungnya sendiri?


Tidak tahu, Reynof benar-benar bingung. Dan ia pun tidak tahu harus berbicara apa pada ayahnya yang sudah tidak mengingat dirinya sama sekali. Oh ya! Benar juga, mengapa setelah berbuat jahat pada Reynof, Robby langsung melupakan Reynof begitu saja?


“Seharusnya aku marah, bukan? Tapi, boro-boro marah, sekarang aku tidak tahu dengan perasaanku sendiri, Ayah! Aku bahkan tak berharap kau cepat mati lagi,” gumam Reynof lalu menghela napas, ketika Robby masih terus merengek meminta cokelat.


Entah bagaimana Robby menjalani kehidupan masa kecil, sampai menginginkan makanan manis itu dengan merengek. Mungkinkah sikap ayah Robby, tak sekasar sikap Robby pada Reynof? Kalau memang benar, tentu saja rasanya tidak adil. Namun ... lagi-lagi, Reynof seperti tidak berdaya sama sekali. Ia tidak bisa marah, mungkin hanya kecewa. Sayangnya, ia seolah tak punya energi untuk menampar pipi ayahnya.


Setelah merasa bimbang dan bingung atas perasaannya yang tak kunjung menemukan jawaban terang, Reynof memutuskan untuk keluar dari kamar rawat itu. Ia memanggil sang perawat dan memberikan wejangan agar sang perawat berkenan untuk menjaga ayahnya sampai waktu kematian ayahnya tiba. Mungkin ucapan Reynof yang membawa kata mati cukup mengerikan untuk didengar, tetapi wejangan yang ia berikan terbilang cukup mengejutkan bagi Ruben dan Chelsea yang turut mendengar.


“Tuan, mau langsung pulang?” tanya Ruben pada Reynof.


Reynof tidak langsung menjawab ucapan Ruben, melainkan malah menatap Chelsea. “Aku ingin makan malam dengannya,” ucapnya untuk pertanyaan Ruben, dan tertuju pada Chelsea.


”Ta-tapi, kau baru sebentar melihat ayahmu, Tuan Reynof. Apa sebaiknya tidak lebih lama lagi?” sahut Chelsea. Pasalnya memang benar, Reynof memasuki ruang rawat itu tidak sampai sepuluh menit.


Reynof menggelengkan kepala. ”Tidak. Lagi pula, dia tidak bisa diajak berbicara. Dan aku sudah sangat lapar, daripada menahan lapar dan malah emosional, bukankah lebih baik kita makan saja?”


“Hmm ... kau selalu punya banyak alibi!” tandas Chelsea.


Namun Chelsea tidak memaksa Reynof untuk tetap tinggal lebih lama, lantaran Reynof pasti tidak akan senang dengan sikapnya. Bisa mendorong Reynof yang kata Ruben memang tidak pernah mengunjungi Robby Wangsa dan lantas tergerak untuk berkunjung, sudah lebih dari cukup meskipun hanya beberapa menit. Setelah berpikir demikian, Chelsea memutuskan untuk melangkah lebih awal dari kedua pria tersebut.


Sikap Chelsea langsung diikuti oleh Reynof dan Ruben. Reynof menyamakan langkahnya dengan langkah Chelsea, sementara Ruben sudah berjalan lebih cepat untuk mengambil mobil di area parkir, agar ia bisa langsung menyambut Reynof dan Chelsea di depan lobi.


Sepuluh menit telah berlalu, ketiga orang itu sudah sampai di sebuah restoran. Namun Ruben memutuskan untuk memisahkan diri, karena tanpa diminta pun, ia ingin membuat Reynof hanya berduaan dengan Chelsea. Ruben berada di ruangan utama restoran itu, sementara Reynof dan Chelsea memilih untuk memesan private room yang masih tersedia.


“Duduklah,” ucap Reynof sembari menarikkan salah satu kursi untuk sang gadis cantik setelah memasuki private room pilihannya.


Chelsea terpana. “Apa aku sudah melakukan sesuatu yang membuat hatimu senang?” tanyanya dan masih enggan mengambil sikap duduk di kursi itu.


“Kenapa kau bertanya seperti itu, Nona?”


“Hanya penasaran. Kau bersikap agak lembut padaku.”


“Aku memang lembut!”


”Haaah?!”


Wajah Chelsea menunjukkan ekspresi konyol semacam mengejek lantaran tidak percaya pada pengakuan Reynof. Detik berikutnya, ia segera duduk di kursi yang disajikan oleh Reynof.


“Kenapa ekspresimu jelek sekali, Nona?” Reynof bertanya sembari berjalan ke kursi lain yang berseberangan dengan posisi Chelsea. “Kau sedang mengejekku?”


”Ya, karena kau telah membuat pengakuan konyol yang tidak sesuai dengan kenyataan.”


“Kau saja yang terlalu tidak percaya padaku, Nona!” tegas Reynof. Ia menghela napas untuk menurunkan sedikit kadar kekesalannya. “Apa yang terjadi padamu sebelum kita berangkat ke rumah sakit?”


“Mm?”


Chelsea tercenung dan lantas diam dalam beberapa saat. Benar juga, ia bahkan nyaris lupa perihal kondisinya yang sempat tidak baik-baik saja. Seandainya ia tidak berusaha untuk menenangkan diri dari pengaruh kilasan ingatan masa lalunya yang mendadak muncul, mungkin ia sudah jatuh pingsan karena tekanan itu membuat kepalanya langsung pusing.


“Aku teringat akan sesuatu, tapi aku juga tidak yakin,” jawab Chelsea lalu menghela napas. ”Tampaknya ada sesuatu yang sempat aku lupakan sebelum terbangun dari koma.”


“Kau sempat koma? Berapa lama? Gara-gara terjun ke sungai itu?” tanya Reynof bertubi-tubi.


Mata Reynof langsung memicing tajam. Lagi dan lagi, Chelsea bersikap seperti orang lain. Dan orang itu adalah Emily. Membuat Reynof kembali merasa bahwa dirinya memang sudah gila. Akan gila secara sempurna jika ia memutuskan untuk memercayai Chelsea sebanyak seratus persen. Namun jika ada ingatan yang sempat muncul, hingga membuat Chelsea sempat pucat pasi, tampaknya gadis itu juga tidak main-main.


Aku rasa, menganggapnya sebagai Emily untuk saat ini juga tak ada salahnya. Barangkali ada sesuatu yang bisa aku ketahui, batin Reynof membuat keputusan yang tentu akan menambah kadar kegilaannya.


“Apa yang muncul di ingatanmu, Nona?” tanya Reynof. “Dan bisakah kau menceritakan ingatan terakhir sebelum dirimu mengalami koma?”


“Tidak mau,” sahut Chelsea sembari menggeleng-gelengkan kepala. “Kau hanya akan menganggapku sedang kesurupan. Jadi, untuk apa?”


”Haaa ... tidak! Sungguh!”


“Kau berbohong!”


“Tidak, Chelsea, ah ... maksudku Emily!”


Chelsea terdiam sesaat setelah Reynof menyebut nama lamanya. Hatinya kembali tersentuh. Namun di waktu yang bersamaan, ia tahu jika Reynof hanya sedang merayu demi bisa mengetahui apa yang terjadi pada dirinya di masa lalu. Ia pun paham bahwa memercayai terjadinya fenomena aneh, tentang masuknya jiwa ke dalam raga orang lain, itu sangat sulit.


Menurut Chelsea, mungkin saat ini Reynof sedang kebingungan, bimbang, dan terus menolak kejadian itu. Sudah pasti, Reynof tak ingin percaya karena tidak mau menjadi orang yang aneh, tetapi di sisi lain, ada banyak kejanggalan yang membuat kejadian aneh itu mendekati kenyataan dan memaksa Reynof harus sepenuhnya percaya.


“Aku belum bisa mengatakannya saat ini, Tuan, dan aku harap kau mau mengerti terlebih dahulu.” Chelsea memutuskan untuk tidak mengatakan ingatan terakhir sekaligus kepingan ingatan yang sempat muncul di benaknya belum lama ini. “Kita mau makan, aku hanya takut mual. Ingatan itu adalah tekanan besar untukku.”


Reynof menatap Chelsea yang sedang menurunkan arah pandang. Wajah gadis itu tampak tidak baik-baik saja. Ia yang sempat melihat wajah Chelsea sangat pucat, akhirnya memutuskan untuk memberikan persetujuan atas keputusan Chelsea yang belum mengatakan apa pun.


Di mana setelah Reynof menghela napas, dua orang pramusaji datang untuk menyiapkan makanan.


Di ruangan lain di restoran yang sama, Nora tengah bersama Fabian di salah satu private room. Awalnya ia ingin ke klub malam saja, tetapi ia khawatir jika sampai kalap dalam menenggak minuman. Karena ia memiliki kebiasaan kerap berkata banyak hal ketika mabuk, sehingga ia tidak mau mengambil risiko, ia khawatir jika ia malah mengakui kesalahannya pada Fabian. Lalu membawa Fabian ke hotel, rasanya masih terlalu cepat. Fabian pasti akan menolaknya dengan segala cara, bahkan bisa jadi, Fabian memutuskan untuk hengkang dari perusahaan. Dan pada akhirnya, restoran mewah menjadi opsi terakhir yang Nora pilih untuk membawa sekretarisnya itu.


Fabian menghela napas sembari terus menatap Nora yang sejak tadi begitu muram serta memainkan sendok di atas makanan. ”Anda ... masih belum berbaikan dengan Tuan Ronald, Nona?” ucapnya memberanikan diri.


Nora berangsur menatap Fabian. “Apa wajah cantikku terlalu masam, sampai kau bertanya seperti itu?” balasnya.


“Ya, Anda tampak tidak baik-baik saja, Nona.”


“Dan, kau sedang mengkhawatirkan aku atau sekadar basa-basi saja, Fabian?”


“Te-tentu saja, saya sedang mengkhawatirkan Anda, Nona.”


Nora tersenyum usil. Detik berikutnya, ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan memajukan wajahnya. “Kalau begitu cium aku, aku pasti akan lekas membaik setelah itu.”


“Hah?” Fabian melongo. “I-itu ....” Ia kebingungan dan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya, karena tidak ada satu pun alasan yang bisa ia gunakan untuk menolak permintaan Nora.


“Hei, Fabian!” seru Nora sembari menggebrak meja. “Apa aku sebegitu tidak cantik bagimu? Apa kau belum bisa melupakan kakakku? Bukankah kami mirip?! Kenapa kau terus menolakku?!”


“Bu-bukan begitu, Nona Nora. Saya hanya ingin menjaga Anda dengan baik, selayaknya saya menjaga dan menghormati Nyonya Emily. Karena kalian adalah sepasang kakak-adik, jadi saya juga harus bersikap seperti saat saya bersikap pada Nyonya Emily.”


“Tapi, aku bukan Emily, Sialan! Dan aku tidak ingin kau bersikap sama seperti saat kau bersikap padanya!” omel Nora. “Jika aku bilang, cium aku, kau harus melakukannya! Kau itu hanya pesuruhku saja! Padahal aku sudah mengajakmu kemari agar kau bisa makan enak, tapi kau justru terus membuatku kesal! Kau itu hanya yatim-piatu miskin, tapi kenapa ngelunjak?!”


Emily dan Emily. Mengapa saat Emily sudah mati, sosoknya masih saja dihormati? Bahkan Ronald pun sempat membandingkan Nora dengan Emily, lantaran Nora memberikan jabatan rendahan, tak seperti yang Emily janjikan. Lama-lama Nora muak ketika mendengar nama kakak sepupunya itu. Ia merasa kalah, bahkan meski Emily sudah tidak ada di dunia ini.


Fabian hanya diam dan terus menunduk. Bukan karena ia tidak punya kekuatan fisik untuk menampar mulut Nora yang ketus, tetapi ia masih membutuhkan pekerjaan dan rasa aman. Jika ia membantah, ia tak hanya bisa dipecat, melainkan langsung digugat. Menyebalkan memang ketika bekerja di bawah naungan pimpinan yang buruk. Sifat Nora benar-benar tak sesuai dengan cerita yang sempat Fabian dengar dari Emily. Benar-benar berbalik hampir seratus delapan puluh derajat!


Lebih sial lagi nantinya ketika Fabian akan semakin dileccehkan oleh Nora. Ia yakin hal itu akan terjadi, sebab kasus peleccehan tidak hanya pria saja pelakunya, wanita pun bisa melakukannya.


***