
Perjalanan yang diarungi Reynof untuk membawa si gadis pemberani membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit. Sementara tempat yang ia tuju bahkan sudah ia pijaki saat ini adalah sebuah mansion megah. Rumah elit yang begitu besar sekaligus mewah, sebuah tempat di mana Reynof tinggal tanpa satu pun keluarga, selain hanya para asisten penting dan 25 pelayan, sepuluh di antaranya merupakan pelayan pria.
Mansion itu memang megah, bak istana seorang raja di suatu negara. Namun tak lantas membuat Chelsea menganga. Ia tidak merasa heran maupun takjub, mengingat dirinya tumbuh sebagai Emily selama 27 tahun di kediaman keluarga Rukmana yang tak kalah mewah. Saat ini, Chelsea justru merasa heran, tentang keberadaan Kayla Hannes dan barisan para pelayan, tetapi tidak ada satu pun sosok yang terlihat seperti anggota keluarga Reynof.
Ketika masih hidup sebagai Emily, Chelsea hanya tahu kebusukan seorang Reynof Keihl Wangsa dan darah blasteran yang memang mengalir di tubuh pria itu, mungkin juga rupa Reynof yang digadang-gadang sangat tampan oleh banyak orang. Namun untuk persoalan keluarga besar, Chelsea tidak pernah berniat menyelidiki latar belakang Reynof yang cukup misterius.
Namun kini, Chelsea justru menyesali keputusannya ketika masih hidup di raga aslinya. Kalau saja ia lebih memperhatikan kehidupan Reynof Keihl Wangsa, mungkin saat ini dirinya tidak lagi bertanya-tanya. Ia cukup takut jika ternyata Reynof memiliki anggota keluarga yang sama kejamnya, yang tentu saja akan membuat kehidupan Chelsea bisa lebih menderita lagi.
"Hei, ayo!" ucap Reynof pada Chelsea yang justru terpaku diam setelah keluar dari mobil. "Apa yang kau pikirkan, Nona Kecil? Apa kau sedang mengkhawatirkan keberadaan keluargaku? Aku rasa kau pun sudah menebak bahwa rumah megah ini adalah kediamanku. Kau kan cukup pintar!"
Chelsea menghela napas. "Ya, aku memang sudah menebaknya. Tapi aku sedang mencoba menjawab pertanyaan lain yang terlintas di benakku. Tentang berapa banyak anggota keluargamu yang harus aku layani, Tuan Reynof," sahutnya.
"Apa?" Reynof tertawa kecil. Detik berikutnya, ia mengubah posisi tubuhnya yang tadinya agak menyamping kini berangsur berhadapan dengan Chelsea. Ia melangkahkan kakinya ke arah gadis itu. "Jika ada sepuluh orang, apa kau sanggup melayani mereka semua, Nona Kecil?"
Chelsea menelan saliva seiring dengan bergetarnya kelopak matanya. "Te-tentu, aku akan melakukan yang terbaik untuk melayani semua anggota keluargamu."
"Ah, benarkah?" Reynof berencana meraih wajah Chelsea, tetapi ketika Chelsea langsung bergerak ke belakang, ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya tersebut. "Sayang sekali, aku tidak bisa melihat pembuktian atas perkataanmu, Chelsea. Karena di rumah ini hanya ada aku saja. Ayahku hampir menuju fase sekarat dan tengah menderita demensia, saat ini dia terkurung di dalam sebuah rumah sakit. Ibuku pun sudah mati setelah dia memutuskan untuk kabur dari ayahku yang kasar. Dan aku tidak tahu di mana sanak keluargaku yang lain. Menyedihkan, bukan?"
"Tidak. Lebih menyedihkan ketika harus dijual oleh ayah sendiri dan pada orang sebusuk dirimu, Tuan Reynof."
"Hahaha. Benar juga. Apalagi aku jauh lebih kaya. Meskipun tidak punya siapa-siapa, pada akhirnya aku memiliki segalanya dibandingkan siapa pun. Dan pada akhirnya aku bisa membeli apa pun, termasuk dirimu, Nona." Reynof kembali tertawa keras setelah berkata demikian. "Ikutlah denganku. Kau akan aku perkenalkan sebagai pelayan baruku, Nona."
Tidak ada pilihan lain, selain mengikuti keinginan pria itu. Chelsea segera mengambil langkah mengikuti Reynof yang sudah berjalan lebih dulu. Para pelayan yang sudah berdiri di teras berukuran lebar bagian depan langsung membungkukkan badan, memberikan salam kehormatan pada sang tuan. Sungguh aneh bin nyata, biasanya seorang atasan akan disambut ketika sudah memasuki ruangan utama. Namun Reynof yang terlalu narsis sepertinya memang sudah membuat aturan sedemikian rupa, bahwa semua pegawainya harus menyambut kedatangannya bak seorang raja.
Reynof memperkenalkan sosok Chelsea pada semua pelayannya. Kayla Hannes juga sudah tampak ada di sana. Sepertinya wanita yang sempat menunggu kedatangan Chelsea di hotel itu adalah orang penting bagi Reynof, mungkin juga seorang budak ranjang bagi pria itu. Menyebalkan! Padahal sudah ada wanita super seksi yang bisa memberikan kehangatan, tetapi Reynof masih saja mengincar gadis lain. Chelsea tidak tahu apakah Chelsea asli sudah mengetahui siapa sosok Reynof yang memang sebusuk itu, justru bisa jadi, Chelsea asli sudah tahu dan lantas memutuskan untuk terjun bebas ke sungai itu.
"Kayla, apa kamarnya untuk gadis kecil ini sudah siap?" ucap Reynof pada Kayla.
Kayla langsung mengangguk, kemudian berkata, "Sudah, Tuan."
"Bagus, Sayangku. Kau memang wanita yang cekatan, dan seksiii! Seksi sekali, bikin haus pada lelaki!"
"Terima kasih atas pujian Anda, Tuan Reynof. Saya sangat tersanjung."
Tersanjung? Gila! Padahal ucapan Reynof lebih pantas jika dianggap sebagai kata-kata merendahkan derajat Kayla. Namun bisa-bisanya wanita itu merasa bangga! Chelsea tidak menyangka. Apakah Kayla hanya sedang mencoba menyenangkan hati Reynof saja sebagai seorang bawahan yang memang harus manut? Ataukah Kayla sudah kehilangan akal dan menjadi gila setelah bekerja dengan pria itu terlalu lama?
"Hei! Kenapa diam lagi? Bisakah kau lebih cekatan ketika aku sudah mulai berjalan? Jika kau selamban itu, bagaimana kau bisa membuktikan dirimu padaku, Nona Kecil? Aku pun akan bertindak sesuai pekerjaan yang kau lakukan. Apakah bisa memuaskan atau tidak sama sekali," ucap Reynof sarkastik.
Chelsea menghela napas. Dan ia tidak mengatakan apa pun. Ia lebih memilih untuk segera mengambil langkah, dengan mencoba untuk tidak memedulikan tatapan tajam mata Kayla. Entah mengapa wanita itu tampak tak menyukai keberadaannya. Mungkinkah karena cemburu? Jika memang benar, oh sungguh! Itu sangat tidak masuk akal! Karena jika Kayla mengetahui dengan jelas posisi Chelsea saat ini, tentu Kayla tidak perlu merasa khawatir. Chelsea hanyalah mainan yang tidak bisa disamakan kedudukannya dengan seorang kaki tangan.
Sialnya, ketika mulai berjalan lebih dalam, Kayla justru mengikuti Chelsea dan sang tuan. Bahkan saat ini, Kayla sudah mendahului langkah Chelsea dan berada di posisi paling dekat dengan Reynof. Mereka berdua memperbincangkan perihal pekerjaan. Dan menurut pendengaran Chelsea, saat ini Ruben Diego tengah mengurus beberapa debitur yang menunggak membayar hutang.
Namun Chelsea segera mengabaikan perbincangan Reynof dan Kayla. Dan saat ini ia lebih memikirkan bagaimana ia akan menjalani hidupnya sebagai seorang pelayan, setelah selama 27 tahun ia menjadi tuan putri yang kerap dilayani. Meski raganya masih berusia 20 tahun, jiwanya tak yakin apakah mampu bekerja sebagai salah seorang pembantu.
Rupanya nyaris seluruh tempat yang Chelsea lewati di mansion itu, hanya ada nuansa warna putih gading, hitam, dan silver. Beberapa ornamen pun menggunakan warna-warna tersebut. Tampaknya Reynof tidak menyukai warna yang cerah. Sayang sekali mansion sebesar itu justru tidak memberikan nuansa glamour padahal sangat mewah.
"Nah, Nona Kecil!" ucap Reynof sesaat setelah menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
Beruntung Chelsea bisa segera mengerem laju kaki, sehingga tidak harus menabrak dada bidang milik pria itu. "Ya?" sahutnya singkat dan tidak antusias sama sekali.
"Ini kamar yang akan kau tinggali selama tinggal di sini." Reynof menyeringai. "Kau sanggup tinggal di sini, bukan?"
Chelsea menelan saliva dengan susah-payah. Meski bimbang dan serasa enggan, pada akhirnya ia tetap menganggukkan kepalanya. "Aku sanggup," jawabnya kembali singkat.
"Buka Kayla," titah Reynof pada Kayla.
"Terima kasih." Chelsea menyahut tanpa ekspresi.
Namun ekspresi Chelsea langsung terlihat berubah. Paras cantiknya begitu kebas. Dirinya benar-benar terkejut dengan keadaan kamar yang benar-benar berantakan! Kardus, kertas, dan barang-barang rusak tampak berserakan. Terdapat sebuah ranjang yang hanya cukup ditempati satu orang dan sebuah lemari kayu kecil yang sudah kusam. Ketika menginjakkan kaki di tempat itu, Chelsea juga menemukan air kotor yang menggenang. Aroma tempat itu aneh dan nyaris seperti aroma comberan.
"Hahaha!" Reynof mendadak tergelak. Senang karena ia bisa membuat Chelsea begitu terkejut dan berekspresi kesal. "Lihatlah, Chelsea. Kau itu memang pantas berada di tempat yang kumuh. Kau hanyalah seekor tikus yang cantik, tapi sayang, secantik apa pun seekor tikus, tempat mereka adalah tempat sampah!"
Chelsea menggertakkan gigi. Kesal dan marah. Ia diperlakukan semena-mena. Memang benar bahwa Chelsea yang mengemis bantuan, tetapi ia pun juga telah mempertaruhkan perusahaannya. Namun mengapa Reynof se-begitu kejamnya? Mungkinkah Reynof tak pernah mengindahkan perkataan Chelsea yang mengaku sebagai sahabat terdekat Emily? Dan apakah saat ini pria itu hanya ingin mempermainkan Chelsea saja?
Bagaimana mungkin aku hidup di sini? Tempat ini bukan sebuah kamar! Melainkan sarang tikus! Dan aku bukan seekor tikus! Bahkan jika aku yang sebenarnya bukanlah Emily, gadis pemilik raga ini juga tak pantas tinggal di tempat seburuk ini! Gerutu Chelsea di dalam hati.
"Kenapa? Kau keberatan?" tanya Reynof. "Jika keberatan kau bisa berjalan keluar dari lorong kecil dan tidur saja di taman, tampaknya taman belakang jauh lebih bagus dari kamar ini. Oh iya! Ada lagi satu ruangan, tapi seingatku lebih penuh akan barang-barang. Pilih saja, mau tinggal di mana, selama masih berada di area belakang tentu aku akan mengizinkanmu tinggal. Tunjukkan lebih dulu kemampuanmu dalam melayaniku, Nona Kecil, dan jika kau berhasil, tentu saja kau akan mendapatkan tempat yang lebih bagus!"
Chelsea menggeleng cepat. "Aku akan berada di sini."
"Benarkah?"
"Ya," jawab Chelsea lalu menghela napas. "Tapi, aku harap kau juga segera bertindak, Tuan Reynof. Aku sudah menerima perlakuanmu yang semena-mena ini, jadi, bukankah kau juga harus membuktikan dirimu setelah menerima penawaranku?"
"Oh, tentu saja!" sahut Reynof begitu antusias. "Hal pertama apa yang kau inginkan, Nona Kecil?"
Chelsea menurunkan arah pandangnya dan menatap lantai super kotor yang ia pijaki saat ini. Terlintas di benaknya bahwa tempat ini bukannya kotor sedari awal, melainkan sengaja dikotori untuk menyambut kedatangannya.
"Selidiki apa yang terjadi di kediaman dan perusahaan Emily," ucap Chelsea dan ia tidak mau keputusannya untuk tinggal di ruangan kumuh itu berakhir sia-sia. Ia juga harus mendapatkan keuntungan. "Aku tahu kau sanggup melakukannya, Tuan Reynof."
Dengan cepat, Reynof menarik lengan Chelsea dan mengeluarkan gadis itu dari kamar kumuh. Ia tidak memedulikan keterkejutan Chelsea, saat Chelsea sudah terjatuh ke dalam pelukannya.
"Tutup pintunya, Kayla! Sangat bau. Kau sudah keterlaluan, Kayla, tapi idemu sangat bagus hahaha!" ucap Reynof.
"Baik, Tuan," sahut Kayla dan lantas menutup pintu kamar.
"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?!" ronta Chelsea sembari berusaha untuk melepaskan diri.
Namun Reynof tidak berkenan, melainkan langsung berkata, "Cium aku."
Wajah Chelsea kembali kebas. "Apa?"
Di sisi lain, Kayla turut terkejut dan tidak senang. Namun apa daya, ia tidak bisa melarang keinginan tuannya.
"Cium aku, dan aku akan menuruti permintaanmu, Nona Kecil." Reynof berbisik lalu meniup wajah Chelsea. "Jika tidak mau, ya sudah, aku juga tidak akan melakukan apa yang kau mau."
"Si-sialan!" Chelsea mengumpat. Namun sekesal apa pun dirinya sekarang, ia sudah sangat terdesak. Apalagi ketika mengingat acara pemakaman atas jasad aslinya tadi siang, membuatnya ingin segera menggapai Ronald dan Nora.
Dan tak berselang lama, Chelsea mengecup bibir Reynof, disertai tetesan air matanya. Reynof menerima tindakannya dan membalasnya dengan lebih dalam, sehingga membuat Kayla semakin tidak senang. Dan demi meredam kekesalan, Kayla memutuskan untuk pergi dari tempat itu secepatnya.
"Sudah cukup!" ucap Chelsea sembari melepaskan dirinya dari sang pria bengis. Beruntungnya, kali ini ia berhasil. "Sekarang kau harus menuruti permintaanku, Tuan Reynof!"
Setelah itu, Chelsea segera berlari ke arah kamar. Ia membuka pintu dan lantas masuk ke dalam, kendati aroma dan keadaan kamar itu buruk sekali. Chelsea meluruhkan dirinya di balik pintu, mendengar suara tawa Reynof yang begitu keras dan penuh kepuasan.
"Menyebalkan!" ucap Chelsea geram. "Lihat saja, aku juga akan membunuhmu, Reynof! Aku pasti akan melakukannya setelah membuat Ronald dan Nora kena getahnya!"
***