Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Aku Sendiri yang Akan Menemanimu


“Hei!” seru Reynof sebelum Chelsea sampai di pintu untuk keluar dari ruangannya.


Ketika mendengar suara Reynof, langkah Chelsea seketika terhenti. Ia tidak tahu apakah pria itu sedang memanggilnya atau berkata pada orang lain melalui telepon. Namun demi memastikan ia tidak salah sangka, ia tetap memutar tubuhnya lagi dan menatap pria itu. Rupanya memang benar, bahwa saat ini Reynof masih berniat membuatnya sedikit lebih lama berada di ruangan tersebut.


“Ada apa, Tuan?”tanya Chelsea dengan suara dan raut yang begitu datar. Bahkan meski sudah ada perubahan perasaan yang terjadi di dalam hatinya, dirinya tetap bersikap dingin di luar keantusiasannya dalam membahas rencananya sendiri.


Reynof menghela napas sesaat setelah bangkit dari duduknya di ruang tamu ruang kerjanya itu. “Persiapkan dirimu malam ini, aku ingin membawamu makan malam di luar,” ucapnya cenderung memerintah.


Keraguan lantas meliputi hati Chelsea, di saat ia pun harus menelan saliva karena perasaan itu. Sepasang matanya berangsur turun menatap lantai marmer putih dengan garis warna gold yang indah. “Apa aku ... bo-boleh menolak permintaanmu untuk kali ini saja?”


“Kenapa kau ingin menolak?” tanya Reynof. Detik berikutnya, ia mulai mengambil sikap dengan berjalan ke arah gadis itu. “Kau bilang kau sudah tidak terlalu membenciku lagi, tapi kenapa di saat aku ingin menghadiahimu makan malam yang manis, kau justru menolak? Apakah pengakuanmu tadi hanyalah sebatas ide konyol untuk membuatku terus membantumu, Nona?”


Dan sekarang Reynof sudah menghentikan langkahnya tepat di hadapan Chelsea, sementara gadis itu sudah menatap wajah tampan bulenya sejak tadi. Tak lama berselang, Reynof melihat Chelsea menggeleng pelan dengan gesture yang menunjukkan sebuah keraguan.


“Jawab aku, Nona Kecil!” Tegas, Reynof mendesak agar Chelsea memberikan alasan.


Chelsea menghela napas. Ia memejamkan matanya untuk sejenak, setelah akhirnya ia pun berkata, “Aku hanya ingin meminta izin sekali dalam seminggu saja. Dan aku rasa hari ini, aku sudah pantas untuk meminta izin. Belakangan ini aku terus bersamamu, dan mulai sibuk dengan banyak hal setelah kau mengangkatku sebagai salah satu asisten pribadi. Sampai aku nyaris lupa pada ibuku yang sedang dirawat, Tuan. Sudah empat hari sejak beliau dirawat, dan aku belum pernah berkunjung sama sekali. Aku menitipkan ibuku pada seorang perawat karena alasan pekerjaan, tapi sebagai anak, aku tak mungkin terus-terusan mengabaikan ibuku, bukan? Jadi, sore sampai malam ini aku ingin menjaga ibuku.”


“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, Chelsea?" sahut Reynof. "Dan lagi, apa kau yakin benar-benar akan menjaga ibumu saja?”


“Aku masih ragu dan khawatir, sehingga aku berencana menyimpan keinginanku sampai saat aku berangkat nanti selepas jam operasional habis. Dan aku bersumpah, aku akan menjaga ibuku saja.”


Reynof memicingkan mata. “Kau tak berencana mengunjungi rumah Emily lagi, bukan?”


“Ti-tidak,” sahut Chelsea gelagapan. Ia pikir Reynof mengabaikan soal kunjungannya ke rumah aslinya sebagai sosok Emily, tetapi rupanya pria itu tetap memikirkan. “Kau sudah memasang pelacak di ponsel dan mobilku, kau bisa memastikan bahwa aku akan terus berada di rumah sakit untuk menjaga ibuku, Tuan.”


“Hmm ....” Reynof mulai berpikir keras, mempertimbangkan dua hal yang sudah hadir di benaknya. Detik berikutnya, ia menatap Chelsea dengan lebih saksama lagi. “Ya sudah lakukan saja. Kau boleh menjaga ibumu, tapi aku sendiri yang akan mendampingimu.”


“Hah?!” Chelsea melongo. Apa Reynof serius?! Dan kenapa harus?! Pria itu memiliki banyak pekerjaan. Tak mungkin juga hobi Reynof ke klub malam disingkirkan hanya untuk menemaninya di rumah sakit. “Kau serius? Tapi, kenapa?”


“Kau bisa meninggalkan ponsel dan mobilmu di rumah sakit, dan pergi ke tempat berbahaya dengan menggunakan kendaraan lain semacam taksi. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan di sekitar kediaman milik mendiang Emily, tapi jika kau melakukan hal itu lagi, kau bisa berada dalam bahaya besar. Mengingat emosimu ketika kau menghajar ayahmu habis-habisan, aku khawatir kau juga melakukannya pada Ronald ataupun Nora. Kau juga lebih bisa dicurigai setelah semua rencana yang kau jalankan, termasuk semua bantuan yang aku berikan, jika kau begitu gegabah maka semuanya akan menjadi sia-sia.”


Chelsea terdiam, selebihnya mengusap tengkuknya. Ia juga sudah menundukkan kepalanya dengan kondisi mata yang terus mengerjap-ngerjap. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada si Pria Bengis belakangan ini—pasca menghentikan dirinya dari ancaman memiliki status sebagai seorang pembunuh. Tak mungkin Reynof jatuh cinta padanya dan lantas berubah secepat ini, ketika pria itu hanya mengincar tubuhnya saja selama ini.


Namun meski bimbang, Chelsea akhirnya mengangguk setuju. Kemudian ia memutuskan untuk melanjutkan rencananya, mengingat jam makan siang sudah tiba dan ia telah mengganggu agenda Reynof terlalu lama. Hanya saja, di dalam ruangan itu ia tetap membantu beberapa pekerjaan Reynof setelah selesai merundingkan perihal rencananya untuk menjebak Nora.


"Si gadis nakal, keras kepala, berharga diri tinggi, dan menyebalkan ... aku benar-benar takjub dengan berbagai kemampuannya. Padahal aku ingin mengajarinya menyetir, tapi ternyata dia sudah begitu andal. Dan tadi ... bagaimana bisa gadis yang tak lulus kuliah memahami setiap berkas yang sengaja aku berikan? Pemikirannya juga cukup detail dan kritis," gumam Reynof sesaat setelah Chelsea menghilang dari balik pintu ruangan. "Apa benar, dia kerasukan roh Emily? Ah ... mana mungkin!"


Sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, Reynof memutuskan untuk kembali ke meja kerjanya. Dan ketika sudah duduk di sana tanpa berniat untuk menyantap makan siang terlebih dahulu, ia menghubungi Ruben Diego melalui ponsel, bahkan meski Ruben hanya berada di luar ruang kerjanya.


***


Chelsea tidak tahu mengapa Ruben memintanya untuk makan siang bersama di salah satu restoran yang tidak jauh dari perusahaan. Ia dan pria itu pun sudah memesan makanan sesuai keinginan masing-masing. Tadinya, Chelsea pikir dirinya bisa ke kafe untuk sekadar membeli es kopi dan dessert manis. Namun selepas keluar dari ruang kerja Reynof dan hendak memasuki elevator untuk bergegas turun, Ruben justru menghentikan langkahnya dan mengajaknya makan siang bersama.


Senyum Ruben melengkung manis. Pria berkulit sawo matang dan berparas manis layaknya senyumnya itu, menatap Chelsea yang tampak bingung sekaligus penasaran. Sudah pasti gadis itu bertanya-tanya tentang hal apa yang hendak Ruben bicarakan.


“Belakangan ini saya merasa bahwa Anda dan Tuan Reynof sudah lebih akrab, Nona," ucap Ruben memulai pembicaraan. "Bukankah beliau tak seburuk gagasan Anda selama ini?”


“Benarkah kami sudah terlihat lebih akrab? Saya sama sekali tidak merasa seperti itu, Tuan Ruben,” sahut Chelsea.


"Yah, membuang perasaan benci memang tak semudah membalikkan telapak tangan, Nona. Saya pun paham mengapa Anda tidak bisa menyukai Tuan Reynof yang memang memiliki citra sangat buruk di kalangan para pengusaha.”


“Hmm ... tampaknya Anda sudah menemani Tuan Reynof begitu lama, ya? Apa Anda tidak merasa lelah karena semua kejahatan yang dia lakukan? Dia tak jarang memaksa seorang gadis untuk memenuhi keinginan hasratnya, bukan? Atau mungkin ... Anda sama saja dengan dirinya, Tuan Ruben?”


Ruben tertawa kecil. “Anda memang gadis yang dingin dan jujur. Namun tidak, Nona, saya sama sekali tidak pernah terlibat dengan wanita mana pun. Soal menemani Tuan Reynof sejak lama, itu memang benar adanya. Kalau boleh jujur, sebenarnya saya ini putra dari sekretaris ayah Tuan Reynof—Tuan Besar Robby Wangsa.”


“Hah?! Benarkah? Kenapa mau? Mereka ingin keturunan keluarga Anda dijadikan pelayan terus-menerus, begitu? Waaah! Jahat sekali!”


"Hahaha. Tidak, Nona. Saya tidak merasa dijahati. Justru saya sendiri yang menawarkan diri, karena saya pun mendapatkan banyak bantuan dari keluarga Wangsa, terutama kakek dari Tuan Reynof," tandas Ruben. Ia tidak mau Chelsea sampai salah paham. “Jangan terlalu membenci Tuan Reynof, Nona. Meski citranya memang begitu buruk dan kenyataan bahwa beliau kejam adalah suatu kebenaran, tapi, dia sudah menjalani hidup yang serba menyakitkan.”


Sifat ingin tahu Chelsea langsung bangkit. Jika selama ini ia hanya tahu keburukan Reynof ketika hidup sebagai Emily, saat ini ia ingin mendalami jalan hidup pria blasteran Prancis berusia 35 tahun itu—sosok pria yang lebih tua 15 tahun dari raga yang ia tinggali. "Apakah Anda bisa menjelaskan bagaimana masa lalu Reynof, sampai dia menjadi sosok sekejam sekarang, Tuan Ruben? Barangkali akan menjadi pertimbangan bagi saya untuk tidak terlalu membencinya lagi."


"Dengan senang hati, Nona Chelsea ...."


***