
Setelah mengikuti Reynof ke dalam sebuah kamar yang berada di salah satu hotel, dan tentu saja hotel milik perusahaan pria itu, Chelsea tengah mempersiapkan dirinya. Saat ini dirinya sedang sibuk mengeringkan rambutnya yang basah, meskipun tubuhnya hanya terbalut jubah mandi saja. Dan Reynof entah ke mana. Chelsea tidak tahu, tetapi pria itu mengaku akan datang untuk menagih janji tidak lama lagi.
Sejak pria itu menagih janji, sejujurnya nyali Chelsea menjadi ciut kembali. Ia masih takut dan ragu, mengingat dirinya paling enggan bersentuhan dengan pria yang tak dicintainya, apalagi pria itu adalah Reynof Keihl Wangsa yang kejam. Meskipun ketika masih hidup sebagai Emily, dirinya sudah menikah dan melakukan hal 'intim' telah ia lakukan bersama Ronald sampai beberapa kali, tetap saja untuk melakukannya lagi dengan pria lain dan dengan bukan tubuhnya sendiri membuatnya merasa resah di sepanjang waktunya dalam menunggu Reynof hadir.
Chelsea menelan saliva lalu menatap pantulan wajahnya di kaca rias kamar hotel itu, sementara tangannya telah sibuk menyisir rambut yang sudah agak mengering. Terlihat mata Chelsea yang bulat jernih bak mata boneka dihiasi bulu mata yang panjang lentik serta alis yang rapi alami, bentuk bibir Chelsea yang berbentuk angka V dengan bagian bawah cukup sensual, hidung mancung mbangir, serta pipi tirus dengan lesung pipi tak terlalu jelas. Ada juga sebuah tahi lalat di bawah mata yang hanya sebesar tanda titik. Visual wajah yang begitu sempurna dan tak heran jika Reynof sampai tergiur bahkan memimpikan.
"Kalau dilihat-lihat, wajah ini sedikit mirip dengan wajah asliku, meskipun wajahku yang asli tetap lebih cantik," gumam Chelsea sembari mengingat wajahnya ketika hidup sebagai Emily. "Apa Reynof juga menginginkan diriku sebagai Emily pada saat itu? Dia bahkan mengatakan bahwa Emily memang lebih cantik daripada Chelsea. Kalau dia percaya bahwa aku adalah Emily, apa dia akan semakin merendahkanku?"
Chelsea menelan saliva. "Tapi kenapa tadi dia menghalangiku? Bukankah membiarkanku menjadi seorang pembunuh adalah sesuatu yang bisa menguntungkan baginya? Tapi kenapa dia justru bersikap seolah-olah ingin melindungiku? Lalu, ayahnya? Kenapa dia menyiksa ayahnya? Bagaimana dia menjalani hidupnya sampai dirinya berakhir menjadi pria yang sangat kejam?"
Sayangnya, semua pertanyaan tersebut tidak bisa mendapatkan jawaban, jika Chelsea tidak menanyakannya pada Reynof secara langsung. Namun buat apa juga, toh, itu tidak penting baginya. Hanya kesepakatan saja yang membuatnya harus terus hidup di sisi pria itu, dan akan berakhir ketika ia sudah membalas dendam pada suami serta sepupunya. Mungkin suatu saat nanti ia juga bisa menghancurkan Reynof, karena ia pun telah berjanji soal hal itu pada dirinya sendiri.
Hanya saja ... mengapa Chelsea mendadak ragu dalam rencananya untuk turut menghancurkan Reynof, hanya karena Reynof sempat menghentikan aksinya beberapa saat yang lalu?
"Nona Kecil! Apa kau sudah siap?" Mendadak terdengar suara Reynof, dan pria itu memang sudah muncul dari pintu masuk kamar tipe presidential itu.
Chelsea sempat terkejut, bahkan keduanya pundaknya sampai terangkat. Gara-gara memikirkan sikap Reynof, ia sampai tak tahu bahwa pria itu telah membuka pintu yang sempat tertutup rapat. Dan lagi, saat ini tak hanya terkejut, melainkan juga semakin ciut. Reynof kembali menagih janji yang telah ia katakan. Saat ini pun pria itu tengah berjalan ke arahnya sembari membuka dua kancing kemeja hitam bagian atas.
Tidak ada jalan untuk kabur. Bahkan sekalipun ada, Chelsea mungkin tak akan sanggup. Karena nyatanya tubuhnya justru terpaku diam dan tidak bisa digerakkan. Tegang dan takut. Namun apa daya, ia sendiri yang telah menyerahkan dirinya.
"Hei? Apa kau takut?" tanya Reynof sembari mencengkeram kedua pundak Chelsea dan menatap pantulan wajah gadis itu. Ia menyeringai setelah itu kembali berkata, "Aku akan melakukannya dengan hati-hati agar kau tidak kesakitan."
Chelsea menelan salivanya lagi ketika Reynof berangsur menyingkirkan helaian rambutnya ke depan tubuhnya sendiri. Pria itu bahkan sudah membungkuk, lalu meniup tengkuk Chelsea, sampai bulu kuduk Chelsea berdiri.
"Aku sudah menunggumu sampai sejauh ini dengan segala pertentangan yang selalu kau berikan. Jadi aku berharap kau tak lagi menghindar, Nona," bisik Reynof tepat di telinga Chelsea. "Ini pertama kalinya bagimu, bukan? Aku tak akan bersikap kasar. Jadi, tenang saja."
Reynof memulai aksinya, lebih ingin menguasai diri gadis itu. Dan Chelsea masih saja terdiam tegang sembari menahan napas. Ini bukan pertama kalinya jika raganya adalah Emily, tetapi ini mungkin pertama kalinya bagi Chelsea. Namun meski pernah melakukannya dengan Ronald, menghadapi Reynof justru seperti sebuah kejadian yang akan menjadi pengalaman pertama baginya.
Dan apakah hanya demi memberi pelajaran pada Hery saja, Chelsea sampai harus menyerahkan dirinya?
Reynof nyaris membuka tali jubah mandi yang Chelsea kenakan, ketika Chelsea lagi-lagi menghentikan aksinya.
"Ada apa?" ucap Reynof yang sudah terlena. Dan sungguh! Ia tidak senang ketika justru dihentikan. "Kau tidak berpikir untuk kabur lagi, bukan?"
Chelsea menghela napas, mencoba menenangkan dirinya. Detik berikutnya, ia menghadapkan dirinya pada Reynof. Pria itu saat ini sudah setengah duduk di hadapannya, kedua betis Reynof telah berada di atas lantai.
Reynof lantas berdiri dengan posisi yang lebih baik. "Apa lagi yang kau inginkan, Nona? Tak bisakah kau memintanya nanti saja? Sekarang aku sudah dalam keadaan kepalang tanggung!"
"Jika aku memintanya di lain waktu, kau belum tentu berkenan untuk mengabulkannya."
"Meski aku pria buruk, aku bukan orang yang ingkar janji! Kalau begitu katakan saja dengan cepat, dan mari kita mulai!"
Demi menenangkan diri Reynof yang sudah terlanjur terlena dan akan marah jika tak segera dituruti, Chelsea memutuskan untuk ikut berdiri. Ia membuka tali ikat jubah mandinya sendiri, kemudian mendekati pria itu, bahkan menyentuh pria itu.
"Aku serius, aku tak akan kabur. Tapi aku juga membutuhkan persetujuan darimu untuk masalah yang lain, Tuan," ucap Chelsea.
Reynof menelan saliva. Sepasang matanya sudah bergerak turun menatap sesuatu di tubuh Chelsea yang belum terlihat secara sempurna. "Katakan ...."
"Tolong berikan tawaran kerja sama pada pihak Pano Diamond dan biarkan aku yang datang sebagai sekretarismu, Tuan." Sesaat setelah mengatakan hal itu, Chelsea membuka jubahnya, tetapi belum sepenuhnya. "Kau tidak keberatan, bukan?"
"Apa? Kerja sama dengan pihak mereka? Aku bahkan tidak yakin dengan kinerja si pimpinan baru, Nona!"
"Aku harus mendekati mereka. Maksudku Nora dan Ronald. Dan hanya dengan cara itu saja, aku bisa menggapai mereka. Jadi, aku mohon. Saat ini ... aku benar-benar sedang memohon, Tuan Reynof."
Chelsea melangkahkan kakinya lagi. Ia berjalan maju mendekati Reynof, dan berangsur membelai wajah pria itu.
"Sial. Aku tidak percaya jika ini merupakan kali pertama bagimu, Nona. Selain pandai membuat kesepakatan, kau juga pandai merayu rupanya." Reynof menyeringai. Detik berikutnya, ia menarik tubuh Chelsea yang ditawarkan oleh gadis itu sendiri. "Aku akan mengabulkan permintaanmu lagi. Dan akan mengirim dirimu sebagai perwakilan dari perusahaanku. Tapi, Nona Kecilku yang keras kepala, kau juga harus selalu siap jika aku memanggilmu. Kau paham, bukan?"
"Ya, aku paham. Lagi pula, aku sudah menyerahkan diriku. Jika hal ini sudah dimulai, itu artinya aku sudah benar-benar menjadi milikmu, Tuan Reynof. Dan tepati janjimu untuk terus membantuku, serta tak akan pernah meninggalkanku."
"Ouh! Gadis nakal ini!"
Sudah cukup, Reynof tidak akan membiarkan Chelsea menunda-nunda waktu lagi. Detik itu juga, Reynof langsung melancarkan serangan pertamanya. Ia menjatuhkan kecupan yang amat dalam di bibir gadis itu. Bak singa yang sudah lama menahan rasa lapar, Reynof berubah menjadi lebih garang. Namun tak berselang lama ia pun ingat bahwa ini kali pertamanya bagi Chelsea, dan ia memutuskan untuk memelankan pergerakannya.
Malam ini Chelsea sudah resmi menyerahkan dirinya. Ia menyatukan dirinya dengan Reynof. Dengan berat hati dan penuh keterpaksaan. Namun herannya, ia tidak merasa mual seperti yang telah ia bayangkan sebelumnya. Apakah hal itu terjadi lagi-lagi karena perhatian Reynof yang beberapa saat lalu telah Chelsea dapatkan?
***