Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Kemungkinan yang Fabian Dengar Dari Daffa


“Aku ingin bekerja di perusahaan, Nora” celetuk Ronald yang baru saja berlari cepat untuk menyusul Nora yang nyaris masuk ke dalam sebuah mobil. Rupanya wanita itu juga hendak berkendara sendiri. Ronald tidak tahu apa yang terjadi dengan Fabian, yang merangkap tak hanya sebagai sekretaris melainkan sekaligus sebagai sopir pribadi bagi kekasihnya itu.


Suara Ronald sukses membuat Nora terkejut, sehingga pergerakannya untuk segera memasuki mobil langsung terhenti. Detik berikutnya, ia menutup kembali pintu mobil yang memang sudah ia buka sebelum Ronald tiba. Nora menghela napas, merasa masih kesal karena sikap Ronald yang kerap merengek. Dan sungguh tidak hanya sekali ini saja, pria itu bersikap pengeccut, padahal sudah jelas-jelas pernah menghabisi nyawa orang lain.


“Apa maksudmu, Sayangku?!" Tegas, Nora bertanya sembari melipat kedua tangannya ke depan. Saat ini Ronald sudah berada di hadapannya.


Ronald menghela napas. Terlihat sekali wajahnya yang sedang bimbang maupun panik. Namun karena tidak ingin terus dijadikan seorang kaccung, ia harus mendapatkan pekerjaan di perusahaan mendiang istrinya.


“Akan fatal jadinya jika aku terus-terusan menganggur. Emily pun sudah menjanjikan posisi tinggi untukku, sehingga aku memutuskan keluar dari tempatku kerja sebelumnya. Aku masih belum masuk ke perusahaan lantaran Emily sedang mencari posisi terbaik, sembari membujuk beberapa orang di perusahaannya, eh dia malah harus mati,” ucap Ronald. Ia menggigit bibir bagian bawahnya. Sebenarnya ia tidak yakin jika Nora akan menyetujui permintaannya.


“Mau bagaimanapun, aku telah menghabisi Emily karena permintaanmu, Nora. Aku hanya meminta bayaran ...!” Ronald berbisik di telinga Nora, tetapi ucapannya terdengar begitu tegas cenderung mengancam.


Nora tidak senang. Benar-benar kesal karena kekasih yang ia pilih itu justru seolah-olah sedang memerasnya saat ini. Pria miskin yang tidak tahu diri! Padahal sampai saat ini pun, Ronald masih saja hidup menumpang.


“Baik!” Nora berkata dengan lantang, tetapi tidak bermaksud untuk menentang. “Lagi pula aku juga lelah melihat kau yang menganggur dan bisanya hanya merengek. Aku akan memberikan posisi untukmu, mengingat kau memang masih cukup aku cintai, Ronald. Tapi tidak seperti Emily yang memang bucin akut padamu, sampai berjanji untuk memberimu jabatan tinggi. Aku akan lebih berhati-hati. Kau bisa bekerja, tapi sebagai karyawan terendah.”


Kali ini Nora yang mendekatkan wajahnya ke telinga Ronald. ”Kalau kau mendadak mendapatkan posisi tinggi, kita akan langsung dicurigai. Tetap bersandiwaralah layaknya suami penyayang, Sayangku. Ini demi kebaikanmu juga.”


Terakhir, Nora membubuhkan kecupan manis di pipi Ronald, dan setelahnya ia berbalik badan untuk kembali melanjutkan rencananya. Karena pagi ini Fabian izin untuk berangkat siang, Nora terpaksa berangkat sendiri. Salahnya juga karena ia belum menentukan siapa sopir pribadi yang tepat untuk dirinya. Selama Emily hidup pun, Emily lebih sering diantar-jemput oleh Fabian, daripada menggunakan sopir pribadi. Sehingga, Nora harus mengikuti apa yang telah Emily lakukan selama ini.


Untuk kali ini kecupan dari Nora sungguh tak bikin Ronald berbunga-bunga. Karena pada akhirnya kecupan itu malah seperti halnya sebuah kecupan dari sang majikan pada seekor peliharaan. Sayangnya Ronald lagi-lagi hanya bisa membatin ketika Nora sudah melaju pergi bersama sebuah mobil. Diberikan jabatan rendahan sungguh membuat Ronald merasa terhina. Chelsea benar, seharusnya Ronald saja yang mendapatkan warisan! Bukannya malah Nora yang semakin kaya justru semakin sombong saja.


***


Di sebuah kedai kopi kecil yang sama sekali tidak berbintang lima, Fabian tengah singgah. Seharusnya ia sudah berangkat ke kediaman Rukmana untuk menjemput Nora, tetapi karena suatu hal, ia pun memutuskan untuk izin berangkat siang. Sesuatu hal tersebut merujuk pada sebuah undangan dari seseorang.


Daffa Gajendra, sang penyidik yang mendadak mengajukan permohonan pertemuan rahasia dengan Fabian Maestra, selaku sekretaris pribadi Emily Panorama Rukmana. Dan saat ini keduanya sudah duduk bersama serta saling bertatap muka.


”Apa saya telah melakukan suatu pelanggaran yang fatal, sampai seorang penyidik ingin bertemu dengan saya?” tanya Fabian ingin memastikan.


Daffa menyeruput kopi hitamnya, menelannya, lalu kembali meletakkan cangkir yang menjadi wadah minuman berkafein tersebut. Wajah Fabian yang super serius membuatnya agak tidak nyaman. Namun sebagai salah satu anggota berwajib, ia telah terbiasa menghadapi segala macam karakter dari banyak orang, khususnya tersangka.


”Saya Daffa Gajendra, salah satu anggota tim yang sebelumnya nyaris ditugaskan untuk mengusut kasus kecelakaan Nyonya Emily,” ucap Daffa.


Fabian menghela napas. ”Saya sudah tahu. Tapi sebelum kasus dinaikkan ke penyidikan, kasus itu sudah ditutup, bukan? Jadi?”


“Yah, Anda tidak melakukan kesalahan apa pun. Saya berniat untuk mempertanyakan beberapa hal tentang mendiang Nyonya Emily saja. Dan Anda berkewajiban untuk menjawab setiap pertanyaan dari saya.”


”Apa Anda memiliki surat perintah?” tandas Fabian. Ia menghela napas setelahnya. “Kasus kecelakaan Nyonya Emily juga sudah ditutup, jadi untuk apa Anda masih mencari kesaksian?”


Dahi Fabian mengernyit. Ia menebak mungkin Daffa memang sudah menyelidiki tentang banyak hal. ”Saya memang orang terdekatnya!”


“Baiklah, kalau begitu, apa Anda yakin Nyonya Emily meninggal murni karena kecelakaan tunggal?” Daffa memulai penyelidikannya. “Untuk saat ini yang memiliki alibi terkuat adalah Anda, Sekretaris Fabian. Pada saat kejadian Anda berada di apartemen Anda, bukan? Seluruh penghuni gedung apartemen Anda memberikan kesaksian seperti itu, meski beberapa ada yang ragu. Di jam kejadian, Anda terlihat berada di lorong apartemen, ketika saya memastikan keberadaan Anda dari CCTV gedung itu. Dan Anda juga sempat berada di minimarket terdekat. saya yakin Anda memang tidak terlibat.”


“Ya, saya memang memiliki alibi yang kuat. Saya jamin soal itu!”


Daffa tersenyum dan lantas menyeruput kopinya lagi. Ia mengambil jeda agar tidak terlalu menekan Fabian yang tampaknya masih ragu untuk bekerja sama. Saat ini, sekretaris itu justru kerap menelan saliva dan tengah menunjukkan wajah sendu. Sepertinya Fabian memang turut terluka atas kepergian Emily. Sebagai penyidik yang tak hanya pandai mencari bukti, Daffa juga cukup berbakat dalam menilai setiap ekspresi dan garis wajah seseorang. Ia tahu kapan seseorang sedang berbohong, bingung, ataupun di saat berkata jujur.


Perasaan Fabian sungguh tidak enak, dan sebenarnya sudah risau sejak Daffa meminta janji temu dengannya. Entah bagaimana bisa, Daffa mendapatkan kontak miliknya. Namun mengingat profesi Daffa yang tidak main-main, sepertinya mencari nomor ponsel milik seseorang mudah saja bagi pria itu. Fabian hanya takut jika kenyataan mengatakan bahwa Emily memang tidak meninggal karena kecelakaan, melainkan dibunuh secara kejam. Ketika kemungkinan itu terjadi, sungguh, Fabian akan jauh lebih menyesal.


“Jadi, Sekretaris Fabian, bisakah Anda menceritakan saat-saat sebelum Nyonya Emily meninggal? Barangkali kalian sempat bersama. Pelan-pelan saja, jika memang masih berat untuk Anda katakan,” ucap Daffa.


“Nyonya Emily ... E-emily, dia ... sedang lembur dan tak mau ditemani. Katanya ada rencana besar yang akan dia lakukan. Saya tidak tahu sampai pukul berapa dia ada di kantor, dengan bodohnya saya memutuskan untuk pulang lebih awal di jam tujuh malam tanpa memedulikan kemungkinan dia akan celaka.” Sesak sekali pernapasan Fabian. Ia benar-benar sampai gemetar. Rasa bersalahnya pun kian membesar. “Saya pikir ... sa-saya pikir dia akan aman, karena pada saat itu, dia membawa mobil sendiri. Barangkali dia memang ingin sendiri, sebagai orang yang hanya bawahan, tentu saja saya tidak bisa menentang apa pun yang dia inginkan. Tapi, ... tapi, seharusnya saya menentangnya, bukan? Seharusnya saya tetap menemaninya, bukan?”


Daffa merasa iba, tetapi ia tidak boleh melunak hanya karena Fabian tampak frustrasi. “Apa Nyonya Emily berencana untuk ke klub? Atau apakah beliau malah membeli sebotol minuman? Asal Anda tahu, Tuan, kamera dashboard mobilnya pun menghilang. Kata Tuan Ronald, kamera itu memang tidak pernah dipasang, karena Tuan Ronald mengaku kerap bercumbu di mobil itu dengan mendiang Nyonya Emily. Nona Nora sering memakai mobil tersebut, sehingga Tuan Ronald dan Nyonya Emily sepakat untuk tidak memasang kamera.”


“Apa?!” Fabian sungguh terkejut. “Jadi tidak ada kamera? Kalau tidak ada, seharusnya kalian wajib curiga, bukan? Tapi kenapa kalian malah menutup kasus?! Dan asalkan Anda tahu, Tuan Penyidik! Emily tidak pernah sama sekali menyantap alkohol jenis apa pun! Dia hanya ke klub ketika sedang ada pesta, undangan, dan semacamnya! Jadi, tak mungkin malam itu dia ke klub karena memang tidak ada jadwal pesta apa pun, sekadar membeli alkohol saja rasanya mustahil! Saya mengenalnya sejak kecil, saya tahu betul kebiasaannya! Dan Emily juga tidak sebodoh itu untuk bercumbu di dalam mobil dengan suaminya! Semuanya tidak masuk akal, tapi kalian menutup kasus itu dengan cepat sebagai kasus kecelakaan tunggal? Waaaah! Memangnya kalian sudah dibayar berapa?! Sampai nyawa seseorang kalian anggap enteng!”


Daffa merasa panik dan malu ketika Fabian sangat emosional sampai beranjak bangkit. Beruntungnya kedai kopi itu masih sangat sepi, bahkan pemiliknya sedang tidak ada di meja kasir. Meski cukup kesal karena saksi justru histeris, Daffa tetap lega ketika beberapa hal bisa ia dapatkan.


Bahwa sebelum waktu kejadian perkara, Emily memang berada di kantor dan berencana untuk lembur tanpa mau ditemani siapa pun. Kamera dashboard mobil yang tidak ada disertai alasan Ronald yang dirasa cukup mencurigakan. Kebiasaan Emily yang ternyata tidak pernah menyantap alkohol jenis apa pun bahkan juga jarang ke klub malam. Kesaksian para pelayan kediaman Emily yang meragukan. Serta tempat kejadian perkara yang betul-betul sepi dan tak ada CCTV, mana mungkin Emily melewati jalanan seperti itu ketika masih banyak jalan raya yang lebih terang-terangan? Lalu meninjau kembali pada masalah penolakan diadakannya otopsi oleh pihak suami Emily yang mau bagaimanapun tetap aneh sekali. Semua keterangan itu sudah benar-benar merujuk pada kemungkinan jika Emily tidak meninggal karena sebuah kecelakaan.


Daffa mendapatkan titik terang, hanya saja ia belum mendapatkan bukti yang kuat. Jika hanya analisa tentu tak bisa dianggap sebagai bukti konkret. Ronald bisa mengelak setiap penuturan Daffa nantinya. Jika Emily memang dibunuh secara sengaja, pasti tetap ada bukti fisiknya. Kamera dashboard mobil bisa saja sudah dimusnahkan, tetapi bisa jadi masih disimpan. Daffa akan mencoba mencarinya meskipun akan memakan waktu lama, dan pastinya ia akan menemui banyak kesulitan. Apalagi ia kerap ditugaskan untuk berbagai pekerjaan, yang membuatnya semakin kesulitan melakukan penyelidikan rahasianya.


“Saya akan mengusut sampai tuntas kasus kecelakaan Nyonya Emily, Sekretaris Fabian. Terima kasih atas semua kesaksian yang Anda berikan, dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena tidak mampu menghalangi adanya hal yang membuat kasus ini ditutup secara cepat,” ucap Daffa sesaat setelah bangkit dari duduknya. Dan kali ini ia membungkuk hormat pada Fabian, kemudian memutuskan untuk pergi.


Fabian mencengkeram bagian jantungnya, sementara salah satu tangannya menekan papan meja. Kenyataan yang baru saja ia alami sungguh mengusik ketenangan jiwa yang nyaris ia dapatkan belakangan ini. Ada kemungkinan Emily tidak meninggal karena kecelakaan tunggal, melainkan dibunuh secara kejam. Lantas siapa yang membunuh Emily?!


“Dua orang yang menguasai rumah itu ... sangat berbahaya.”


“Saya bukan penguntit, melainkan seseorang yang kebetulan tahu tentang beberapa kenyataan ....”


“Berhati-hatilah, Tuan ....”


Mendadak terngiang perkataan gadis muda yang belakangan ini Fabian ketahui bernama Chelsea Indriyana, asisten pribadi Reynof Keihl Wangsa. Mengapa ucapan Chelsea seolah-olah terhubung dengan tindakan Daffa? Mungkinkah Chelsea memang mengetahui kenyataan yang berkaitan dengan Emily?


***