Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Surat Perceraian


Fabian membawa Chelsea untuk ke sebuah kafe terlebih dahulu. Kondisi Chelsea yang terlihat tak bersemangat usai bertemu dengan Nora, memang membuat Fabian cukup khawatir. Ketika ia bertanya mengenai hal yang terjadi di pertemuan tersebut pun, Chelsea masih enggan untuk bercerita. Fabian hanya menebak, mungkin perasaan Chelsea menjadi aneh sejak menjebloskan sang adik kesayangan ke penjara.


Sesaat setelah menghela napas, Fabian berangsur membuka tas kerja hitamnya. Ia meraih sebuah map dari tas tersebut. Dengan ragu dan hati-hati, ia menyodorkan map itu pada Chelsea.


“Nona, mm, Nyonya Emily,” ucap Fabian. Sebutan terhadap Chelsea pun sudah ia ubah, karena para pembunuh sudah ditangani. ”Ini surat perceraian yang Anda minta.”


Chelsea yang terus menatap keluar jendela sembari memikirkan mengenai fakta buruk yang belum lama ini ia dengar, lantas menatap Fabian. Detik berikutnya, tatapan matanya meluruh melihat map cokelat yang sudah pria itu sodorkan padanya.


”Terima kasih, Fabian,” ucap Chelsea singkat. Detik berikutnya, ia tersenyum pada Fabian. “Aku akan menyerahkan sepuluh persen saham Pano Diamond untuk dirimu. Lusa, Reynof akan mengurus proses akuisisi dan aku akan mendesaknya untuk menyerahkan sepuluh persen tersebut. Yah, daripada perusahaan itu hancur, lebih baik diakuisisi oleh Reynof yang lebih pandai dalam segala hal. Lagi pula, dia sudah tak sepicik dulu.”


”Saya ... tidak mengharapkan imbalan tersebut, Nyonya,” sahut Fabian. Ia menghela napas demi mengusir rasa sesak yang telah menerpa dadanya. ”Yang saya inginkan Anda harus tetap ada di sini.”


”Tidak, Fabian. Setelah aku mengeluarkan Ronald, semuanya telah berakhir. Aku harus membawa pergi tubuh ini, karena aku khawatir dengan masih si pemilik tubuh jika berada di sekitar Reynof. Reynof memang sudah banyak berubah, tapi ... aku tidak tahu, jika aku menghilang, apakah dia akan tetap bersikap baik.”


”Nyonya?” Fabian menunjukkan ekspresi yang sendu.


Chelsea tetap tersenyum kendati rasa hatinya masih belum baik-baik saja. ”Selama aku masih hidup, aku akan terus meminta bantuan darimu, Fabian. Tapi mungkin ... kau akan menjadi saksi pertama seandainya aku sudah lenyap. Aku berharap akulah yang hidup, tapi jika aku terus berharap demikian, sama saja aku yang egois. Chelsea Indriyana, dia tak pernah memiliki kesalahan padaku. Tapi aku malah menyerahkan tubuh ini pada Reynof. Aku sudah sangat berdosa padanya. Aku hanya bisa mengumpulkan bukti dan menyerahkan Hery Padiman ke polisi, dan saat ini Hery sedang dalam pencarian. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menebus dosaku pada Chelsea. Sebagai jiwa yang hanya menumpang, aku siap pergi jika sudah waktunya.”


Fabian tak bisa berkata-kata. Dan tak ada sahutan pada akhirnya, ketika ia memilih menyampar americano dingin pesanannya. Membayangkan kepergian jiwa Emily memang sedih tiada terkira. Namun Fabian ingin menunjukkan senyuman dan cara untuk membahagiakan atasannya itu selama masih ada waktu.


”Anda akan dijemput?” tanya Fabian mengalihkan pembicaraan.


Chelsea mengangguk. ”Ya, Reynof sendiri yang akan menjemputku,” jawabnya.


”Tuan Reynof benar-benar memedulikan Anda ya? Padahal dulu kalian sama sekali tidak akur.”


”Pertengkaran di antara kami pun terbilang sering, Fabian. Dulu dia itu pria yang gila. Tapi, aku pun sudah tahu hal-hal yang membuatnya menjadi pribadi yang bengis. Aku bersyukur dia sudah banyak berubah, kendati tetap overprotektif dan ketus pada banyak orang.”


”Anda sudah mengubah beliau, Nyonya. Dan beliau mencintai Anda.”


Chelsea tersenyum tipis. Tidak ada jawaban yang ia berikan. Cinta menjadi sesuatu yang sesungguhnya cukup terlarang bagi jiwanya yang hanya sekadar menumpang. Segala rencananya memang telah berjalan dengan lancar, walaupun ia harus mengorbankan Fabian yang sampai menyerahkan diri pada Nora. Namun sebagai sosok yang seharusnya sudah mati, Chelsea alias Emily cukup tahu diri.


Hanya berkisar lima menit setelah saling terdiam, akhirnya yang Chelsea tunggu telah datang. Reynof bahkan sampai menghampiri Chelsea yang duduk di salah satu tempat di kafe itu. Tak ada kata apa pun yang Reynof ucapkan pada Fabian, selain meminta Chelsea untuk langsung mengikuti dirinya. Reynof memang paling kesal jika Chelsea bersama pria lain. Dan sulit baginya untuk bersikap ramah terhadap pria itu, kendati ia tahu posisi si Pria yang hanya sekretaris saja.


Chelsea tersenyum sembari menatap tampak samping wajah Reynof, sesaat setelah ia dan pria itu memasuki mobil. Wajah bule yang tampan memang selalu menawan. Meski sudah berusia nyaris tiga puluh enam tahun, Reynof tetap rupawan. Tubuhnya yang kekar menambah indahnya penampilan visual milik pria itu. Dan wanita mana yang tak akan tertarik ketika melihat Reynof tanpa mengetahui betapa bengisnya pria itu?


”Apa wajahku ada sesuatu? Atau kau yang terlalu rindu padaku, Nona?” ucap Reynof sembari berangsur melajukan mobilnya.


Chelsea mendengkus pelan, kemudian berkata, “Kau tampan sekali. Hidungmu yang mancung panjang, cukup membuatku takjub.”


”Tumben?”


Dahi Chelsea mengernyit. ”Apanya yang tumben?”


”Kau tidak pernah memuji wajahku.”


”Pernah!”


”Tapi, jarang sampai aku lupa.”


“Hmm, yah, kau memang tampan. Sungguh! Meski kau lebih pantas jika disebut sebagai pamanku.”


Mata Reynof memicing sebentar dan sekilas menatap Chelsea. Ia mendengkus kesal karena dianggap sebagai paman. ”Justru yang sudah om-om itu jauh lebih menggoda. Bahkan belakangan ini, banyak gadis yang memilih pria dewasa! Yang penting belum seperti kakek tua saja!”


”Aku tidak kesal! Aku hanya—”


“Hihi, kau benar-benar kesal, Tuan Reynop! Itu sama saja kau tak bisa menerima umurmu, padahal kau terbilang panjang umur lho! Dan yang paling penting kau kan tampan, jadi jangan tersinggung!”


“Hmm, baiklah. Semaumu saja, Nona!”


Chelsea terkekeh ketika Reynof mengalah padanya. Sudah lama ia tidak bertengkar dengan pria yang belakangan ini memang lebih banyak mengalah tersebut. Membuat Chelsea sungguh tak enak hati, karena ia berencana membuka pertengkaran baru lagi. Namun di sisi lain, ia harus bertemu dengan Ronald, langsung bertemu tanpa perantara siapa pun! Ia harus memastikan apakah pria itu benar-benar membunuh kedua orang tuanya seperti apa yang Nora katakan.


Chelsea berdeham, menata hati, lalu mempersiapkan diri. Setelah itu ia berkata dengan hati-hati, “Apa kau bisa menyiapkan beberapa botol wine dengan kadar alkohol paling tinggi? Aku tidak paham berapa kadar paling tinggi, jadi, terserah kau saja yang penting wine.”


Reynof mengernyitkan dahi. “Untuk apa?” tanyanya. “Aku sendiri sudah lama tak menyantap minuman itu. Kau perlu untuk apa lagi?”


”Bisakah kau menyiapkannya, Tuan Reynof?” desak Chelsea tanpa mau memberitahu rencananya.


”Ya ... bisa sih. Tapi ....”


“Dan ... bisakah aku bertemu dengan Ronald?”


”Tidak!” Cepat, Reynof menyahut.


Chelsea menelan saliva. ”Bisakah sekali saja?”


“Buat apa?!”


”Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya. Aku sungguh ingin bertemu dengannya, Tuan Reynof. Apa benar-benar tak bisa?”


Chelsea mempertanyakan hal berulang kali, sampai membuat Reynof jengah. Dan pada akhirnya, Reynof memutuskan untuk menghentikan sekaligus meminggirkan mobilnya terlebih dahulu. Ia menatap Chelsea yang sudah tak seceria tadi. Sepertinya Chelsea alias Emily memang sangat ingin bertemu dengan Ronald. Mungkin Chelsea ingin mengatakan kalimat perpisahan.


“Bisakah aku bertemu dengannya untuk yang terakhir kali?” tanya Chelsea lagi.


Reynof menghela napas. ”Apa sudah waktunya dia diserahkan? Dan apa yang sedang kau rencanakan, Chelsea? Termasuk juga wine itu?”


“Aku akan menjawab jika kau mengizinkanku, Tuan Reynof.”


Berat rasanya bagi Reynof untuk mengiyakan. Bukan hanya karena Chelsea adalah Emily, alias istri dari Ronald yang bahkan belum diceraikan jika tidak dibunuh, tetapi Chelsea hampir saja dibunuh oleh pria itu. Meski belakangan ini Ronald kerap menunjukkan penyesalan, dan kerap mempertanyakan kondisi Emily setiap Reynof datang ke ruangan bawah tanah, Ronald masih wajib diwaspadai


Ronald masih berbahaya karena kondisi mentalnya yang kian memburuk. Pria yang pernah melakukan pembunuhan demi harta tersebut, sesekali menyesal dan merasa bersalah, tetapi juga masih menyayangkan kesempatan untuk menjadi penguasa. Reynof khawatir pertanyaan Ronald seputar Emily yang sudah menjelma menjadi Chelsea Indriyana malah menjadi salah satu taktik Ronald untuk bertemu lalu menyingkirkan Chelsea.


Namun di sisi lain, Chelsea justru menunjukkan wajah sendu dan penuh harapan yang membuat Reynof tidak mampu menolak secara gamblang.


***


Ronald yang terkurung hampir satu bulan di dalam ruang bawah tanah, tampak begitu kurus dan tak terurus. Ketampanan yang selalu menjadi senjata andalannya, kini kian menghilang. Ia yang sudah tidak memiliki energi hanya bisa berpasrah. Kalaupun mati saat ini, sepertinya tak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika dirinya belum mampu mendapatkan kata maaf dari istrinya yang malah hidup sebagai seorang gadis bernama Chelsea Indriyana.


“Emily, maafkan aku, Sayang,” lirih Ronald dalam keadaan selemah itu. Meskipun dirinya tak lagi diikat, kondisinya tetap belum kuat. Setiap hari hanya makan nasi putih sisa kemarin yang sudah nyaris mengering. Air minum hanya sekadar air putih. Padahal ia selalu bisa menyantap apa pun ketika hidup di rumah megah milik istrinya. Namun kini ia sudah mendapatkan karmanya.


Suara kunci di pintu jeruji besi terdengar nyaring karena keadaan yang memang senyap. Mata lunglai Ronald melirik pada siapa yang datang. Ruben Diego dan beberapa orang berpakaian hitam. Kehadiran mereka membuat Ronald lantas menelan saliva. Padahal luka-luka bekas siksaan dari Reynof di tubuhnya sudah hampir sembuh, meski dirinya sudah lemah, tetapi sepertinya ia akan mendapatkan siksaan baru yang lebih mengerikan lagi. Yah, memangnya siapa yang akan tetap selamat setelah berurusan dan bahkan menjadi tawanan pria bengis dan kejam?


”Minta dia membersihkan diri, dan tetap jaga, jangan sampai kabur,” titah Ruben Diego pada beberapa orang berpakaian hitam yang terdengar samar di telinga Ronald.


***