Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Lamaran Dari Reynof


Chelsea menghela napas seiring dengan terhentinya langkah kakinya saat ini, sementara seorang pria yang tidak lain adalah Reynof masih terus berjalan untuk menuju suatu tempat di mansion besar itu. Lelah dan kesal, kedua rasa yang sekarang sedang tumbuh di hati Chelsea, kendati ia sadar bahwa dirinyalah yang bersalah.


Namun kenyataannya pun Chelsea sudah berulang kali meminta maaf, bahkan sampai merayu, tetapi Reynof masih saja marah sekaligus kecewa. Kendati memang sudah banyak berubah, nyatanya sifat cemburuan yang diderita oleh Reynof masih belum sembuh juga. Chelsea sendiri heran, mengapa Reynof sampai membenci kebersamaannya dengan siapa pun yang ber-gender pria!


“Malam ini aku mau ke tempat Ibu saja!” ucap Chelsea agak berteriak, di saat Reynof mulai menaikkan kaki ke salah satu anak tangga. Entah mengapa pria itu lebih memilih tangga daripada elevator yang memang ada di mansion. Mungkinkah karena tidak mau berada di dalam kotak kecil hanya bersama Chelsea, meskipun hanya satu menitan saja?


Reynof yang ngambek lantaran sempat melihat Chelsea muncul di basemen bersama Fabian, belum lagi ketika gadis itu sempat mematikan ponsel tanpa memberi tahu dirinya sama sekali, langsung menunda keinginan untuk naik ke lantai berikutnya. Dalam kegemingannya itu, Reynof masih saja enggan menoleh dan justru sibuk menggertakkan giginya. Rasa kecewa memang masih belum surut kendati sudah berjam-jam lamanya telah bersarang di dalam hatinya.


Hingga beberapa detik kemudian, Reynof akhirnya memutar badannya. Ia berangsur menatap Chelsea yang berada tiga meter dari posisinya. “Kau ingin kabur setelah mengkhianati kesepakatan kita?” tanyanya ketus.


Chelsea mendengkus kesal, kemudian menyahut, ”Ucapanmu sungguh berlebihan, Tuan Reynof! Aku tidak mengkhianati kesepakatan kita, aku hanya—”


”Hanya apa? Kau pergi ke tempat pria itu tanpa memberi tahu diriku, bahkan kau sampai mematikan ponselmu! Apa saja yang kau lakukan dengannya, Chelsea?! Fatalnya, ketika aku pusing serta khawatir dengan dirimu, kau justru bersenda gurau dengan pria itu, Chelsea! Memangnya aku masih bisa baik-baik saja?!”


”I-itu memang salahku, dan aku sudah meminta maaf puluhan kali, bukan? Aku juga siap dihukum, asalkan kau tak akan marah lagi. Tapi, tampaknya kau sudah benar-benar muak padaku, Tuan Reynof. Oleh sebab itu, aku ingin ke tempat Ibu saja, dan kembali ketika perasaanmu sudah baik-baik saja. Mungkin saja, kau akan terus muak padaku ketika melihatku terus-terusan dengan perasaan itu. Dan aku tidak mau dibenci olehmu, jadi lebih baik aku menyingkir dulu, bukan?”


“Aku bukannya muak padamu, Chelsea!” tegas Reynof ketika sepasang kaki panjangnya pun sudah mengambil langkah untuk menghampiri sang pujaan. “Aku hanya kecewa pada sikapmu. Dan kau tahu?! Sejak tadi, aku terus berusaha bertahan agar tidak lagi bertengkar denganmu. Aku tidak mau kau kecewa karena ucapan-ucapan kemarahanku. Itu sebabnya aku terus diam demi menjaga perasaanmu, meskipun aku sendiri sedang kecewa! Tapi, kau malah mau kabur lagi? Dan hal ini cukup membuatku tak bisa bertahan lagi.”


Pengakuan Reynof membuat Chelsea tercenung sampai menelan saliva. Chelsea sungguh tidak menyangka jika pria yang memiliki citra buruk itu hanya sedang menahan emosi, agar setiap kemarahan tak akan lagi menyakiti hatinya. Keputusan Reynof yang awalnya adalah pria bengis dan tempramental tentu saja bukan keputusan yang mudah, sekaligus dengan sulitnya setiap perubahan yang terjadi pada pria itu belakangan ini.


Effort Reynof yang luar biasa seharusnya sudah sepatutnya Chelsea hargai sebagai salah satu support yang akan membuat Reynof menjadi sosok yang jauh lebih baik lagi. Namun sayangnya, Chelsea justru menaruh kekecewaan yang besar. Ia pergi tanpa pikir panjang, padahal pamit sebentar saja sepertinya tidak akan membuat rencananya untuk menemui Fabian menjadi terkendala.


Apalagi hanya karena tidak mau diganggu saat berbicara serius dengan Fabian, Chelsea sampai mematikan ponselnya. Padahal ada Reynof yang selalu mencari ke mana pun dirinya pergi, karena khawatir. Yah, ini memang salah Chelsea. Ia terlalu hanyut dalam suasana yang mengingatkannya pada kehidupan lama bersama sekretaris yang selalu setia.


“Maaf, ... aku benar-benar minta maaf,” ucap Chelsea pelan sembari menundukkan kepala. Ia sungguh malu untuk mendongak dan menatap Reynof yang tentu saja masih kesal padanya.


Melihat Chelsea yang sudah pasrah, hati Reynof mulai melunak. Namun ia masih enggan untuk bersikap manis, karena mau bagaimanapun, gadis itu harus disadarkan dulu.


Sesaat setelah menghela napas berat, Reynof berkata, “Sejujurnya, aku sangat benci ketika kau harus terlibat dengan orang-orang yang berkaitan dengan Emily. Baik Ronald, Nora, bahkan Fabian.”


Karena mereka sudah mencelakaimu, Emily! Baik, mungkin Fabian tidak, tapi pria itu mungkin hanya memanfaatkan dirimu saja selama ini! Kenapa tidak meringkas rencana dan mengizinkanku untuk membunuh mereka saja sih?! Menyebalkan! Batin Reynof masih enggan untuk bersabar.


Chelsea terdiam, benar-benar diam. Karena tanpa ia menjelaskan alasannya pun, Reynof pasti sudah tahu. Dan jika ia tetap melakukannya, Reynof akan semakin marah. Pada dasarnya Chelsea memang telah melakukan suatu kesalahan, dan ia wajib diam daripada membantah. Ia tidak akan bersikap seperti sebelum-sebelumnya karena Reynof pun sudah berkenan untuk berubah. Satu hal lagi, hatinya sudah benar-benar melunak untuk pria itu.


Reynof menghela napas lagi seraya memejamkan matanya dalam beberapa saat. Ia sedang mengumpulkan partikel-partikel ketenangan agar hatinya tak lagi kesal. Melihat gadis yang terisi jiwa Emily itu tak lagi membantah dan keras kepala, membuat Reynof berpikir bahwa sudah waktunya ia pun segera menghilangkan segala rasa kecewa.


”Jika kau ingin ke tempat ibumu, biar aku saja yang mengantarmu. Kau boleh menginap di sana,” ucap Reynof mulai tak lagi ketat.


Kedua mata Chelsea melebar dan detik itu juga, ia memberanikan diri untuk menatap sang tuan. ”Bolehkah?” tanyanya.


”Telingamu masih baik-baik saja, 'kan?”


“Yaaa.” Chelsea meringis malu. “Terima kasih.”


Sebelum membiarkan Chelsea pergi untuk bersiap-siap, Reynof berangsur mendekati. ”Hei, Nona?” ucapnya.


”Ya, Tuan?” sahut Chelsea. ”Ada apa?”


“Sebaiknya kita menikah saja, bukan? Kau mau menikah denganku, 'kan? Kita jadi pasangan suami-istri saja!”


Reynof menggeleng. ”Tidak, aku serius!” Ia memandang beberapa pelayan yang melintas, ketika mereka pun kompak menghentikan langkah saking kagetnya setelah mendengar ucapannya pada Chelsea. ”Mereka telah menjadi saksinya. Bagaimana? Apa kau mau? Jika mau, aku akan langsung menyiapkan segalanya.”


”Tidak mau!” tegas Chelsea. Wajahnya memerah lantaran malu. Saat ini dirinya benar-benar menjadi pusat perhatian. Bahkan sang kepala pelayan yang baru ingin turun dari lantai dua sampai tercengang dan terdiam. ”Kau konyol!”


”Tidak! Sudah aku katakan aku serius. Mungkin dulu aku tidak pernah memikirkan tentang pernikahan, tapi saat ini aku sedang memikirkan dan malah ingin melakukannya. Kau juga gadis yang pintar dan cantik, kau sungguh pantas menjadi istriku. Kita bisa mengguncang dunia bersama!”


“Ugh ....”


Chelsea memejamkan matanya sembari menahan gejolak aneh di dalam dirinya. Sebagai Emily, ia bahkan belum bercerai dengan Ronald. Mungkin hanya bercerai karena kematian. Namun tetap saja saat ini dirinya masih hidup meski dengan raga yang baru. Akan lebih baik jika ia melontarkan gugatan cerai langsung pada Ronald. Selain itu, mana mungkin Chelsea bisa menikah? Ia yang notabene adalah Emily, memiliki kemungkinan tak akan hidup selamanya di raga Chelsea Indriyana. Meski kemungkinan akan lenyap masih sebatas dugaannya, ia tetap harus bersiap-siap, bukan? Ia tidak mungkin menikahkan sosok Chelsea dengan Reynof yang entah jatuh hati pada fisik Chelsea atau sifat yang sebenarnya milik Emily.


“Kau benar-benar tidak mau?” tanya Reynof ingin memastikan, kendati ia sudah jelas tahu jawaban gadis itu.


Chelsea mengangguk. “Ya, aku tidak mau. Aku masih muda! Masih sangat muda!” Akhirnya usia muda bisa Chelsea manfaatkan dengan baik di situasi saat ini. ”Perjalananku masih panjang.”


”Benarkah ...” Reynof menyeringai sembari melipatkan kedua tangannya. ”... bahwa kau masih muda?”


Ucapan Reynof membuat Chelsea melongo. ”Apa?”


”Tidak, tidak apa-apa.”


“Waaah!” Chelsea lantas menangkup wajahnya sendiri. “Apa aku memang terlihat lebih tua dari usiaku, sampai kau bertanya seperti itu?! Apa terlihat seperti wanita dua puluh tujuh tahun dan hendak memasuki usia kepala tiga? Oh, tidak! Sudah lama aku tidak melakukan perawatan.”


“Hahaha!”


”Kenapa kau tertawa, Tuan Reynof?”


”Kau tampak lucu, Nona.”


”Aku serius! Apa aku kelihatan lebih tua?! Di atas dua puluh lima tahun pun masih muda, 'kan? Jangan-jangan aku malah terlihat seperti umur empat puluh tahun?!”


“Dasar! Memangnya kenapa kalau terlihat lebih tua? Aku pun jauh lebih tua darimu! Aku malah seperti pamanmu gara-gara kau ada di situ, ck!”


”Ada di situ bagaimana maksudmu, Tuan Reynof?!” ucap Chelsea dan langsung menyambar lengan Reynof sebelum pria itu berangsur pergi. ”Kau ... kau melihatku diriku sebagai siapa? Sebagai Chelsea atau Em—”


“Diamlah! Dan cepatlah bersiap, Nona! Kau masih ingin bertemu dengan ibumu, bukan?”


Dia mengalihkan pembicaraan? Kenapa? Rasanya, dia pun pernah seperti ini ketika aku ingin bertanya apakah dia percaya bahwa aku Emily. Sikapnya benar-benar membingungkan dan aku tidak tahu hal mana yang dia yakini saat ini. Dia lebih sulit ditebak daripada Fabian, batin Chelsea ketika Reynof telah melepaskan diri dari cengkeramannya, bahkan pria itu sudah melanjutkan langkah kaki dan tetap memilih tangga daripada elevator.


“Ya sudahlah, apa pun yang dia yakini tentang diriku, hubungan kami tidak akan berubah. Malah bisa saja dia kembali mengolok-olok diriku jika dia lebih memilih meyakini sosok diriku yang sebenarnya,” gumam Chelsea kemudian bergegas untuk menuju kamarnya sendiri.


Sementara itu ... Reynof yang baru sampai di kamarnya justru langsung meninju pintu. Wajah blasterannya sudah memerah. Malu. Bisa-bisanya ia memberikan lamaran yang jauh dari kata romantis, dan fatalnya, ia ditolak di depan beberapa pelayan sekaligus kepala pelayan.


“Emily ... kau selalu membuatku nyaris seperti orang gila. Bisa-bisanya aku mencintaimu yang hanya Jiwa,” gumam Reynof.


***