
“Maafkan saya, Tuan Ronald, akhir-akhir ini keadaan saya memang benar-benar sibuk. Sehingga saya tidak bisa menemui Anda, sekaligus melancarkan rencana kita. Mm, ini masih belum pasti, tapi saat ini Nerverley memang sedang ada rencana untuk bekerja sama dengan seorang pengusaha dari Negara Prancis. Dan hal itu membuat saya harus bekerja keras. Bahkan tak jarang Tuan Reynof saja melimpahkan beberapa pekerjaan pada Sekretaris Ruben, selaku pengganti, termasuk ketika perlu menemui Nona Nora. Yah ... mau bagaimana lagi, kami pun tidak bisa menyepelekan hal yang memang sudah nyaris kami dapatkan. Sssttt ... ini sebuah rahasia, Tuan Ronald, besok kami akan mendapatkan kepastian atas rencana besar antara Tuan Reynof dari Neverley Group dengan pengusaha besar dari Negara Prancis itu.”
Demikianlah yang Chelsea ucapkan pada Ronald di hari sebelumnya. Dan ia sengaja mengatakan hal yang tidak seharusnya, memang untuk memanipulasi otak Ronald. Sebelumnya ia hanya menebak saja, bahwa mungkin saja Ronald akan langsung senang dengan kabar rencana kerja sama yang akan dijalin oleh Reynof dengan pengusaha dari Prancis. Jika Ronald pintar sekaligus tidak lupa ingatan, Ronald pasti akan segera mengetahui sosok yang Chelsea maksud. Seandainya sudah tahu, Ronald yang ingin menghancurkan Nora pasti akan memanfaatkan kabar tersebut untuk mempermalukan Nora.
Sejujurnya, pada saat itu Chelsea hanya mencoba-coba. Kalau pun keinginannya tidak berhasil, ia akan tetap menerima. Karena tak semua orang memang bisa ia manipulasi dengan semudah itu. Namun ... sepertinya upaya Chelsea tidak berakhir sia-sia. Ketika saat ini, selepas peresmian kerja sama sudah selesai, Nora yang didampingi oleh Fabian langsung datang ke Neverley Group. Di mana wajah cantik Nora yang selalu dihiasi make-up tegas itu tampak begitu marah dan kecewa.
Chelsea yakin, bahwa sebelum kabar mengenai kerja sama antara Reynof dan Gaspard Cassel beredar, Nora pasti sudah mengetahuinya lebih awal dari Ronald. Sebab sebelum Reynof benar-benar tiba di gedung perusahaan Neverley pun, Nora dan Fabian sudah sampai duluan.
Dengan angkuh dan pongah, Reynof yang duduk di salah satu kursi tamu di dalam ruangan penerimaan tamu penting, lantas melesatkan tatapan matanya yang tajam pada Nora yang duduk di kursi lain. Sementara Chelsea yang juga ada di sana dan saat ini berhadapan dengan Nora masih terdiam sembari menahan keinginan untuk tersenyum lebar. Lalu Fabian tetap berdiri di belakang Nora, meskipun Reynof tak keberatan jika sekretaris itu duduk di salah satu kursi.
“Kenapa Anda melakukannya pada kami, Tuan Reynof?!” tanya Nora tanpa basa-basi berkelit. Kedatangannya ke Nerverley memang sudah disertai amarah yang besar, dan membuatnya enggan untuk berpikir jauh lebih jernih. Kata-kata nasihat dari Fabian pun sama sekali tidak ia indahkan, sebab ia tidak mau dikecewakan lagi oleh ungkapan Fabian yang ingin membuatnya tenang.
Reynof menyeringai. Detik berikutnya, ia berangsur melipat kedua tangannya ke depan sekaligus menyandarkan punggungnya. Ia bersikap secara tidak formal dan terkesan menyepelekan.
“Anda ini datang-datang sudah meninggikan suara seperti itu sih, Nona Muda? Memangnya ada apa? Ah, membuat saya tidak berselera saja!” ucap Reynof lalu mendengkus.
“Jangan berbelit, apalagi sampai pura-pura tidak tahu, Tuan Reynof!” tegas Nora semakin jengkel karena sikap Reynof yang terhitung sangat tidak sopan. Pria itu bukan temannya, tetapi justru duduk sesantai itu di saat dirinya sedang kalang kabut. “Anda mencuri informasi penting milik kami, bukan?! Anda datang ke Pano Diamond untuk menipu kami, bukan? Anda ingin mencoba menghancurkan kami dari dalam?!”
Chelsea tertawa kecil dengan sikapnya yang tetap elegan. Sampai gerak-geriknya kembali menarik perhatian Fabian yang sudah pasti sudah hafal dengan sikap yang kerap dilakukan oleh sosok Emily.
“Heh, Sekretaris Rendahan! Kau pikir ada yang lucu?! Kenapa kau tertawa seperti itu?!” serang Nora terhadap Chelsea, lantaran ia merasa dipermalukan. Apalagi gadis itu hanyalah salah satu pesuruh Reynof saja. Nora bahkan sampai lupa mengenai pengakuan Reynof bahwa Chelsea adalah kekasih bagi pria itu.
Dan tentu saja ucapan Nora yang kelewat tidak sopan membuat Reynof langsung naik pitam. Di mana Reynof sampai tidak tanggung-tanggung untuk menggebrak meja di hadapannya, hingga membuat kopi yang sudah tersaji terciprat keluar dan menodai papan meja.
“Jangan menghina kekasih saya, Nona Nora! Anda harus tahu batas diri Anda! Anda hanyalah seorang tamu di sini, yang bahkan tidak kami undang sama sekali!” gertak Reynof. Netra abu-abunya terus menatap tajam ke arah sepupu dari wanita yang ia cintai itu. “Lagi pula, tanpa meninggalnya Emily, Anda ini hanyalah wanita murrahan yang kerap keluyuran malam sekaligus bergonta-ganti pasangan. Bahkan menurut informasi yang saya dengar pun, Anda ini memiliki hubungan manis dengan suami mendiang kakak sepupu Anda, bukan? Konyol sekali, di saat diri Anda sendiri yang begitu rendah, kenapa Anda malah berani menganggap rendah orang lain, Nona? Apalagi yang Anda hina adalah kekasih saya. Jika Anda sudah tahu bagaimana semua orang mengenal sosok saya, itu artinya Anda datang untuk membunuh diri Anda sendiri ya? Anda ingin mati di tangan saya?”
Ucapan panjang Reynof yang terkandung beberapa cercaan, ancaman, hingga informasi seputar Nora lantas membuat Nora ciut. Entah bagaimana Reynof bisa mengetahui segala hal yang Nora lakukan, bahkan sampai hubungannya dengan Ronald pun, Reynog sudah tahu! Dan tidak hanya sekadar ciut, karena nyatanya tubuh Nora langsung gemetaran.
Mata abu-abu Reynof yang begitu tajam sekaligus mengerikan membuat Nora benar-benar di ambang ketakutan. Seharusnya ia mengingat ucapan Ronald yang sudah memperingatkannya tentang jati diri Reynof yang sama halnya seperti seorang mafia. Atau mungkin, seharusnya ia mendengar ucapan Fabian yang sebelumnya telah memintanya untuk lebih tenang dan tidak usah menemui Reynof. Namun sayang, Nora malah kembali menuruti egonya sendiri. Ia melupakan ucapan dua pria yang sebetulnya bisa menyelamatkan dirinya. Dan saat ini dirinya justru telah berhasil membuat Reynof yang bengis itu sampai murka.
Fabian menghela napas. Detik berikutnya, ia melangkah untuk agak mendekati posisi Reynof. Setelah itu, ia lantas membungkukkan tubuhnya sampai serendah mungkin, bahkan akhirnya ia memutuskan untuk bersimpuh. “Kami mohon maaf atas keteledoran yang telah kami lakukan, Tuan Reynof. Kami sama sekali tidak berniat untuk menyinggung apalagi sampai menggertak Anda. Pun dengan atasan saya yang belum sepenuhnya bisa diterima dan masih dalam keadaan tertekan, membuat atasan saya sempat tidak bisa berpikir dengan jernih. Kami hanya sedang berusaha melindungi perusahaan milik Nyonya Emily, Tuan Reynof. Dan jujur saja, kami memang sungguh terguncang dengan kabar yang seharusnya merupakan kabar baik bagi Anda,” ucapnya mewakili Nora.
Hati Chelsea tersentuh. Dan di saat Fabian menatapnya, matanya langsung berkaca-kaca. Sungguh malang sekali nasib pria yang selalu menemaninya dari kecil hingga dirinya tutup usia. Ia ingat ketika Fabian memaksa ingin menemaninya di malam sebelum dirinya tewas oleh suami serta sepupunya. Namun karena tidak ingin membebani Fabian, pada saat itu dirinya yang masih hidup sebagai Emily meminta Fabian untuk pulang duluan. Pria itu sungguh sosok yang bertanggung jawab dan kelewat setia. Namun saat ini, Fabian malah harus setia dan tunduk pada orang yang salah.
Reynof menghela napas setelah melihat reaksi Chelsea terhadap tindakan Fabian. Tentu hatinya kembali cemburu, mengingat hubungan Chelsea—Emily—dan Fabian di masa lalu memang betul-betul dekat. Namun Reynof tidak bisa melampiaskan kecemburuannya, karena keadaan yang membuatnya harus tetap menahan perasaan itu.
“Seandainya Nona Nora tidak bersikap sekurang-ajar seperti sekarang, saya masih berkenan untuk memberikan bantuan. Saya tidak akan menarik diri dari kerja sama yang memang telah kita sepakati untuk proyek pembangunan perumahan,” ucap Reynof. “Tapi, sikap Nona Nora benar-benar membuat saya menjadi sangat kesal, Sekretaris Fabian!”
“Sekali lagi maafkan kami, Tuan Reynof,” sahut Fabian yang juga tengah berusaha menahan rasa herannya terhadap reaksi Chelsea untuk dirinya. Bahkan gadis itu lagi-lagi menyebut namanya. Sungguh aneh, tetapi Fabian belum bisa banyak bertanya. “Dan saya mohon jangan menarik diri dari kesepakatan yang sudah terjadi, karena barangkali hal itu bisa membantu atasan saya.”
Nora menelan saliva. Tak seperti sebelumnya, saat ini mulutnya benar-benar terkunci. Ia sudah pasrah dan menyerahkan segalanya pada Fabian saja. Sebab jika sampai salah langkah lagi, ia akan berakhir hancur di tangan Reynof Keihl Wangsa.
Sebuah seringai lantas menarik salah satu sudut bibir Reynof. Dan ia kembali bersikap senyaman mungkin. “Bagaimana ya ...?” Reynof masih bermain tarik-ulur. Detik berikutnya, ia menatap Chelsea ketika gadis itu juga langsung membalas tatapan matanya. “Bagaimana, Sayang?”
Chelsea mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu menelan saliva. Cara Reynof dalam memanggil dirinya sungguh membuat tubuhnya merinding. “Ah, kabulkan saja apa yang Sekretaris Fabian inginkan,” ucapnya setelah itu.
“Oh benarkah, Sayang?” Reynof berangsur mencondongkan tubuhnya ke depan. “Itu artinya kau sama saja menyelamatkan si Nona Mulut Busuk itu lho, Sayang?”
Chelsea tersenyum tipis dan memutuskan untuk menatap Nora yang sudah benar-benar ciut. “Tak masalah. Bersedekah pada seorang pengemis, bukan sesuatu yang salah, bukan? Melihat Nona Nora yang tampak seperti gelandangan kelaparan membuat hati saya benar-benar iba, Tuan Reynof. Sepertinya pun beliau akan dilengserkan secara paksa kalau sudah memberikan dampak merugikan bagi Pano Diamond.”
“Hahaha!” Reynof tergelak keras. “Kau benar, Sayang, ada baiknya kita memberi sedikit sedekah untuk menyelamatkan gelandangan yang serakah! Hahaha! Oh! Tapi ada syaratnya, salah satunya Nona Nora harus tunduk dan tak lagi kurang ajar pada kami! Karena saya tidak mau dilabrak-labrak lagi seperti ini, hihi.”
Wajah Nora kebas. Telinganya terus berdengung setelah sepasang kekasih itu mempermalukan dirinya habis-habisan. Harga dirinya sudah terluka, dan rasanya ingin bangkit serta menampar, setidaknya pipi Chelsea. Namun ia hanya berakhir diam dan pasrah ketika menjadi bahan olok-olokan, kecuali matanya yang mulai menderaikan linangan air mata. Pasalnya, ketakutannya pada Reynof memang masih jauh lebih besar daripada kemarahan yang sudah tersemat di dalam hatinya.
Fabian yang sudah sampai bersimpuh tetap bersyukur, kendati atasannya harus menjadi bahan olok-olokan. Ia merasa kasihan pada Nora, tetapi juga kesal karena sikap Nora yang selalu gegabah dan sok berkuasa. Andai saja Emily masih ada, wanita itu tidak akan pernah membiarkan Fabian sampai mengemis dan menyembah orang lain seperti ini. Anehnya, di saat Reynof dan Chelsea terus mempermalukan Nora, dari keduanya sama sekali tidak menghina Fabian. Namun Fabian tahu, Chelsea-lah yang menghindari pembahasan tentang Fabian dan terus mengarahkan ucapan buruk untuk Nora.
Kenapa gadis itu seolah ingin melindungiku? Batin Fabian.
***