
Naziya mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Dia juga mengolesi krim mata pada kedua matanya yang membengkak.
Sementara, di dapur. Farida tengah menyiapkan suguhan untuk Nala, sahabatnya.
Rumah mereka tidak terlalu luas, hanya dua kamar, ruang tamu yang disekat ruang televisi, ruang makan, dapur serta kamar mandi.
Walaupun demikian, rumah Naziya adalah tempat yang sangat nyaman untuk di tempati. Farida sangat apik menata rumah sederhana itu menjadi elegan dan nyaman.
“Ziya ...,” panggil Farida.
“Iya bu,” Naziya menyahut seraya membawa handuk yang akan di gantungnya di tempat biasa.
“Kamu bagian cuci piringnya ya,” Farida berujar seraya mengaduk masakan.
“Haaaakh,” suara tarikan napas Naziya terdengar melengking. “Ibu mau pesta? Masaknya banyak banget, bu,” ujarnya.
Kedua mata Naziya berbinar melihat beberapa makanan enak yang sudah terhidang di atas meja.
“Kita kan mau kedatangan tamu spesial, Ziya,” Farida mematikan kompor lalu berjalan mengambil piring saji.
Naziya memanyunkan bibirnya. Kemudian gadis itu menyingsingkan lengan pakaian dan bersiap membereskan segerombol alat masak, piring dan antek-anteknya.
Tanpa mengeluh, Naziya mencucinya tanpa sisa. Ya, dia sudah terbiasa melakukan itu bila Farida memasak.
“Kamu juga harus belajar masak, Ziya. Gimana nanti kalau sudah menikah, suamimu mau makan apa nanti?” Omel Farida yang langsung membuat Naziya mendengkus.
Naziya melirik dengan ekor matanya. “Ziya kan bisa masak, bu. Masak air, masak nasi, mie instan,” Naziya berujar dengan bangga.
Farida terkekeh geli mendengar perkataan Naziya. “Kembung suamimu nanti kalau makan air terus, Naziya. Maksud ibu masak, masakan makanan yang enak, seperti sayur, aneka lauk pauk,” papar Farida.
Naziya menghela napas. “Sekarang itu canggih bu, ada makanan siap santap, ada bumbu masakan yang udah jadi, ada restoran,” bantahnya sambil membersihkan sink wastafel.
“Kamu itu ya, dikasih nasihat ada aja jawabannya,” gerutu Farida kemudian.
Tak berselang lama, suara ketukan pintu terdengar, dilanjutkan dengan salam. Assalamu'alaikum
“Wa'alaikumsalam,” Farida menjawab salam lalu membukakan pintu. “Nala, akhirnya kamu sampai juga,” sambutnya dengan ekspresi bahagia.
Wanita berhijab dengan senyum manis itu sontak memeluk erat Farida. “Alhamdulillah, gimana kabarmu, Farida? Sudah baikan? Ku dengar dari Juna kamu sakit dan masuk rumahsakit, kenapa enggak mengabariku?” pertanyaan beruntun keluar begitu lancar dari bibirnya.
Farita tersenyum lebar, “Ah, enggak serius, Nala. Biasa, aku lupa minum obat saja,” jawab Farida.
Nala berdecak. “Tuh kan, kita itu sahabatan dari lama, Ida. Masalah besar atau kecil harusnya kamu mengabariku. Aku sampai di omeli Juna, lho,” protes Nala.
“Iya ... Iya, lain kali aku kabarin yah, ayo duduk. Sebentar aku panggilkan Ziya, ya,” ucapnya, “Ziyaa ...”
“Ya, bu ..., sebentar,” suara Naziya terdengar lembut dari arah dapur.
Naziya mengeringkan tangannya yang basah dengan lap bersih lalu memoleskan handcream dan berjalan ke ruang tamu.
“Nah ini Ziya. Ziya ini tante Nala, mamanya Juna,” Farida memperkenalkan.
Naziya mengangguk memberi salam seraya tersenyum ramah, tiba-tiba saja jantungnya berdebar kencang. Sampai-sampai saat mengulurkan tangan untuk bersalaman Naziya nampak gemetar.
“Saya, Naziya ... Tante,” suaranya terdengar gugup.
“Pantes Juna langsung setuju, Ida. Naziya cantik banget,” puji Nala.
Naziya sontak terpaku. Tiba-tiba saja wajahnya bersemu ungu, karena tersipu malu. Nala wanita yang ramah. Dari sorot matanya terlihat jelas bahwa wanita itu adalah ibu yang sangat baik.
Namun, Naziya kembali was-was. Jika Nala tahu bahwa Naziya adalah salah satu orang yang suka membuli Arjuna saat SMP, apa mungkin Nala masih bisa tersenyum seramah ini.
“Ah, bisa aja kamu, Nala. Arjuna juga ganteng banget,” Farida turut memuji.
Naziya berdeham, berusaha melegakan tenggorokan yang terasa cekat. “Maaf, tante ... Ziya ke belakang dulu,” pamitnya.
Nala mengangguk ramah dan kembali bercengkerama, melepas rindu dengan Farida.
***
Tebak, mama ada di mana?
telepon langsung di sambut, setelah salam Arjuna kembali bertanya, “Mama, dimana?
Nala tidak menjawab, dia mengalihkan teleponnya menjadi video call.
“Coba kamu tebak,” Nala mengarahkan kamera ponselnya ke arah Naziya yang sedah menyiapkan peralatan makan.
“Ma, serius mama di rumah Ziya?”
Ekspresi Arjuna mendadak serius, kedua matanya melotot, bahkan yang tadinya Arjuna duduk dengan santai ... sampai tegak berdiri.
Wanita dengan mukena itu lantas tersenyum. “Kenapa? Enggak boleh? Mama enggak sempat jenguk sahabat mama di rumahsakit, jadi, mama susul ke rumahnya saja,” jelas Nala panjang lebar.
“Boleh, boleh. Terserah mama,” sahutnya dengan menyembunyikan senyum.
“Bagaimana kabarmu? Oh, ya Jadi ... kapan tugas kamu selesai? Langsung pulangkan? Enggak ke Semarang dulu?”
Sepertinya, Nala biasa menanyakan pertanyaan berantai. Hingga Arjuna terkekeh geli dari seberang sana.
“Mama-mama, kebiasaan, deh. Kalau nanya satu-satu mah. Juna bingung jawabnya,” Arjuna menarik napas dalam. “Sepekan lagi, ma. Juna langsung pulang. Ke Bandung,” jelas pria itu.
Nala hanya mengangguk pelan. “Ya, sudah. Kamu hati-hati ya. Mama mau bantuin calon menantu mama yang lagi beres-beres,” goda Nala.
Wanita itu tahu persis Arjuna. Dia menyukai Naziya. Entah kapan tepatnya. Namun, saat Firman dan Nala membahas tentang Harris, Farida dan Naziya. Arjuna selalu antusias mendengarkannya.
Arjuna hanya tersenyum malu. “Mama ....”
Setelah salam, Nala mengakhiri percakapannya. Bergegas ke dapur dan membantu Farida dan Naziya menyiapkan makan malam.
***
Dua hari berlalu, cahaya sang surya menembus jendela kamar Naziya. Akan tetapi, Naziya tetap pulas tertidur.
Farida yang merasa khawatirpun memasuki kamar Naziya, karena sudah dua hari Naziya mangkir dari pekerjaannya. “Ziy ... Bangun kesiangan, nak. Kamu gak ...” Farida menghentikan ucapannya tatkala menyentuh tubuh Naziya.
“Kamu sakit?” Farida terhenyak. Naziya nampak demam, suhu tubuhnya panas
bahkan bulir keringat terlihat jelas di kening Naziya. Tubuhnya pun bergetar menggigil.
“Bu ... Ziya enggak enak badan, bu. Ziya ijin kerja ya,” lirihnya.
“Ya, Allah nak, kamu panas. Ya sudah, izin saja bekerja.”
“Ibu buatkan bubur dulu ya, trus minum obat.” Farida berdiri berjalan ke dapur.
Setelah tujuh menit. Naziya memakan bubur hangatnya lalu meminum obat. Dia kembali berbaring.
“Bu, Ziya mau bicara sama ibu. Tapi ibu jangan marah sama Ziya, ya,” Naziya berujar seraya memejamkan mata.
“Ziya, kamu sakit. Nanti saja ceritanya sekarang kamu istirahat dulu,” Farida khawatir.
Naziya menggeleng lemah. “Enggak, bu. Ziya harus bicara sekarang sama ibu. Ini tentang Arjuna, bu.”
“Arjuna?” kening Farida mengkerut.
“Maafkan Ziya bu,” racaunya, “Ziya sudah salah selama ini.”
“Ada apa memangnya, Ziya?” Farida masih bingung dengan cerita yang menjurus sebuah pengakuan dari Naziya.
Naziya menangis, “Ziya anak yang jahat bu,” akunya sambil menangis. “Maafin Ziya, bu.”
Berkali-kali Naziya memohon maaf kepada sang ibu.
Dengan seksama, Farida mendengarkan Naziya. Namun, salam terdengar dari luar rumah.
Assalamu'alaikum...
“Sebentar, nak. Ada yang bertamu,” sela Farida, kemudian berjalan ke depan.
“Wa'alaikumsalam...” sahutnya. Seraya membuka pintu. “Nak Arjuna?”