Oath Of Love

Oath Of Love
12# Pengakuan.


“Kamu yakin enggak mau aku temani,” Arjuna melepas kacamata hitamnya dan melirik gedung penyiaran Orbita.


Gedung berlantai empat itu memang gedung yang termegah diantara gedung-gedung di sebelahnya.


Naziya menggeleng yakin. “Enggak, aku bisa menyelesaikan ini sendiri!” tegasnya sambil mengatur napas.


“Oke! Kalau ada apa-apa ... Hubungi aku!” Seru Arjuna seraya menatap wanita yang sedang sibuk menyiapkan penampilan di kaca.


Naziya mengangguk satu kali, “Bagaimana?” tanyanya sambil memamerkan deretan gigi putih dibalik senyuman.


“Apanya?” Arjuna berpura-pura tidak tahu akan maksud Naziya.


“Penampilanku!!” desis wanita itu kemudian menyeret pandangannya. Aku tidak sekacau kemarin?”


Arjuna terkekeh pelan. “Lumayan?!” ujarnya singkat. Padahal, sudah pasti itu tidak sesuai dengan kata hatinya. Baginya, Naziya selalu cantik dalam rupa apapun.


Naziya berdecak, “Ya, sudah aku masuk dulu. Tunggu aku di sini,” pintanya sedikit ketus kemudian berjalan tanpa takut ke dalam gedung.


Beberapa kali dia terlihat menyapa staff yang sedang berada di depan gedung itu dengan ramah.


Setelah sampai di lantai dua, dia menatap nanar meja kerjanya yang sedang kosong, lalu berpindah menatap meja kerja Putri yang juga tak berpenghuni. Ya, Putri sedang siaran di ruang siaran.


Sementara, Naziya meminta kepada sekretaris Bram untuk mengkonfirmasi kedatangannya.


Setelah lima menit, Bram hadir, menatap Naziya tidak percaya. Bagaimana wanita ini sama sekali tidak terintimidasi.


“Bagaimana kabarmu?” Bram memulai percakapan. Lelaki itu duduk dengan santainya.


Naziya tersenyum sinis. “Aku? Lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya. “Langsung saja, ini surat pengunduran diriku.”


Naziya meletakkan secarik amplop berisikan surat pengunduran diri. “Terimakasih sudah menyempatkan ku bekerja di sini.”


“Aku permisi!” ketusnya seraya membalikkan badan.


“Tunggu!” Bram berdiri. “Kamu menghindariku dan Putri?”


Bram menukikkan sebelah senyumnya. “Karena tidak tahan kehilangan pria seperti aku?”


Naziya mendesah berat, “Narsistik!” ujarnya tak kalah julid. “Dari awal aku memang tidak mencintaimu, Bramasta Prayoga. Kamu mengira aku tergila-gila padamu?” kekehnya sinis.


Naziya bersedekap, menatap Bram dari atas kepala hingga ke ujung sepatu pentofelnya dengan tatapan meremehkan. “Kamu enggak seganteng itu, Bram,” ejeknya.


“Rupanya wanita selingkuhanmu itu belum meemberitahumu siapa aku, Bram?” ujarnya dengan tatapan serius.


“Ah, sudahlah. Berlama-lama denganmu disini membuatku, mual. Permisi!” sarkasnya lalu meninggalkan ruangan itu.


Kepergian Naziya memancing seseorang yang tak sengaja melihatnya. Siapa lagi kalau bukan Putri.


“Naziya tunggu!” teriak Putri. Wanita itu mengejar hingga ke luar gedung.


Naziya memejamkan kedua matanya sebentar. Menarik udara sebanyak-banyak yang dia bisa. Dia berbalik, menatap elang kepada Putri.


“Kamu memanggilku? Kenapa? Apalagi maumu, Put?” Naziya bersedekap, menatap elang ke arah Putri.


“Bagaimana perasaanmu jika di kalahkan, hah!” Putri menyerang.


Naziya menyipitkan matanya, dia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Hah?"


“Marah kan, gak terima atau sakit hati. Selama sepuluh tahun kamu selalu gak mau mengalah, Ziy. Sekarang ... Gimana rasanya kalah?” lanjutnya.


Sayangnya, Putri mungkin lupa siapa Naziya. Wanita ituenaikkan sebelah alisnya. Menatap nyalang ke arah Putri. Hingga membuat nyali Putri sedikit menciut.


“Hem...” kekeh Naziya sebentar. “Katamu aku kalah? Putri-Putri, Aku tidak sedang berkompetisi tapi kamu berusaha mengalahkanku, dan aku kalah?” sekarang Naziya tertawa sinis.


“Jadi, dari dulu kamu kalah, ya?Pencapaianmu karena merebut Bram dari ku, kamu bilang itu menang? Dengan apa kamu merebut Bram, tubuhmu? Sentuhan? Ciuman? Kamu bukannya menang Putri, kamu Murah!” Balas Naziya tegas. Naziya tetap menatap bahkan terlihat jelas kobaran api di kilatan matanya.


Setelah Putri pergi, Naziya terduduk. Dia tidak menyangka bisa mengatakan kata-kata pedas seperti itu pada sahabatnya sendiri.


“Katamu, kamu bisa menghadapinya sendiri!”


Naziya mendongak. Dilihatnya seorang lelaki telah berdiri begitu dekat dengannya. Wajahnya tidak begitu jelas terlihat, karwna bersinggungan dengan silau cahaya matahari. Namun, Naziya hapal suara itu. Arjuna.


Kedua matanya mulai basah. Perih itu masih dia rasakan, rasa kecewanya kembali mencuat. “Bagaimana bisa aku mempercayainya? Sementara rasa percaya dalam diriku telah habis tak bersisa,” tuturnya dalam hati.


Namun, bukan Arjuna namanya kalau tidak dapat meyakinkan hati Naziya. Lelaki itu berjongkok, mengumbar swnyum dan mengulurkan tangannya.“Ayo, kita ke tempat selanjutnya,” ajaknya.


Naziya meraih tangan itu walau sedikit ragu. Naziya berdiri mengikutinya. Tiba-tiba saja wanita iti bertanya dengan suara gemetar, “Kamu tidak membenciku?”


Tidak menjawab, Arjuna malah tersenyum lebar. Menarik Naziya perlahan menuju mobil.


***


Matahari mulai condong ke barat, mobil SUV putih iti memasuki halaman parkir sebuah Cafe.


“Cafe Amour?!” Naziya mengernyitkan kening. “Ngapain kita kesini?”


Arjuna menghela napas kasar. “Kamu gak lapar?” tanyanya heran. “Ini hampir jam dua siang!” gerutunya seraya mendekat lebih rapat ke arah Naziya.


Gerakan tiba-tiba Arjuna membuat Naziya menelan ludah gusar. “Ka-kamu mau apa?” tanyanya ragu.


Dengan bibir membentuk lengkung kepuasan, lelaki itu membuka sabuk pengaman Naziya. “Turun?” ucapnya di sela tawa yang tertahan.


Naziya berdeham. Wajahnya tiba-tiba bersemu. “Sial!” umpatnya dalam hati.


Naziya berjalan pelan sambil melihat sekitar. “Sepi,” ujarnya setelah kembali menatap Arjuna.


Arjuna kembali tersenyum. “Karena itu aku suka tempat ini,” tuturnya seraya menyebarkan pandangan, mencari tempat yang cocok untuk duduk. Dapat.


Kursi kedua dari sudut, tanpa jendela dan akses yang dapat membebaskan pandangan ke luar Cafe yang menyuguhkan pemandangan indah bukit hijau.


Setelah duduk. Arjuna memanggil pelayan, memesan menu makanan berat serta penghilang dahaga.


“Jadi, bagaimana?” tanya Arjuna.


“Hm” Naziya bergimam heran. “Apanya?”


Arjuna memutar bola matanya.“Rencana pernikahan kita? Apalagi?!” jelasnya.


Susah payah Naziya menelan ludah. Tenggorokannya tercekat ketika Arjuna menyinggung perihal pernikahan mereka.


“Kok diam, Ziy? Bukankah karena ini kamu ingin menemuiku? Hm?” Arjuna menyergap.


Kali ini, Naziya tak bisa berkelit. Jantungnya berdertak kian tak berirama disambut aliran darah yang semakin cepat, wanita itu tertunduk. Dia tidak mau tertangkap basah karena kegugupannya.


“Ehm, anu ... , kita eh,” Naziya berdecak kesal lidahnya sungguh tidak bisa di ajak kompromi.


“Gimana Naziya? ibu kamu sama mama aku sedang menunggu kepastian kita,” Arjuna berucap lembut.


Naziya menarik napas dalam, berusaha menepis kegugupan. “Arjuna, tapi bagaimana pernikahan itu bisa terjadi, tanpa rasa cinta?” susah payah dia menanyakan hal itu pada Arjuna.


“Aku mencintaimu,” ungkap Arjuna dengan menatap kedua manik coklat Naziya lamat-lamat.


Naziya tertegun, lidahnya semakin kelu. Dia bahkan tak bisa menggerakkan tubuhnya. Bumi seakan mengikatnya di sana.


“ Naziya ...” panggil lelaki itu lagi.


Benarkah? Haruskah Naziya mempercayai setiap ucapan Arjuna? Akan tetapi, Naziya sudah terjerembab tak tertolong lagi. Walau enggan mengakui, wanita itu memiliki rasa yang sama.