
“Syarat?” Farida bertanya.
Naziya tersenyum sederhana, dia menjawab, “Sudah, sekarang ibu istirahat. Nanti, Ziya kasih tahu ibu apa syaratnya.”
Bagas pun tersenyum puas. Namun, saat Naziya menoleh ke arahnya, pria itu nampak menyembunyikan senyumannya.
40 menit yang lalu. “Maaf, anda nona Naziya?” tanya Bagas yang berlari masuk ke ruang UGD.
Naziya mengangguk ragu disela sisa-sisa isak tangis.
Pria itu tengah memegang ponsel dan jelas terlihat foto Naziya di layar ponsel itu. “Saya Bagas, saya di perintahkan untuk membantu nona. Jangan khawatir, administrasi ibu Farida sudah terselesaikan.”
kedua netra Naziya membola, hingga kedua alisnya terangkat. “Kamu ... ?” tampak bingung Naziya bertanya.
“Ya, saya diperintah Pak Arjuna, nona,” jawabnya tegas.
Naziya merasa sedikit terhibur dengan pria yang sekarang berada di depannya itu. “Jadi kamu rekan Arjuna? Jangan berbahasa formal seperti itu. Kita tidak berada di sebuah instansi resmi,” Naziya berujar seraya tertawa ringan.
“Aku Naziya, panggil saja Ziya. Oh ya, terimakasih sudah datang membantu,” tambahnya lagi.
Bagas hanya melepas napas lega. “Jadi, bagaimana kondisi ibu Farida?”
“Kata dokter, tekanan darah ibu meninggi, 150 untuk sistoliknya dan 100 untuk diastoliknya.”
Ziya menghela napas berat. “Ya, ibu memang punya riwayat darah tinggi.”
Bagas nampak mainkan ponselnya. Hal itu memancing rasa penasaran Naziya.
“Hm ... Untuk bahan laporan ke atasanmu?!” Naziya asal menebak.
Bagas melirik dengan ekor matanya. “Saya hanya diperintahkan untuk memastikan keadaan saja, Nona.”
Naziya mengangguk seraya tersenyum simpul. “Lagi-lagi 'diperintah', tapi aku tetap berterimakasih. Sampaikan pada Arjuna, terimakasih sudah membantu.”
Selama beberapa menit mereka saling terdiam. Sampai Ziya memutuskan untuk memecah kesunyian diruang tunggu itu lagi.
“Jadi ... Bagaimana, atasanmu itu?”
Bagas mengernyit mendengar pertanyaan wanita itu. “Maksudmu?”
Naziya menggaruk alisnya yang tidak gatal lalu berkata, “Arjuna, apakah dia kejam? Atau ....”
Bagas tertawa tipis. “ Lettu Juna adalah kakak tingkatku. Aku di Sekolah Calon Bintara sementara, Lettu Juna di Sekolah Calon Perwira,” Bagas berujar seraya menyandarkan tubuh di dinding rumahsakit.
“Ehm ... dia tegas, disiplin, tetapi bijaksana dalam mengambil keputusan dan sampai dia mendapat gelar Lettu, sikapnya tidak berubah,” tambahnya lagi.
Naziya menarik napas dalam-dalam, mengisi sebanyak-banyaknya udara dalam rongga parunya. Sedikit yang dia tahu tentang Arjuna, dia tidak pernah melawan saat Naziya merundungnya dulu.
Padahal, Arjuna bisa saja melawan serta membalas perlakuan Naziya terhadapnya.
“Tapi, apa benar dia ingin menikah bukan karena ingin balas dendam? Lantas, apa alasannya, dia ingin menikahiku. Mustahil bukan karena dorongan orangtua, di jaman se-modern ini?” hatinya bertanya-tanya.
***
“Terimakasih, nak Bagas, sudah mengantarkan kami kembali ke rumah,” Farida berujar dengan ramah.
Bagas mengangguk lembut. “Sebenarnya, saya menjalankan perintah dari Pak Arjuna, bu. Kebetulan saya baru libur dinas,” jujurnya.
“Tapi, saya ikut bersyukur, ibu diperbolehkan pulang ke rumah,” tambahnya lagi sambil menggaruk-garuk rambut cepaknya.
“Mau mampir dulu?” tawar Naziya kemudian.
Bagas tersenyum, “Maaf Nona, lain kali saja saya kemari, itu juga kalau diizinkan Lettu Juna,” candanya.
Mendengar candaan Itu, seketika gigi Naziya merapat saling beradu. Andai saja dia bukan seorang pasukan khusus, mungkin Naziya sudah melayangkan pukulan ke pria yang tengah bercanda itu.
Setelah Bagas berpamitan, Naziya mengantarkan Farida ke kamarnya. Dengan hati-hati Naziya membopong sang ibu hingga ke atas ranjang.
“Ibu, mau makan apa? Naziya belikan bubur ya?” tanyanya seraya melihat waktu yang tertempel di dinding.
Sejak kemarin, Farida nampak sesak napas, tetapi kata dokter itu terjadi karena tekanan darah tingginya.
Naziya menoleh, menatap sang ibu lekat-lelat. “Bu, ibu kan lagi sakit, masa Ziya tinggal kerja. Ziya sudah izin, tadi Ziya WA—Putri.”
“Oh ya, tentang syarat itu, yang kamu bilang dirumahsakit itu, loh. Apa syaratmu Ziya?”
Naziya terdiam sejenak. Wanita itu seperti tengah berpikir. Setelah beberapa detik, Naziya mulai bersuara.
“Ziya, bersedia bu. Karena, Ziya enggak mau ibu kepikiran masalah jodoh Ziya. Tapi, Ziya harus mengakhiri hubungan Ziya dengan Bram dulu. Dan, itu enggak mudah.”
Naziya menahan napas. “Naziya minta waktu lima bulan bu, hanya lima bulan, kita tunda pernikahannya lima bulan lagi ya bu,” pintanya dengan memelas.
“Ziya yang akan bicara dengan Juna, bu,” imbuhnya lagi.
Tidak ada yang dapat Farida lakukan. Dia tahu bahwa putrinya sedang menjalin hubungan dengan Bram—atasannya di kantor.
Farida mengangguk setuju. “Arjuna, anak yang baik, Ziya. Ibu sudah kenal dia sejak dia pindah ke sini, sepuluh tahun silam.”
“Baiklah, selesaikan dulu urusanmu sama si brem itu,” lanjut Farida.
Naziya terkekeh. “Bram, bu,” ujarnya sambil memeluk sang ibu.
Walaupun, sesungguhnya Naziya masih menyimpan perasaan ragu. Dia belum terlalu yakin akan niat Arjuna menikahinya. Pasti, laki-laki itu ingin membalas dendam.
***
Sudah hampir satu jam Naziya menatap layar ponsel. Aneh, dua hari Bram tidak menghubunginya, dan sialnya, Naziya juga terlupa menghubungi kekasihnya itu.
Ijin kerja saja Naziya mengirim chat WA ke Putri, bukan ke Bram. Demi Tuhan, sejak dua hari, perasaan Naziya terhadap Bram terasa hambar.
Malam ini, rembulan tak seindah tadi malam. Akan tetapi, rasanya lebih tenang, melihat jutaan bintang yang membentang di seluruh langit.
Apakah rasa sukanya terhadap bulan sedikit terkikis karena indahnya bintang malam ini? Entahlah, kebimbangan berubah drastis sesaat ponselnya kembali berdering. Dan itu dari Arjuna.
“Bagaimana kondisi ibu?” tanya pria itu dari sambungan telepon.
“Dia sekarang baik-baik saja, terimakasih ya sudah mengirim Bagas untuk membantu kami,” Naziya berujar ramah.
Arjuna terdiam. Sesaat di mengalihkan dengan panggilan video.
Naziya tertegun, ini kali pertamanya melihat Arjuna dengan seragam lengkapnya. Tampan.
“Kau masih mengenakan seragam? padahal ini sudah malam.” Naziya melirik waktu di sudut ponselnya.
Bahkan, untuk Indonesia bagian Timur perbedaan waktunya lebih cepat 2 jam dari Indonesia Barat.
“Barusan ada kunjungan Mayor, karena itu aku harus berpakaian lengkap,” jelas Arjuna.
“Ooh...” sahut Naziya singkat.
“Juna ... ” Naziya nampak gugup, suaranya sedikit bergetar.
“Aku bersedia menikah denganmu. Tapi, tolong beri aku waktu lima bulan saja. Aku harus ...” ucapannya terhenti, tatkala dia melihat Arjuna tersenyum puas.
Dia memang tampan. Akan tetapi, kenapa melihat senyumnya itu, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Naziya menggeleng kuat, berusaha menghempas perasaan aneh yang muncul sesaat, secara tiba-tiba.
“Kamu, memang sudah gila, Naziya!” umpatnya pada diri sendiri dengan suara yang sengaja dihimpit
“Kenapa?” Juna bertanya, karena tak mendengar apa yang Naziya katakan.
“Tidak, hanya saja ada nyamuk yang mengganggu telinga,” kelitnya.
“Oh ya, kamu bilang tadi lima bulan?!” Arjuna berucap. “Bahkan, aku sudah menunggumu selama sepuluh tahun, Naziya. Lima bulan, bukanlah apa-apa aku sanggup melewatinya.”
“Apaa?!” Naziya membeku.