Oath Of Love

Oath Of Love
11# Pengkhianatan Putri.


Seketika napas Naziya tertahan. Lidahnya beku, tidak tahu persis perasaan apa yang harus menggambarkan situasinya saat ini.


Yang dia tahu sedikit gejolak amarah yang berkecamuk di dalam dada. Jemarinya yang bergetar meremas ujung sweater yang dia kenakan.


Airmatanya kini mengalir sederas hujan. Dia tidak masalah dengan pengkhianatan yang di lakukan oleh Bram, tetapi ini ... Putri—sahabat baiknya sedari SMP. Orang yang bahkan dia percaya untuk menyimpan segala kebobrokan diri.


Sementara, kenangan masa lalu bagaikan mesin waktu yang membawa Naziya ke waktu lampau. Sebagaimana mereka bercanda, tertawa, dan menangis bersama. Kenangan itu masih terpatri di relung hati. Tetapi apa ini? Apakah benar hanya disini?


Nyatanya kini, Naziya benar-benar tersungkur jauh hingga ke dasar. Siapa orang yang sedang dipercayanya itu? Bahkan tidak dalam waktu sehari pun, Naziya sudah tampak tidak mengenalinya lagi.


“Benarkah, kamu. Putri?” tanyanya dengan suara bergetar. Berusaha menampik kebenaran yang tertangkap di kedua netranya.


Naziya berbalik, mencoba menahan tangisannya setengah mati, tidak dengan bahunya yang tergerak naik turun menahan sesak di dada. Kepalanya menggeleng, berharap ini semua hanya mimpi buruk belaka. Ini semua tidak benar!


Wanita itu berjalan lambat, mengupayakan diri disisa-sisa tenaga yang dia miliki. Memilih enyah dari hadapan Putri dan Bram tanpa sepatah katapun.


Dia terus melangkah, dengan kedua mata yang hanya tertuju pada Arjuna. Ya, hanya dia yang mampu menyelamatkan hatinya yang hampir hancur berkeping-keping. “Demi Tuhan, Arjuna tolong aku,” jeritnya dalam hati.


Sesampai di hadapan Arjuna, mata merah karena menahan tangis itu menatap dalam. Langkahnya terhenti bersama asa.


“Bawa aku pulang,” bisiknya lirih kepada Arjuna. Sangat lirih, hingga di akhir ucapan itu ... suaranya seakan menghilang.


“Tolong ... Bawa aku pulang,” pintanya sekali lagi. Mulai terdengar isakan dari wanita itu.


Kedua mata Arjuna menatap nyalang ke arah Bram dan Putri, tak dipungkiri melihat perlakuan mereka kepada Naziya membuat amarah dalam diri Juna mendidih. Hatinya pun ikut teriris. Ya, dia mencintai wanita itu.


“Maaf!” Arjuna berucap seraya merangkul Naziya. “Maafkan aku.”


Naziya mengusap kasar kedua pipinya yang basah, memaksa bibirnya untuk tersenyum.


Setelah mendesah kuat Naziya berkata, “Aku malu, Arjuna ... Harusnya aku yang berkata demikian.”


Sementara di sana, Putri dan Bram hanya bisa diam, mematung membiarkan Naziya pergi bersama Arjuna.


***


Sepekan berlalu, Naziya sudah nampak lebih tenang. Dia bahkan berencana ingin menyerahkan sendiri surat pengunduran diri yang sudah dia buat sebelumnya.


“Ya, semoga keputusan ini tepat untukku,” ucapnya pada diri sendiri dengan helaan kecil.


Dia menyiapkan tas kantong, kemudian kedua netranya menatap benda pipih yang tergeletak begitu saja di atas ranjang.


“Bahkan setelah kejadian itu, dia seperti di telan bumi,” kembali dia bermonolog. Pikirannya menerawang, mengingat pria dengan tatapan teduh. Arjuna, mungkinkah dia juga sama?


Dia beranjak dari kursi, meraih ponsel lalu meng-scroll naik turun. Jarinya terhenti ketika nomor kontak bertuliskan Jun-Jun itu mengiriminya sebuah pesan.


'Jika kau sudah tenang, kabari aku...'


Singkat, tetapi sangat berarti untuknya saat ini. Waktunya tepat, saat ia tak lagi begitu penat. Naziya tersenyum sederhana.


Naziya mencoba membuka nomor kontak itu, kemudian menekan tombol telepon berwarna hijau. Tersambung.


Wanita dengan rambut dicepol itu menetuk-ngetuk bibirnya dengan telunjuk, menutupi rasa gugup. Rasa itu tak lagi sama, ini lebih dalam lagi.


Sementara, Arjuna memiliki alasan sendiri. lelaki itu sengaja tidak menanyakan kabarnya. Dia hanya ingin memberi ruang. Membiarkan Naziya pulih dengan sendirinya. Karena, menanyakan kabar untuk seseorang yang patah hati sama saja seperti menabur garam di atas luka.


“Naziya...” suara dari seberang sana lembut menyebut namanya setelah mengucap salam.


Naziya menjawab salam, dalam beberapa detik dia diam. “Kamu sibuk?” tanyanya kemudian.


“Hmm ... Boleh aku meminta bantuan? Aku ingin kamu mengantarkanku ke suatu tempat dan setelahnya kita ngobrol tentang ...” suara Naziya tertahan, tiba-tiba rasa malu hadir begitu saja.


“Baiklah, tunggu lima belas menit aku akan menjemputmu,” sahut Arjuna.


Tepat lima belas menit setelahnya, mobil Arjuna terparkir di depan pagar.


Seperti biasa, dia selalu menawan. Walau hanya mengenakan kaos dengan jaket berwarna navy.


Begitupun Naziya, dia sudah siap sejak lima menit yang lalu, wanita itu sudah bilang ke Farida akan diantarkan oleh Arjuna.


Jangan ditanya lagi bagaimana ekspresi Farida. Wanita itu seperti sedang memenangkan undian mengelilingi dunia.


“Titip, Naziya,” Farida berujar dengan senyum melebar.


Arjuna tersenyum tipis, menahan rasa canggung. “Juna jalan dulu, tante,” pamitnya.


Wajah Arjuna bagai malam diterangi purnama. Sejak lama dia mencintai dia—Naziya Mahala Yumna


***


Arjuna masih bisa mengingat dengan begitu jelas. Pertama kali dia menginjakkan kaki di Bandung. Saat itu dia diajak berkunjung.


Rumah nyaman dengan pagar beton bercat biru langit. tanaman pagar dan beberapa bunga aster menghiasi sebagian halaman.


Disitulah pertama kali dia merasa jantungnya berdebar lain dari biasanya, melihat gadis yang begitu manis dengan senyum menawan. Sedang di lantai dua yang bisa terlihat dari arah ruang tamu. Memakai earphone bersuara sumbang lantang menyanyikan lagu One Direction.


Kala itu, Farida hanya menahan malu, melihat tingkah putrinya yang tidak tahu-menahu kalau ada tamu yang datang.


Lain hal dengan Arjuna, entah dorongan apa yang membuat pemuda berambut jabrik itu maju mendekat. Kakinya sudah menapaki dua anak tangga. Namun, pemuda itu menelan kecewa, lantaran kedua orangtuanya mengajak kembali pulang.


Di waktu berbeda dia bertemu lagi. Ya, saat Arjuna pindak ke sekolah yang baru. Naziya adalah teman sekelasnya sekaligus putri sahabat orangtuanya.


Dalam diam, Arjuna selalu mengamati gadis itu. Tak peduli Naziya selalu usil mengerjainya. Naziya tidak hanya indah di mata Arjuna, dia bagai sebuah asa yang harus digapai.


Bahkan, saat dia bercerita kepada temannya di bawah pohon mangga.


“Sepertinya tahun ini, aku tidak bisa merayakan ulang tahunku bersama ayah,” keluh Naziya kepada sahabatnya.


“Padahal, biasanya ayah akan membawakan kue stroberi kesukaanku,” tambahnya lagi.


“Memangnya ayahmu kenapa, Ziy?” tanya sahabatnya itu yang lain dan tidak bukan adalah Putri.


“Kantornya yang di Jakarta sedang bermasalah, jadi dia akan ada di Jakarta selama seminggu,” Naziya tertunduk sedih.


“Ziy, kan ultahmu tanggal delapan bulan ini, gimana kalau kita ke mall aja? Pulang sekolah langsung, cuss,” ajak Putri.


Arjuna yang sedari tadi menguping pun tersenyum simpul. “Delapan Agustus,” dia mematrikan tanggal itu dalam benaknya.


Tibalah dihari mereka berjalan-jalan di mall. Naziya nampak terdiam lama, menatap kue stroberi.


“Kita ke sana yuk,” Putri menarik tangan Naziya. Membuat gadis itu terhenyak dan berekspresi sedih.


Sedangkan Arjuna, diam-diam memasuki toko kue itu, membelikan kue stroberi yang sedari tadi di lihat Naziya.


“Kau tidak boleh bersedih, Naziya. Aku tidak akan membiarkan kamu bersedih,” ujar pemuda itu seraya membawa kotak kue itu.