Oath Of Love

Oath Of Love
13# Obrolan Pernikahan.


Naziya masih memandangi Beef steak di hadapannya. Setelah semua yang terjadi kepadanya belakangan ini, membuat wanita yang awalnya cerewet itu menjadi lebih pendiam.


Apalagi, rasa ragu untuk menikah dengan Arjuna masih saja menghantuinya. Mungkin, benar Arjuna mencintainya, tetapi Naziya? Apakah Naziya juga mencintainya?


Lalu, apa kabar kenangan pahit itu? Masa-masa saat Naziya merundung Arjuna. Apakah benar Arjuna tidak pernah merasa sakit hati?


Naziya menghela napas panjang. Meratapi takdir yang sedang dia alami. “Memang benar dia tidak mengungkit masa lalu, tapi hati seseorang siapa yang tahu?” Naziya berbicara dalam hati.


Mendengar helaan napas panjang membuat lelaki berparas tampan itu mengangkat pamdangan, tiba-tiba saja rasa khawatir menyeruak. Apakah dia masih memikirkan mantan kekasihnya itu? Atau Putri—sahabatnya?


“Hey! Ayo cepat makan, atau ... kamu mau aku suapi?” Arjuna berucap seraya mengunyah menu yang sama.


Lamunan Naziya buyar seketika. Kedua netranya mengerjap, menggeleng cepat, mau tidak mau dia memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.


“Arjuna, sebenarnya aku ingin sekali menanyakan hal ini. Tetapi, kamu jangan marah ya?” ujarnya setelah menelan kasar makanannya.


Arjuna mengangguk pelan, lelaki bermata sendu itu kembali memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya. Sementara, kedua netranya tak melepaskan pandangan ke arah wanita yang sedang terlihat kikuk itu.


“Benarkah kamu enggak membenciku? Kenapa? Bukannya aku dulu sering berbuat jahat kepadamu?” Tanya Naziya, dia meletakkan pisau dan garpu, menunggu jawaban dari Arjuna.


“Aku sudah bilang, aku mencintaimu. Bukan membencimu,” Jawab Arjuna santai. “Kenapa? Kamu gak percaya?”


Naziya bergeming sesaat lalu mengangguk kecil, walau hatinya kini bak pemandangan kembang api di malam hari. “Iya, aku tidak percaya, Putri—sahabatku sejak sepuluh tahun yang lalu saja bisa berkhianat,” Jawab Naziya lalu menyambungnya dalam hati. “Apalagi kamu, Jun ... Yang jelas-jelas aku sakiti.”


“Sudah, jangan kamu pikirkan lagi. Menikahlah denganku, kamu akan tahu aku membohongimu atau tidak,” sergahnya. Arjuna tersenyum gugup setelahnya.


Naziya kembali mengambil garpu dan pisau, mengiris daging kemudian memakannya, perlahan.


Jujur saja setiap ucapan dari Arjuna bagaikan mantra yang selalu mampu membuat Naziya terhipnotis untuk percaya.


“Kapan kamu ada tugas lagi keluar?” Naziya bertanya seraya mengunyah makanannya. Wanita itu ingin menetralkan kembali suasana yang sempat canggung karena masalah pernikahan.


“Sepertinya tiga atau empat hari lagi,” jawab Arjuna santai.


Wajah Naziya kembali mendung. Dia mengunyah makanan lebih pelan lagi, seperti kurang bersemangat.


Arjuna menyipitkan netranya, menangkap hal janggal dari raut wajah wanita yang dicintainya itu.


“Kali ini, tugas ku akan lama, Ziya. Mungkin sekitar dua sampai tiga bulan, tapi setelahnya aku akan mendapatkan dispensasi tugas untuk menikah,”


Mendengar kalimat itu, Naziya sontak membuka matanya lebar-lebar. “Dispensasi menikah?”


“Kenapa kamu kaget. Bukannya kamu meminta waktu untuk menyelesaikan hubunganmu bersama dia, bukan? Sekarang hubungan kamu sama laki-laki bajingan itu sudah kelar, jadi” tanya Arjuna serius.


Naziya menunduk, tiba-tiba saja dia tak mampu membalas tatapan Arjuna. “Enggak, hanya saja...”


“Ayolah Naziya, kenapa kita harus menundanya lagi. Lihatlah, mereka bahkan sudah menyiapkan segalanya,” Arjuna memperlihatkan foto Farida dan Nala yang sedang berada di sebuah wedding organizer.


Naziya menaikkan pandangannya, semburat keunguan terlihat jelas di pipinya ketika melihat foto tersebut. Dia malu, pantas saja beberapa hari ini Farida selalu pergi keluar rumah, katanya hanya ketemu teman arisan. Ternyata, mereka sering bertemu secara diam-diam.


Naziya berdeham, lagi-lagi tenggorokannya terasa tercekat. Dia lantas meminum es jeruknya. Membuang pandangannya ke lain tempat. Demi Tuhan, kali ini Naziya sudah tidak bisa menolak.


“Besok kita mulai urus surat-suratnya, ya,” ajak Arjuna.


***


“Bu ...” Naziya manggil lirih.


Naziya mendengkus pelan, dia beranjak dari meja makan, menghampiri Farida yang tengah senyum-senyum sendiri.


“Ibu, selama ini ibu bohong ya ke Ziya,” tuduhnya seraya duduk di sofa sebelah sang ibu.


“Bohong apa?” Farida akhirnya menoleh.


Naziya membuka ponselnya. “Jadi teman arisan ibu cuma tante Nala?” muka Naziya mengkerut kecut.


Farida memicingkan matanya, menatap layar ponsel yang sudah mulai silau di penglihatannya. “Oh ... Ini.” reaksinya santai.


“Kok cuma oh sih bu?” kesal Naziya.


Farida kembali menatap televisi. “Ya semuakan harus dipersiapkan, Ziya. Jadi, kalian tinggal urus surat-suratnya saja,” Kembali Farida berucap.


Naziya merapatkan bibirnya. Hingga ucapan sang ibu kembali membuatnya tertegun.


“Ziy... coba lihat, si Anjeli, pakai baju pengantin, bagus banget ya. Kalau kamu pakai baju ini pasti sangat cantik,” lagi-lagi Farida mengulum senyum.


“Apaa??” Naziya menggeleng cepat. “Enggak bu, Naziya enggak mau, berat banget baju gituan bu,” tolak Naziya.


Farida tertawa singkat. “Kamu ini, padahal cantik lo gaya bollywood gini,” godanya.


“Mendingan Ziya enggak jadi nikah sama Arjuna,” sungutnya.


Farida kembali menoleh, menatap lamat putrinya. “Jadi kamu sudah setuju?”


Naziya menghela napasnya panjang. “Mau bagaimana lagi bu, Naziya enggak mau Ibu kepikiran sampai stress.”


Naziya bergeming sesaat. “Bu, nanti kalau Naziya sudah menikah, Naziya tinggalnya sama ibu aja ya,” Ujar Naziya polos.


Farida terkekeh pelan. “Mana bisa seperti itu. Apalagi Arjuna sudah punya unit apartemen sendiri, kamu sudah pasti akan dibawa ke rumahnya,” ucapnya sedikit bergetar.


Ya, Farida merasa tenang jika Naziya dan Arjuna menikah, tetapi di sisi lain, dia akan berpisah dengan putri semata wayangnya itu.


“Ziya ... Menikahlah, nak. Jangan banyak memikirkan ibu. Kamu masih bisa mengunjungi ibu, menginap sesekali. ibu tidak akan kemana-mana. Lagian nanti ada bi Yana mau tinggal di sini temenin ibu,” ungkap Farida menenangkan.


“Bi Yana?” alis Naziya mengkerut karena bingung. Kenapa bi Yana—adik perempuan Farida mau tinggal disini? Bukankah dia memiliki keluarga di kampung.


“Iya, bi Yana. Katanya dia mau kerja di pabrik garmen, tuh yang di depan kios oleh-oleh. Kan dekat sama rumah kita, jadi dia akan temanin ibu disini,” Jelas Farida seraya beranjak.


“Tetap saja bu, Ziya khawatir ninggalin ibu sendiri di rumah,” Naziya menatap sang ibu yang membuka kulkas dan mengambil potongan pepaya.


“Kamu sendiri? Sudah enggak apa-apa?” tanya Farida sambil memberikan potongan buah itu kepada Naziya.


“Ziya udah enggak apa-apa bu, walau yah... Kecewa itu kadang masih ada disini,” ujarnya sambil menunjuk sebelah kiri dadanya.


Farida tersenyum sederhana, “Kamu sudah dewasa, nak. Biarlah ... Itu akan menjadi sebuah pelajaran berharga untukmu,” Farida menyuapkan potongan pepaya ke mulut Naziya.


Sekilas Farida mengenang masa lalu, membuat air matanya menetes. “Jika ayahmu masih ada bersama kita, dia pasti akan bangga kepadamu, Ziya!”


Sementara langit sore itu terasa sangat kontras dengan suasana hati keduanya, begitu syahdu. Begitu menyentuh.


“Naziya, Arjuna akan membahagiakanmu, ibu percaya itu!”