
“Ziya, apa yang sedang kamu lakukan?” Putri bertanya. Wajah Putri nampak cemas melihat sahabatnya tengah mengobrak-abrik tas hitam tepat di sebelah kursinya.
Ya, tempat duduk di sebelah Naziya adalah tempat duduk Arjuna Rakanuala. Sudah seminggu Arjuna menempati tempat duduk tersebut. Begitupun Naziya, ada saja yang di usilinya terhadap Arjuna, seminggu belakangan. Termasuk kali ini, entah apa yang ingin dia lakukan kepada pemuda itu.
“Sst, aku lagi cari buku matematika si Jun-Jun,” Naziya berucap tanpa menoleh. “Dapat!” gadis itu tertawa sinis setelahnya. “Put, jaga ya kalau-kalau si Jun buruk rupa datang.”
Naziya membuka lembar demi lembar, matanya fokus melihat barisan angka dan kalimat dalam buku itu. Hingga dia menemukan apa yang hendak dia lakukan kepada pemilik buku itu. “Sip, ini dia.”
“Ziy, mau kamu apakan PR si Jun-Jun. kamu tahu kan, bu Monik paling killer kalau masalah PR, kasihan si Jun-Jun,” Mata Putri membola, tak percaya dengan apa yang sedang dia saksikan.
“Put, aku paling benci sama orang jelek. Biarin aja, biar dia gak betah sekolah disini. Ya, seenggaknya di pindah ke kelas D sana, dekat jurang, kelas buangan. Citra kelas kita ancur gara-gara dia, Put,” celoteh Naziya panjang lebar.
Putri hanya menggeleng, sesaat dia melihat Naziya tanpa ragu merobek tugas Arjuna, meremas kertas robekan itu dan membuangnya di tong sampah. Setelah itu, berseringai iblis. “Mampus tuh si Jun-Jun, semoga aja di strap di lapangan upacara sekalian,” ucapnya di sela tawa puas.
Tiga menit kemudian, bel berbunyi tanda istirahat selesai. Anak-anak Kembali memasuki kelas. Wanita dengan kemeja putih, rambut coklatnya di gulung rapi, lipstick yang merah menyala menggambarkan dia wanita tegas dan berani. Dia guru matematika—Bu Monik.
Semenit setelah mengabsen siswa, bu Monik berdiri, kedua mata elangnya menyisir setiap sudut ruangan kelas seraya bersedekap.
“Ingatkan ... kalian punya PR? Buka buku tugas kalian. Putri, kumpulkan buku teman-teman kamu, letakkan di meja, sekarang!” perintahnya lantang.
Putri nampak tercekat, “ba-baik bu…” ujarnya terbata kemudian berdiri, berjalan pelan dari depan. Sialnya bulir keringat nampak mengucur di kening Putri, gadis itu terlihat takut.
Sementara Arjuna terlihat panik, membuka buku tugasnya perlahan. Namun, tugas yang sudah susah payah dia kerjakan tidak dia temui disana. Sudah di buka semua buku tulisnya. Namun, coretan bilangan itu lenyap, hilang.
Wajahnya pucat, susah payah dia menelan salivanya, pasrah dengan apa yang akan dia hadapi sekarang. Bukan dia tidak tahu siapa bu Monik, alamat dia akan di hukum berdiri selama jam pelajaran tersebut.
Arjuna berdiri, wajahnya tertunduk lalu berucap samar, “ Maaf, bu … tugas saya.”
Bu Monik menyeret pandangannya. “Kamu sudah tahukan apa hukumannya kalau tidak mengerjakan PR di pelajaran saya?” suara bu Monik melengking hingga ke langit-langit ruangan kelas. Membuat siswa lainnya semakin menciut.
“Berdiri di luar kelas. Saya pasti akan laporkan ke orang tua kamu, Arjuna!” tegas Monik lagi.
Dan percayalah, Monika pasti akan melaporkan sikap siswa-siswa yang tidak mengerjakan PRnya saat ada pertemuan orang tua, biasanya saat dia menjelaskan perkembangan siswa selama pelajarannya.
Arjuna berjalan lesu, pemuda itu tertunduk, dia hanya berani menatap lantai hingga dia tak sengaja menabrak meja guru. Membuat seisi kelas menahan tawa, termasuk Naziya.
“Ada lagi yang tidak mengerjakan tugas dari ibu? Jangan kalian contoh anak malas seperti Arjuna ya!” Monik berkata lagi.
Ingatan sepuluh tahun itu melintas begitu saja dalam pikiran Naziya, seperti cambuk yang semakin menyiksa batinnya. Demi Tuhan, jika dia bisa, dia ingin mengulang ke masa itu. Dia tidak akan melakukan hal-hal mengerikan seperti itu kepada siapapun.
Melihat semua siswa menatap remeh ke arah Arjuna, bahkan hinaan-hinaan kecil mulai menyertai setiap aktivitas Arjuna di sekolah. Belum lagi, saat rapat orang tua, Firman nampak malu karena di tegur di depan semua orang tua murid lainnya. Naziya sungguh ingin memohon ampun kepada Firman dan Nala.
Malam semakin larut, walau sudah tidak menangis lagi. Namun, masih terlihat jelas sisa-sisa kepedihan di wajah Naziya. Rasa bersalah yang terus menggerusnya. Ya, dia tidak pantas, tetapi Arjuna semakin kuat mengikat dan menjerumuskannya ke dalam jurang romansa.
“Maafkan aku,” lagi-lagi kata itu keluar dari dalam mulutnya. Tulus dari hati yang terdalam, dia akan melakukan itu lagi dan lagi, hingga Arjuna benar-benar memaafkannya.
Dan berkali-kali juga Arjuna tersenyum menenangkan, meminta Naziya untuk melupakan. Karena menurutnya tidak ada yang perlu di maafkan, itu semua adalah masa lalu, masa kekanakan mereka. Pun setiap orang memiliki kisahnya masing-masing.
“Apakah dengan ini kamu menghukumku, Arjuna?” suara Naziya terdengar parau.
Arjuna merapatkan bibirnya sesaat. Detik kemudian lelaki tampan itu berkata seraya menyelipkan anak rambut yang terlihat berantakan di pipi Naziya. “Aku tidak menghukummu Naziya, sejak dulu, sejak SMP aku sudah menyukaimu. Kamu cantik dengan earphone, dan bersuara sumbang menari-nari sambil menyanyikan lagu One Direction. Walaupun, Bahasa Inggrismu amat kacau waktu itu, tapi kamu berhasil membuatku tertawa.”
Arjuna lalu menatap langit, menghela napas panjang. “Saat itu, aku sama sekali tidak ingin meninggalkan Jakarta, Ziya. Namun, sejak pertama bertemu denganmu, hanya kamu alasan aku betah berada disini. Setiap hari aku sudah siap di kerjai olehmu, asalkan bisa melihatmu tertawa,” imbuhnya kemudian.
Naziya menatap hampa, lagi-lagi hatinya terluka. “kamu menganggap aku adalah bahagia, tapi aku malah membuatmu selalu di hina,” gumamnya lirih sekali.
“Oh ya, aku lupa menanyakan hal ini. Ngapain kamu kesini malam-malam begini? Dengan seragam?” tanyanya seraya menoleh dan menatap. Gejolak dalam dadanya sedikit memudar, senyuman sederhana mengulas di bibir ranumnya.
Walau sekarang, cukup sulit untuk Naziya memaafkan diri sendiri. Tetapi dia tahu rasa cinta itu sudah hadir, wanita itu masih memilih untuk menyimpannya. Naziya yakin, suatu saat dia dapat mengutarakan isi hati, bahwa dia sudah mencintai lelaki itu, tulus dan utuh.
Arjuna menunduk, menatap waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. “Hm … aku sebenarnya ingin berpamitan. Harusnya aku berangkat lusa, tapi kapten memintaku datang pukul dua dini hari.” Arjuna mendesah resah. “Dan ini sudah jam sebelas malam.”
Hening, hanya suara jangkrik yang saling bersahutan dalam beberapa detik. “Masuklah, ini sudah larut,” ucapnya lagi setelah menangkap kedua netra Naziya yang mulai meredup.
Namun, wanita itu menggeleng tegas, dia enggan mengakhiri malam. “Berangkatlah dari sini,” pintanya di tengah-tengan rasa kantuk yang mulai melanda.
Arjuna tertawa kecil. “Tidak baik seorang pria berkunjung hingga larut malam, Ziya. Aku akan pergi ke rumah Bagas, aku pergi dengannya malam ini.”
“Oh ya, tiga hari kedepan, cincin tadi akan di antar ke rumah mu. Simpanlah. Sampai jumpa tiga bulan lagi, Ziya.” Pamit Arjuna.
Lelaki itu beranjak dan berjalan keluar. “Oh ya, sampaikan salam ku sama tante Farida,” tambahnya lagi, lalu menutup pagar dan mengunci gemboknya.
Sementara Naziya hanya menatap mengantarkan kepergian Arjuna. Malam itu adalah malam yang sangat panjang bagi mereka, sebelum mereka akan di persatukan dalam tiga bulan mendatang.