
“Hai, Jun …”
Sapa seorang wanita dari layar ponsel. Wajah Arjuna sontak terkejut bukan main. Dia memeriksa kembali nomor tujuan dalam benda persegi yang dipegangnya, benar itu nomor sang mama. Tetapi kenapa tersambung dengan wanita itu.
“Kenapa, kok kaget begitu?” wanita itu menatap penuh selidik. “Atau, kamu sudah lupa sama aku, Jun?” Suara wanita berparas anggun itu terdengar manja, dengan mengibaskan sekilas rambut bergelombangnya, wanitu itu kemudian tertawa lepas.
Arjuna menatap nyalang melalui video call-nya. “Juna enggak lupa, tapi kenapa kamu yang angkat telepon? Mana mama? Kapan kamu pulang?” Arjuna kemudian bertanya dengan nada sedikit ketus.
Wanita itu menjawab. “Kemarin!” menarik napas sebentar, “Kenapa nada bicaramu seperti itu? Dasar enggak sopan! Kamu enggak kangen apa sama aku yang cantik jelita ini?” kedua alis wanita itu naik-turun.
“Najis! Ngaca sana!” sarkas Arjuna. “Mama mana?”
Setelah mendengar umpatan dari Arjuna, wanita itu lantas mengerucutkan bibirnya. Dia Vivian Nareswari—kakak Arjuna, wanita yang sudah memiliki satu putra itu selalu mencari gara-gara dengan sang adik. Dari dulu, setiap mereka bertemu selalu diakhiri dengan umpatan dan pertengkaran. Mereka layaknya Tom and Jerry di dunia nyata.
“Eeh, dasar orang utan!” balas wanita berambut gelombang itu kemudian dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Nala. “Tadi, mama lagi buat kue, tapi sekarang enggak tahu kemana.”
Arjuna menghela napas. “Padahal, aku mau menanyakan sesuatu ke mama,” gumamnya lirih, tetapi sayangnya gumaman Arjuna terdengar jelas di telinga Vivian.
“Eits, apa yang mau kamu tanyakan ke mama, tentang calon istrimu ya? Kenapa, lagi berantem?” tebak Vivian asal. “Kalau mau nikah itu jangan sering-sering VC-an sama doi, pamali. Entar bertengkar mulu.”
Arjuna menarik sudut bibir atasnya sebelah, memberi ekspresi nyinyir kepada sang kakak yang bersikap sok tahu. “Yee, sotoy. Justru cinta kami sedang mekar-mekarnya,” Arjuna berbangga hati.
Vivian tergelak. “Kembang ... kali mekar. Tapi, kamu beneran, Jun? Sama gadis yang itu? Cinta pertamamu?” tanya Vivian antusias. Kedua matanya berbinar-binar menggoda si bungsu yang sangat jelas sedang kasmaran itu.
Arjuna mengangguk pelan, “Yups, tinggal selangkah lagi. Aku benar-benar menikahinya, kak,” tak kalah sumringah, Arjuna tersenyum manis, terang-terangan mengekspresikan dirinya yang tengah berbahagia.
Vivian berdecak kecil, tetapi setelahnya dia menyimpulkan bibirnya. “Iya-iya, kakak ikut bahagia. Walaupun dulu dia pernah membull…”
“Sstttt! Kak, jangan bicarakan itu, nanti mama dengar!” potong Arjuna. “Pokoknya, nanti kakak harus bantu aku ya, buat ngomong ke mama dan papa,” pinta Arjuna dengan wajah memelas.
Vivian mengerucutkan bibirnya. Entahlah, Vivian seolah tidak yakin, kalau dengan Nala, Vivian masih bisa berkompromi. Akan tetapi, Firman. Ayahnya merupakan salah satu makhluk Tuhan yang bertabiat keras. “Semoga saja Tuhan melembutkan hati ayah,” gumam Vivian dalam hati.
Sejenak ingatan Vivian melompat ke sepuluh tahun silam, Arjuna bercerita tentang anak perempuan tante Farida yang membuatnya berhenti ingin kembali ke Jakarta.
Semenjak pindah ke Bandung, Arjuna selalu murung dan selalu merasa tidak betah. Arjuna termasuk pemuda yang sukar beradaptasi di lingkungan baru. Namun, setelah mereka bertandang kerumah Farida dan Harris, Arjuna lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya.
Alangkah kaget Firman, Nala dan Vivian, atas perubahan sikap Arjuna yang berubah tiga ratus enam puluh derajat. Setelah diulik, Arjuna mengaku kepada Vivian, kalau dia memiliki alasan untuk menjadi betah berada di kota yang dijuluki Paris van Java itu.
Ya, karena jantungnya yang berdebar tidak biasa untuk pertama kali.
Tetapi, suatu waktu Vivian menangkap dengan kedua matanya sendiri, kalau Arjuna sedang di usili habis-habisan oleh gadis bernama Naziya itu. Tentu saja dia geram, tidak terima dan berniat membela adiknya serta ingin menjumpai Naziya untuk memberikan gadis itu pelajaran.
Namun, Arjuna meminta agar Vivian mengurungkan niatnya, tidak mengambil hati atas tindakan Naziya juga meminta kakak perempuannya itu untuk tidak melaporkannya ke Firman dan Nala.
Jarang sekali Arjuna menunjukkan keseriusannya dalam meminta, karena itu Vivian menjadi luluh lalu mengurungkan niatnya. Dan yang membuat Vivian semakin berbesar hati, Arjuna mampu membuktikan keteguhan hatinya terhadap wanita itu, hingga saat ini.
Melihat Vivian termenung, Arjuna lantas menautkan alis. “Kak, kenapa? Akan susah ya. Ayolah kak,” Arjuna meminta dukungan.
Vivian terhenyak sesaat, lamunannya buyar setelah suara Arjuna menyadarkannya. “Sebaiknya cepat kamu beritahu papa dan mama, sebelum mereka mengetahuinya sendiri nanti,” Vivian memberi saran. “Kalau kakak sendiri, tidak masalah dengan masa lalu itu, yang terpenting kamu sekarang bahagia. Kamu sudah dewasa, pastinya kamu sudah tahu mana yang baik atau buruk untukmu.”
Beberapa detik berselang, suara Nala terdengar dari arah belakang. “Kamu bicara sama siapa, Vi?” Nala bertanya, seraya meletakkan plastik belanjaan di meja pantri.
Vivian dan Arjuna sontak terdiam. Hanya mata yang saling melemparkan isyarat. Namun, Vivian gegas melengkungkan bibir, kelakar yang terdengar terpaksa itu membuat Nala menyelisik.
Vivian tertangkap gugup, wanita itu berusaha mengalihkan pembicaraan. “Ini Juna, ma. Ada yang mau Juna tanyain ke mama,” Vivian gegas menyerahkan ponsel ke Nala.
Tatapan Nala masih dipenuhi curiga. Apa yang mereka obrolkan sampai seserius itu, tumben. Gumam Nala dalam hati. Karena tidak biasanya, mereka mengobrol seserius itu, selalu ada ledekan dan candaan. Tak jarang berujung saling ngambek, dan pertengkaran pun tak bisa dielakkan.
“Iya, nak. Gimana?” sahut Nala.
Arjuna tersenyum tipis. “Enggak, ma. Tadinya Juna mau tanya tentang Naziya, eh malah digoda sama kak Vivian,” Arjuna berdalih.
“Idih, enggak seperti itu ma. Juna bohong tuh,” sela Vivian dengan mengerutkan bibirnya kesal.
Decakan kecil terdengar dari mulut Nala. “Kalian itu ya, sudah pada dewasa, tapi masih saja suka bertengkar. Vivian juga, sudah punya anak satu, masih aja suka godain adiknya.”
Puas dengan omelan sang mama, Arjuna tertawa lepas. “Oh ya. Kakak pulang sama bang Farriz, Ma?” tanya Arjuna setelahnya.
Nala menggeleng. “Farriz nanti satu hari – H baru bisa kesini. Dia baru menjabat sebagai direktur utama di perusahaannya, jadi waktunya belum bisa fleksibel. Tapi, Vivian pulang sama Rizvan kok, ponakanmu … usianya sudah satu tahun,” jelas Nala. “Kamu sendiri, kapan kamu pulang?”
“Juna, tinggal nunggu surat keputusan dari kapten mah, paling telat empat hari lagi.” Arjuna berkata. “oh ya, kemarin mama sudah ketemu tante Farida untuk technical meeting?”
“Sudah, nak. Alhamdulliah semua sudah beres, tinggal acaranya saja,” Jawab Nala. Wanita paruh baya itu lalu melengkungkan senyum.
Sementara, Vivian masih menyembunyikan kekalutannya. Setelah mendengar suara khas seorang pria dari arah pintu, Vivian kembali tersentak. Wajahnya tegang, melihat siapa yang datang.
“Pa—papa.”