
/Seratus satu koma tujuh FM/ Orbita Radio/ The Best and happy Radio/ Sebelum Ziya undur diri/Ziya ingin memberi sebuah kalimat motivasi nih, untuk kalian semua sahabat Orbita/ Kalimat motivasi dari William Arthur Ward/ Begini bunyinya/ Kesempatan itu seperti matahari terbit. Ketika kamu menunggu terlalu lama, kamu akan kehilangannya / Semangat menjalani hari kalian, ya/ Aku, Naziya Mahala Yumna, see you.
***
Naziya mengakhiri siarannya tepat pukul 11 siang. Pikirannya masih dipenuhi dengan Bram.
Selama ini, apakah dia benar-benar menyukai Naziya dengan tulus, atau ada hal lain yang membuatnya menjadikan Naziya wanitanya.
Memang, diantara wanita di kantornya Naziya adalah primadona. Adapun, Putri juga jelita. Akan tetapi, Putri tidak berkelas seperti Naziya.
Naziya wanita yang cantik, supel, dan tidak biasa. Apapun yang dilakukan wanita itu selalu terlihat berbeda.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Putri, wanita itu selalu datang secara tiba-tiba.
Naziya menggigit bibirnya, tampak ragu dengan apa yang ingin dia ceritakan pada Putri.
Namun, akhirnya Naziya buka suara juga. Naziya mengatur napasnya. “Bram, Put!” ujarnya menggantung.
“Kenapa dengan Bram?” Putri penasaran.
“Entahlah, sepertinya hubunganku dengannya tidak berjalan lancar akhir-akhir ini,” Naziya memijit keningnya.
Putri berdesah. “Sudah biasa, Ziy. Kalau dalam hubungan ada pertengkaran kecil,” ucap Putri seraya memasukkan lolipop ke mulutnya.
Naziya menatap nanar wajah Putri. “Aku merasa dia tidak mencintaiku, Put.” Naziya melirik ke ruangan Bram yang tersekat dinding kaca.
“Disaat aku sangat membutuhkan dukungan, bayangannya saja tidak muncul,” imbuhnya di sela helaan napas berat.
Putri menepuk lembut bahu Naziya. “Sudahlah, Ziy. Jangan terlalu kamu pikirkan. Mungkin dia memang sibuk dan kalian sama-sama sedang sentimental karena masalah kesibukan kalian masing-masing,” Putri memberi semangat.
Naziya berbalik, mengangkat kedua bahunya pelan. “Entahlah, Put. Hanya saja aku merasa dia sengaja mengabaikanku.”
***
Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB, sudah saatnya Naziya meninggalkan kantor.
Naziya memandang langit dari jendela. Lagi-lagi langit gelap dengan kilat menyambar. Apakah akan turun hujan?
Wanita itu bukannya membenci hujan, hanya saja rasa dingin dan basah yang membuatnya sedikit menjauhi hujan.
Naziya merapikan meja kerja, memasukkan ponsel dan power bank ke dalam tas.
“Kamu pulang dengan pak Bram?” Putri menghampiri meja kerja Naziya.
Naziya menggeleng tegas. “Aku belum berbaikan, dia harus meminta maaf padaku duluan,” desisnya.
“Haha, iya ya ... Aku lupa kalau kamu itu perempuan gengsian,” sungut Putri.
Naziya tak bersuara, hanya sedikit decakan yang keluar dari bibir yang terpoles lipstik nude pink itu.
“Baiklah, aku masih belum menyelesaikan laporan siaranku. Kamu, pulanglah duluan,” Putri berujar seraya berjalan kembali ke meja kerjanya.
“Iya, aku juga ingin pulang cepat, karena di rumah akan kedatangan tamu,” ungkap Naziya kemudian.
“Siapa?” Putri berbalik.
Naziya tersenyum simpul, “Temennya ibu. Tante Nala, mamanya Jun-Jun.”
“Apa maksud dari senyumanmu itu, Ziy?” Putri menatap penuh selidik.
Naziya terkesiap. “A-aku tidak tersenyum,” kelitnya dengan suara terbata.
“Kamu berbohong, Naziya ...,” goda Putri.
“Ah, sudahlah ... Aku pulang duluan ya,” pamitnya, lalu pergi meninggalkan Putri.
Naziya menuruni tangga, beberapa kali dilihatnya tas bahu yang sengaja tidak ia rapatkan resletingnya.
Berharap ponselnya bersuara, jikalau Bram menghubungi untuk memperbaiki semua yang telah terjadi.
Akan tetapi, setelah sepuluh menit dia berjalan hingga tiba di halte angkutan umum, ponsel itu tidak juga berdering.
Naziya menghela napas kuat, terlukis jelas kekecewaan di sorot matanya. Sepertinya Bram memang tidak serius menjalin hubungan dengannya.
Gerimis mulai jatuh, jejak basah mulai terlihat di sepanjang jalan. Beberapa angkutan umum pun terlewatkan. Naziya, hanya melamun.
Suara ponselnya pun berdering. Membuyarkan setiap lamunan wanita berparas ayu itu. Wajahnya yang berseri kembali datar ketika mengetahui bukan Bram yang menghubunginya, melainkan Farida.
“Ziy, ibu titip belanja beberapa buah ya, persediaan di rumah habis,” suara Farida terdengar dari balik ponsel.
“Baik, bu.”
Naziya menutup telepon setelah salam, dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia terdiam sebentar, seperti sedang berpikir.
“Dompet!!!”
Naziya merogoh tasnya dalam-dalam. Wajahnya mendadak panik. Dimana dia meletakkan dompetnya.
Sesaat dia teringat, saat jajan di kantin radio, Naziya meletakkan dompetnya di dalam laci meja kerjanya.
“Astaga, Ziyaa!” Naziya menepok keningnya sendiri. “Kok bisa lupa, sih!”
Segera dia kembali berlari ke kantor. Diterobosnya saja rinai hujan yang semakin melebat.
“Padahal, aku tidak suka basah-basahan seperti ini,” keluhnya sendiri saat sampai di pintu belakang yang belum terkunci.
kedua netranya membulat ketika tak sengaja menangkap mobil Bram berjalan pelan keluar dari halaman parkir.
“Sama siapa dia?” Naziya menyipit memastikan Bram tidak pulang sendiri. Ya, dia tidak sendiri. Tentu saja, tubuh ramping dengan rambut panjang tergerai itu bukanlah seorang pria.
Dada Naziya mulai terasa sesak oleh rasa kecewa, marah dan cemburu yang bercampur menjadi satu. Demi Tuhan, Bram. Apa benar kecurigaanku. Kamu tidak sepenuhnya mencintaiku.
Naziya tercekat. Tangisnya menghebat. Dia meringkuk merasakan getir yang entah dari mana asalnya.
Bram kah? Atau dingin yang mengikat kuat karena pakaian yang basah itu didera semburan angin sejuk dari mesin pendingin ruangan yang masih menyala.
“Teh Ziya?” sekuriti yang mendapati Ziya tengah meringkuk mendekap lutut itu, cemas. “Teteh kenapa?”
“Ma-maaf pak Ali, dompet Ziya ketinggalan di laci meja,” Naziya berucap disela isak tangis.
“Teh, pakai jaket ini dulu. Teteh kedinginan, ya?” Ali menyodorkan jaketnya. “Biar saya aja yang ambilkan dompet teteh, di atas.”
“Terimakasih, pak Ali.”
***
Naziya berjalan malas memasuki pagar rumahnya. Kedua matanya menatap kosong, tangannya menenteng kresek berisi sebuah semangka.
“Kamu sudah pulang? Eh kamu kenapa Ziya?” wajah Farida mendadak panik.
“Ibu ....” Naziya memeluk sang ibu. “Hati Ziya sakit bu,” ratapnya.
“Kenapa, nak?” tanya Farida dengan hati-hati.
“Enggak, ibu enggak boleh tahu tentang hal ini. Nanti ibu kepikiran lagi,” pendamnya dalam hati.
Naziya terdiam sejenak, berpikir keras mencari kebohongan, sedangkan Naziya tak pandai dalam hal itu.
Kemudian dia melepaskan pelukannya, menunduk karena sudah pasti ibunya akan mengetahui bahwa kalimat yang akan diucapkannya adalah sebuah kebohongan.
“Enggak bu, tadi ada yang kirim cerita ke Ziya, untuk di ceritakan dalam siaran. Cerita itu sedih banget bu, pacarnya kedapatan selingkuh dengan mamanya sendiri.”
Farida menarik sudut bibirnya. “Siapa yang sedang kamu bohongi Ziya?”
“Lalu?” sambung Farida.
Naziya mendongakkan kepalanya, berusaha menahan tangis yang hampir tertumpah lagi. “Iya, sedih banget bu. Sampai-sampai seisi ruangan ikutan nangis semua.”
Farida mengusap pipi Naziya yang terasa dingin. Di pandangi wajah putrinya tersebut. “ Kamu kehujanan? Bukannya kamu gak suka basah-basahan? Kenapa kehujanan?”
“Tadi, dompet Ziya tertinggal di kantor bu. Jadi, Ziya kembali lagi dan itu sudah hujan,” ungkapnya.
Kedua alis Farida bertaut, menangkap kekalutan dalam diri Naziya. “Kamu enggak pulang bareng Bram?”
Naziya gelagapan, “Ah, enggak bu. Bram ada urusan lain.”
Naziya tak sepenuhnya berbohong, hanya saja wajahnya terpindai murung setelah mengatakan hal itu.
“Ya sudah, kamu rebus air dulu gih, terus mandi air hangat. Jangan lupa keramas, supaya enggak masuk angin,” tutur Farida lembut.
“Ibu bilang apa Ziya. Hanya Arjuna yang bisa membuatmu bahagia,” batin Farida.