Oath Of Love

Oath Of Love
18# Tanda Mata Dari Nala


Siang ini, Farida dan Nala kembali melakukan technical meeting kedua untuk pernikahan Arjuna dan Naziya. Pernikahan mereka akan di gelar dua pekan mendatang. Sehingga, kedua keluarga semakin sibuk menyiapkan segala keperluan.


Sedari tadi, tak banyak yang di ucapkan Farida, tidak seperti biasanya. Entah apa yang begitu menganggu pikirannya, karena pernikahan putri semata wayangnya atau rahasia yang harus wanita itu simpan karena permintaan tulus Arjuna.


“Ada apa denganmu, Farida?”


Suara lembut Nala membuatnya terhenyak. Farida tersadar dari lamunan. Wanita itu lantas menepuk bahu Farida lembut, berusaha membuatnya tenang. Nala pernah merasakan perasaan yang sama.


Ini kali kedua bagi Nala melangsungkan hajat besar berupa pernikahan. Tiga tahun yang lalu, Vivian Nareswari—kakak perempuan Arjuna telah dulu menikah, dengan pengusaha batu bara di Kalimantan. Sama halnya dengan Arjuna, Vivian juga menikah saat genap usianya 24 tahun.


Rasanya sama, kala itu Nala melepaskan anak perempuannya. Rasa sedih, gembira, takut semua bercampur jadi satu dalam hati seorang ibu. Karena itu, Nala mengerti akan perasaan kalut yang di landa Farida. Apalagi, Naziya merupakan anak satu-satunya.


Farida tersenyum tipis, menggeleng pelan dengan kedua mata yang mulai berkaca. “Tiba-tiba saja aku mengingat Harris, seandainya dia masih disini Nala …” ucapannya tertahan, karena setelahnya hanya bulir bening yang jatuh begitu saja menyambung kata yang tidak sanggup diutarakan.


Nala pun sama, hati wanita itu lembut, sensitif sangat mudah terenyuh, terharu dan ikut merasakan kepedihan. Airmatanya turut menganak sungai di sudut kedua netranya.


“Dia pasti akan bahagia, Farida,” Nala berujar seraya mengelus lembut bahu Farida.


“Terimakasih, dan maafkan jika Naziya mungkin banyak menyusahkan kedepannya,” Farida mengulum senyum. “Dia, wanita yang ceroboh dan kekanak-kanakan,” ungkapnya seraya menahan sedikit tawa.


Nala tersenyum simpul. “Anak-anak kita tidaklah sempurna Farida, mereka memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Arjuna pun sama, terkadang dia begitu tidak bisa mengungkapkan isi hati, apa yang diinginkannya, apa yang dia suka atau tidak suka. Terkadang aku sebagai mamanya saja tidak tahu apa yang benar-benar diinginkannya,” balas Nala.


“Ya, ternyata darimu lah, Arjuna memiliki sikap yang bijaksana,” puji Farida. Sesaat dia menatap sahabatnya dengan penuh rasa bersalah. Apakah benar tindakannya untuk menyembunyikan sikap Naziya dulu?


Nala terswnyum sekilas lalu mengeluarkan sebuah tempat perhiasan berlapis bahan beledu berwarna merah berbentuk hati. Menyerahkannya dalam genggaman dan menepuk pelan punggung tangan Farida.


“Terimalah ini, Farida. Firman dan aku sengaja membelinya saat bertemu Naziya saat itu. Aku berharap Naziya menyukainya, ini hadiah untuk calon putriku,” tutur Nala.


Tangan Farida bergetar saat menyentuh benda itu lalu membukanya perlahan. Dia menemukan sepasang anting permata, modelnya sederhana tetapi sangat elegan. Tak sanggup bersuara. Hanya derai air mata yang semakin deras luruh di kedua pipinya.


Setelah mengucap terimakasih dengan amat tulus, Kedua perempuan itu lalu berpelukan penuh haru.


***


Siang berganti malam, Naziya dan Farida tengah duduk di ruang tamu rumah mereka. Menempel stiker nama pada undangan yang belum sempat mereka labeli. Rumah mereka masih sunyi, keluarga besar dari kampung baru akan mulai berdatangan pekan depan.


Farida teringat, ada yang ingin dia berikan kepada putri cantiknya itu. Wanita itu beranjak pelan, berjalan santai kedalam kamar.


Semenit kemudian, Farida keluar membawa sebuah kotak perhiasan. Ya, itu kotak perhiasan yang tadi Nala berikan kepadanya. Tanda mata yang Nala persiapkan untuk Naziya.


“Ziya, Nala menitipkan ini untukmu,” suara Farida terdengar bergetar sesaat menyodorkan kotak itu kepada Naziya. Matanya nanar menatap putrinya yang mulai terlihat bingung.


“Bukalah, nak,” Farida tersenyum. “Nala dengan tulus menginginkan kamu menerimanya sebagai hadiah, terimalah.”


Naziya menarik napas dalam, lalu membuka kotak itu pelan-pelan. Sedetik kemudian wanita itu tercengang, kedua netranya melebar bersinergi dengan bibir yang ikut ternganga.


“Ii-bu …” suara Naziya terbata.


Jujur saja kedua mata Naziya memancarkan kekaguman setelah melihat isi dari kotak tersebut. Sepasang anting permata, indah, sederhana, elegan, sesuai dengan karakter Naziya. Dia pun sangat menyukainya, menginginkannya. Namun, secepat angin dia menutup kotak itu kembali. “Naziya enggak sanggup menerimanya, bu.”


Naziya resah, wanita itu kemudian meletakkan kotak tersebut di atas meja. Sementara Farida tahu sekali arti sikap Naziya. Tetapi, wanita itu kembali memberikan pengertian kepada Naziya.


“Nak, ibu tahu apa yang kamu rasakan sekarang. Ibu pun merasa sangat malu, ingin rasanya ibu mengakui segalanya dan memohon maaf kepada mereka. Tetapi, ibu juga ingin mempercayai Arjuna, Ziya. Simpanlah,” ujar Farida lembut.


“Ziya malu bu, Ziya enggak layak menerima semua kebaikan dari keluarga Arjuna,” Naziya berkata seraya memalingkan muka. Anting permata yang indah, apakah masih terlihat indah jika Nala mengetahui siapa Naziya sebelumnya?


“Setidaknya simpanlah dulu, nanti jika Arjuna sudah datang. Biarlah Ibu yang memohon kepada Arjuna untuk membiarkan ibu bercerita kepada Nala, sebelum Nala mengetahui dari orang lain,” suara Farida menjadi serak.


Naziya menoleh, mendapati wanita yang sudah melahirkannya lagi-lagi menangis. “Naziya bersalah ya bu. Maafkan Naziya, bukan ibu yang harusnya memohon tetapi Naziya. Sudah cukup Naziya selalu membuat ibu resah. Ziya akan tanggung jawab, bu. Walaupun harus memohon ampun, semua itu akan Ziya lakukan,” ucapnya seraya memeluk sang ibu.


Farida merengkuh tangan Naziya. Di sela kesedihan, Farida sangat bersyukur. Jika benar Arjuna adalah seseorang yang sudah ditetapkan sebagai jodoh Naziya, semoga lelaki itu bisa memberikan kebahagiaan kepada putrinya, membimbingnya dan terus mencintainya setulus hati.


“Nak, jodoh itu unik. Kita tidak tahu kapan datangnya, kepada siapa dan apa yang akan terjadi nanti. Berdo’alah, semoga Arjuna benar-benar menjadi pria yang tepat untuk mendampingimu, membimbingmu serta membahagiakanmu,” lirih Farida.


Naziya mengangguk, menit kemudian dia merenggangkan pelukannya. “Bu, malam ini, dan malam seterusnya, Ziya mau tidur bareng ibu,” ujar Naziya. Bibirnya melengkungkan senyuman manis.


Farida terkekeh sekilas, “Kenapa? Kamu mau belajar tidur di ranjang berdua?” godanya, sontak membuat Naziya tersipu malu.


“IIh, ibu, bukan begitu, Ziya cuma…”


“Iya … ibu paham. Takutnya setelah menikah, Arjuna langsung membawamu kerumahnya, gitu kan?” potong Farida. Kemudian mereka kembali berpelukan.


“Tiba-tiba, Ziya kangen ayah, bu. Nanti kita ziarah dulu ya bu. Arjuna sih minta tunggu dia pulang, tapi, bukannya saat Arjuna pulang kita sudah tidak boleh ketemu ya bu,”celoteh Naziya.


Farida hanya tersenyum-senyum sendiri. Kemudian dia kembali berucap. “Kita pergi saja duluan, setelah kalian menikah, barulah kamu pergi berdua sama Arjuna ke makam ayah, ya.”


“Siap, nanti Ziya sampaikan ke Juna, bu.”


Mereka masih di sana, di ruang tamu dengan tumpukan kartu undangan. Berkisah, menangis, tak jarang terselip tawa renyah disetiap kisah mereka. Ini sungguh malam yang indah bagi Farida dan Naziya.