
“Ziya, makan dulu, lalu minum obat!”
Suara lembut Arjuna membangunkan Naziya yang tengah tertidur pulas. Naziya tampak lemas, entah efek dari zat kimia atau obat yang mulai bekerja.
Naziya membuka mata perlahan, mendapati Arjuna yang tengah duduk di tepi ranjang seraya mengoleskan salep ke luka-luka Naziya.
“Shh, apakah ini akan meninggalkan bekas? Bagaimana kalau dia melihat luka-luka ini di wajah, tangan dan kakinya? Apakah dia akan kecewa dengan luka ini?”
Mulutnya mengoceh sendiri. Namun, tangannya lembut memberi sal...