Marru Pahlawan Dunia Lain

Marru Pahlawan Dunia Lain
sepuluh


Rais , Marru dan yang lainnya saat ini sedang menyusuri hutan belantara , tujuan mereka adalah arah cahaya redup yang dilihat oleh Swie ,


Setelah berjalan cukup jauh , keempatnya tiba di tepi semak belukar yang tinggi , mereka semua bersembunyi mengintip siapa gerangan yang sedang menyalakan api itu ,


Setelah di perhatikan , ternyata tempat itu tidak ada satu orang pun , Rais yang penasaran ia pun keluar dari tempat persembunyiannya , Rais berjalan mengelilingi area sekitarnya , namun dirinya tidak menemukan apapun ,


" Bagaimana Rais , apakah kamu menemukan sesuatu " tanya Marru yang sudah berada di belakang Rais , disusul oleh Barru dan Swie ,


Swei merasa curiga , ia sendiri yakin bahwa ia dapat merasakan keberadaan wadah miliknya ,


" Ini tidak mungkin , aku yakin dapat merasakan wadah tersebut " kata Swie yang saat ini terbang kesana kemari ,


Sampai pada akhirnya Side effect nya dapat merasakan wadah yang ia cari ,


" Oh ternyata ia berada di situ , apakah masih hidup " Swie mendekati tubuh yang saat ini sedang mengerang , ia mencoba memanggil tubuh tersebut ,


Namun ia tidak mendapatkan sautan darinya ,


" Hai , tuan .. tuan apa yang sudah terjadi padamu " Swie mencoba berbicara dengannya ,


Namun tubuh itu seketika berbalik dengan serta merta Swie terhisap kedalam bola mata dari orang tersebut ,


Dengan begitu Swie sudah merasuki tubuh orang yang tidak dikenalnya ,


Dari arah belakang Swie muncul Marru , Barru dan Rais , ketiganya ingin mencegah tubuh Swie yang masih dalam wujud awan putih itu memasuki indera mata orang tersebut ,


Namun usaha mereka gagal , Swie masih tetap saja masuk kedalam tubuh orang itu ,


Sejenak tubuh itu tidak bergerak , Rais dan yang lainnya masih memperhatikan tubuh yang sudah dirasuki oleh Swie ,


" Swie … Swie , apakah kamu masih hidup " Barru mencoba bertanya kepada Swie yang saat ini masih terdiam ,


" Hek .. emmm , Auh " suara Swie terdengar dari mulut orang itu , mereka bertiga menambahkan kewaspadaannya ,


Sejenak tubuh itu terduduk sambil mengusap-usap bola matanya , sepertinya ia sedang menyesuaikan diri dari sekitarnya ,


" Hai , apakah kamu Swie atau makhluk lain " Barru kembali bertanya kepada tubuh tersebut ,


" Iyah , aku Swie .. kenapa memangnya " jawab Swie dengan nada jutek , Barru yang menyadari bahwa itu memanglah Swie dengan serta merta ia mengambil satu batang ranting dan melemparnya ke arah tubuh Swie ,


Swie yang mendapatkan serangan secara tiba-tiba itu tidak sempat mengelak , ia pun terkena hantaman dari ranting pohon yang dilemparkan oleh Barru ,


" Aduh … Barru apa yang kamu lakukan , kamu pikir aku siapa " kata Swie setengah menahan amarahnya ,


" Aku tahu , bahkan sangat tahu " jawab Barru sambil menyeringai , Swie yang melihat ekspresi wajah Barru sontak saja bringsut ,


" He.. he , aku tidak bermaksud demikian " kata Swie sambil cengengesan , sedangkan Barru masih seperti semula ,


" Oh , kamu menyadari hal itu yah , baguslah .. bukan hanya Ranting pohon itu saja yang akan melayang tapi ini juga akan membelah wadahmu " kata Barru yang langsung mengeluarkan energinya berbentuk sebuah senjata ,


" Oh .. jangan begitu Barru , kita satu tim , satu tim dilarang bertarung , tuan putri juga setuju dengan pendapatku ini , he…he " kata Swie yang sudah berdiri tegap sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal ,


" Sudah , ayo kita lekas kembali " Akhirnya Marru melerai pertikaian mereka berdua , lain halnya dengan Rais yang tertawa kecil , ia sadar keduanya terlihat tidak akur namun mereka sangat akrab ,


Swie dan Barru mengikuti jejak langkah Marru yang menuju area mobil terparkir ,


" Barru , nanti akan aku ajarkan bagaimana kamu dapat membuat sniper dan shooter gun " kata Swie kepada Barru ,


" Hem , kenapa baru sekarang " Barru bertanya kepada Swie yang tidak mau lebih awal mengajarkannya ,


" Aku tidak mengajarkannya , sebab butuh praktik yang benar , aku takut jika kamu gagal maka kamu tidak dapat mengunakan energimu dalam beberapa bulan atau beberapa lamanya " jawab Swie menjelaskan kepada Barru ,


" Oh ya … aku tidak percaya , kamu hanya beralaskan " Barru menampik perkataan Swie , menurutnya itu cuma akal-akalan Swie yang tidak ingin disalahkan oleh Hellin dan Marru ,


" Tidak .. tentu bukan begitu , jika kamu ingin aku membuktikan , aku akan mengajarkanmu nanti " kata Swie dengan bersungguh-sungguh ,


Mereka semua terus melanjutkan perjalanannya ,


Sampai pada akhirnya mereka tiba , Hellin keluar dari dalam mobil , ia menyambut Marru yang saat ini berjalan di depan mereka bertiga , terlihat dari arah belakang Marru , Rais , Barru dan satu orang yang ia tidak kenal ,


" Marru , kamu sudah kembali " Hellin segera berhambur memeluk Marru , sepertinya ia merasakan Marru sudah lama tidak kembali ,


" Hem , Iyah apakah kalian semua baik-baik saja " Marru balik bertanya kepada Hellin ,


Hellin hanya menganggukkan kepalanya saja , ia pun bertanya kepada Marru siapa orang asing yang saat ini bersama dengan Barru dan Rais ,


" Marru , siapakah dia " Hellin bertanya sambil menunjuk kearah Swie yang saat ini sudah menemukan wadahnya ,


" Hem , dia … itu Swie " jawab Marru yang saat ini melihat ke arah Swie yang sedang asik berbincang-bincang dengan Rais dan Barru ,


" Swie , …. " Hellin berteriak memanggil nama Swie , seketika Swie berjalan kearahnya ,


" Yang mulia tuan putri " Swie memberi hormat kepada Hellin yang saat ini masih berada di samping Marru ,


" Iyah , Swie berdirilah " kata Hellin yang sudah mempersilakan Swie berdiri seperti sedia kala ,


" Ayo , kita harus segera kekota mencari siapapun yang kita jumpai " Marru segera membimbing Hellin masuk kedalam Mobil , sebab Sena sudah menyalakan mesin mobil ,


" Sebaiknya demikian , sebab kita masih butuh bahan perbekalan " kata Rais yang sudah mengikuti Marru masuk kedalam mobil , setelah semua orang memasuki Mobil ,


Mobil pun melaju ke arah kota ,


Mereka akan melanjutkan perjalanan dan berpetualang mencari kedamai bagi Dunia yang saat ini mereka tinggali , walaupun butuh perjuangan mereka akan terus mempertahankan Bumi ini ,


Setelah cukup lama mobil melaju , akhirnya mereka tiba di pinggiran kota , dari depan terlihat monumen tugu bertuliskan Selamat Datang,


Mobil terus masuk kedalam kota , suasana masih sunyi tanpa satu orang pun ,


Kota ini seperti tidak berpenghuni , berbagai wilayah dan kota-kota besar sudah menjadi korban dari kekuatan Blue Hole Raksasa ,


Pada saat ini Sena terus melajukan arah mobil ,


Sampai pada akhirnya mereka berhenti didepan Rumah sakit tempat mereka bertarung dan menyembuhkan tubuh Damin ,


" Bagaimana , apakah kita akan memasuki Gedung Rumah Sakit " tanya Sena yang saat ini sudah menghentikan Suara mesin mobil ,


" Kita lanjut jalan , aku ingin pergi ke kota H , disana mungkin masih ada orang , tapi sebelum itu kita menuju market mengisi perbekalan " jawab Rais yang saat berada disamping Marru ,


Sena yang memahami maksud Rais segera menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil tersebut menuju market dan pompa bensin ,


Mobil terus bergerak , tidak beberapa lama kemudian mobil tersebut tiba di depan etalase market , dengan segera mereka mengambil seluruh perbekalan yang ingin mereka bawah , setelah mereka melanjutkan perjalanan ,


Melihat pompa bensin berada di depan , Sena memperlihatkan laju mobil agar dapat merapat , Rais segera keluar dari dalam mobil untuk mengisi tangki mobil , setelah tugasnya selesai , Rais segera masuk ke dalam mobil ,


Mobil kembali melanjutkan perjalanan , kali ini mereka akan keluar dari perkotaan tempat mereka tinggal ,


Mereka akan melanjutkan perjalanan dan berpetualang ,


Sampai pada akhirnya mobil keluar dari perkotaan menuju kota H ,


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam lamanya , akhirnya mereka tiba didepan pintu gerbang masuk Kota H ,


Kota H tak jauh beda dengan perkotaan tempat tinggal Rais dan beberapa temannya ,


Tempat itu sangat sunyi , banyak mobil terparkir dijalan tanpa satu orang pun yang mengendarainya , bahkan sebagian gedung ada yang hancur dan sebagian masih utuh ,


Mobil terus melaju ,


" Kita akan kemana Rais " pertanyaan Sena membuyarkan lamunan Rais yang saat ini tengah Fokus pada jalanan ,


" Oh , kita coba memarkir mobil ditempat yang aman setelah itu kita mencari tempat persembunyian " jawab Rais yang masih lekat pada aspal dan jalan trotoar ,


" Baiklah , kita cari hotel " jawab Sena yang semakin kencang melajukan mobilnya ,


Setelah mereka tiba di sebuah hotel mewah mereka berhenti didepan parkir mobil , pada saat ini Langhe dan Rais membopong tubuh Damin , mereka semua memasuki gedung hotel tersebut , Lift Hotel juga masih menyala , mereka memutuskan untuk menaiki Lift tersebut ,


Setelah mencari ruangan VIP yang aman , mereka akan meletakkan tubuh Damin , dan membiarkan para wanita untuk beristirahat , sedangkan pada saat ini tugas Rais , Marru dan Barru untuk menjelajahi kota ,


" Sena , Langhe juga kalian aku ingin kalian menjaga mereka , sedangkan Aku , Rais dan Baru akan mencapai sumber informasi " kata Marru yang memerintah kepada Sena agar menjadi perwakilan Rais dan dirinya ,


" Kamu jangan kawatir Marru , aku dan Langhe dapat kamu percayai " Jawab Sena dengan senyuman , Marru dan kedua temannya hanya mengangguk saja tanda mereka percaya kepada Sena juga beberapa sisa teman mereka , setelah itu mereka bertiga keluar dari gedung Hotel menjelajah seluruh area perkotaan ,


Pada saat ini Rais memimpin perjalanan , Maru dan Barru mengikutinya dari arah samping , sesekali mereka celingukan mencari Sesuatu yang mencurigakan ,


Tibalah mereka disebuah market yang sangat besar , market tersebut adalah sebuah mall terbesar di kota H ,


Ketiganya memasuki Mall tersebut , Setelah cukup jauh mereka memasuki Mall itu ketiganya masih tetap tidak menemukan apapun , didepan mereka terlihat tangga ekskavator , Marru dan kedua temannya menaiki tangga ekskavator itu , sampai mereka melihat banyak sekali produk makanan terpajang di rak penyimpanan ,


" Wauw ini sumber makanan " kata Rais , Marru dan Barru hanya tersenyum saja , mereka bertiga memasuki area itu , mencoba berkeliling mencari sesuatu yang menarik perhatiannya , namun langkah mereka terhenti , dari arah barat market itu terdengar suara pintu digedor sangat kuat ,


Marru dan Barru juga Rais berjalan mendekati pintu tersebut , perlahan-lahan mereka berjalan , setelah tiba didepan pintu , Marru mencoba mengeluarkan senjata yang terbuat dari energi mereka , begitu juga dengan Barru sedangkan Rais ia mengunakan senapan yang ia temukan , ketiganya bersiap untuk membuka pintu tersebut ,


Namun , sedetik kemudian gagang pintu itu ia genggam perlahan-lahan agar terbuka ,


" Klek … "


" Dor… dor " suara pintu yang masih digedor