
Mama Giska berniat menyusul Grace ketika langkahnya dihentikan Hendri
"Hanya aku yang bisa melunakkan hati Grace, ma"
Mama Giska menurut dan membiarkan Hendri keluar dari kamar sang kakek
Sepeninggal anak kembarnya, mama Giska semakin menangis terduduk di dekat ayahnya
"Di sini ayah yang bersalah Gis, mengapa diujung usia ayah, semuanya baru terungkap"
Mama Giska dan papanya Hendri hanya bisa terisak tidak menjawab pertanyaan ayah mereka
"Mengapa kalian tidak bilang jika Hendri dan Grace sangat sakit akibat dipisahkan, kalian setiap ayah bertanya selalu menjawab jika semuanya baik-baik saja, mengapa?"
"Kami hanya tak ingin melawan dan membantah ayah, jika ayah ingin tahu, justru akulah orang yang paling sakit karena dipisahkan dengan anakku"
"Terlebih ketika Grace diadopsi adik iparku, aku merasa jika Grace tidak akan pernah menjadi anakku lagi, dan tidak akan pernah kembali pada kami lagi"
"Dan ternyata itu benar, Grace tidak pernah sekalipun merindukan kami, hanya Hendri yang diingatnya, bahkan ketika pulang ke Indonesia, dia tidak pernah mau berbicara pada kami, hanya pada Hendri lah dia akan bicara, bermanja, dan meminta semua keinginannya dituruti"
"Bahkan ketika dia menikah, ayah tahu sendirikan, kita tidak ada yang diberitahu nya, hanya Hendri yang diberitahu, dan itu pun Hendri merahasiakan dari kita atas permintaan Grace"
"Bahkan, nyaris setahun yang lalu aku dapat kabar dari Khayla jika Grace ada di rumah mereka. Bahkan sejak Hendri menikah dan memiliki rumah sendiri, Grace tidak mau lagi ke rumah kami jika dia pulang ke Indonesia, dia hanya mau di rumah Hendri"
Tangan keriput kakek Hendri menarik tangan mama Giska, dan memeluknya sambil berurai air mata
"Maafkan ayah Gis yang tidak bisa membaca kepedihan di matamu, maafkan ayah nak...."
Suasana di kamar menjadi hening, yang terdengar hanya suara isak tangis
Sementara Hendri yang mengejar Grace, terus memanggil namanya dan berusaha mensejajari langkahnya
"Grace, tolong pahami situasi mama, mama juga sama kaya kita Grace, mama juga sakit sama seperti kita"
Grace menghentikan langkahnya, lalu memutar badannya dan menatap Hendri dengan tajam
"Apapun alasannya, mama dan papa tidak mempunyai hak memisahkan kita"
Hendri maju dan mengusap kepala adiknya dengan sayang
"Kamu telah memiliki anak, pasti kamu tahu bagaimana rasanya berpisah jauh dengan anakmu"
Grace membuang tangan Hendri di kepalanya, lalu melanjutkan langkahnya dengan cepat
"Grace.....?" kejar Hendri lagi
"Jika kamu terus-terusan mempengaruhi aku mengatasnamakan mama dan papa, aku nggak akan terima, mereka tidak pernah tahu bagaimana kita berdua selalu menangis ketika kita teleponan, mereka tidak pernah tahu, jika kita berdua selalu diam-diam merayakan ulang tahun kita dengan air mata, menganggap jika berdua berhadap-hadapan lalu saling menyuapi kue, kamu lupa itu Hen???!"
Hendri menggeleng dan kembali menarik tangan Grace agar wanita cantik itu berhenti
"Grace Indri Malengka.... tolong mengertilah...."
Kembali Grace menggeleng
"Jika kamu terus memaksakan kehendak kamu, malam ini juga aku akan kembali terbang ke Jerman, dan bisa ku pastikan, jika aku tidak akan pernah kembali lagi ke Indonesia, bagaimanapun keadaanmu nanti aku tidak perduli"
Hendri menarik nafas panjang dan hanya bisa menatap mata Grace yang tajam
"Oke, aku menyerah. Aku lebih memilih kamu ketimbang mama, oke....?"
Perlahan wajah masam Grace berubah datar mendengar suara melunak Hendri
...----------------...
_Dua minggu setelah Hendri pulang_
Aku yang tahu jika ini adalah jadwalnya Hendri pulang ke villa, seperti biasa akan meminta pada bibi Niluh dan yang lainnya memasak masakan spesial
Hendri itu pemakan segala, apapun dia suka asal enak, dan yang paling penting dia itu kalau makan minta di temani, aku sendiri heran, mengapa tiap makan dia selalu minta ditemani, tidak mungkin dia takut di ruang makan sendirian, atau mungkin memang itu adalah kebiasaannya
Aku sudah berulang kali bertanya pada supir pribadi yang biasa menjemput Hendri, apakah Hendri memberitahunya jam berapa minta dijemput
Dan kembali seperti dua minggu yang lalu, beliau menggeleng dan mengatakan jika Hendri tidak memberitahunya jika dia akan pulang
Dan aku hanya tersenyum, mungkin Hendri ingin memberikan aku kejutan lagi seperti kemarin
Dan aku memang sengaja tidak menelepon atau mengiriminya pesan, karena aku tak ingin merusak surprise nya yang mungkin telah dipersiapkannya untukku dan calon anaknya
Hingga sore, saat aku selesai mandi dan duduk di teras sendirian, secara tak kuduga ada sebuah mobil masuk
"Mbak....., pak....?!" panggilku pada penghuni villa yang lain
Penjaga villa ini berlari dari arah depan dengan tergopoh, dan kulihat wajahnya tegang
"Ada yang tidak beres ini...." batinku
Terlebih ketika mobil hitam itu terbuka pintunya
"Nia....?!" gumamku tercekat
Dengan kesusahan penjaga villa tadi menghalangi Nia dan dua orang lelaki yang berjalan kearah teras
Aku dengan cepat meraih tongkat dan ku letakkan di sebelahku
"Mbak....?" kembali aku berteriak kencang
Kulihat jelas bagaimana penjaga villa ini dipukuli oleh dua orang lelaki yang datang bersama Nia
Dua orang asisten berlari ke arahku dengan tergopoh dan langkah mereka langsung terhenti ketika mereka melihat jika penjaga villa ini sedang dipukuli dua orang lelaki tak dikenal
Nia berjalan anggun ke arahku, menarik sebuah kursi lalu duduk di depanku
Aku berusaha tenang dan memandang wajah dinginnya. Nia tersenyum sinis melihat ke arahku, terlebih ketika melihat perutku
"Kalian berdua berhenti di sana!!!" teriak Nia pada dua asisten rumah tangga yang telah siap berlari
Aku hanya bisa menarik nafas panjang mendengarnya membentak kedua asisten yang sekarang sudah mati ketakutan ketika tangan mereka diikat oleh dua lelaki yang tadi memukuli penjaga villa. Dan keduanya makin tak bisa berkutik ketika mulut mereka dilakban
Pikiranku sudah semakin kacau, aku sudah bisa menebak apa maksud dan tujuan Nia datang ke villa ini
"Bagaimana keadaanmu, Linda?" tanya Nia sambil kembali memandang dingin padaku
Kembali aku berusaha tenang dan memaksakan senyum mendengar pertanyaannya
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja"
Kembali Nia tersenyum sinis ke arahku
"Itu anak Hendri?" tanyanya sambil melirik kearah perutku
Aku tidak menjawab, melainkan hanya melihat kearah dua lelaki yang saat ini menyeret penjaga villa dan melemparnya bergabung dengan dua asisten yang tampak menangis
"Sejak kapan kamu menjadi simpanan Hendri?"
Kembali aku tak menjawab pertanyaan Nia, lalu Nia bangkit dari kursinya dan dengan cepat menarik rambutku hingga aku terdongak keatas
"Aaarrhhgg....." pekikku tertahan ketika Nia menjambak rambutku dengan kencang
"Dasar ja***ng!!" teriaknya
Aku memejamkan mataku menahan sakit, dan tak memperdulikan bagaimana sumpah serapah keluar dari mulutnya
"Mengapa kau merebut Hendri dariku Linda, mengapa kau menghancurkan rumah tangga kami??!" teriaknya
Aku terus berusaha melepaskan tangan Nia yang masih mencengkeram rambutku
"Kalau masalah itu kamu tanyakan sendiri dengan Hendri, aku tidak tahu apa-apa" jawabku terputus-putus
PLAKKKK...
Tamparan keras tangan Nia mendarat ke wajahku ketika dia melepaskan cengkeraman tangannya
"Ikat perempuan ini, dan bawa masuk ke mobil!!!" bentak Nia pada dua pria yang saat itu berdiri di belakangku
Dengan cepat keduanya memutar tanganku kebelakang, dan melakban kuat tanganku
Selesai itu mereka lalu melakban mulutku. Aku yang berusaha bergerak melepaskan diri hanya mendapatkan hasil sia-sia, karena tenaga dua lelaki ini jauh lebih kuat dari padaku
Dengan kasar mereka menyeret ku. Dan mulutku yang telah dilakban terus berusaha berteriak dan menoleh kearah tiga penghuni villa ini yang juga berusaha berdiri dengan kaki terikat untuk mengejar ku
Kulihat bagaimana penjaga villa jatuh bangun saat berusaha mengejar ku
Hingga akhirnya dua lelaki ini berhasil memasukkan ku kedalam mobil, kemudian menyusul Nia masuk
Kemudian salah satu dari lelaki tadi segera memutar mobil dan langsung tancap gas meninggalkan villa