
Dengan susah payah, Khayla menyeret langkahnya tertatih kedalam kamar
Suara letusan tembakan benar-benar membuatnya shock.
Dan Agung setelah ditarik paksa pak Puji mau tak mau akhirnya dia masuk kedalam mobilnya, dan sebelum melajukan mobil kembali dia membuka kaca mobil dan berteriak kencang kearah Hendri
"Saya tunggu kapan kamu siap menghadapi saya satu lawan satu!"
Mata pak Ibram kembali menatap tajam dengan kembali mengacungkan pistol kearah Agung
Sementara Hendri hanya menatap sinis
......................
Aku membuka mataku dan mengerjap-ngerjap menatap keatas. Saat aku menggerakkan leherku, rasanya sangat sakit sekali begitupun ketika aku mencoba menggerakkan tanganku
Hanya suara erangan dari mulutku yang keluar, dan itu sepertinya mengundang langkah kaki mendekat ke arahku
"Kamu sudah sadar Lin?"
Aku kembali mengerjapkan mataku dan mencoba beradaptasi.
"Ger....?"
Dokter yang ada di depanku menggeleng
"Jangan dulu bicara, kamu adaptasi dulu, baru setelah itu bicara apa yang terjadi sama kamu"
Aku kembali mengerang saat aku menggerakkan anggota tubuhku yang lainnya
"Kaki dan bahumu patah"
Mataku membelalak, dan kembali aku mencoba bergerak dan lagi-lagi aku kembali mengerang
"Aku sudah melakukan operasi kecil pada kepalamu dan juga telah memasang arm sling untuk bahumu dan orthosis pada kakimu, sekarang tinggal penyembuhan, dan itu setidaknya membutuhkan waktu dua bulan paling cepat"
Aku hanya mengerjapkan mataku sebagai respon
"Aku senang karena sekarang kamu sudah sadar, karena memang aku sengaja memberimu penenang dan bius yang lumayan banyak"
Aku menarik nafas dalam mendengar jawaban dokter yang merawat ku yang tak lain adalah temanku sendiri, Gerry
"Apa yang terjadi sama kamu Lin?"
Aku menatap kosong keatas dan kurasakan tanganku disentuh oleh temanku ini
"Jangan cerita dulu sekarang, karena aku yakin ini bukan perkara mudah untukmu, karena waktu aku menangani mu keadaanmu lumayan parah"
"Ada yang tahu aku di sini Ger?"
Gerry mengangguk dan kian menatap serius wajahku
"Aku memberitahu suamimu"
"Siapa?"
"Agung, siapa lagi?"
Aku memejamkan mataku sejenak ketika Gerry menyebut nama Agung
"Dan sekarang di luar ada dua penjaga, entah siapa mereka. Sebelumnya mereka bertiga dengan lelaki yang berbadan besar dan berambut gondrong, tetapi lelaki aku minta pulang karena dia terlibat baku hantam dengan suamimu"
"Hendri...." lirihku
"Nggak tahu siapa namanya, tapi mereka berdua berkelahi hingga sampai di dalam ruangan ini"
Kembali aku menarik nafas panjang
"Aku bisa minta tolong sama kamu Ger?
Gerry mengangguk
"Begitu banyak masalah yang aku hadapi Ger, aku mohon tolong jangan suruh Agung menemui ku lagi, jika dia kesini, kamu usir dia"
Gerry menatap wajahku tak percaya
"Tolong Ger, ini demi nyawa ketiga anakku"
"Kamu kenapa Lin?"
Dengan menahan sakit aku berusaha menggelengkan kepalaku
"Tolong kamu cari informasi mengenai ketiga anakmu Ger, tolong kamu lihat bagaimana keadaan mereka"
Kulihat wajah Gerry makin seperti orang kebingungan
"Tolong aku Ger, hanya kamu yang bisa menolongku saat ini"
"Iya, tapi kenapa dengan ketiga anakmu?"
"Ada orang yang ingin membunuh mereka"
Sambil berkata begitu air mataku telah mengalir
"Tapi tolong kamu awasi saja dari jauh, jangan sampai ada yang curiga. Jika sampai ketahuan ada yang memantau ketiga anakku, maka nyawa mereka kian terancam"
"Lin, ini sudah masuk kasus kriminal, apa tidak sebaiknya aku laporkan saja ke polisi?"
"Jangan!!!"
Gerry makin menatap tak mengerti padaku
"Tolong Ger, masalah ini cuma kamu yang tahu"
Gerry menganggukkan kepalanya dan mengusap punggung tanganku
"Sekarang kamu istirahat, masalah anakmu, akan aku pantau keadaan mereka dan aku pastikan jika mereka baik-baik saja"
"Terima kasih Ger"
Gerry mengangguk dan berdiri lalu memeriksa keadaanku lagi
"Kita pindah keruangan perawatan ya, karena kamu telah sadar dan keadaan kamu jauh lebih baik ketimbang masuk kemarin"
Aku hany berdehem menjawab ucapannya.
Selesai Gerry memeriksaku, dua perawat lalu mulai melepas selang yang ada hidungku lalu mencabut selang yang berjalaran di tubuhku
Gerry membuka pintu lalu dua perawat tadi mendorong brankar keluar
Aku melirik kearah dua pria yang langsung berdiri ketika brankar keluar dari pintu
"Anak buah Hendri" batinku
Gerry dan dua perawat yang mendorong brankar terus saja berjalan tanpa menoleh apalagi menyapa dua pria tadi
Hendri langsung berdiri dari kursinya dan segera menyambar kunci mobil yang ada di atas meja
"Bos, meeting nya belum selesai" cegah Marko yang juga segera berdiri
"Kamu yang lanjutkan"
Hendri langsung meninggalkan ruang meeting, kolega dan investor yang ada di dalam ruangan tersebut saling toleh dan hanya bisa menatap kepergian Hendri
"Maaf bapak ibu semua, meeting nya saya yang melanjutkan"
Semua yang ada di dalam ruangan menoleh dan menatap fokus pada Marko, dan melupakan Hendri yang telah pergi seenak perutnya dari ruang meeting ini
Sedangkan Hendri yang keluar dari ruang meeting segera berjalan cepat menuju lift dan langsung menekan angka satu
Tak perlu menunggu lama, lift terbuka dan Hendri kembali berjalan cepat
Karyawan yang ada di lantai satu menganggukkan kepala mereka memberi hormat padanya.
Tapi Hendri sedikitpun tak menoleh apalagi membalas hormat mereka
Segera dia masuk kedalam mobil dan langsung keluar dari area perusahaannya
Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan sampai di rumah sakit dengan cepat, setelah memarkirkan mobil segera Hendri menghubungi dua bodyguardnya
"Di lantai berapa?"
"Lima bos, kamar nomor tujuh"
Hendri langsung mematikan hp kemudian bergegas masuk kedalam rumah sakit
Kembali masuk kedalam lift dan menekan angka lima
Keluar dari dalam lift dilihatnya dua anak buahnya berdiri dan menyambut kedatangannya
"Apa dokternya ada di dalam?"
"Iya bos, sejak tadi belum keluar"
Hendri segera berjalan kearah pintu dan bergegas mendorong pintu tersebut
Dokter Gerry menoleh kearah pintu dan didapatinya lelaki besar berambut gondrong yang kemarin berkelahi dengan Agung, masuk
Aku melirik kearah Hendri yang berdiri di sebelahku
"Bagaimana keadaannya dokter?" sedikitpun Hendri tak menoleh pada Gerry
Dan aku hanya bisa menatap keduanya bergantian
"Linda masih perlu perawatan intensif sampai dia pulih seperti sedia kala"
"Apa itu lama?"
"Setidaknya dua sampai tiga bulan"
Hendri berjongkok di dekatku, sangat dekat hingga hembusan nafasnya bisa kurasakan
"Cepatlah sembuh jika ingin ketiga anakmu selamat...."
Mataku membelalak dan aku langsung menggeleng ketakutan
Dan Gerry menangkap kekhawatiran di wajahku
"Kamu kenapa Lin?, tuan, apa yang anda katakan pada pasien?, apa anda mengancamnya?"
Hendri bangun dan menatap dingin pada Gerry
"Anda bisa mengusahakannya rawat jalan kan?"
Degup jantungku berdebar kencang ketika Hendri mengucapkan kalimat tersebut
"Anda jangan ngaco, Linda ini baru saja sadar dari komanya, jadi dia harus dirawat di rumah sakit"
Hendri menggeleng
"Aku tidak yakin dengan keselamatannya di rumah sakit ini, bisa jadi nanti mantan suaminya datang kembali kesini dan membawanya kabur"
Gerry refleks menoleh ke arahku dan aku hanya menggerakkan mataku
"Tidak bisa, Linda harus dirawat di rumah sakit, sampai saya katakan dia boleh rawat jalan, barulah dia boleh keluar dari rumah sakit ini"
"Seumur hidup saya, saya tidak pernah memohon dengan siapapun, tapi kali ini saya memohon pada anda untuk mengabulkan permohonan saya"
Gerry berdiri dan menatap tegas kearah Hendri
"Maaf tuan, saya tidak bisa mengabulkan permintaan anda, jika anda memaksa, kembali saya akan meminta anda meninggalkan ruangan ini, dan bisa saya yakinkan jika anda tidak akan bisa membesuk Linda lagi"
Kulihat rahang Hendri mengeras dan dia membuang wajahnya, aku sangat yakin saat ini dia menahan marahnya
"Dokter, bisa tinggalkan kami berdua sebentar?" lirihku pelan dengan suara terbata
Gerry menoleh ke arahku dan menunduk
"Apa Lin?"
"Aku mau ngomong berdua sama dia, tolong dokter keluar sebentar"
Gerry menggelengkan kepalanya tak yakin
"Tolong....."
Gerry menarik nafas panjang dan menganggukkan kepalanya
"Baiklah, tapi hanya sebentar"
Setelah itu Gerry keluar beserta perawat yang juga masih ada di dalam ruangan ini
Aku menatap takut kearah Hendri yang kembali berjongkok ke arahku
"Apa yang ada di benak kamu, hah? kamu mau mati???!"
Aku menggerakkan mataku menghindari tatapan tajamnya
"Ingat, kamu tidak boleh mati sebelum kamu membayar lunas perjanjian yang telah kamu tanda tangani"
"Aku lebih rela mati dari pada aku melihat kamu membunuh ketiga anakku"
Hendri mencengkeram daguku, yang membuatku kembali harus memejamkan mataku karena sakit
"Aku akan membunuh mereka jika kamu berani membantahku, jika kau ingin mereka tetap hidup, turuti apa kataku, mengerti??!"
Aku hanya menggerakkan kepalaku untuk menjawab ancamannya