Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Perkelahian Terus Berlanjut


Melihat itu, dua bodyguard tak tinggal diam, dengan cepat kembali keduanya menarik keras pundak Agung dan melayangkan pukulan keras ke wajah Agung


Sementara Hendri yang nafasnya tersengal terbatuk sebentar lalu membetulkan posisi berdirinya


"Stop, jangan pukuli dia lagi!"


Pak Yohannes dan pak David menghentikan pukulan mereka pada tubuh Agung lalu keduanya memegangi tubuh Agung yang telah lemah dan membawanya kehadapan Hendri


Di sela kesakitannya, Agung tersenyum menyeringai


"Kurang ajar kamu Hendri!"


Hendri hanya menatap tajam wajah Agung yang berkilat marah


"Kau apakan istriku, hah?"


Hendri tersenyum sinis


"Istri?, istri yang mana?, kau lupa jika yang kau sebut istri itu sekarang adalah milikku?"


Dokter yang berada di balik pintu yang menguping keributan antara Agung dan Hendri membelalakkan matanya tak percaya


"Ini maksudnya apa?"


Perawat yang memperhatikan dokter menguping hanya bisa menatap bengong dan tak berani mendekat, karena dia diminta oleh sang dokter untuk terus memeriksa keadaan Linda


"Akan ku kembalikan semua uangmu Hen, dengan begitu tak ada lagi yang bisa merebut Linda dari tanganku"


Hendri tertawa mengejek


"Mengembalikan uangku?, sanggup kamu?"


Agung terdiam dan Hendri makin tersenyum sinis


"Kau ingatkan Agung berapa milyar uang yang aku kucurkan untuk menyelamatkan hidupmu dan perusahaanmu?"


Agung mendengus


"Aku tahu, tapi kau sudah berjanji bahwa kau akan melindungi istriku, bukan menyakitinya"


"Tapi ini apa Hen?, kau tega membuatnya koma"


Hendri terdiam mendengar suara sedih Agung


"Aku tidak ada pilihan lain, makanya aku terpaksa menggadaikan istriku padamu"


Dengan cepat Hendri menarik kerah baju Agung


"Sekali lagi kau bilang kau terpaksa, ku pecahkan kepalamu!!!"


Agung yang semula berwajah sedih terpaksa melengos demi melihat kilatan marah di wajah Hendri


"Pergi kamu dari sini, Linda bukan lagi istrimu, kau tahu itu!"


Sambil berkata begitu Hendri mendorong kasar Agung hingga tubuhnya mundur kebelakang


Tepat disaat itu pintu ruang icu di buka dokter, dan dokter menatap dua lelaki yang berwajah kusut dengan tatapan seperti mengintimidasi


"Dokter bagaimana istri saya?" Agung dengan cepat berdiri di depan dokter yang menatap lurus pada Hendri yang juga menatap serius padanya


"Pasien koma, tengkorak kepalanya retak, kaki dan bahunya patah, apa lagi yang bisa saya katakan tentang keadaan sahabat saya yang begitu mengenaskan selain itu?"


Agung langsung menekan dadanya dan terduduk lemas di kursi, sedangkan Hendri mengusap kasar wajahnya dengan mendongakkan kepalanya ke atas


"Silahkan kalian berdua masuk, kalian bisa lihat sendiri bagaimana kondisi Linda"


Secepat kilat Hendri menerobos masuk disusul Agung


Tangan Hendri yang menggenggam tangan Linda ditarik kasar dan ditepis oleh Agung


Hendri mundur dan hanya menatap dingin pada Agung yang berjongkok sambil menggenggam erat tangan Linda


"Maafkan aku Lin...."


Perawat yang masih berada di ruangan tersebut mundur demi melihat Agung berjongkok di dekat pasien


"Bangun Lin...., aku minta maaf" sesal Agung sesenggukan


Gigi Hendri gemeletuk mendengar penyesalan Agung. Tangannya yang terkepal dirasanya ingin sekali memukul lelaki itu


Agung menoleh dan menatap tajam kearah Hendri


"Jika terjadi apa-apa pada istriku, aku bersumpah akan menghancurkan hidupmu"


Hendri yang sejak tadi menahan marah, berjalan cepat kearah Agung dan langsung menarik kasar bahu Agung dan langsung melayangkan pukulan ke wajah Agung berkali-kali


Perawat yang kaget berteriak histeris sehingga membuat dua bodyguard yang berjaga di luar dan dokter yang berdiri diluar ruangan segera berlari masuk


Kembali pak Yohannes berusaha menarik paksa tubuh besar bos mereka dan pak David menarik paksa tubuh Agung


"Saya menyuruh kalian berdua masuk itu untuk melihat keadaan Linda, bukannya menyuruh kalian berdua melanjutkan perkelahian kalian!!"


Agung menarik bahunya dengan kasar dan mengusap pinggir bibirnya yang berdarah


Begitupun dengan Hendri, dia mengusap hidungnya yang juga mengeluarkan darah


Sedangkan perawat yang masih ketakutan segera berlari keluar karena disuruh dokter mengambil obat untuk Agung dan Hendri


"Kalian berdua seperti anak kecil, menyesal saya memberitahu anda pak Agung, jika saya tahu akan begini jadinya, mending Linda tidak usah dibesuk oleh anda"


Mata Hendri langsung berkilat tajam menatap marah kearah dokter yang ternyata memberitahu keberadaan Linda pada Agung


"Linda ini sahabat saya sewaktu sekolah, dan saya juga mengenal Agung sebagai suaminya, makanya saya memberitahu suaminya, jika Linda koma, apa itu salah?"


Hendri mendengus kesal mendengar jawaban dokter muda itu


Perawat yang tadi keluar sekarang telah masuk dengan membawa obat dan dengan segera dokter meminta Hendri dan Agung duduk. Dan secara bergantian dokter mengobati mereka berdua


"Sekarang kalian berdua pulanglah, biar Linda bisa istirahat dengan baik, biar dia bisa cepat melewati masa kritisnya"


"Tidak dokter, saya akan terus disini menjaganya"


Hendri kembali menatap tajam pada Agung yang menjawab cepat ucapan dokter


"Anda dengarkan apa yang tadi saya katakan, kan pak Agung?"


Hendri tersenyum sinis


"Saya akan pulang, tapi dua bodyguard saya tidak, mereka akan terus berjaga di sini sampai Linda sadar"


Dokter itupun menarik nafas panjang mendengar ucapan Hendri, dari pertengkaran yang tadi didengarnya, Hendri lah sekarang yang berkuasa atas diri Linda bukan lagi Agung, dan tadi dia juga jelas mendengar jika Agung telah menggadaikan Linda pada Hendri


"Saya perbolehkan, tapi tidak dengan membuat keributan"


Hendri yang sedang diobati hidungnya hanya melengos kesal


Selesai dengan mengobati Hendri dan Agung, dokter segera berdiri dan meminta kedua lelaki itu meninggalkan ruang icu


Wajah Agung dan Hendri sama dinginnya ketika keduanya pergi meninggalkan rumah sakit tersebut


Pak Paino yang telah dihubungi agar menjemput Hendri pun telah sampai, hingga akhirnya begitu sampai di bawah Hendri langsung naik kedalam mobilnya


Dan ternyata Agung yang masih belum puas dan masih memendam kesal pada Hendri mengikuti mobil itu dari belakang


Pak Paino yang mengetahui segera memberitahu Hendri


"Biarkan saja, kita lihat seberani apa dia ke rumahku"


Dan benar saja, ketika mobil Hendri masuk kedalam pagar, dengan cepat mobil Agung ikut masuk pula


Hendri turun dari mobilnya dan mendengus kesal. Segera dihampirinya mobil Agung, dan langsung menarik kasar kerah baju Agung begitu lelaki itu membuka pintu mobil


Bik Ning yang sedang berada diluar berteriak tertahan ketika dilihatnya jika majikannya sedang berkelahi dengan Agung


Dengan cepat pak Puji dan pak Ibram berlari melerai keduanya. Kegaduhan diluar memancing rasa penasaran ketiga anak Hendri hingga mereka keluar


"Bawa mereka masuk bik!!" teriak Hendri lantang


Dengan cepat bik Ning menarik tangan Alika dan membawanya masuk. Ternyata Mutiara dan Khayla tidak mengikuti langkah bik Ning, mereka berdua masih menatap bingung pada papi mereka yang tampak sekali marah


"Itu siapa yang berhadapan sama papi?" lirih Mutiara bingung


"Itu oom Agung"


"Kenapa papi berkelahi dengannya?"


Khayla menggeleng


"Kalian masuk!!!" teriak Hendri kearah kedua anaknya yang membuat kedua gadis itu kaget dan langsung lari terbirit masuk kedalam


Kembali Hendri berontak, begitu juga dengan Agung. Kembali keduanya baku hantam dan saling serang


Pak Ibram dan pak Puji sampai kewalahan melerai keduanya


"Tidak akan aku berikan Linda kepadamu Agung, dia milikku!!!"


Mulut Khayla langsung ternganga mendengar teriakan papinya, dia yang mengintip di balik gorden segera berbalik kebelakang dan menarik nafas lega karena Mutiara tidak ada di dekatnya


"Aku akan mengambil paksa Linda dari tanganmu, bagaimanapun caranya!!!"


Kembali keduanya saling pukul, hingga akhirnya pak Ibram menembakkan pistolnya ke udara, dan menimbulkan letusan keras, barulah keduanya berhenti dan refleks menoleh kearah pak Ibram yang wajahnya menatap marah


"Tinggalkan tempat ini, atau kepalamu saya tembak!"


Agung tercekat dan mengusap kembali bibirnya yang kembali berdarah, sedangkan Hendri juga melakukan hal yang sama, mengusap sudut bibirnya lalu merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan


Sementara Khayla yang mengintip di balik gorden menutup telinganya dan kakinya gemetar ketakutan