
Nia memalingkan wajahnya dengan ketakutan ketika Hendri mencengkeram kuat pundaknya
"Siapa dia?"
Nia bergeming dan hanya bisa menelan ludah dengan ketakutan
"Aku tanya siapa dia???!!!" kali ini Hendri bertanya dengan berteriak kencang
Dia mendengus kesal dan dadanya turun naik
Hp Nia yang ada di tangannya diberikannya pada Nia
"Telpon balik lelaki itu!"
Nia menggeleng kuat
"Telpon balik!!!"
Nia bergeming, hp makin digenggamnya erat
Kembali dengan kasar Hendri merebut hp tersebut dan mendial nomor yang barusan menelepon yang diberi nama Pak Paino oleh Nia
Paino adalah nama supir pribadi keluarga ini, dan yang menelepon barusan bukanlah suara pak Paino, Hendri faham suara lelaki paruh baya itu
Suara yang menelepon tadi masih terdengar muda
"Kamu bicara sama dia, aku ingin dengar percakapan kalian"
Kembali Nia menggeleng ketika Hendri mengatakan kalimat tersebut dengan nada dingin dan penuh penekanan
Panggilan tersambung dan langsung diangkat
"Sayang kok diputusin sih obrolannya?, kamu jadi kesini nggak sebenarnya?"
Dengan suara bergetar Nia menjawab pertanyaan lelaki di seberang
"Aku nggak bisa datang, dan sampai kapanpun aku tak akan datang. Jangan pernah kamu hubungi aku lagi"
"Loh sayang kamu kenapa sih?, malam kemarin kita masih baik-baik saja loh, kok sekarang kamu tiba-tiba ngomong kaya gini?"
Wajah Hendri kian merah mendengar ucapan lelaki di seberang. Ternyata kecurigaannya terhadap omongan Khayla siang tadi benar
Sedangkan Nia segera mematikan telepon tanpa menjawab pertanyaan lelaki tersebut
"Sejak kapan kamu berhubungan dengannya?" masih suara Hendri terdengar pelan, namun penuh penekanan dan itu makin membuat Nia ketakutan
"Aku tanya sejak kapan kamu berhubungan dengan lelaki itu?" sambil bertanya begitu Hendri telah mencengkeram kuat bahu Nia
Nia yang ketakutan telah menangis terisak
Hendri menghembus nafas dengan kasar dan segera berdiri
Kembali disambarnya kunci mobil yang tadi diletakkannya di atas meja lalu berjalan keluar
Nia segera mengejarnya
"Pi dengerin aku dulu pi, pi?"
Hendri tak menggubris, langkahnya kian cepat kearah tangga. Dan Nia terus mensejajari langkahnya
"Pi, aku mohon dengerin aku dulu"
Di tengah tangga Hendri berhenti dan menatap tajam kearah Nia
"Saat aku sangat marah, aku khawatir marahku ini akan mencelakai mu, karena kau tahu sendiri bila aku sedang marah, bisa saja aku saat ini membunuhmu"
Nia tercekat dan hanya menatap nanar Hendri dengan wajah basah
"Jangan hentikan langkahku, aku ingin menenangkan hatiku yang terbakar, karena jika aku terus melihat wajahmu, aku khawatir rumah ini akan terbakar oleh kemarahanku, dan kau akan menjadi abu di dalamnya"
Kembali Nia hanya bisa menelan ludah dan memandang penuh penyesalan pada Hendri yang segera membalikkan badannya dan terus berlalu
Nia hanya bisa terduduk di tangga dengan menangis tertahan melihat Hendri yang telah keluar dari rumah, sementara Hendri langsung masuk kedalam mobil dan segera memundurkan mobil ke halaman
Security kembali berlari dan segera membukakan pagar dan memandang bengong ketika melihat wajah Hendri yang tegang
Hendri menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kacau dan kekesalan di hatinya kian memuncak ketika omongan lelaki di telepon tadi terngiang di telinganya
Tepat di tepi jalan sepi Hendri menghentikan mobilnya dan tangannya yang terkepal kuat dengan refleks langsung memukul jendela mobil hingga menyebabkan kacanya pecah dan tangan Hendri terluka
Dada Hendri masih turun naik menahan emosi yang meluap-luap. Darah yang mengalir dari sela-sela jarinya tak dihiraukannya, nafasnya masih memburu
"Aaarrrgghhh....." teriaknya kencang sambil memukul stir dan kembali membuat darah mengalir di jarinya
Di telungkupkannya wajahnya di atas stir dan Hendri menarik nafas dalam-dalam
"Kurang ajar lelaki itu, dia tidak sadar siapa saat ini lelaki yang dihadapinya" geramnya
Jam digital di atas dashboard hampir menunjukkan angka dua dini hari, dengan mendengus kembali Hendri menjalankan mobil
Luka ditangannya yang terus mengeluarkan darah seakan tak dirasanya, dia terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi
Lalu berbelok ke hotel dimana Linda disekap nya. Anak buah yang disuruhnya berjaga begitu melihatnya turun dari mobil segera mendekat
"Semuanya aman dan terkendali bos, kami barusan ke atas memeriksa"
"Kalian pulanglah, malam ini saya yang akan menjaga perempuan itu!"
Kedua anak buah Hendri mengangguk dan segera berjalan kearah motor mereka yang terparkir
Sementara Hendri langsung masuk dan langsung naik kelantai dua
Di depan pintu Hendri menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia mengeluarkan kunci yang tadi diberikan anak buahnya
Setelah kunci terbuka, dengan pelan Hendri mendorong pintu.
Aku yang terlelap spontan terjaga dan duduk ketika mendengar pintu dibuka
Dan aku segera merangkak menghidupkan lampu yang ada di atas meja. Aku langsung bernafas lega ketika kulihat yang masuk adalah Hendri
Segera aku turun dari ranjang dan langsung mencari jaket dalam lemari lalu segera memakainya karena saat ini aku hanya memakai baju tidur tipis
Hendri masih bersikap dingin ketika dilihatnya aku bangun dan menatap kearahnya
Hendri segera meletakkan kunci mobil di atas meja lalu duduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya, lalu mendongak ke atas.
Aku hanya memperhatikannya dari tempatku berdiri tanpa berani bertanya
"Kamu tidurlah lagi, ini masih malam" ucapnya padaku
Aku tak menjawab melainkan masih berdiri di tepi ranjang
Mataku terbelalak ketika Hendri memijit keningnya, kulihat ada darah di tangannya
Aku segera mendekat dan langsung duduk di sebelahnya dengan khawatir
"Tangan kamu kenapa Hen?" refleks aku menarik tangannya yang sedang memijit kening
Kulihat tangannya luka dan memar, dan lukanya cukup banyak, hampir seluruh jarinya sebelah kanan terluka
Dengan segera aku berlari masuk ke kamar mandi, membawa segayung air dan langsung mencelupkan tangan Hendri kesana
Kulihat Hendri meringis ketika tangannya tercelup air. Dan dengan pelan aku menggosok jari tangannya yang terluka agar sisa darah di jari dan sela-sela jarinya bersih
Lalu aku kembali masuk kamar mandi, mengganti air lalu kembali membawa gayung berisi air kehadapan Hendri lagi
Kali ini aku tidak lagi menggosok tangan Hendri melainkan mencelupnya pelan lalu segera mengangkatnya
Dan Hendri hanya memperhatikan dengan diam apa yang kulakukan pada tangannya
Lalu aku mengembalikan gayung ke kamar mandi, membuka lemari, mengambil kain kasa dan alkohol sisa kemarin
Kembali aku duduk di dekat Hendri yang menuangkan alkohol ke kain kasa dan menekan pelan ke lukanya
Hendri memejamkan matanya ketika alkohol mengenai lukanya.
"Tahan, ini memang sedikit perih. Tapi setidaknya luka kamu tidak akan infeksi"
Hendri menggigit bibirnya karena perih masih terasa
Lalu aku meniup pelan lukanya, berharap jika Hendri tak akan meringis lagi
Lagi-lagi Hendri hanya diam terpaku menatap ke arahku yang meniup tangannya
"Sudah tidurlah, ini hanya luka kecil"
Aku melepaskan tangannya yang telah selesai aku balut dengan kain kasa lalu menatap matanya yang juga menatapku
"Tangan kamu luka kenapa?" aku memberanikan diri bertanya
Hendri membuang mukanya
"Tidurlah, aku capek"
Aku menarik nafas panjang lalu bangkit dan berjalan kearah ranjang. Sampai di tepi ranjang aku tak langsung naik melainkan menoleh dulu kearahnya
"Aku tidur di sofa, kamu tidurlah di sana"
Aku menarik nafas lega dan segera naik ke atas ranjang, lalu membaringkan tubuhku
Aku sengaja membelakangi Hendri agar dia pikir jika aku telah terlelap. Padahal aku tak bisa memicingkan mataku karena takut jika dia akan berbuat kurang ajar padaku
Kudengar tak ada lagi suara Hendri yang duduk gelisah, semuanya hening. Dengan ragu aku membalikkan tubuhku dan kulihat jika Hendri sudah membaringkan tubuhnya di sofa
Aku menarik nafas panjang ketika kulihat Hendri tidur tanpa bantal dan juga tanpa selimut
Dengan pelan aku turun, mengambil bantal dan selimut lalu membawanya ke dekat sofa.
Dengan hati-hati, aku mendekat kearah Hendri yang terpejam lalu aku menggerak-gerakkan kelima jariku di depan wajahnya
Setelah memastikan jika Hendri terlelap barulah aku berani mengangkat pelan kepalanya
Meletakkan bantal di bawah kepalanya, lalu menyelimuti tubuhnya. Lalu aku mengangkat meja dan memepetkan kearah sofa yang Hendri tiduri agar ketika Hendri berbalik dia tak terjatuh
Setelah memastikan semuanya beres, aku berjalan kearah ranjang dan dengan tenang aku berbaring
Menyelimuti tubuhku lalu memejamkan mataku. Dan tertidur