
Segera aku balik menelepon Hendri. Hendri hanya tersenyum sinis ketika menatap layar hpnya
Aku mengulangi sekali lagi menelepon Hendri, aku yakin semakin sering aku meneleponnya maka panggilanku akan diangkatnya
Hendri menyeringai kesal ketika kembali hpnya berdering
"Mau apa lagi?" bentak Hendri
"Tolong Hen, aku janji nggak akan kabur lagi. Tapi tolong jangan sakiti ketiga anakku"
"Hidup dan mati anak kamu semua ada di tangan kamu"
Aku menelan ludah penuh ketakutan mendengar jawaban Hendri
"Oke, baik lah. Aku nurut sekarang. Aku janji nggak bakal kabur lagi, sumpah"
Hendri kembali tersenyum menyeringai
"Tidak ada lagi kan yang ingin kamu bicarakan?"
"Nggak ada Hen"
"Bagus"
Lalu Hendri menutup panggilan dan kembali mencari cincinnya sedangkan aku begitu mendengar jawaban Hendri agak lega sedikit
Dan aku kembali berusaha memicingkan mataku
...----------------...
Hari ini jadwal Hendri bukan meeting melainkan dia meninjau lokasi untuk rencana proyeknya yang lain lagi
"Jika disini dibangun hotel atau semacam resort pasti akan sangat berkembang karena daerah ini adalah daerah wisata, dan setiap harinya ada ratusan hingga ribuan wisatawan yang datang kesini" ucap seorang investor meyakinkan Hendri
Hendri terus memperhatikan sketsa rancangan bangunan yang sedang dijelaskan lelaki itu dan sesekali matanya memandang kearah ombak yang bergulung
Saat itu Hendri dan Marko berada di sebuah resort di dekat pantai. Memang diakuinya jika pantai disini indah dan banyak turis yang sedang berenang bahkan ada yang sedang berselancar
Marko serius mendengarkan penjelasan calon kolega baru perusahaannya tatkala Hendri jauh lebih tertarik melihat kearah laut
Hendri mengangguk-angguk pelan dan selesai meeting singkat itu dia berpindah meninjau lokasi lain, sementara Marko segera membawa proposal dari perusahaan yang mengajak perusahaan Hendri bekerja sama, untuk ia pelajari
Jadilah seharian ini Hendri dan Marko sibuk bertemu dan meeting singkat hanya untuk memutuskan di perusahaan mana dia akan berbisnis selanjutnya
Dua hari lainnya kembali Hendri disibukkan dengan meeting dengan kolega dan investor dari luar negeri untuk pemantapan mega proyeknya
Barulah setelah semuanya selesai Hendri kembali ke villa, karena besok mereka akan bertolak kembali keibu kota
...----------------...
Dan aku yang berada di hotel ini makin tak bisa keluar karena sekarang ada tiga orang anak buah Hendri yang mengawasi ku
Secara bergantian ketiganya mengawasi ku setiap hari dan setiap malam
Sehingga aku makin stress dan makin merasa seperti terpenjara
Dan sudah tiga hari ini pula Hendri sama sekali tak datang dan tak mengabari ku. Aku sedikit lega, itu artinya aku bebas dari siksaan dan bentakannya
Untuk membunuh rasa bosan aku menghabiskan seluruh hariku dengan menonton tivi
Seluruh program acara yang selama ini tak pernah kukenal jadi bisa aku ketahui sekarang
Dan bila jam makan, akan ada seorang pelayan yang akan mengantarkan makanan ke kamarku, lalu setelah itu anak buah Hendri akan kembali mengunciku dari luar
Sementara kehidupan Agung setelah menjual Linda pada sepupunya berjalan seperti tak semestinya
Ketiga anaknya jauh lebih pendiam dan lebih banyak mengurung diri di dalam kamar mereka masing-masing
Ketika malam ketiganya akan tidur bersama dalam satu tempat tidur dan akan menangis karena rindu pada mama mereka
Tapi seminggu yang lalu secara kebetulan mereka bertemu Hendri ketika mereka menunggu papa mereka menjemput pulang dari sekolah
Saat itu Hendri menawari mereka bermain di kapal pesiar pribadinya, kapal yacht. Tentu saja ketiga anak yang masih polos itu girang bukan kepalang
Segera Hendri menelepon Agung dan mengatakan jika dia akan membawa ketiga anak Agung ke kapal yacht miliknya
Awalnya Agung khawatir tapi setelah Hendri menjelaskan sebentar barulah Agung mengiyakan walau dengan berat hati
"Om, oom tahu tidak mama kami pergi kemana?"
Waktu itu Rihanna bertanya saat mereka telah berada di atas kapal. Hendri yang dingin hanya kaget sebentar lalu dengan santainya memberi jawaban jika dia sama sekali tak pernah bertemu dengan mama mereka untuk jangka waktu yang lama
"Kami kangen mama oom" lanjut ketiganya yang kembali membuat jantung Hendri berdenyut
Sementara hari ini, Agung yang sedang repot di kantor ditelepon pihak sekolah yang mengatakan jika anak keduanya berkelahi
Dengan geram Agung meminta supir pribadi nya untuk datang ke sekolah mewakilinya
"Ternyata hidupku makin kacau karena Linda tak ada" geramnya
Tapi Agung tak ada pilihan lain, kantornya yang mulai bangkit kembali harus benar-benar diurusi agar hutangnya tak membengkak lagi
...----------------...
Alika berlari keluar ketika dilihatnya papinya masuk kedalam rumah. Dibelakang papinya menyusul Marko sambil menyeret koper
Hendri segera memeluk erat Alika dan menciumi pipi anak gadisnya itu dengan sayang
"Mami mana?"
Alika menggeleng
"Papi kaya nggak tahu mami, mana ada mami jam segini di rumah" Mutiara yang muncul dari belakang menjawab pertanyaan Hendri
Mutiara mendekat dan memeluk sekilas tubuh Hendri yang dibalas Hendri dengan mengusap sayang kepala Mutiara
"Kakak ada?"
Mutiara mengangguk lalu menatap kearah Marko
"Itu koper papi?"
Marko mengangguk. Dengan segera Mutiara mengambil koper yang sejak tadi dipegang Marko
"Biar aku yang bawa masuk" jawabnya sambil menarik koper
Hendri hanya tersenyum melihat perhatian kecil anak gadisnya
"Besok kita ke kantornya, hari ini kita istirahat saja seharian"
Marko mengangguk
"Supir bisa mengantar jika kamu mau pulang"
Kembali Marko mengangguk dan Hendri segera mengeluarkan hpnya
"Kamu antar Marko pulang!"
Tak lama supir pribadi keluarga ini muncul dan Marko langsung berpamitan
Setelah Marko pergi barulah Hendri naik ke kamar pribadinya diikuti Alika yang terus menggandeng manja lengan Hendri
Hendri tersenyum mesra pada anak gadisnya
Ketika sudah sampai di kamar Hendri membuka koper dan memberikan oleh-oleh untuk Alika yang langsung disambutnya dengan teriakan bahagia.
Lalu Alika berlari ke kamar dua kakaknya dan memamerkan oleh-oleh dari papi mereka
Secara spontan Khayla dan Mutiara berlarian ke kamar pribadi orang tuanya dan langsung berebutan mengambil oleh-oleh
Hendri terus tersenyum melihat kegaduhan ketiga anak gadisnya
"Untung Marko cepat tanggap" gumamnya sambil merebahkan diri dan terpejam
_Beberapa jam kemudian_
Hendri membuka matanya ketika dirasakannya ranjang bergoyang, dengan segera dia membuka matanya
Dan dilihatnya jika istrinya terpejam di sebelahnya. Hendri mengendus-endus hidungnya
ketika dirasanya mencium bau alkohol
Segera dia duduk dan mendekat kearah istrinya, mengendus-endus di dekat wajah dan baju istrinya
Seketika wajahnya memerah karena bau alkohol yang menyengat itu berasal dari mulut dan baju istrinya
Segera ditariknya wajah istrinya yang terpejam rapat
"Bangun kamu Nia!!!" Hendri membentak
Nia bergeming, matanya masih rapat bahkan ketika Hendri menarik wajahnya
Dada Hendri kian terasa terbakar ketika disadarinya jika istrinya mabuk berat