Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Panik


"Toloooongggg!!!" teriak Khayla kencang


Bik Ning dan Alika yang ada di dalam rumah langsung berlari begitu mendengar teriakan Khayla


Dan keduanya melihat jika saat itu Khayla berusaha menopang kepala Mutiara dengan kesusahan


"Tolong panggil pak Ibram atau siapa saja yang ada diluar" teriak Khayla


Dengan panik bik Ning berlari keluar sementara Alika telah menangis tersedu-sedu melihat Mutiara yang terkulai lemah dan terus muntah


Tiga bodyguard dan pak Puji berlari cepat kedalam rumah dan langsung diteriaki oleh bik Ning jika mereka berada di dekat kolam


Dengan sigap pak David dan Pak Yohannes mengangkat tubuh besar Mutiara, dibantu oleh pak Ibram yang melihat jika kedua bodyguard tersebut tampak keberatan


"Cepat siapkan mobil!" teriak pak David


Pak Paino bergegas berlari mengambil mobil dan dengan cepat pak Puji membuka pintu mobil dan mereka langsung memasukkan tubuh Mutiara


Khayla menyusul di belakang, segera dipangkunya kepala Mutiara, sementara Alika yang terus menangis memaksa ingin ikut


"Adek duduk depan!" teriak Khayla panik


Sementara tiga bodyguard yang lain memakai mobil peninggalan Nia yang jarang sekali dipakai


Dan pak Paino segera melajukan mobil dengan ngebut menuju rumah sakit


"Pusing kak...." lirih Mutiara


Khayla yang juga telah menangis hanya terus memijit kening adiknya


"Telpon papi dek" kembali Khayla berkata dengan nada khawatir


Alika tampak merogoh dan mencari-cari hp di dalam baju dan celananya


"Ketinggalan kak"


Khayla menarik nafas dalam


"Pakai hp bapak saja nak" ucap pak Paino sambil menyerahkan hp miliknya


Alika segera mencari kontak papinya


"Tuan Besar Hendri, namanya nak"


Alika mengangguk


Sementara aku saat ini sedang berada di kolam renang berdua dengan Hendri


Hendri sengaja mengajakku renang karena dia ingin memastikan jika aku baik-baik saja di kolam renang jika dia sedang tidak ada di villa


Dengan berpegangan dengan kedua tangan Hendri aku diajaknya masuk ketengah kolam


Tawa berderai dari kami berdua, terlebih ketika dengan nakal Hendri mengajakku menyelam berdua


Hpnya yang terletak di atas meja di tepi kolam berdering, yang memaksaku segera mengajaknya ke tepi


"Biarkan saja, paling itu Marko" ucap Hendri tak mau ku ajak menepi


"Tapi jika itu penting gimana mas?"


Hendri menggeleng, dan kembali memelukku dari belakang dan mengusel-usel wajahnya ke tengkukku yang membuatku terkekeh


Dan kembali hpnya berdering


"Mas, pasti itu penting" ucapku


Hendri akhirnya menurut, segera dia membawaku ke tepi lalu kembali dibantunya aku naik tangga kolam


Aku duduk di tepi kolam sementara Hendri segera berjalan kearah meja


"Pak Paino?" gumam Hendri ketika dilihatnya ada tiga panggilan terabaikan dari pak Paino


Sambil berjalan ke arahku, Hendri telah menempelkan hp ke telinganya


"Kenapa pak?" tanya Hendri sambil duduk di sebelahku


"Papi...."


Hendri langsung berdiri demi didengarnya suara Alika yang menangis


Dan aku yang melihat jika Hendri tampak tegang hanya bisa memandang kearahnya dengan keingintahuan yang besar


"Sayang kamu kenapa, nak?"


Aku makin menatap Hendri dengan lekat


"Kakak Mutiara pi...." suara Alika telah hilang dengan tangisannya


"Sini dek hpnya" ucap Khayla


Alika memberikan hp yang ada di tangannya pada Khayla


Sementara Hendri yang terlihat tegang, kembali duduk dan mengusap-usap perutku


"Papi adek Mutiara keracunan makanan dan sekarang sedang kita bawa ke rumah sakit"


"Apa nak?, Mutiara keracunan?"


Aku dan Hendri sama kagetnya, kembali Hendri berdiri dan segera menyambar handuk


"Iya papi pulang sekarang, ya pi?" jawabnya cepat


Hendri lalu meletakkan hpnya lalu mengangkat ku


"Aku biar berjalan sendiri saja" tolak ku ketika Hendri mengangkat tubuhku


"Tidak" jawab Hendri cepat


"Bik, ambil hp ku dan handuk di pinggir kolam" teriak Hendri ketika kami telah masuk kedalam villa


Seorang asisten muncul dari dalam dan segera berlari keluar


Sementara aku yang dibawa masuk Hendri kedalam kamar segera dibawanya masuk menuju kamar mandi


"Mas bilas sendiri saja, aku bisa kok mandi sendiri" ucapku karena aku makin melihat jelas kepanikan di wajah Hendri ketika dia menyiramkan air ke tubuhku


"Maafkan aku sayang ya, aku harus pulang hari ini" ucap Hendri tak menggubris omonganku


Aku hanya mengangguk dan segera meraih handuk di belakang pintu lalu melilitkannya ke tubuhku


Sedangkan Hendri yang sekarang sedang menggosok tubuhnya memintaku untuk berdiri di dekat pintu, tidak boleh keluar sendiri


Kupegang tangannya ketika dia mengeringkan kakiku


"Mas, mas gantilah baju kemudian pulanglah, anak-anak mas lebih membutuhkan mas dari pada aku"


Hendri menarik nafas panjang lalu mengecup keningku dengan dalam


"Maafkan aku Linda, harusnya aku dua hari lagi sini, tapi karena masalah ini aku hanya bisa semalam menemanimu"


Aku mengangguk dan tersenyum padanya


Dengan cepat Hendri mengambilkan aku pakaian, baru setelahnya dia mengambil bajunya sendiri


"Mas aku bisa...." tolak ku ketika Hendri masih saja keras kepala memakaikan ku baju


Aku merasa terharu dengan perhatiannya, walau dia sedang punya masalah tapi dia masih berusaha memperhatikanku


Bahkan dengan memakaikan hand body di tangan dan kakiku


"Aku pulang ya Lin...?"


Aku mengangguk ketika Hendri mengusap perutku


"Sayang papi pulang ya, maafin papi karena kembali harus meninggalkanmu" lirih Hendri sambil mencium lembut perutku


Lalu aku meraih tongkat, menyelipkannya ke ketiakku, lalu aku mengikuti Hendri berjalan keluar dari kamar


"Bibi Niluh......" teriak Hendri


Bibi Niluh berlari dari samping dengan tergopoh


"Panggil yang lain!"


Bibi Niluh mengangguk lalu kembali berlari keluar


Tak lama beliau telah kembali dengan tujuh orang pekerja di villa ini


"Saya harus kembali ke ibu kota, ada masalah pada anak saya, tolong jaga dengan baik villa ini, saya tak ingin kejadian di rumah saya sampai juga disini"


Aku tertegun mendengar ucapan Hendri, mau bertanya tapi waktunya sedang tidak tepat. Tapi kalimatnya benar-benar membuatku penasaran


"Sayang aku pulang, ya?" kembali Hendri mengusap perutku lalu diciumnya keningku dengan dalam


Aku dan yang lainnya mengantarnya sampai teras, setelah mobil berjalan aku melambaikan tanganku kearah Hendri yang juga melambaikan tangannya ke arahku


...----------------...


Hendri langsung turun dari mobil ketika sampai di depan rumah sakit. lalu bergegas masuk ke lantai ruangan tempat Mutiara di rawat


Wajah pak Ibram cs langsung tegang begitu mereka lihat Hendri berjalan dengan gagahnya kearah mereka


"Bos....!" sapa mereka hormat


Hendri sedetikpun tak melirik kearah mereka, wajah dinginnya cukup mewakili jika dia marah pada tiga orang itu


Dengan cepat Hendri membuka pintu dan langsung berjalan masuk kearah ranjang dimana Mutiara terbaring lemah


"Papi...." rintih Mutiara


Hendri langsung berjongkok dan memeluk anak gadisnya, kemudian dikecupnya dengan hangat kening Mutiara


Sementara Khayla yang ada di ruangan tersebut juga memeluk papinya, dan Hendri merapikan rambut Khayla kebelakang telinganya


"Maafin papi ya nak...." lirih Hendri sambil segera duduk di kursi lalu menggenggam erat jari Mutiara


Mutiara memaksakan sebuah senyuman


"Jangan banyak gerak dulu jika kepalanya pusing" ucap Khayla sambil merapikan selimut di tubuh Mutiara


"Apa yang sakit nak?" tanya Hendri pelan, tapi nada suaranya masih terdengar panik


Mutiara menggeleng lemah


"Tunggu disini sayang ya, papi mau bicara dengan tiga bodyguard kalian dulu"


Khayla mengangguk sementara Mutiara hanya berdehem


Kembali Hendri berjalan dengan cepat keluar dari ruangan perawatan dan ketiga bodyguard yang berjaga langsung sigap siaga ketika mendengar pintu di buka


PLAAAKK PLAAAKKKK PLAAKKK


Tangan besar Hendri langsung melayang ke wajah ketiga bodyguardnya yang hanya bisa menunduk


"Apa kerja kalian, hah?"


Ketiganya masih menunduk dan tak berani menjawab


"Ada yang bisa menjelaskan disini?" teriak Hendri


Khayla dan Mutiara saling lirik ketika mendengar papi mereka berteriak kencang


"Saya yang menerima paketnya bos" jawab pak David pelan


Hendri langsung berdiri di depan pak David


"Kamu lupa dengan teror kemarin, mengapa kamu bisa se teledor ini??!!"


Pak David makin tak berani mengangkat wajahnya


"Apa yang telah kalian lakukan dalam beberapa jam ini sebelum saya sampai?" tanya Hendri dingin


"Kami langsung mendatangi restoran Japanese food itu bos, bahkan kami juga telah menemukan kurir yang mengantar paket tersebut"


"Apa kata mereka?"


"Itu makanan fresh bos, bukan makanan lama apalagi makanan basi, jadi kecil kemungkinannya jika makanan itu beracun"


"Juga kurir yang mengantar telah kami mintai keterangan, dan sekarang baik kurir dan owner restoran itu telah kami titipkan di kantor polisi, kami meminta pada pihak kepolisian untuk tidak membebaskan mereka sebelum bos kesana"


Hendri mengangguk, tapi wajahnya masih dingin dan masih tampak marah


"Papi....."


Hendri memutar badannya ketika didengarnya suara Alika berteriak memanggilnya


Wajahnya yang telah dibuatnya tersenyum seketika kembali berubah dingin ketika dia melihat ada Nia yang sedang berjalan di belakang Alika


"Kalian.....??!" kembali Hendri menggeram kearah ketiga bodyguardnya