Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Berkelahinya Hendri Dan Agung


"Bos duduk dulu saja bos" ucap pak David mendekati bosnya yang masih menyandar di tembok


Hendri menarik nafas panjang lalu menuruti omongan pak David dan duduk terpekur di kursi tunggu


"Pak Paino bisa pulang pak, istirahat saja di rumah, jika saya membutuhkan, bapak akan saya telepon"


Pak Paino mengangguk lalu berpamitan dengan bosnya dan dua bodyguard yang lain


Sampai di parkiran beliau segera ditarik oleh Marko yang ternyata belum pulang dan masih menunggu di dalam mobilnya


Pak Paino yang kaget ditarik seseorang segera menoleh kebelakang dan menarik nafas lega ketika dilihatnya jika yang menariknya adalah Marko


"Bapak yang tadi membawa mereka pulang dari kantor, apa yang terjadi sama mereka berdua?"


Pak Paino diam mencoba mengingat kejadian tadi


"Di jalan keduanya hanya diam tak saling bicara, tuan besar hanya menyuruh saya membawa mereka pulang ke rumah, itu saja"


Marko diam dan menarik nafas panjang


Dia ingat bagaimana tadi Linda sampai bersembunyi dibalik meja kerjanya untuk menghindari Hendri, dia yakin begitu sampai di rumah, Hendri melakukan perbuatan kasar yang menyebabkan perempuan itu nekad melompat dari lantai dua rumah Hendri


"Apa bapak dengar jika di rumah mereka bertengkar?"


Pak Paino menggeleng


"Begitu sampai rumah, tuan menyuruh mbak Linda naik keruang kerjanya dan tak lama terjadilah insiden ini"


Marko menganggukkan kepalanya dan menepuk bahu pak Paino lalu dia berlalu dari hadapan lelaki paruh baya yang menatapnya berjalan kearah mobilnya


Sementara di rumah sakit, tiga jam berikutnya barulah dokter selesai menangani Linda, dan mereka keluar dari ruangan tersebut


Ketika ruang operasi terbuka, dengan cepat Hendri bangkit dari kursi dan menghampiri dokter


"Bagaimana dengan keadaannya dokter?"


"Dia kritis, jika malam ini dia melewati masa kritisnya dia akan baik-baik saja, jika tidak maka kemungkinan besar dia akan koma"


Hendri menarik nafas panjang mendengar jawaban dokter dan dia kembali terhenyak di kursinya


"Saya bisa menemuinya dok?"


Dokter tersebut menggeleng


"Dia akan kami pindahkan keruang icu, dan selama di sana dia tidak boleh diganggu, jika pihak keluarga mau membesuknya, lihat saja melalui balik kaca"


Hendri mengusap kasar wajahnya dan dokter yang melihat kekalutan Hendri hanya saling toleh dengan beberapa perawat


Lalu dokter segera berlalu sedangkan perawat tadi masuk kembali dan tak lama kembali pintu ruang operasi terbuka dan terlihat mereka mendorong brankar yang berisikan tubuh Linda yang terbujur


Hendri kembali bangkit dan langsung menghentikan brankar. Segera digenggamnya erat tangan Linda yang terasa sedingin es


"Linda bertahanlah, aku ada disini"


Setelah Hendri mengucapkan kalimat itu, perawat kembali mendorong brankar dan memindahkan Linda ke ruang icu


Hingga pagi Hendri sama sekali tak bisa memicingkan matanya, dua bodyguard yang menjaganya bergantian tidur


Hingga pagi hari disaat rutinitas rumah sakit kembali berjalan normal, barulah Hendri merasakan berat di matanya


Secara tak sadar disandarkannya kepalanya di kursi tunggu dan dia tertidur


Dokter yang berjalan masuk keruang icu hanya menoleh sekilas pada Hendri yang tampak pulas


Sedangkan dua bodyguard yang berjaga menganggukkan kepala mereka


Barulah menjelang siang Hendri terjaga dan langsung bangkit dari kursinya dan langsung mengintip melalui kaca jendela, melihat kearah Linda yang masih memejamkan matanya


"Apa dokter sudah memeriksa kedalam?"


"Sudah bos"


"Apa mereka membicarakan bagaimana kondisi Linda?"


Kedua bodyguard menggeleng dan Hendri kembali menarik nafas panjang


Hingga sore Hendri masih setia menunggu di sana, tak beranjak sedikitpun


Makanan yang dibawakan bodyguard untuknya tak disentuhnya sama sekali


Sedangkan urusan kantor diserahkannya sepenuhnya pada Marko untuk menghandle semuanya


Panggilan telepon dari Khayla membuyarkan lamunannya


"Keadaan tante Linda bagaimana pi?"


"Masih belum sadar nak"


Terdengar tarikan nafas panjang dari Khayla dan Hendri ikut menarik nafas panjang pula


"Oom Agung sudah dikasih tahu belum pi?"


"Oom Agung harus tahu pi, kan oom Agung suaminya tante Linda. Pasti oom Agung khawatir karena tante nggak pulang dar kemarin"


Hendri mengusap wajahnya lalu menggeleng mendengar ide yang diberikan Khayla


"Biarlah nak, nanti ketika tante Linda nya sudah sadar baru papi telepon oom Agung"


"Loh kok gitu pi?, nggak bisa gitu dong pi, oom Agung berhak tahu, walau bagaimanapun juga papi harus siap menerima kemarahan oom Agung. Karena papi lah makanya tante melompat kemarin"


Kembali Hendri menarik nafas panjang


"Ya Tuhan Khe kamu tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya" batinnya bingung


"Papi kok diam?, ini sudah malam kedua tante Linda nggak pulang kerumahnya dan Khe yakin oom Agung pasti khawatir"


Hendri menarik nafa panjang kembali


"Iya Khe nanti papi akan hubungi oom Agung"


Diseberang Khayla tersenyum dan mengakhiri panggilan


Hendri menarik kasar rambutnya kebelakang, seharian ini dia sama sekali tidak mandi dan juga tidak makan, hanya secangkir cappuccino yang masuk kedalam perutnya tadi


Disaat malam mulai gelap, kembali dokter berjalan kearah ruang icu dan ketika mereka sudah dekat dengan Hendri, Hendri langsung mencegat langkah mereka


"Mengapa sampai saat ini dia belum juga sadar dokter?"


"Pasien koma tuan, dan berdoalah semoga komanya tidak lama"


Hendri kembali terhenyak dan makin kalut


"Linda koma?, ya Tuhan..." lirihnya frustasi


Perawat yang berjalan bersama dokter tersebut hanya menatap kearah dokter dengan tatapan serius


Ketika sampai di dalam ruang icu, barulah perawat tersebut bertanya dengan dokter


"Dokter, waktu operasi kemarin saya dengar dokter bilang jika pasien tidak apa-apa, kenapa malah dokter bicara pada tuan tadi jika pasien koma?"


"Pasien ini adalah teman saya sewaktu kami SMA, dan sudah beberapa bulan ini dia tidak aktif lagi di group sekolah, dan teman-teman melacak keberadaannya tapi seakan dia menghilang, dan lelaki di luar itu bukanlah suaminya, dan saya curiga jika teman kami ini adalah korban kekerasan lelaki tersebut"


Sang perawat langsung menutup mulutnya dengan kaget


"Apa perlu kita laporkan pada polisi?"


Dokter tampan tersebut menggeleng


"Biarlah ketika dia sadar saya akan menanyainya"


Perawat tersebut menganggukkan kepalanya


"Dia sengaja aku kasih obat tidur dan obat bius dalam jumlah banyak, agar dia bisa beristirahat, dan agar lelaki di luar tersebut tidak mengganggunya lagi"


"Apa tidak berbahaya dok?"


"Aku sudah memasukkan takaran yang pas, jadi tidak akan berisiko untuk pasien"


Setelah itu, dokter tersebut memeriksa Linda secara intens dan suara gaduh di luar memaksanya menoleh kearah jendela yang gordennya terbuka


"Ya Tuhan....." desisnya


Di luar ruang icu, Hendri yang tertunduk karena masih menahan kantuk spontan terhuyung ketika sebuah tinju melayang keras ke wajahnya


Dua bodyguard yang sedang beristirahat langsung berdiri sigap dan menahan tubuh Agung yang menyerang Hendri dengan membabi buta


"Kau apakan istriku, hah?, aku memberinya kepadamu karena kau telah berjanji jika dia lebih aman berada di tanganmu, tapi apa buktinya?"


Dengan susah payah Agung berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman dua bodyguard yang menahan kuat tubuhnya


"Lepaskan aku, akan ku hajar lelaki bajingan itu"


Hendri yang bangkit dan sedang mengusap wajahnya berjalan kearah Agung dengan dingin


"Lepaskan dia!"


Pak Yohannes dan pak David saling toleh mendengar perintah tuan besar mereka


"Lepaskan dia!!!"


Dengan cepat dua bodyguard itu melepaskan cengkeraman mereka pada bahu dan tangan Agung


Lalu Agung kembali mendekat kearah Hendri, dan kembali dilayangkannya sebuah pukulan keras ke wajah Hendri


Kali ini Hendri yang telah siap bisa menghindari serangan Agung, sehingga dia bisa menangkap tangan Agung lalu memelintir tangan tersebut


Agung tak menyerah, segera diinjaknya kaki Hendri lalu dengan menggunakan siku kirinya, disodok nya keras perut Hendri


Hendri kembali terhuyung, dan Agung dengan cepat menyerang dengan mendorongkan tubuhnya ke tubuh Hendri hingga tubuh itu membentur tembok, lalu kembali dengan membabi buta Agung memukuli wajah dan perut Hendri