
Aku langsung menelan ludah penuh ketakutan ketika Hendri mengatakan kalimat itu
Dengan cepat aku menggeleng dan langsung berdiri menjauh dari ranjang
Hendri hanya tersenyum sinis ketika melihat Linda langsung menjauh dari tempatnya
Segera dia melepas kemeja yang dipakainya dan melemparnya kelantai, dan hanya menyisakan kaos oblong
Kemudian Hendri tengkurap sambil merentangkan kedua tangannya. Kemudian terpejam
Aku yang melihatnya hanya menarik nafas panjang. Aku segera duduk di sofa dan hanya menatap bengong
Dengan hati-hati, kembali aku menarik kursi dan meletakkannya lagi di pinggir jendela, menatap keluar melalui jendela yang terbuka
Aku menoleh kearah Hendri yang tak bergerak lagi, hanya nafas teratur yang terdengar
Pikiranku melayang kepada ketiga anakku.
Pastilah mereka bertiga mencari ku dan khawatir karena aku tidak pulang semalaman
Tak terasa kembali air mataku mengalir. Sehari saja aku tak melihat mereka, rasanya hatiku sudah sangat rindu, apalagi ini akan sangat lama
Dalam perjanjian paling cepat satu tahun dan paling lama sampai waktu yang terkira
Dan sekarang aku terpaksa harus jauh dari mereka. Marah di dadaku tiba-tiba muncul ketika aku teringat dengan Agung
Dulu secuil pun tak ada rasa benci di dalam hatiku padanya. Walau aku tahu dia sangat cuek dan kurang perhatian padaku dan lebih sibuk dengan bisnisnya, tapi aku tetap mencintainya
Mensupport semua kerjanya, bahkan terkadang aku ikut membantu bisnis yang dia bangun
Aku rela meninggalkan pekerjaanku sebagai asisten manager di sebuah perusahaan besar ketika memilih menikah dengannya, dan mengabdikan diriku sepenuhnya padanya, menjadi ibu buat ketiga anakku
Bahkan aku ikut bekerja di perusahaan di awal pernikahan kami, dan akhirnya aku harus resign karena aku lebih memilih mengasuh anak pertama kami
Dan ternyata Agung memang tak memperbolehkan aku kerja lagi ketika anak pertama kami lahir
Dia ingin aku fokus menjadi ibu hingga akhirnya di tahun ketiga pernikahan kami, kami telah memiliki tiga orang anak
Memang ketiga anakku sangat dekat jaraknya, itu memang aku sengaja, agar ketika di umurku yang kedua puluh lima aku sudah tidak hamil-hamil lagi
Aku tidak banyak tahu bagaimana perkembangan perusahaan Agung sejak aku resign, yang kutahu memang dia terlilit hutang dan itu sudah dilunasi
Dan tentang hutangnya dengan Hendri aku sama sekali tidak mengetahuinya.
Yang kutahu hutang di bank dan hutang dengan perusahaan lain. Dan semua itu setahuku telah dibayar lunas. Karena aku terjun langsung ketika perusahaan Agung kolaps
Aku ikut Agung meyakinkan pemegang saham untuk mempertahankan saham mereka di perusahaan dan tidak menjualnya ke perusahaan lain
Tapi entah ini hutang apa, hingga akhirnya Agung tega menjadikanku sebagai jaminan pada sepupunya
Kembali aku mengusap kasar wajahku, menghapus air mata yang mengalir ketika mengingat perjuanganku tak ada artinya di mata Agung
Sumpah janji sehidup semati dan akan selalu menyayangi dan melindungi ternyata hanya bohong belaka
Selama sepuluh tahun ini aku benar-benar tidak mengenal siapa Agung sebenarnya
Suami yang sangat penyayang dan sabar ternyata menikam ku dari belakang
Aku rela dia ceraikan asal tidak memisahkan ku dengan ketiga anakku.
Tapi yang dilakukan Agung jauh lebih jahat dari yang kubayangkan. Bukan hanya menjauhkan aku dari ketiga anakku, Agung bahkan tega menjual ku pada sepupunya
Aku kembali menarik nafas panjang menahan sesak yang memenuhi dadaku
Sementara Hendri yang tidur nyenyak tidak mengetahui lagi apa yang sedang terjadi
Aku kembali melirik kearah Hendri yang masih tidur tengkurap, menarik nafas panjang lalu berdiri dari kursi
Aku memungut kemeja yang tadi dilemparkannya ke lantai dan merapikannya, lalu aku gantung dengan hanger dan meletakkannya dalam lemari
Ku pandangi sebentar wajah lelaki yang terlihat sangat pulas di depanku saat ini
Jika aku membekapnya dengan bantal mungkin dia tidak akan tahu batinku
Segera aku meraih bantal di sebelah Hendri dan memegangnya dengan kuat
Jika dia mati, tentu aku bisa menemui ketiga anakku dan tidak akan menjadi istri kontraknya
Aku bisa kabur dengan ketiga anakku, dan hidup menjauh dari semua orang yang akan mencelakai kami
"Iya, dia harus mati" batinku geram
Tanganku telah siap aku arahkan ke kepala Hendri ketika aku tersadar jika di hotel ini ada cctv, polisi akan tahu jika Hendri berada di hotel ini bersamaku, jikapun aku bisa kabur dari hotel ini, tapi tidak mungkin aku bisa kabur dari kejaran polisi
Dan jika itu terjadi maka kesempatanku untuk bertemu dengan ketiga anakku makin sulit
"Aaarrgghhhh..." geram ku kesal sambil melempar bantal yang ada di tanganku ke ranjang lagi
Hendri hanya menggeliat dan bergumam tak jelas ketika ada suara berisik
Dan aku langsung gugup melihatnya bergerak, dan buru-buru berlari duduk di sofa, merebahkan tubuh dan pura-pura memejamkan mataku
Melihat Hendri masih tak bergerak aku membuka mataku dan duduk. Lalu mengusap dada dengan lega
Kembali bengong karena tak ada yang bisa aku lakukan. Mau membuka hp juga percuma karena tidak ada sosial media yang bisa aku buka, mau chating teman atau keluarga juga tak bisa karena isi kontak ku cuma nomor Hendri
Lambat laun mataku meredup dan aku terpejam, tertidur di sofa
Hendri menggeliat dan membuka matanya. Dilihatnya Linda tertidur di sofa. Hendri meregangkan otot tubuhnya sebelum akhirnya dia turun dari ranjang
Berjalan mendekat ke sofa dan melihat wajah Linda yang tenang
Hendri tersenyum sekilas ketika menatap wajah Linda, dan berbalik kearah ranjang mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Linda
Setelah itu Hendri masuk ke kamar mandi dan keluar lagi dengan mengusap wajahnya yang basah
Lalu Hendri celingukan mencari kemejanya yang tak tampak dimanapun
Lalu Hendri membuka lemari dan didapatinya bajunya tergantung, Hendri menoleh kearah Linda yang masih nyenyak lalu beralih kembali ke lemari mengambil bajunya dan segera memakainya
Kembali Hendri mengacak rambutnya sebelum akhirnya dia berjalan kearah Linda lagi
Melihat wajah Linda dengan dalam lalu berjalan kearah pintu dan keluar dari kamar
Hendri merasa tubuhnya sudah agak segar ketika dia menuruni tangga menuju lantai bawah
Tidur lebih dari tiga jam membuat tubuhnya memiliki energi yang fit untuk dibawanya bekerja lagi
Hendri melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya ketika dia berjalan menuju parkiran
"Jam kantor sudah bubar" gumamnya sambil membuka pintu mobil
Karena tak akan kembali lagi kekantor, Hendri lebih memilih untuk pulang ke rumah karena besok dia akan pergi ke kota B dan akan berada di sana selama seminggu
Hendri menjalankan mobil dengan pelan sembari menikmati kemacetan jalan ibukota
Sekitar satu jam berikutnya, mobilnya masuk ke halaman rumah mewahnya
Hendri segera memarkirkan mobil di garasi lalu turun dan masuk kedalam rumah
"Tumben pulang cepat?"
Hendri hanya melihat sekilas kearah istrinya yang asyik bermain hp lalu dia naik keatas
Nia hanya melirik melalui ekor matanya ketika Hendri memilih naik dan tidak menjawab sindirannya
"Ah, terserah" gumam Nia cuek
Dan Hendri yang naik keatas segera masuk ke kamar pribadinya dan segera masuk kedalam kamar mandi
Tak lama dia telah turun lagi dengan memakai baju kaos oblong dan celana jeans
Alika, anak bungsunya segera berlari begitu melihat Hendri menuruni tangga
"Papi tumben jam segini sudah di rumah?"
Hendri mencium kening putri bungsunya lalu menggendong gadis yang sudah beranjak besar itu
"Karena papi ingin berkumpul bersama tiga bidadari papi"
Alika terkekeh dan mengeratkan pelukannya ke leher Hendri
Hendri tahu, dimana anak gadisnya yang lain saat ini, dan benar tebakannya, kedua anak gadisnya sedang duduk di gazebo yang ada di pinggir kolam renang
Keduanya tampak serius menatap hp di tangan mereka masing-masing
Hendri berdehem yang disambut kedua anak gadisnya dengan melirik sekilas lalu kembali fokus menatap hp mereka lagi
Hendri menarik nafas panjang melihat kelakuan kedua anaknya
"Bagaimana aku bisa betah di rumah jika begini?" batinnya
"Hei, papi pulang ini. Kok malah dicueki?"
Kedua anaknya masih bergeming dan terus fokus menatap hp mereka
Alika yang melihat kelakuan kedua kakaknya hanya memandang iba pada papinya dan segera memeluk erat papinya