
Dengan cepat aku bangkit kearah lemari, mengambil salep dan juga kain kasa, tak lupa botol alkoholnya juga
Kulihat wajah Hendri menegang ketika aku menumpahkan alkohol keatas kain kasa
Sontak Hendri menarik tangannya ketika kutarik
"Nggak mau, perih"
Aku kembali menarik kasar tangannya
"Diam, aku tidak punya nomor dokter itu lagi untuk memintanya kesini. Jadi kamu harus terima lukanya aku obati seadanya, lagian juga dokter kemarin bilang ini bagus biar kamu nggak infeksi"
Hendri memejamkan matanya ketika aku menempelkan kain kasa di lukanya, aku tak menghiraukannya, aku terus saja mengusapkan kain kasa ke seluruh lukanya, dan aku menahan senyum melihat Hendri meringis
"Kapok kamu, kemarin kamu nyakitin aku dan aku nggak bisa balas, sekaranglah aku membalasnya" batinku
Kulihat Hendri menatapku tajam
"Kamu sengaja?"
Aku mendecak
"Sudah diam, kebiasaan kamu itu kalau ditolong orang bukannya terima kasih malah marah-marah"
Kulihat Hendri diam karena ku bentak, dan sekali lagi aku tertawa dalam hati
Lalu aku mengoleskan salep, hingga salepnya habis tapi semua luka belum seluruhnya terolesi
Aku berdiri di pinggir jendela, suasana di luar masih gelap hanya lampu sebagai penerang
"Kamu ngapain?"
"Anak buahmu ada di bawah kan?"
Hendri diam melihatku mengambil jaket dalam lemari, dan hanya menatap heran ketika aku mengambil bekas salep
"Kamu mau kemana?"
"Kebawah, nemuin anak buah kamu, nyuruh mereka untuk beli obat"
"Nggak usah"
"Tenang, aku nggak akan kabur, kamu pegang omongan aku"
Lalu aku membuka pintu dan segera keluar, menuruni tangga dengan cepat
Melihatku keluar, ketiga anak buah Hendri mendekat
"Bos kalian terluka, kalian cari apotek 24 jam, beli salep ini" ucapku sambil memamerkan bekas salep di tanganku
Salah satu dari mereka mengambil bekas salep di tanganku
"Cepat, jangan lama. Karena luka bos kalian sepertinya parah"
Habis berkata begitu aku membalikkan tubuhku
"Tapi uangnya mana nyonya?"
Aku menghentikan langkahku, lalu menoleh pada mereka
"Ya pakai uang kalian lah, kalian pikir aku ada uang, kan aku tawanan bos kalian, dari mana aku dapat uang?"
Lalu aku kembali berjalan dengan santai meninggalkan ketiga anak buah Hendri yang saling pandang, setelah itu aku tak tahu lagi apa yang mereka diskusikan karena aku langsung naik kembali
Aku tak ingin Hendri curiga dan kembali marah padaku.
Segera aku mengetuk pintu kamar sebelum masuk, baru setelah itu aku membuka pintu
Kulihat Hendri menatap ke arahku
"Ngapain kamu harus ketuk pintu?"
Suara Hendri terdengar ketus olehku ketika dia bertanya
"Harus punya adab kalau masuk tempat orang, nggak boleh asal nyelonong" jawabku santai
Kulihat wajah Hendri tak senang mendengar jawabanku, mungkin dia tersinggung dengan sindiran ku
"Mana anak buahku?"
"Sudah pergi, aku suruh mereka ke apotek 24 jam"
Lalu setelah itu aku duduk di pinggir ranjang memperhatikan Hendri yang menengadahkan kepalanya ke atas
"Kemarin kamu kesini luka sebelah kanan, tiga hari nggak kesini lah kok sekarang kesini malah dua duanya yang luka"
Hendri menyeringai ketika aku bicara seperti itu. Tapi jujur saja aku sangat penasaran apa penyebab lukanya
"Kamu luka kenapa lagi sih Hen?"
Hendri menatap tajam ke arahku, dan aku melengos membuang muka, karena sejujurnya aku takut jika dia kembali marah padaku
"Kamu bisa diam tidak?"
Aku langsung menutup mulutku rapat dan hanya melirik sesekali kearahnya
kuraih handphone, pagi tinggal dua jam tak sampai, tapi kantukku seolah hilang karena tadi bangun akibat kaget
"Kalau mau tidur, tidur saja"
Aku kembali melirik kearah Hendri tanpa menjawab ucapannya, aku hanya mencuri-curi pandang padanya yang memijit-mijit keningnya. Kami berdua sama-sama diam tanpa satupun yang berbicara
Pintu diketuk dan aku berjalan kearah pintu, membuka pintu dan seorang anak buah Hendri muncul
"Ini nyonya obatnya"
Aku mengambil obat tersebut sambil mengucapkan terima kasih lalu menutup kembali pintu dan menguncinya
"Sini..." ucapku sambil mengulurkan tanganku kearahnya
Hendri bergeming, aku menarik nafas panjang
"Bisa ngobatin sendiri?, kalo bisa bagus deh" lanjutku sambil berdiri
Baru juga aku mau melangkah Hendri segera menarik tanganku yang membuatku terduduk kembali
Dengan wajah kesal Hendri mengulurkan tangannya ke arahku, dan aku dengan wajah datar segera mengolesi kembali lukanya yang tadi belum aku olesi
"Makanya lain kali kalau mau latihan tinju itu pakai samsak, biar tangannya nggak hancur"
Hendri dengan wajah marah mendelik kan matanya ke arahku
"Benarkan omonganku?"
Hendri melengos, dan aku menahan tawa
Sambil mengolesi salep, aku pun meniup-niup lukanya agar tak perih.
Dan Hendri menatap dalam pada perbuatan yang dilakukan Linda pada tangannya
"Kenapa sih Hen kamu tiap kesini selalu bawa luka, heran aku. Cobalah sesekali kalau kesini bawa wajah bahagia gitu, kan enak lihatnya"
"Ini nggak tiap kesini pasti dengan wajah sangar, kalau nggak bawa luka"
"Kamu bawel banget ya dari tadi. Bisa diam tidak?, sekali lagi kamu ngomong aku gigit bibir kamu"
Wajahku langsung menegang dan dengan cepat aku melepas tangan Hendri
Lalu aku pindah tempat duduk. Kulihat Hendri memperhatikan lukanya yang telah aku obati
"Yang ini belum, kenapa yang ini nggak diobati?"
Aku melongokkan kepalaku melihat kearah yang ditunjuknya, lalu kembali mengambil salep, dan mengolesinya kembali
Lalu aku memasang wajah datar
"Kenapa kamu diam?"
Aku menggeleng
Hendri bangkit dari sofanya dan berjalan kearah ranjang, aku hanya memutar badanku melihatnya
Kulihat Hendri mengambil bantal yang tadi kupakai lalu melemparkannya agak ketengah
"Sini kamu!"
Aku bergeming
"Lin?"
Degup jantungku kian berdetak kencang
"Linda sini!"
Aku menoleh sambil menggeleng cepat
"Kamu yang kesini atau aku yang kesana mengangkat paksa kamu?"
Mataku terbelalak dengan degup jantung yang makin berdebar keras
Kulihat Hendri mulai menurunkan kakinya kelantai
"Iya iya iya aku yang kesana" ucapku cepat dan tegang
Aku berdiri di tepi ranjang, dan kulihat Hendri kembali membaringkan tubuhnya
"Sini naik"
"Nggak mau"
Hendri menatap tajam ke arahku dan aku kembali menggeleng kuat
"Tenang saja, aku tidak akan ngapa-ngapain kamu, aku hanya ingin memastikan kamu tidak bakal kabur, itu saja"
"Aku akan ambil kursi dan duduk di dekat ranjang kalau begitu"
Hendri segera merangkak dan dengan cepat dia menarik tanganku dengan kasar
Aku sedikit terhuyung ketika ditariknya kuat, lalu mau tak mau saat ini aku sudah berada di atas ranjang
Hendri segera membaringkan tubuhnya dengan menelungkup dan mencengkeram kuat tanganku
Aku menyandarkan badanku di sandaran ranjang dan tak berani berkutik saat Hendri dengan erat mencengkeram tanganku
"Tetap disini, jangan pergi!"
Aku tak menjawab melainkan menelan ludah saja dengan penuh ketakutan
Kulihat mata Hendri mulai meredup dan akhirnya dia terlelap. Aku segera menarik nafas lega ketika dia sudah terlelap
Lalu dengan pelan aku mengangkat tangannya yang sejak tadi mencengkeram kuat tanganku
Tangan Hendri bergerak dan kembali mencekal kuat tanganku. Aku kembali menarik nafas panjang dan hanya bisa menyandarkan kepalaku karena tak bisa lepas dari cengkeramannya
Aku bengong sendiri dan hanya bisa melihat ke kanan ke kiri mengitari isi kamar yang nyaris dua bulan ini menjadi tempatku
Kembali aku menggerakkan tanganku berniat melepaskannya dari cengkeraman Hendri tapi sepertinya dalam tidur saja dia masih ingin menawanku, tak ingin membebaskanku
Kembali aku menarik nafas panjang, dan aku menguap. Aku memaki kesal dalam hati kenapa sekarang jadi mengantuk, padahal tadi kantuk itu telah lenyap entah kemana
Sekuat tenaga aku menahan kantuk yang menyerang ku. Hingga akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi