Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Curiga


"Kenapa kamu sudah mandi?"


"Hah?" jawabku bingung


"Kamu kan tahu tugas kamu juga memandikanku"


"Ya Tuhan Hen, bisalah kamu mandi sendiri, masa harus aku lagi yang memandikan, jujur aku malu Hen"


Hendri bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat ke arahku


Aku menelan ludah karena khawatir dan hanya mendongakkan wajahku ketika tubuh besarnya kembali mendorong kuat tubuhku


"Kalau begitu besok kamu ku nikahi, setelah itu kamu tidak akan sungkan lagi jika melihatku polos"


Degup jantungku kian berpacu cepat ketika mendengar Hendri mengucapkan kalimat itu


"Sekarang cepat mandikan aku"


Aku masih bergeming dan tak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Hendri telah merentangkan kedua tangannya meminta aku membuka piyama yang masih melekat di tubuhnya


Dengan tangan gemetar aku segera melepas satu persatu kancing piyama dan dengan sedikit menjinjit aku melepasnya dengan pelan takut menyakiti tangannya


Lalu aku berjongkok dan membuang wajahku ketika aku melepas bawahan piyamanya lalu mengambil handuk yang telah disiapkannya di dekatku


Mataku memandang takut pada mata Hendri ketika aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya


Dan di dalam hati Hendri terus memaki dirinya karena naluri lelakinya bergejolak, apalagi dengan Linda yang begitu dekat dengannya saat ini


"Sudah Hen" lirihku karena Hendri masih saja menatap tajam ke arahku


Mendengar ku berkata seperti itu, Hendri berbalik dan setelah beberapa langkah dia berhenti dan menoleh karena aku masih berdiri di tempatku


"Ayo!"


Aku menarik nafas dalam dan terpaksa mengekor di belakangnya. Begitu sampai dikamar mandi Hendri langsung melepas handuk dan aku dengan terburu mengambil shampo dan sabun lalu menumpahkan sabun kedalam bath up


Hendri menoleh tak senang ketika aku menumpahkan sabun dalam bath up


Tanganku yang memegang selang shower aku arahkan ke bath up biar buih sabun banyak


Dan benar saja, ketika buih sabun menumpuk banyak aku jadi tidak terlalu sungkan karena itu artinya tidak terlalu memperlihatkan bagian bawah tubuh Hendri


Aku kembali mengarahkan selang shower ke kepala Hendri dan menyiramkan pelan air kesana, lalu mulai mengusapkan shampo.


Cukup lama kami di sana, sampai akhirnya Hendri berdiri dan aku memakai handuk ke badannya


Kembali aku mendongak ketika memakaikan handuk ke badannya, dan tetesan air dari rambutnya jatuh menimpa wajahku


Kembali aku berjinjit dan melingkarkan handuk ke punggungnya agar rambut basahnya tidak menetes di badannya kembali


Setelah itu aku keluar duluan dan duduk di sofa


"Pakaianku mana?"


Aku menggeleng


"Ada dikamar, ambilkan!"


"Kamu ikut sajalah Hen, nanti aku salah ambil, kamu nggak suka terus aku lagi yang kena marah"


Kulihat Hendri mendecak, tapi akhirnya dia berjalan keluar juga dari kamar


Aku mengekor di belakangnya dan ketika sampai di depan kamar tempatku tidur semalam, aku segera membuka pintunya


"Lemari itu" tunjuk Hendri


Aku berjalan kearah lemari besar tersebut dan mulai mengangkat beberapa jas dan kemeja untukku perlihatkan pada Hendri biar dia yang memilih


Setelah pilihan Hendri dapat, aku segera berjalan ke dekatnya dan mengeringkan rambutnya dengan handuk


Selesai dengan itu, aku berjalan kearah meja rias Nia, sama halnya dengan meja hias Khayla, disini penuh dengan make up bermerk kelas dunia semua


Aku mengambil roll on, hand body, pomade dan sisir


Tanpa dimintanya, aku segera menarik tangannya dan memakaikan hand body ke tangan, punggung dan kakinya


Kembali aku mengangkat tangannya dan memakaikan roll on, barulah setelah selesai aku memakaikan pomade ke rambutnya dan menyisirnya dengan pelan


"Terurai atau di kuncir?" tanyaku


Hendri memutar kuat kepalanya hingga rambutnya yang tadi sudah rapi menjadi agak berantakan lagi


"Biar seperti ini"


Aku tertegun melihat rambutnya seperti itu. Tapi jujur itu makin membuatnya terlihat tampan


Hendri berdiri dan merentangkan tangannya, kembali dengan menarik nafas dalam aku memakaikan pakaiannya


"Sudah Hen"


Hendri berjalan kearah cermin dan melihat pantulan dirinya di sana


"Nggak usah pakai jas, pakai rompi vest saja"


Aku mendekat lalu melepas jas yang sudah melekat di tubuhnya, lalu kembali berjalan kearah lemari dan mengambil rompi vest warna abu senada dengan celana yang dikenakannya


Kembali Hendri merentangkan kedua tangannya dan aku memakaikannya dan merapikan dasinya


Kembali saat aku memakaikan dasi, tatapan kami beradu, dan aku hanya bisa menelan ludah karena gugup


Setelah semuanya selesai aku keluar lebih dulu dan langsung meninggalkan Hendri


Aku segera berjalan menuju tangga dan agak berlari ketika menuruni tangga


"Mbak nggak pulang?"


Aku hanya menggeleng mendengar pertanyaan bik Ning


"Sarapan tuan sudah ada bik?"


Bik Ning mengangguk. Aku segera berjalan kemeja makan dan melihat memang telah ada jus buah dan sandwich


Saat aku merapikan piring sandwich, Hendri muncul dan langsung duduk. Segera mengambil sandwich yang mengarahkan ke mulutnya


Bik Ning yang melihat hanya menatap tak berkedip


Bik Ning kaget ketika Hendri bertanya seperti itu, dan dengan cepat perempuan paruh baya itu berlari meninggalkan kami


"Sudah kubilang, seluruh penghuni rumah ini akan curiga jika aku ada disini" keluhku


Hendri berhenti mengunyah dan menatap dingin ke arahku


"Maaf....." lirihku takut


Hendri melanjutkan mengunyahnya dan aku kembali mengarahkan sandwich padanya sampai habis, baru setelahnya aku memberinya jus


"Ayo berangkat!"


Aku mengangguk, dan berdiri


"Ambilkan sepatuku!"


Kembali aku mengangguk dan berjalan mendahului Hendri dan bertemu dengan bik Ning yang sedang mengelap meja di ruang tamu


"Sepatu Hen, ehh tuan Hendri dimana ya bik?"


Bik Ning berdiri dan mengambil sepatu Hendri yang telah mengkilap lalu memberikannya padaku


"Istrinya mana sih bik, kok dari kemarin aku nggak lihat ya ?" bisikku takut-takut


Bik Ning tampak celingak celinguk sebentar lalu menjawab sambil berbisik pula padaku


"Kabur"


Mataku terbelalak kaget, disaat aku ingin bertanya lebih lanjut kudengar Hendri telah berteriak memanggilku


"Iya sebentar..." jawabku sambil segera berlari kearah meja makan dimana tadi Hendri berada


Aku segera berjongkok dan dengan santainya Hendri meletakkan kakinya di atas lututku yang membuatku terduduk di lantai


Karena tak mau berdebat dan kena marah, aku segera memasangkan kaus kaki dan sepatu ke kakinya


Setelah selesai Hendri berdiri dan berjalan, dan aku kembali mengekor di belakangnya


Kulihat seorang supir membukakan pintu untuk kami, setelah Hendri masuk barulah aku masuk. Jadilah kami duduk di bagian tengah


"Sepatu kamu mana?"


Aku menunduk kearah kakiku yang tidak menggunakan alas kaki sama sekali


Aku menggeleng


"Hilang?, nggak mungkinkan?"


Aku menelan ludah ketika mendengar nada marah pada suara Hendri


"Kemarin kan pas kekantor kamu aku memang nggak pakai alas kaki, makanya kaki aku kena pecahan kaca" jawabku memberi alasan


Kulihat Hendri mendengus kesal


"Kamu bikin malu aku kalau kamu nyeker seperti ini"


Aku menunduk mendengar omelannya


"Cepat pak, nanti kita mampir ke toko sepatu"


"Baik tuan"


Hendri menatap ke depan tanpa memperdulikan aku yang gugup


"Semua toko belum ada yang buka tuan"


Hendri menoleh kearah luar ke barisan toko yang masih banyak tutup


"Memangnya toko di kota ini bukanya jam berapa?" umpatnya kesal


"Mampir ke hotel saja Hen, ambil sepatu aku di sana saja"


Hendri bergeming dan kembali menatap lurus ke depan


Jadilah kami sampai di kantor dengan aku yang tanpa alas kaki. Dengan kikuk aku turun dan berjalan di belakang Hendri dengan membawakan tas kerjanya


Seperti dugaanku, seluruh mata karyawan yang berpapasan dengan kami memandang heran pada kami


Lebih tepatnya memandang heran padaku. Dan aku menarik nafas lega ketika sudah masuk kedalam ruang kerja Hendri yang sudah rapih tidak seperti kemarin pas pertama kali aku datang


Aku segera meletakkan tas kerja Hendri lalu berdiri di sebelah kursinya


Tak lama muncul Marko dan dia menganggukkan kepala ke arahku dan Hendri


"Ada jadwal bertemu pengacara hari ini bos"


Hendri mengangguk lalu menoleh ke arahku


"Kamu ikut Marko ke ruangannya, belajar sama Marko di sana!"


Aku mengangguk. Lalu berjalan mengikuti Marko.


Aku menarik nafas panjang ketika aku duduk di ruangan Marko


"Mati aku mas lama-lama jadi anak buah Hendri" keluhku


Kulihat Marko tertawa


"Mbak kok manggil bos besar dengan sebutan nama?"


Deg! aku kaget sendiri dengan perbuatanku


"Hendri itu sepupu mantan suamiku" jawabku lirih setelah cukup lama diam


Kulihat Marko yang tadi duduk di kursinya mendekat kearah sofa dan menatap dalam pada mataku


"Suami mbak sepupunya tuan besar?"


Aku mengangguk


"Pak Agung?"


Aku kembali mengangguk, dan aku menatap curiga pada Marko yang terus menatap ke arahku