
"Pergiiiiii.....!" teriakku
Bibi Niluh mendekat dan langsung mendekap ku
"Tuan tolong keluarlah"
Hendri hanya menatap sedih padaku yang terus mendekap erat bibi Niluh
"Tuan tolong...." ulang bibi Niluh
Hendri akhirnya menurut dan keluar dari dalam kamar, tapi dia tidak pergi dari sana, dia terduduk lemas di depan pintu, menahan air matanya yang telah siap tumpah
"Mengapa dia kesini bik?, aku nggak mau ada dia, dia bisa mencelakai ku lagi"
Bibi Niluh menggeleng kuat dan menangkupkan kedua tangannya ke wajahku
"Tidak nyonya, tuan tidak akan mencelakai nyonya lagi, ada kami. Kami semua yang ada di villa ini akan melindungi nyonya jika tuan berani menyakiti nyonya lagi"
Aku mendongakkan kepalaku, lalu kembali memeluk erat bibi Niluh
Sementara Hendri yang mendengar ketakutan Linda tercabik-cabik hatinya
Perlahan dia bangkit lalu masuk kedalam kamar pribadinya, langsung menyambar hp dan menempelkan benda tersebut ke telinganya
"Ya Hen?"
"Grace tolong aku...."
Diam, tak ada jawaban, Hendri terduduk di kursi mengusap wajahnya kembali
"Apa Hen?, tolong?, tolong apa?, suara kamu kenapa?"
Hendri tak menjawab, dia berusaha kuat menahan air matanya jangan sampai tumpah
Terdengar tarikan nafas panjang di seberang dari dokter Grace
"Bicaralah, aku akan mendengarkan semuanya"
"Linda hamil Grace..."
"Wah, selamat ya Hen, akhirnya aku akan ada keponakan lagi. Dan aku berharap kali ini anak kamu cowok seperti impian kamu"
Hendri tersenyum getir mendengar nada senang dari Grace
"Tapi kenapa suara kamu seperti sedih begitu?"
Hendri menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dokter Grace
"Linda semakin takut sama aku"
"Takut?, maksudnya?"
"Dia seperti trauma melihatku"
"Trauma?, serius kamu?" terdengar nada tak yakin dari dokter Grace
"Sepertinya begitu Grace, dia berteriak histeris ketika melihatku, tidak mau aku dekati"
"Bawaan bayi mungkin...."
"Tidak Grace, ini beda. Ini murni dia ketakutan melihatku"
Kembali keduanya diam untuk beberapa saat.
"Cerita sama aku apa yang kamu lakukan pada Linda sampai dia ketakutan melihatmu"
Hendri diam, bingung mau mulai dari mana memberitahu dokter Grace
"Hen?"
"Aku menyiksa dia lagi"
"Lagi?"
"Iya Grace, tepatnya enam bulan yang lalu aku siksa dia lagi sampai aku membakar telapak kakinya yang lumpuh itu"
"Hendriiiii.....!!!!" dokter Grace sontak berteriak kencang
"Jika bukan karena aku tidak bisa cuti lagi, aku pasti saat ini akan terbang ke Indonesia. Akan ku hajar kamu sampai mati!!!!"
Hendri diam mendengar dokter Grace meneriakinya
"Kamu lelaki pengecut, aku tidak menyangka jika kamu akan serendah ini"
"Mana Linda sekarang?, berikan hp itu padanya aku mau bicara sama dia!"
"Tidak bisa Grace, bagaimana aku bisa memberikan hp ini pada Linda, sedangkan melihatku saja dia ketakutan" jawab Hendri lemah
"Kurang ajar kamu Hendri, demi Tuhan aku bersumpah, ketika aku pulang ke Indonesia, hal pertama yang akan aku lakukan adalah menampar wajahmu dan menghajar mu habis-habisan!"
"Grace, aku menelepon mu ingin meminta saran darimu bukannya malah menambah beban pikiranku"
"Persetan dengan pikiranmu, ingat Hen, dulu aku pulang ke Indonesia karena aku sayang sama kamu, aku bahagia karena kamu menikahi Linda walau aku tahu Linda mantan istri Agung, tapi aku mendukungmu karena niat baikmu ingin menyelamatkan Linda dari Agung yang bajingan itu. Tapi apa sekarang?, kamu jauh lebih bajingan dari pada Agung!"
Hendri menarik nafas panjang
"Berapa usia kehamilan Linda?"
"Hampir tujuh bulan"
"Hampir?, kamu sebagai suaminya masa tidak tahu usia kandungan istrimu sendiri?" nada suara dokter Grace masih tinggi
Terdengar tarikan nafas berat di seberang
"Entah sumpah serapah apa lagi yang akan aku katakan padamu Hen, aku benar-benar kecewa atas sikapmu pada Linda, kamu benar-benar bukan manusia Hen"
"Mulai hari ini kamu berdoalah banyak-banyak Hen, semoga ketiga anakmu tidak ada yang bernasib sama seperti Linda"
Setelah berkata begitu dokter Grace memutus panggilan hingga Hendri hanya bisa bengong menatap layar hpnya yang telah gelap
"Jika sudah begini aku harus menghubungi siapa?" keluhnya
Kembali Hendri menatap kosong ke depan, pikirannya benar-benar kacau.
Kembali dihubunginya nomor dokter Grace, tapi tak diangkat bahkan panggilannya ditolak
Hendri yang bingung tak putus asa, dia terus mengulangi menghubungi dokter Grace, sampai dokter cantik itu mengangkat panggilannya kembali
"Mau apa lagi?, kurang makian ku sama kamu?"
"Tolong aku Grace...."
Kembali terdengar tarikan nafas panjang dari dokter Grace, cukup lama keduanya terdiam
"Tolong apa?" akhirnya suara dokter Grace melunak
"Bagaimana caranya agar aku bisa dekat lagi dengan Linda?, dia sedang hamil Grace, kamu tahu sendirikan bagaimana wanita hamil, terlebih sekarang hamilnya telah besar, apalagi semalam ketika aku mengelus perutnya, anakku menendang Grace, dia tahu papinya datang"
Dokter Grace tersenyum, dapat didengarnya nada bahagia dari suara Hendri
"Hendri, maaf aku tidak bisa menolong mu kali ini, tapi aku bisa kasih saran sama kamu, kamu turuti semua perintah Linda, jika dia memintamu pergi, pergilah"
"Tidak, aku tidak akan meninggalkannya Grace, yang ada di perut Linda itu anakku"
"Dengerin aku dulu kenapa sih Hen?, kebiasaan suka motong omongan orang" semprot dokter Grace
Hendri sontak terdiam mendengar dokter Grace membentaknya
"Ya Tuhan Grace, cuma kamu satu-satunya manusia di dunia ini yang berani membentak ku"
Terdengar suara terkekeh dari seberang
"Itu karena aku sangat menyayangimu Hen...."
"Dan kamu juga tahu kan Grace, jika aku juga sangat menyayangimu...."
Dokter Grace diam, begitupun dengan Hendri
"Ah, jadi melow aku Hen...."
Keduanya lalu tertawa getir
"Suatu hari aku akan kembali lagi ke Indonesia, dan aku akan menemui seluruh keluarga besar kita, tidak sembunyi-sembunyi seperti kemarin"
Kembali Hendri tertawa getir
"Oh iya jadi lupa aku apa yang harus aku kasih tahu ke kamu" dokter Grace terkekeh
"Jauhi dulu Linda, kamu dekati dia perlahan-lahan, kamu jaga dia dari kejauhan, buat dia nyaman dulu, jika dia telah nyaman aku yakin, Linda akan kembali luluh sama kamu"
"Jika tidak Grace?"
"Semua butuh waktu Hen, tidak bisa secepat yang kamu inginkan. Menyembuhkan trauma itu memang sulit, makanya mikir dulu sebelum melakukan sesuatu. Jika sudah begini kamu nyesel sendiri kan?"
"Makanya mikir, jangan otak kamu cuma dipakai saat kamu kerja demi perusahaan, coba sekarang otak kamu, kamu pakai untuk meluluhkan hati Linda"
"Dulu kamu sangat manis pada Nia, tapi kenapa kepada Linda kamu sangat jahat, padahal kamu sendiri yang bilang jika kamu kasihan pada nasib wanita itu?"
Hendri menarik nafas panjang
"Aku tak tahu Grace, saat jauh dari dia aku menyayanginya, merindukannya, tapi setelah melihatnya, mengetahui perbuatan gilanya dengan memberikan cincin kawin kami, emosiku langsung meledak"
"Kamu tidak sedang menjadikan Linda sebagai ajang balas dendammu pada penghianatan Nia kan?"
Hendri diam mendengar pertanyaan dokter Grace, lama dia diam, bahkan dia tidak menjawab pertanyaan tersebut hingga akhirnya dokter Grace kembali memutuskan obrolan mereka
...----------------...
Sementara di Swiss ketiga anak gadis Hendri yang sedang menikmati liburan mereka tampak sangat bahagia
Ketiga bodyguard yang menjaga mereka selalu siaga tak jauh dari mereka, ketiganya selalu berjaga kemanapun ketiga gadis itu pergi
Khayla dan kedua adiknya kalap berbelanja karena besok adalah jadwal mereka pulang ketanah air
Dan ketiga bodyguard mereka dengan rela membawakan semua belanjaan mereka
Selesai berbelanja dan makan siang, keenamnya berniat kembali ke hotel, tepat di luar restoran mereka menunggu taksi
Cuaca swiss yang saat itu tengah turun salju makin membuat mereka kedinginan dan merapatkan jaket mereka
Hingga dua buah taksi melintas dan dengan cepat pak David menghentikan taksi tersebut dan meminta diantarkan ke hotel tempat mereka menginap
Sepanjang perjalanan, Mutiara dan Alika masih tampak antusias melihat salju yang terus turun
Hingga akhirnya taksi berhenti di depan hotel, dan ketiganya turun setelah Khayla membayar ongkos, lalu menyusul pula ketiga bodyguard mereka turun dan kembali membantu ketiganya membawa tas belanjaan mereka
"Alika....." teriak sebuah suara ketika mereka akan masuk ke hotel
Refleks Alika dan kedua kakaknya menoleh ke sumber suara. Dimana berdiri seorang perempuan cantik berjaket tebal di seberang jalan, melambaikan tangannya keatas kearah mereka sambil melompat-lompat
"Mami...." desis ketiganya kaget